Dinamika Politik di Salah Satu Grup Facebook

Untuk para fesbukiyah, nampaknya bukanlah sesuatu hal yang aneh apabila melihat perang politik didunia maya seperti disitus pertemanan facebook. Mulai dari “say no to someone” sampai “say yes to someone”. Dan akhir-akhir ini ditambah dengan bermunculannya grup-grup pro dan kontra akan beberapa tokoh dan partai politik.

Tapi ada hal baru, yang cukup seru di salah satu grup. Link-nya http://www.facebook.com/group.php?gid=85426400363

Hmm... sekitar 2-3 bulan sebelum pemilu legislatif dimulai, atau sekitar seorang mantan aktivis mahasiswa, fadjroel rachman, menggulirkan isu calon presiden independent, tiba-tiba ada sebuah grup facebook yang link-nya sudah saya tulis diatas bertemakan ” KAMPANYE TOLAK CALOB BUSUK PRESIDEN RI 2009 : M FADJROEL RACHMAN” dan sekarang tiba-tiba berubah nama menjadi “PEMILU DAMAI DI TAHUN 2009”

Oh my god! Apa ini? Dan adminsnya pun bertuliskan “tim cikeas”. Padahal dulu kalau tidak salah admins-nya adalah salah satu mahasiswa Bandung (kalo ngk salah unisba deh).

Hmmm... yang menarik disini adalah,ketika Fadjroel Rachman sedang mengusahakan untuk presiden independent grup ini bertemakan menolaknya. Sekarang, begitu FR tidak lagi mengusahakan hal tersebut dan isu karut marut pasca pemilu naik ke media, facebook inipun berubah fungsi.

Ada apa ini? Apakah salah satu dari tim sukses partai politik? Hmmm.... untungnya member di grup ini hanya 62 orang. Jadi tidak banyak orang yang sadar akan hal ini.

Derita Kelahiran 1990

“tahun depan SAPPK-ITB akan dibalikin jadi 2 jurusan lagi! Arsitektur dan perencanaan wilayah dan kota (planologi)!”

Itu adalah kata-kata yang dalam 2 minggu terakhir ini saya dengar. Hmmm... sekiranya ini adalah reaksi yang terjadi pada angkatan saya (terutama yg benar2 lahir tahun 1990 atau masuk SD saat tahun 1996)

“wah, lagi-lagi kita jadi angkatan percobaan ya!”

Yup! Angkatan percobaan! Coba kita telusuri sejarah angkatan kuda emas ini.

Sekitar tahun 2002, tepatnya saat berada dikursi kelas 6 SD. Tiba-tiba ada sebuah ujian tingkat nasional untuk menguji kami masuk ke sekolah menengah pertama negeri (SMPN). Dan itu adalah yang pertama kali terjadi sepanjang sejarah Indonesia di jenjang pendidikan celana merah. Bete? Pastinya!

Melewati tahap SMP, tiba-tiba kamipun harus mengalami hal yang serupa. Angkatan percobaan ini berhadapan dengan UAN! Ujian Akhir Nasional. Yang akan menjadi syarat utama kelulusan dan syarat masuk Sekolah Menengah Akhir Negeri (SMAN). Wah! Untuk kami yang pernah mengalami hal serupa tentunya ini menjadi yang kedua kalinya bertarung dengan ujian nasional. Syarat kelulusan pun dipatok harga matinya. Kalau tidak lewat dari nilai itu yaaa.... selamat tinggal deh! HAHAHAHAHA. Banyak yang bilang,”wah sekolah 3 tahun dihajar dengan 3 hari”. Tiga hari untuk selamanya.

Detik berjalan detik, dan tak ada yang bisa menghentikan waktu. Masa-masa indah remaja dilewati dengan kebandelan-kebandelan dikursi SMA. Wajar sebagai siswa bercelana abu-abu tentunya. Eitt tunggu dulu, sebelum keluar dari pagar sekolah, kami harus melewati lagi ujian nasional. Ada perubahan nama disini, dari UAN, menjadi UN. Ujian Nasional. Yah tapi ma cuman ganti nama aja. Esensinya mah tetap aja sama. Tapi kali ini kami bukan jadi angkatan pertama yang mengalami UN ditingkat SMA. Angkatan-angkatan sebelum kami sudah merasakan hal tersebut. Sayangnya... sekali lagi Depdiknas sedang iseng terhadap siswa-siswinya. Ada syarat baru akan kelulusan. Mulai dari harga yang dipatok sampai kalkulasi jumlah UN yang ditetapkan. Dan yang jadi seramnya... SEMUA PELAJARAN DI UN KAN! YEAH! Yang ipa ujian ipa, yang ips ujian ips. Nah lo! Kalau ditahun-tahun sebelumnya yang di uji hanya bahasa indonesia, matematika, dan bahasa inggris. Tahun ini ditambah 3 dengan pelajaran khususnya. Kalau ipa ditambah biologi,fisika, dan kimia. Kalau ips ditambah ekonomi,sejarah, dan sosiologi (kalau ngk salah, saya bukan anak ips sih, hehe)

Yah sekirany itulah rentetan percobaan kami dibangku sekolah. Dan lagi-lagi kami di SEKOLAH APPK-ITB mendapatkan percobaan kembali! YEAH! Berbahagialah anda yang sudah ada di Fakultas atau jurusan. Karena saya masih sekolah di ITB, HAHAHAHAHA :D

Bertemu Dengan Peng-injil

Hari senin, hari ke-13 bulan 4, saat itu saya dan salah satu teman saya, adam pasuna jaya, sedang duduk-duduk di kursi-kursi sekitar LFM. Saat itu kami sedang berteduh menunggu hujan berhenti dan istirahat karena sebelumnya kami bermain bola voli di Lapangan CC Barat. Setelah itu tiba-tiba ada dua orang yang menjulurkan tangannya dan memperkenalkan dirinya. Satu adalah penginjil dan kawannya adalah mahasiswa t.penerbangan ITB’05. Jelas saya kaget! Tiba-tiba ada yg ingin mengajak berdiskusi tanpa ada basa-basi (semisal menanya jalan, minta api, ataupun meminta seteguk minuman). Wah! Ada apa ini? Itu yang terlintas dibenak saya. Yang saya pikirkan kalau mereka bukan penjual narkoba yaa antek2 NII.
Tiba-tiba saya dan adam ditanya oleh penginjil yang berwajah cina,’’kamu sering ke gereja?” saya jawab,”saya muslim” dan memang si adam seorang kristiani jadi yaa pastilah ke gereja. Jeng jeng! Pertanyaan selanjutnya, tujuan hidup kamu apa? Wah saya dan adam untungnya punya cita-cita yang jelas. Kami ingin menjadi wiraswasta. Saya mendirikan perusahaan merchendise olahraga dan adam jadi kontraktor. Nah sekarang masuk kepertanyaan yang mulai menegangkan! Ibarat kata mah udah babak aman ke-3 di kuis who wants to be a millionare, hehe. “kamu tahu yesus?” waaaaaaaaaaaaaaa WTF! Gw muslim gitu tiba-tiba ditanya hal itu. Ya gw jawab aja,”nabi terakhir di kristen” . lalu si irfan (nama penginjil itu) bertanya kepada adam dengan pertanyaan yg serupa. Dan ketahuan kalo si adam itu ngk beriman, doi susah bgt jawabnya, HAHAHHAHA.
Yah akhirnya doi meminta nomor HP, awalnya sih (gw ngeliat gelagat si adam) ngk mau ngasih, adam agak bingung untuk beberapa saat. Walau akhirnya doi kasih nomor hp nya. Dan ternyata di telfon men buat ngecek itu nomor benerannya atau ngk! Yah terpaksa krna gw udah ngeliat itu yaa gw juga kasih nomor telefon gw.
Tapi ngobrol2 itu cukup bermanfaat sih. Yaa setidaknya menambah sedikit pengetahuan. Yah saya juga ngk takut2 bgt sebenernya. Saya yakin semua agama di muka bumi ini mengajarkan kebaikan. Asal kita berguna untuk orang banyak tetapi tidak memeluk agama yg paling benar mungkin saja kita bisa masuk surga. Hmmm... gw hanya ngeri aja, apalagi kalo nanti di telefon beneran. Wah berabe dah ini urusan! Yah sekiranya si mas kalo punya misi liat-liat orangnya dulu lah (mungkin sebenernya udah diliat dan kayaknya tau gw dan adam imannya kurang), basa-basi kek, jangankan gw yg muslim takut, adam pun yg kristiani aja takut! Jadi mas-mas kalo punya misi lihat2 kondisi dulu yah... ^^

9 April 2009 dan Analisis Sang Amatir

Perjalanan Pulang

“Seharusnya negara tahu perjuangan saya pulang kampung untuk mencontreng!” saya rasa ini kata-kata yang tergambar dikepala saya melihat kota Bandung yang sepi akan mahasiswa, terutama ITB. Mahasiswa ITB itu terdiri dari berbagai etnis, suku, bahasa, dsb. Jadi jikalau ada hal yang mendesak, tidak sedikit dari mereka yang akan melewati gunung jikalau harus pulang kekampung halaman (Jakarta juga men!). Yaa saya berani mengatakan kalau anak ITB yang pulang kampung itu diatas 40%, bahkan mungkin setengahnya, terlebih jumatnya juga libur, jadi libur 4 hari men! HAHAHAHAHA. Hmm sama-samalah kita bayangkan bagaimana perjuangan teman2 kita yang sampai pulang kerumahnya untuk mencontreng pada pemilu legislatif 9 April 2009 (sebenernya sih mau liburan juga!). Jadi, kalau ada pemimpin pemerintahan yang ngk bener pantes ajalah kalau mahasiswa marah2, mereka terpaksa pulang dengan perjalanan yang jauh gtu buat nyontreng. Nah bapak2 yang dipilih, kalau sudah jadi pemimpin negara yang amanah ya! Jangan buat kami yang harus pulang dengan perjalanan jauh ini kecewa ^^

Tanggal 9 April 2009

Beuh! Terkesima pisan siah lihat jalan-jalan bersih sih sih dari atribut partai, sampai bingung sendiri gw, kayaknya sebulan yang lalu (pas gw balik ke Jakarta) itu jalan ke rumah gw masih banyak bgt atribut partai, sekarang--------------Sim salabim, abracadabra! siiiiiiinnggg! Wuih hebat! Bersih men jalanan dari atribut partai! (terkesima)

Eit ntar dulu nih, saya jadi penasaran untuk mengecek apakah atribut2 dan foto2 para caleg di jalan raya yang membuat polusi visual itu bermanfaat saat 9 april? Sekiranya inilah percakapan yang saya dengar:

Seorang ibu di TPS 11 (Tempat gw memilih) : ‘pak pilih siapa?”

Seorang bapak yang baru saja memilih : ‘tau deh, bismillah aja sambil merem pilih yang mana!’

Loh!! Ya ampun ngk ngefek men ternyata atribut2 partai tersebut! Yaa mungkin karena banyaknya pilihan jadi bingung sendiri (meniru iklan produk rokok tertentu)

Dikepala gw ada 2 kemungkinan, pertama pilih asal-asal seperti bapak tadi, kedua, pasti partai berkuasa yang dipilih! Daripada repot kan yaa..dan kemungkinan kedua gw ternyata bener!

Wah hebat pisan! Democrat memimpin urutan pertama dengan 25%! Tanpa koalisi sudah cukup untuk mengantarkan SBY jadi calon presiden di 9 Juli 2009! Hebat2! Ckckckkck

Urutan ke-2 PDIP, wah ini yg saya kagetkan, kayaknya baru2 saja beredar di Facebook, say no to megawati, baru beberapa hari peminatnya sudah puluhan ribu, beuh! Gila! Awalnya saya pikir suara PDIP akan jatuh, eh ternyata ngk juga yaa… malah meninggi! Hmmmm..

Tapi saya punya analisis sendiri akan persaingan calon presiden :

Kalau nanti SBY lawan Mega, yang menang SBY!

Jadi, menurut saya ada 3 hal yang diperlukan untuk meramaikan pemilu presiden RI nanti (apalgi untuk mereka yang ABS)

1. PDI-P Harus sadar kalau rakyat tidak menginginkan Mega menjadi Presiden.

Dulu dalam internal PDIP hanya sekitar setengah kuorum yang mendukung bu mega jadi capres dari PDIP 2009-2014. Artinya dalam internalnya saja sudah banyak yang meragukan kalau mega bisa menjadi Presiden RI. Lalu, apabila mega menyaingi pak SBY, tentu rakyat akan menilai lebih enak di jaman siapa karena keduanya sudah pernah jadi presiden.

2. Partai-partai besar mendekat kepada Demokrat

Ada gula, ada semut. Ya sekiranya begitulah tingkah laku parpol kita. Saat pemilihan gubernur di Jakarta, hampir semua parpol mendukung bung poke, hanya satu partai yang mendukung bung adang. Hal ini terjadi lagi di Bandung saat pemilihan walikota, dan pemilihan di Jawa Timur. Dan hal ini nampaknya akan terjadi lagi di pilpres. Semua partai berebut mendukung demokrat. Yah sekiranya nanti hanya partai-partai kecil saja yang mendukung lawan dari demokrat. Yaa mudah-mudahan partai-partai kecil itu sanggup memenuhi angka 25%, kan gawat juga kalau ngk sampe, ntar SBY maju jadi presiden tanpa saingan, AHAHAHAHA. Tapi didukung banyak partai besar ngk terlalu berpengaruh. Lihat saja fauzi bowo ataupun dada rosada. Sudah beberapa tahun pembangunan biasa saja.

3. Pilpres itu memilih tokoh, bukan partai

Beda dengan pemilu legislatif yang sekarang. Kalau kita tidak mengenal calegnya, kita bisa pilih partainya. Kalau nanti pilpres, kita sudah tidak mempedulikan partainya saat memilih. Mungkin capres ini didukung oleh partai A,B, dan C. Tapi kalau karakter dari tokoh ini tidak sehebat capres yang didukung 1 partai, mungkin capres yang didukung 1 parpol ini akan menang! Yaa paling hebat sih kalau karakter capres pas, dan partai yang mendukung banyak. Sekarang siapa saja yang bisa menyaingi SBY untuk meramaikan pemilu. Mega? Pasti kalah (dipasangkan dengan siapapun juga. JK? Pasti kembali ke SBY. Prabowo? Ada stigma, masalah dimasa lampau, sulit jadi presiden! SB? Wah orang ini belum dikenal dengan baik di masyarakat. Wah sulit memang menandingi karakter SBY! Tapi saya bukan seorang anti-SBY atau ABS ya, hanya saja kalau pemimpin yang dalam perjalanannya menjadi pemimpin tidak memiliki saingan, maka kapabilitas dari pemimpin tersebut akan kurang baik, mau bukti? Saya punya segudang bukti akan hal tersebut :)

Demokrasi, 9 April 2009


Oleh : Adhamaski Pangeran 19908058
Demokrasi, berasal dari kata demos yang artinya rakyat, dan kratos yang berarti pemerintahan. Dari kata tersebut dapat diartikan sebagai pemerintahan rakyat. Artinya demokrasi berdasar pada kedaulatan rakyat. Kedaulatan rakyat adalah kekuasaan yang dijalankan oleh rakyat atas nama rakyat di atas dasar permusyawaratan. Dan partai politik menjadi ujung tombak untuk memberikan pendidikan politik kepada rakyat. Sekiranya begitulah yang diinginkan bung Hatta dan tersurat dalam UU.
Di Indonesia, sejak tahun 1999 dimulailah kembali pemilu yang demokratis setelah terakhir dan pertama kalinya tahun 1956. Pemilu 2009 ini berbeda dengan pemilu-pemilu sebelumnya. Partai politik dianggap sudah dewasa dan mengerti akan alam demokrasi, rakyat pun demikian. Dewasakah? Nampaknya tidak juga! Partai politik bak artis baru disetiap layar televisi, iklan-iklan yang akan didengar setiap harinya, debat ‘rewel’ yang mengusik telinga, perang ideologi, dan klaim-klaim sebagai partai anti-korupsi, paling plural, nasionalis, pro rakyat, pro petani, dsb. Klaim-klaim yang mengikuti pasar. Partai ber-asaskan islam sekarang memasang gadis tanpa jilbab sebagai modelnya, partai oposisi melewati batas dengan menjatuhkan partai lainnya, partai pendukung pemerintahan mengklaim berhasil dipemerintahan sekarang, partai berkuasa mencoba tebar pesona keberhasilannya dan melupakan kegagalannya terdahulu. Sudah tak tampak perbedaan seperti pemilu-pemilu selanjutnya. Parpol mengeluarkan semua senjata mautnya! Pindah ideologi pun tak masalah asal kekuasaan jadi miliknya. Ad captanum vulsus. Mengambil perhatian rakyat.
Sekarang partai politik tak ubahnya menjadi sebuah bank. Berinvestasi dengan baligo dan reklame lainnya, lalu mendapat kekuasaan di pemerintahan. Ini terbukti dengan baligo dan reklame sepanjang jalan,klaim-klaim pasar dan koalisi strategis bukan ideologis. Ditambah dengan kewajiban untuk memilih yang disahkan oleh MUI, menjadi senjata bagi mereka yang akan dipilih. Aneh memang, golput tidak diperbolehkan, tetapi berjanji palsu oleh para caleg masih diperbolehkan.
Bingung! Ya itulah yang akan tergambar dari kepala-kepala setiap insan di negeri ibu pertiwi ini. Beratus-ratus pilihan akan terpampang didepan matanya, dan selebaran kertas besar yang harus di isi. Pilih yang mana? Itulah yang aka nada dikepala teman-teman 9 april mendatang. Saya yakin itu. Tapi apa mau dikata, nasi sudah menjadi bubur, orang-orang yang tidak kita inginkan sudah menjadi orang yang harus kita pilih, hamburan uang sudah dihabiskan, buruh-buruh sudah mengerjakan jutaan surat pemilih, ribuan kurir mengantarkan surat suara ke pelosok negeri, uang negara pun sudah dibuang untuk pesta demokrasi. Mubazir? Tentu! Tapi jikalau parpol sudah seperti bank, teman-teman harus berjibaku seperti investor. Yang nantinya akan bisa meminta haknya apabila tidak dipenuhi oleh bank!
Dalam fisafat cina, yin dan yang, menjelaskan bahwa di antara hitam pasti ada putih, dan di antara putih pasti ada hitam. Di antara gerombolan busuk, pasti ada yang baik. Sekarang, tanpa pendidikan politik yang tidak diberikan parpol, teman-teman harus buktikan bahwa dapat memilih yang terbaik! Teriakkanlah bahwa pemilu bukan ajang pergantian kekuasaan, tetapi ajang perubahan! Segala harapan-harapan akan Nusantara, mimpi-mimpi pembangunan, dan keletihan untuk hidup alakadarnya. Kita masih membutuhkan pemilu sebagai momen menaruh harapan kepada wakil rakyat. Periksalah dengan baik kebutuhan teman-teman, mimpikanlah masa depan Indonesia, taruhlah secontreng tinta dalam surat sakral tersebut. Yakinlah teman-teman pemilu bukan hanya simbolik dari demokrasi. Demokrasi sebenarnya adalah ketika pemimpin yang terpilih berkuasa kita dapat mengontrolnya. Kita bukanlah supporter dari pemimpin, tapi adalah raja dari pelayan yang akan melayani. Ya! Itulah demokrasi seperti yang diinginkan oleh bapak demokrasi, M.Hatta,”…rakyat supaya tahu berpikir, supaya tidak lagi tahu membebek saja di belakang pemimpin-pemimpin. Sikap membebek tiada mendukung pergerakan, melainkan menipu pemimpin yang berjuang dimuka”

Daftar 10 Film Indonesi Terbaik

Film-film tersebut dipilih oleh 20 pengamat dan wartawan film yakni:
Yan Widjaya (wartawan film senior),
Ilham Bintang (wartawan film senior),
Ipik Tanojo (Bali Post),
Eric Sasono (pengamat film),
Arya Gunawan (pengamat film),
Noorca M. Massardi (wartawan film senior),
Yudhistira Massardi (Gatra),
Leila S. Chudori (Tempo),
Frans Sartono (Kompas),
Yusuf Assidiq (Republika),
Aa Sudirman (Suara Pembaruan),
Taufiqurrahman (The Jakarta Post),
Eri Anugerah (Media Indonesia),
Sandra Kartika (Wakil Pemimpin Redaksi Tabloid Teen),
Telni Rusmitantri (Cek n Ricek),
Ekky Imanjaya (situs Layarperak.com),
Wenang Prakasa (Movie Monthly),
Orlando Jafet (Cinemags),
Poernomo Gontha Ridho (Koran Tempo), dan
Ekal Prasetya (Seputar Indonesia)
  1. Tjoet Nja’ Dhien (1986) Sutradara Erros Djarot
  2. Naga Bonar (1986) Sutradara MT Risyaf
  3. Ada Apa dengan Cinta? (2001) Sutradara Rudy Soedjarwo
  4. Kejarlah Daku Kau Kutangkap (1985) Sutradara Chaerul Umam
  5. Badai Pasti Berlalu (1977) Sutradara Teguh Karya
  6. Arisan! (2003) Sutradara Nia Di Nata
  7. November 1828 (1978) Sutradara Teguh Karya
  8. Gie (2005) Sutradara Riri Riza
  9. Taksi (1990) Sutradara Arifin C.Noer
  10. Ibunda (1986) Sutradara Teguh Karya