[COPAS] Apa itu Indonesia?

Tulisan ini gw copy-paste dari tulisan si hanip tua, hahahahha, doi nulis ini pagi hari setelah sebelumnya gw makan bareng di cabe rawit bareng teman2 PSIK yang lain saat di traktir sama echi. Setelah itu, gw sama haniep ngobrol di YM, dan ngasih gw soft copy dari 'buku putih perjuangan mahasiswa ITB 77/78'. Thx banget nip! Walau gw suka ngecengin lo, tapi gw menyimpan rasa kagum terhadap lo. Terima kasih atas dorongannya, dan menjebak gw terhadap takdir, hahahahahhahaha :))

Apa Itu Indonesia?

Ketika Kertanegara mengirim pasukan ribuan orang dalam sebuah ekspedisi 'Pamalayu', seketika itu juga Kubilai Khan dan para jenderalnya ketar-ketir, ada apakah gerangan Kertanegara mengirim pasukan sebesar itu ke Kerajaan Melayu (terletak di Jambi pada masa kini). Apakah sebuah penaklukan?

Ternyata ekspedisi ini bukanlah sebuah penaklukan, Pasukan Kertanegara yang dikirim dari pelabuhan Hujunggaluh (sekarang Surabaya, makanya sampai sekarang Surabaya selalu menjadi pangkalan angkatan laut) itu bertujuan membangun pos pertahanan di Sumatera, sebagaimana dulu Sriwijaya membangun pos pertahanan di Ligor (sekarang Nakhon Sri Thammarat), dan Majapahit sang suksesor Singosari membangun pos pertahanan di Malaka. Tujuan pembangunan pos pertahanan itu tidak lain dan tidak bukan adalah, membendung ancaman dari Kekaisaran Yuan yang dipimpin Kubilai Khan dari Mongol.

Tapi apakah yang membuat Kubilai Khan lebih takut lagi? Apakah jumlah pasukannya? Apakah armada Kertanegara ini memiliki ribuan kapal? Apakah Angkatan Perang ini memiliki ballista, ribuan kavaleri, senapan, meriam, tank, kapal induk? Ternyata tidak...yang ditakutkan oleh Kubilai Khan adalah, ternyata ekspedisi ini bertujuan membangun persekutuan militer antara Kerajaan Singosari di Timur, dengan Kerajaan Melayu di Barat, untuk kemudian mengajak kerajaan lainnya di seluruh wilayah yang sekarang dikenal dengan Indonesia, dan lebih luas lagi bernama Asia Tenggara, untuk membangun sebuah Commonwealth atau Persemakmuran bernama NUSANTARA.

Apa yang lebih menakutkan lagi dari persemakmuran tersebut? Ternyata nilai-lah yang menjadi kekuatan persemakmuran ini. Di mana setiap kerajaan yang bergabung dalam Nusantara, akan saling memperkuat (Silih Asah), saling mengasihi (Silih Asih), saling melindungi (Silih Asuh), dan saling mengharumkan (Silih Wangi). Tidak ada yang lebih hebat, lebih kuat, semua bersinergi, untuk kemudian melindungi jalur dagang ke Barat (India, Persia, Mesopotamia, Arab, Mesir, Yunani, Romawi), ke Timur (Pasifik, Maya, Inca) dan ke Utara (Cina, Jepang), sambil menyebarkan nilai-nilai yang luhur ini.

Setelah Kertanegara terbunuh dalam serangan Kediri, Singosari digantikan oleh Majapahit (Maharaja Purahita, bukan berasal dari buah Maja yang Pahit, catet tuh!!!) yang bersama Hayam Wuruk dan Gajah Mada, kembali menyatukan persemakmuran ini. Namun kejayaan persemakmuran ini runtuh karena peristiwa kecil. Kerajaan Pajajaran di Barat yang merupakan kekuatan militer, diajak bersekutu oleh Hayam Wuruk, melalui perkawinan antara Hayam Wuruk dan Dyah Citra Resmi Pitaloka, putri Maharaja Sri Baduga, sang raja Pajajaran. Namun pernikahan ini diterjemahkan Gajah Mada sebagai tanda takluk Pajajaran. Sri Baduga tidak terima penghinaan ini, karena bagaimana pun Raden Wijaya pendiri Majapahit adalah putra Pangeran Pajajaran, Rajadarma, yang menikah dengan Putri Singosari, Dyah Lembu Tal. Kok hubungan sedarah ini malah dilupakan oleh Gajah Mada? Inilah yang dianggap oleh Sri Baduga sebagai penghinaan.

Ya memang Gajah Mada sudah lupa kalau Maharaja Purahita hanyalah persemakmuran, bukan imperium, berani-beraninya dia mengklaim ini adalah imperium. Dia sudah melupakan sumpahnya sendiri, untuk menyatukan, bukan menaklukkan, catet tuh....Dan seperti salah satu novel favorit saya, Negara Kelima, Nusantara bukanlah hanya sekedar integrasi wilayah, tetapi juga integrasi ide dan gagasan, dari ribuan ide, gagasan, dan nilai-nilai lokal yang ada di Nusantara.

Apa pelajaran yang bisa kita ambil dari sejarah yang baru saja saya dongengkan ini?

Ternyata, wilayah yang bernama Indonesia ini, yang dulunya bernama Nusantara ini, adalah persekutuan militer untuk saling melindungi dari serangan bangsa lain, tetapi tetap tidak ada yang lebih berkuasa daripada yang lain, tidak ada hegemoni, semua dilandaskan pada musyawarah mufakat, semua memiliki hak untuk sejahtera, semua memiliki hak yang sama di depan hukum, dan hukum lokal dilindungi.

Berbeda ketika Rezim Orde Lama Soekarno berusaha mengindonesianisasi Jawa dan kemudian malah berakibat pembangunan hanya berpusat di Jawa, dia hapus segala kerajaan yang dulu menyatakan diri berada di belakang Republik Indonesia, salah satunya adalah pembakaran Keraton Kesultanan Bulungan yang dianggap menghambat jalannya revolusi. FYI, kalau masih ada kesultanan ini, mungkin pulau Sipadan dan Ligitan masih ada di tangan kita, soalnya keturunan kesultanan ini punya surat tanah bukti kedua pulau itu milik Kesultanan Bulungan.

Berbeda ketika Rezim Orde Lama Soeharto berusaha melakukan Jawanisasi Indonesia. Diangkatnya puluhan Jenderal menjadi Menteri, Anggota DPR, Gubernur, Bupati, Walikota, Dirjen, Komisaris BUMN, dan lain-lain. Belum lagi kerakusan istri, anak, ponakan, ipar, adik-adiknya, adik-adik istrinya, untuk menguasai dunia bisnis di Indonesia. Belum lagi pemberangusan gerakan mahasiswa, buruh, petani, atas nama stabilitas nasional yang sehat dan dinamis (stabil tapi dinamis, what the f***?!!)

Berbeda ketika Rezim Reformasi di bawah Habibie, Gus Dur, Mega, SBY berusaha melakukan hegemoni budaya melalui Westernisasi Politik Indonesia, diubahlah negara kita mengikuti sistem politik ala Amerika-Inggris, masuklah modal asing lebih tidak terkendali, masuklah barang impor tidak terkendali sama sekali, keluarlah barang ekspor dalam bentuk mentah untuk kemudian keuntungannya masuk ke kantong mafia-mafia yang berlindung di Bupati, Walikota, Gubernur, Dirjen, Menteri, Anggota DPR, dan keluarga Presiden.

Jadi, berbicara tentang Indonesia bukan bagaimana berkuasa, tetapi pada bagaimana tiap potensi dan sumber daya yang ada bisa saling memperkuat, saling memberi, saling melindungi, dan saling mengharumkan...

Tapi tentu saja untuk memimpin negara dengan nilai yang luhur seperti itu, tentu saja bukan dengan cara memanipulasi krisis keuangan, untuk kemudian memanfaatkan dana talangan bank itu untuk memenangkan kampanye, memanipulasi hak pilih, menyogok panitia pemilu, dll. Percuma sajalah membangun negara ini dengan pencitraan bahwa kekuasaan didukung oleh 60% rakyat yang merupakan hasil penipuan.

Kepemimpinan macam itu adalah kepemimpinan yang rapuh...bukan hanya karena sebenarnya kepemimpinan itu hanya didukung paling tidak 1/6 sampai 1/4 rakyat Indonesia, tetapi kepemimpinan macam ini hanya melahirkan hegemoni baru, sebuah hegemoni politik, ekonomi, ideologi, walaupun katanya sih rezim ini didukung intelektual pendukung pluralisme dan demokrasi modern.

Tapi tahukah anda, bahwa Hayam Wuruk berkuasa, umurnya masih sangat muda, masih 16 tahun. Saat itu, pemuda usia 16 tahun tidaklah berkelakuan seperti layaknya remaja sekarang yang sibuk cari pacar, belajar memimpin di OSIS, atau hura-hura lainnya. Mereka sudah memegang jabatan Patih, atau menjadi prajurit.

Artinya kemakmuran yang diinginkan oleh persemakmuran ini, selalu diinisiasi oleh anak muda. Karena mereka berani, punya pemikiran segar, jangka panjang, dan selalu bersemangat mencoba hal-hal baru. Berbicara tentang Indonesia, adalah berbicara soal pemikiran anak muda, sepakat?

Dan di saat negara sedang genting seperti ini, anak muda akan selalu menjadi tumpuan, selalu diharapkan maju paling depan, untuk menegaskan kembali, bahwa Indonesia adalah persatuan suku-suku yang mendambakan tegaknya nilai-nilai keadilan, kebenaran, kesetaraan, kemanusiaan, tanpa hegemoni dalam bentuk apapun.

Anak muda hari ini punya kesempatan mengulang lagi sejarah di masa lalu, so tinggal pilih, mau jadi pelaku sejarah, penonton sejarah, atau pecundang sejarah. Kalau anak muda hari ini bisa menjadi pelaku sejarah, tentu pertanyaan apa itu Indonesia di zaman sekarang, bisa terjawab. Bangsa ini tidak lagi gagap, mampu menjawab dengan tegak, bahwa Indonesia itu saya, kamu, dan kita!

Bukan Bapak itu, atau kelompok itu, atau partai itu...

NB:
- selamat berdebat
- makasih buat Om Vence, Kang Uci, Aul, Haru, dan Atep yang udah ngasih inspirasi tulisan ini

0 catatan pembaca:

Poskan Komentar