Katak Dalam Tempurung

Hari ini, seperti hari kemarin. Masih dalam jeruji, dengan borgol dan beban yg melekat di kedua kaki ku. Huh, juluran lidah ku juga tidak bisa untuk mencapai kunci di belahan bumi sana. Gerrrr... geram aku melihatnya, membayangkan dunia luar yang penuh dengan warna-warni, warna-warna kehidupan yg saat ini AKU ENGGAK BISA NGELIATNYA. Warna-warna yang berubah dari dua menjadi empat, dan empat menjadi enam. Aaaaaaaaaaaaaaaa..... itu teriakanku tanda penasaranku akan dunia sana. Dunia yang aku impikan untuk canda tawa dengan teman2ku lainnya. Dunia yang aku pikir sekarang pasti sudah berubah!

Leuuurrr......! Ingin rasanya aku dobrak jeruji-jeruji besi ini. Tapi apalah daya, si tuan memang menjanjikanku akan dilepas beberapa saat lagi. Tapi seperti janji para politikus disana, aku sudah lama mendekam disini, tapi tak kunjung waktuku untuk dilepasnya. Kulitnya sudah mengelopak hari perharinya. Hijauku pun terasa semakin memutih. Leuurrrrrrr.... aaaaaaaaaaaaaaa...! Gila rasanya, gila! ini gila! Ah! Aku terus membayangkan dunia yg aku impikan itu. Bukan dunia yg seperti ini! Dunia yg sempit dan penuh kesendirian! Dunia yg membuat aku terpegap hingga tak kuat aku untuk bernafas panjang.

Huaaaaaaaaaaaa! Hei, kau yg diluar! Kau yg mengikat ku saat ini, APA INI? Jangan menghalangi kebebasanku untuk duniaku. AAAARRRRRRRRRRR!!! Aku bersumpah! Aku bersumpah demi tuhan yang menciptakan kaki ku untuk kebebasan, dan bersumpah untuk darah yang mengalir sekujur tubuhku, kalau saat nanti aku keluar, KALAU SAAT NANTI AKU KELUAR, akan ku ikat sekujur tubuhmu dengan lidah ku, dan akan ku tumpahkan seluruh darah mu untuk kujadikan pemanis mandiku, rasakan itu! Bersiaplah akan pembalasanku, yang akan menjadi hal terkejam dari kelahiran mu di dunia!

0 catatan pembaca:

Posting Komentar