RETORIKA!

Retorika!
Retorika adalah sebuah teknik/seni dalam membujuk secara persuasi untuk menghasilkan bujukan dengan melalui karakter pembicara, emosional atau argumen, dan keterampilan teknis. Retorika sering juga disebut sebagai pidato, karena retorika dapat meningkatkan kualitas eksistensi ditengah-tengah orang lain. BUKAN HANYA sekedar berbicara, seperti yang dikatakan oleh filsuf dari negeri bambu China,”orang yang menembak banyak, belum tentu seorang penembak yang baik. Orang yang berbicara banyak tidak selalu berarti seorang yang pandai bicara.”. Tetapi retorika adalah berbicara yang menarik, informatif, terkadang menghibur dan berpengaruh. Retorika adalah seni berbicara. Seni komunikasi yang membuat buaanyak individu di dunia ini yang menjadi luar biasa ketika mereka angkat bicara. Retorika juga lazim digunakan untuk mematahkan argumen lawan berbicara. Contoh para tokoh-tokoh retorika adalah Coraz,Tisias, dan Gorgias di awal-awal, lalu dilanjutkan oleh Plato, Aristoteles yang membuat retorika menjadi lebih ilmiah dan sistematis, yang kemudian hari di lanjutkan oleh Cicero dan Quintilian saat zaman romawi.

Aristoteles, seorang filsuf klasik kenamaan Yunani berpikir lebih positif terhadap retorika dibandingkan dengan pendahulunya, Socrates dan Plato. Socrates menunding bahwa retorika sebagai seni menipu yang hanya membuahkan keadilan semu. Dan Plato yang sebenarnya menapik teknik-teknik retorika. Yang menurut Plato, persuasi (retorika) bertentangan dengan usaha untuk memperoleh pengetahuan. Karena mereka bukanlah seorang ahli tapi hanyalah seseorang yang membuat keyakinan (manipulatif) kepada orang-orang yang mendengarkannya dan dapat membuat mereka menjadi tersesat jikalau mengatakan yang benar adalah sesat!

Sedangkan Aristoteles menyebutkan bahwa terdapat tiga alat teknis persuasi politik, yaitu retorika delibratif, forensik, dan demonstratif. Retorika delibratif berarti menfokuskan diri pada apa yang akan terjadi dikemuan hari apabila sesuatu diterapkan pada saat sekarang. Retorika delibratif ini berarti memprediksi tentang masa depan dengan mempelajari kebijakan-kebijakan yang diterapkan hari ini. Retorika delibratif ini cocok untuk keperluan politik dan perundangan, dikarenakan retorika ini lebih tenang dan penuh dengan pertimbangan, sehingga setiap kata yang terkandung didalamnya mengarah pada hal yang baik dan bijaksana.
Alat persuasif politik selanjutnya adalah retorika forensik yang memfokuskan diri pada apa yang terjadi di masa lalu untuk menunjukkan bersalah atau tidaknya sesuatu, atau sebuah pertanggungjawaban/ganjaran. Retorika forensik mempelajari tentang pengalaman-pengalaman di masa lalu, seperti kekeliruan tindakan, penyebabnya, dan motif-motifnya hingga dapat mempertimbangkan kebijakan-kebijakan di masa mendatang dan bersifat yuridis. Alat teknis persuasi terakhir adalah retorika demonstratif yang berfokus untuk memuji ataupun penistaan dengan tujuan memperkuat sifat buruk/baik sesorang, gagasan ataupun komunitas. Oratori epideiktik ini mencerminkan kebaikan dan kejahatan.

Marcus Tullius Cicero (106-43 SM) adalah salah satu contoh retoris ternama! Dengan kemampuan retorikanya yang penuh dengan argumentasi-argumentasi logis, juga dengan semangat keadilan yang bersifat pro rakyat, membuat dirinya mampu mencapai kekuasaan di Repulik Roma, walaupun bukan seseorang yang berdarah biru, tetapi beliau dapat mendaki kesuksesan menjadi seorang consul di Republik Roma.

Yaa itulah retorika, sebuah seni berbicara yang dapat menghanyutkan para pendengarnya untuk tidak berkedip sedikit pun ketika sang orator mulai beraksi. Yaa! Retorika adalah salah satu senapan yang harus dimiliki oleh para politikus untuk menyampaikan maksud, tujuan, dan kebenaran-kebenaran lainnya untuk kesejahteraan banyak orang. Tapi ingatlah kawan-kawan, ketika kita sedang beretoris, janganlah sampai menjadi burung beo yang indah suaranya, tapi jadilah juga orang yang berintegritas! Menyampaikan kebenaran dan melakukan kebenaran!

0 catatan pembaca:

Posting Komentar