Intelektual

Intelektual, adalah sebutan bagi orang-orang yang menguasai ilmu tertentu ataupun orang-orang yang cerdas (macam cendekiawan). Sebelum jauh, saya mencari-cari terlebih dahulu tentang definisi intelektual dari berbagai literatur. Dalam KBBI, intelektual berarti cerdas,berakal, dan berpikiran jernih berdasarkan pengetahuan, mempunyai kecerdasan tinggi, cendekiawan. Begitu pula dengan seorang sosiolog tahun 1940an, Karl Mannheim, yang mendefinisikan bahwa kaum intelektual adalah mereka yang memiliki rasionalitas substansial dan rasional fungsional. Rasional substansial berarti memiliki wawasan yang tajam dan bijak, sedangkan rasional fungsional berarti mampu mengartikulasi wawasan tersebut untuk mencapai tujuannya. Berarti intelektual yang dimaksud oleh Karl Mannheim adalah mereka yang mampu menggunakan wawasannya untuk mencapai tujuan.

Sharif Shaary,seorang dramatis Malaysia yang terkenal, mendefinisikan bahwa intelektual bukan sarjana lulusan universitas, tetapi adalah seorang yang kenal akan keberanian dan berani pula memperjuangkan kebenaran itu, meski bagaimanapun tekanan dan ancaman yang dihadapinya, terutama sekali kebenaran, kemajuan, dan kebebasan untuk rakyat.

Julian Benda (1867-1956), dalam bukunya ‘Pengkhianatan Kaum Intelektual’ / La Trahison des Clercs, melukiskan bahwa intelektual merupakan sosok ideal yang kegiatan utamanya tidak mengejar tujuan-tujuan praktis, melainkan lebih ke arah pencarian dalam mengolah seni, ilmu atau renungan metafisik. Sehingga apabila ia menemukan kebenaran, lalu menyampaikannya, berarti ia menjalankan tugasnya kepada masyarakat. Sedangkan apabila ia menyampaikan kesalahan, berarti ia memberi kesempatan pada orang lain untuk menyuarakan kebenaran kepada masyarakat (memberi kesempatan orang lain untuk menjadi intelektual).

Sedangkan Edward W. Said (1995) merumuskan intelektual dalam bukunya Representation of The Intellectual” sebagai individu yang dikaruniai bakat untuk merepresentasikan pesan, pandangan, sikap, atau filosofis kepada publik. Aktualisasi yang bertujuan melahirkan kebebasan untuk memotivasi dan menggugah rasa kritis orang lain agar berani menghadapi ortodoksi, dogma, serta tidak mudah dikooptasi kuasa tertentu (rezim atau korporasi). Suatu tugas dan tanggung jawab intelektual yang senada dengan apa yang ditulis Noam Chomsky (1966),seorang profesor linguistik Amerika Serikat, dalam “The Responsibility of Intellectual”, yaitu intelektual yang berada dalam posisi mengungkap kebohongan-kebohongan pemerintah, menganalisa tindakan-tindakannya sesuai penyebab, motif-motif, serta maksud-maksud yang sering tersembunyi di sana.

Intelektual Organik

Dari berbagai literatur tentang intelektual, yang menarik adalah karya Antonio Gramsci, dalam bukunya Selections from Prison Notebooks, ia membagi intelektual menjadi dua, yaitu intelektual tradisional dan intelektual organik. Setiap orang menurut Gramsci, memiliki potensi untuk menggunakan kemampuan inteleknya, tetapi tidak semuanya dapat disebut sebagai intelektual (dalam artian sebagai salah satu elemen fungsi sosial).

Intelektual tradisional berati mereka yang secara terus menerus melakukan hal yang sama dari generasi ke generasi. Mereka adalah penyebar ide dan mediator antara massa rakyat dengan kelas atas. Contoh dari mereka adalah ilmuwan,seniman, para filsuf, dsb. Intelektual kedua menurut Gramsci adalah intelektual organik, sosok personifikasi yang gigih dalam perenungannya, reflektif atas konteks historisnya dan revolusioner memperjuangkan manifest perenungannya bagi kaumnya. Intelektual organik merupakan sebutan bagi intelektual-akademisi yang mendedikasikan proses pembelajarannya sebagai upaya membuka ruang atas terjadinya gap antara teori dan praktik. Bagi mereka, tidak cukup peran intelektual jika hanya diapresiasikan lewat buku semata. Sebaliknya, lebih dari itu, perannya bagi pemberdayaan masyarakat adalah satu kewajiban yang mutlak.

Ada beberapa ciri dari intelektual organik, yaitu sigap dan tanggap dan senang berkutat dengan perubahan, mempunyai kesadaran kritis (bukan kesadaran naif), bergerak dari grassroad (dari akar rumput), mandiri, tidak mudah dikooptasi oleh kekuasaan.

Jadi teringat dengan kata-kata Pramoedya Ananta Toer, ‘“apalah artinya renda-renda kesenian jika terpisah dari masalah kehidupan”. Apalah artinya intelektual, apabila tidak bisa menyampaikan ilmunya kemasyarakat. Apalah artinya teori apabila tidak bisa dipraktikan. Semoga, dengan makin banyaknya kaum intelektual di Indonesia, semakin maju pula peradaban indonesia.

0 catatan pembaca:

Poskan Komentar