Melawan Pola Pikir Konservatif

Sulit rasanya, membuat sebuah perubahan, dimana orang-orang yang ada didalamnya berpikir konservatif, berpikir dengan kekhawatiran menerima perubahan (walaupun perubahan itu menguntungkan tapi tetap ditanggapi dengan dingin/dianggap ancaman). Orang-orang yang berpikir konservatif, biasanya sudah nyaman dengan kondisi yang ada. Kenyamanan tersebut yang membuat sulit orang-orang ini untuk berpikir ataupun menerima pemikiran yang lebih terbuka ataupun out of the box.

Dalam sebuah perkumpulan (baik itu adalah organiasasi ataupun paguyuban), pola pikir konservatif sangatlah berbahaya, karena hanyalah membuat perkumpulan tersebut stagnan dan statis, tidak ada gejolak didalamnya, bahkan mungkin pertikaian tentang yang baik,benar,salah,ataupun jahat, karena yang dilakukan hanyalah kebiasaan-kebiasaan ataupun kultur maupun budaya yang dilakukan oleh generasi-generasi sebelumnya.

Orang-orang dengan pola pikir konservatif adalah orang yang nyaman dengan keadaan hari ini dan enggan menerima perubahan. Hari ini, saya ingin mengajak teman-teman untuk berpikir, untuk berpikir terbuka, berpikir out of the box, berpikir untuk melewati tapal batas pemikiran, untuk melangkah jauh, ataupun berpikir kreatif, berpikir lepas dari kenyataan yang ada namun pemikiran barunya masih dapat dilakukan di tataran teknis. Saya jadi teringat dengan kata-kata sastrawan ternama Indonesia

“Kita semua harus menerima kenyataan, tapi menerima kenyataan saja adalah pekerjaan manusia yang tak mampu lagi berkembang, karena manusia juga bisa membikin kenyataan-kenyataan baru. Kalau tak ada orang mau membikin kenyataan-kenyataan baru, maka kemajuan sebagai kata dan makna sepatutnya dihapuskan dari kamus umat manusia.” (Pramoedya Ananta Toer, Rumah Kaca, hal 325)

Begitulah seorang Pram mengajak kita untuk berpikir lebih lepas, untuk berpikir lebih kreatif dan menginovasi hal-hal yang ada untuk kemajuan. Ingat yaa kawan-kawan, bahwa inovasi bukan hanya menciptakan hal yang baru, tetapi memperbaiki hal lama menjadi lebih menarik, bukan sekedar evaluasi dan membuatnya menjadi sama.

Ketika kita dihadapkan dengan perkumpulan yang dimana orang-orangnya berpikir konservatif, maka ada beberapa saran yang saya berikan kepada teman-teman. Yang pertama adalah berpikir kreatif. Memberikan ide-ide segar dan matang, terlebih untuk diperdebatkan sehingga argumen-argumen yang keluar pun bukan salah ucap. Kedua, memahami esensi dari kegiatan-kegiatan yang ada sebelumnya, sehingga kegiatan baru yang diciptakan nanti bukan hanya sekedar kegiatan baru karena terburu nafsu menggantinya, tapi adalah kegiatan dengan kemasan yang berbeda tapi dengan esensi yang sama ataupun bertambah.

Ketiga, berpikir lebih terbuka dengan masukan-masukan yang ada, jadikan masukan-masukan tersebut adalah sebagai referensi sehingga dapat dikaji kembali. Sangat bahaya ketika terus menerus memasukkan masukan-masukan yang ada, karena ketika berhadapan dengan orang-orang yang berpikir konservatif, berarti masukan-masukan yang ada hanyalah memaksakan untuk tidak mengganti kegiatan tersebut. Keempat, meyakini bahwa hal yang baru adalah dapat dilakukan dan tidak melanggar norma-norma yang ada ataupun mengurangi esensi dari kegiatan-kegiatan yang ada sebelumnya. Kelima, berpikir untuk menghegemoni, yaitu pengaruhi satu per satu orang, sehingga pemikiran kreatif dan out of the box tersebut dapat mendominasi perkumpulan tersebut.

3 catatan pembaca:

Z-ra mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Z-ra mengatakan...

"yang saya pahami dari kaderisasi ITB tidak mengajarkan senior selalu benar, tapi memang yang ditunjukkan senior itu benar"
kata FULAN, panitia OSKM juga

Tanggepan gw sih, "maksud lo apa? pernyataan lo tuh udah menyanggah sanggahan lo sendiri tau ga?"

Nggak konservatif, tapi nggak terima masukan? Hipokrit itu namanya dam.

Z-ra mengatakan...

Dan jujur, gw g sudi angkatan gw, which is temen" gw, dididik dengan mental hipokrit kayak gitu.
Lw juga harusnya ngerti kalo panitia/pendiklat itu nginvest ke peserta diklat buat tercapainya tujuan mereka. Kalo gitu panitia/pendiklat harusnya jug all-out dong, jangan setengah" atau ada dirty-play.
Omongan gw ribet banget?
Kalo lw anggep gitu, OSKM 2010 cuma kepanitiaan biasa yang tanpa perlu diklat, cukup oprec. Panitia/pendiklat nggak usah sok"an ngomong esensi atau apalah itu.
Kalo lw bisa nerima masukan gw, sampein lah ke panitia/pendiklat dan pastiin mereka juga nerima masukan. Itu kan peran eksternal buat luar kepanitiaan?
Thanks.

Posting Komentar