Petugas parkir ITB, nasibmu kini

Sebagai salah seorang pengguna sepeda motor dan mahasiswa yang letak gedung kuliahnya cuman berjarak kurang dari 30 meteran dari parkir selatan ITB, udah jadi sebuah habitat gw buat selalu lewat parkiran selatan/parkiran SR. Parkiran SR adalah salah satu dari tiga tempat parkir di ITB, selain parkiran sipil dan parkir utara. Awalnya parkiran di ITB ini dikelola oleh koperasi ITB, namun karena satu hal dan lain hal, parkiran ini jadi dikelola oleh swasta (namanya ISS), yaa yang saya tau selain karena perda kota Bandung yang mengharuskan untuk memberikan jasa parkiran ke swasta apabila ada sejumlah 300 pengguna parkir, parkiran ITB ini dikritik karena tidak bisa menjaga kebersihan dan setoran yang jumlahnya jauh dari jumlah pengguna parkir, mungkin defisit juga kali ya, tapi mau enggak mau kalau memang betul itu adalah alasannya, maka mahasiswa ITB juga turut andil dalam pembagian kesalahan ini.

Pekerjaan sebagai petugas parkir di ITB bagi saya tidak manusiawi, selain karena mereka berstatus kontrak dan hidup dalam ketidakpastian karena belum tentu dapat bekerja lagi setelah kontraknya selesai, pekerjaan mereka mengharuskan untuk bekerja siang-malam. Err.. rasanya saya selalu kesal kalau pulang malam dari kampus terus masih melihat para petugas parkir menjaga pintu masuk, yaa tapi apa mau dikata memang kuliah di ITB bisa membuat pulang malam.

Bagi saya, yang jadi titik tekan permasalahan bukan karena digantinya koperasi menjadi swasta, bukan pula karena tarif parkir yang naik dari biasanya parkir sepuasnya seribu perak sehingga sekarang jadi 1000 perak per 12 jam untuk motor dan 2000 perak per 12 jam untuk mobil, karena untuk masalah digantinya lembaga yang mengurus parkiran menjadi swasta juga menyerap tenaga kerja, kalau kita marah-marah sama ISS, sebenarnya sama aja, kita menuntut untuk tidak adanya gaji bagi para pekerja di ISS, terus juga bukan karena kenaikan tarif parkir, memang kenaikan tarif parkir jadi sorotan, tapi kalau di ganti dengan kualitas yang lebih baik? Nah permasalahannya adalah ketidakjelasan kesejahteraan petugas parkir lama yang sekarang telah dipecat, mereka di pecat hanya kurang dari H-1 setelah digantinya menjadi swasta dan sekarang entah apa yang harus mereka katakan kepada anak dan istri mereka karena telah kehilangan kerja. Mungkin teman-teman bisa aja bilang life must go on kali-kali aja mereka bisa sukses jadi miliarder kalo enggak jadi petugas parkir, eh men lo pikir hidup ini kayak di komik doraemon yang lo tinggal merengek terus dapet alat dari doraemon, hah? kalo mereka berpendidikan juga enggak akan kerja jadi petugas parkir, yang jadi permasalahan hari ini adalah ketidakpastian kesejahteraan 20 orang petugas parkir ITB, bekerja dimana? gimana caranya menafkahi keluarga? gimana hidupnya setahun kedepan? dan bagaimana-bagaimana lagi pertanyaan tentang kesejahteraan mereka yang akan dijawab oleh para mahasiswa kampus ganesha


sumber foto : dokumentasi kampanye dik2win, 2010

1 catatan pembaca:

Belly Surya Candra Orsa mengatakan...

Great Blog..!!!! Keep Blogging.... :)

Posting Komentar