Buat apa keluar dari sekolah?

Mau sukses? keluarlah dari sekolah!

Ini slogan beberapa pemikir yang dicetak pula dalam beberapa buku dan tersebar luas dalam jaringan dunia maya. Memang pada awalnya beberapa sejarah hidup orang-orang sukses yang keluar dari sekolahnya, sebut saja Albert einstain, Thomas alfa edison, Harry houdini, Kolonel sanders, Bill gates, Benyamin franklin, dsb menjadi motivasi untuk mampu berkarya walaupun tidak mengecap pendidikan untuk anak-anak yang bernasib sama dengan mereka.

Namun dalam beberapa perspektif malah menjadikan mereka sebagai contoh sukses yang tidak ber-sekolah dan mengajak orang-orang untuk keluar dari sekolah. Virus ini menyebar pula ke negeri ini, mencaci-maki pendidikan formal dan bermimpi jikalau ia keluar dari sekolah hari ini ia bisa sukses (?). Benarkah itu?

Bagi saya ini kesalahan dalam penerjemahan sejarah kehidupan orang-orang sukses yang keluar dari sekolahnya. Fokus titik balik kehidupannya memang pada saat ia keluar dari sekolah dan terpuruk namun tetap mampu bangkit dan sukses. Tapi intisari yang harus kita pelajari dari sejarah kehidupan orang-orang yang tidak bersekolah namun sukses tersebut adalah :

1. Kemauan untuk bangkit
Niat, kemauan, semangat, gairah, motivasi, dan langkah-langkah untuk bangkit dari keterpurukan. Dalam hal ini keterpurukannya adalah ketika ia keluar dari sekolah. Poin ini adalah hal yang paling inspiratif, bahwa hidup seperti roda, pernah dibawah dan diatas, namun tak menyerah pada nasib dan menunggu untuk hidup di atas tapi berjuang untuk berada diatas dan belajar untuk tidak kembali jatuh dititik terendah sebuah kehidupan.

Sumber gambar: http://kfk.kompas.com/kfk/view/79716-berani-tampil-beda
2. Berbedalah dengan yang lain dan berharap hanya sedikit orang yang berbeda
Beda dari yang lain. Yang berbeda bukan dari banyak orang seumuran yang bersekolah, dan ia tidak bersekolah. Namun berbeda disini adalah berbeda secara pemikiran. Untuk kasus sekolah ini, pendidikan yang ada disekolah diterima oleh semua murid, sehingga semua siswa/i mendapat pendidikan yang sama sehingga memunculkan cara pandang dan pola pikir yang sama. Namun ini menjadi berbeda ketika ada orang-orang yang putus dari sekolah, tidak mendapatkan pendidikan, cara pandang, dan pola pikir yang berbeda dengan orang kebanyakan. Dan orang-orang sukses yang putus sekolah memiliki ini, cara pandang dan pola pikir yang berbeda namun konstruktif. Ini disebabkan pula oleh budaya/habit yang ia lakukan, jikalau orang lain seumurannya melakukan sesuatu yg rutin, bagun pagi pulang sore tidur dan begitu seterusnya, orang yang putus sekolah ini tidak begitu, memiliki kesempatan untuk tidak melakukan rutinitas, pertanyaaannya adalah apa kegiatan orang-orang yang memiliki waktu luang lebih ini untuk mengisi waktunya,yaa kalau hanya diisi dengan hal-hal yang tidak postif dan konstruktif hasilnya akan lebih buruk, tapi jikalau ia mengisi waktunya dengan hal-hal yang aneh rasanya hasilnya akan terbalik.

Oke, pesan yang ingin saya sampaikan pada tulisan ini adalah, pertama dan ini bersifat umum, ketika membaca buku jangan pernah ditelan mentah-mentah dan hanya mangguk-mangguk saja sehingga tidak menganalisis dan dicertan terlebih dahulu dan pesan kedua adalah, buat apa putus sekolah jikalau ingin sukses? hal yang dilakukan justru menjadi berbeda dari orang kebanyakan, berpikir beda, bertindak laku beda, sehingga memilik hasil yang berbeda. Yaa bagi saya kunci kesuksesan itu ketika menjadi satu orang yang tidak sama dengan yang lainya, ketika kita mampu untuk berpikir dan bertindak kreatif hingga berbeda dengan orang kebanyakan dan mampu memberikan manfaat yang lebih. Inovasi kata kuncinya.

Semoga tulisan iseng ini bermanfaat ,ingat jangan ditelan mentah-mentah, hahahaha

0 catatan pembaca:

Poskan Komentar