Kearifan lokal : Hakikat cerita rakyat sangkuriang, fenomena negeri & sistem kenegaraan Indonesia

Malam minggu kemarin nonton pagelaran LSS jadi teringat dengan salah satu cerita rakyat sunda, yaitu sangkuriang. Cerita ini menarik karena memiliki kesinambungan dengan sistem ketatanegaraan dan fenomena-fenomena yang terjadi di negeri ini, yaa sudah hampir tiga tahun tinggal di tanah sunda berarti sudah sedikit mengenal tentang kekayaan sunda baik dari segi bahasa, budaya, sosial, dsb. Berikut adalah sebuah hakikat cerita sangkuriang dan hubungannya dengan fenomena dan sistem kenegaraan Indonesia.


Sumber gambar: http://unknown-nasir-azah.blogspot.com/2013/01/sangkuriang-cerita-rakyat-dari-jawa.html
Pada cerita ini dikisahkan tentang puteri cantik, Dayang sumbi yang merupakan anak dari seekor babi hutan betina bernama Wayungyang yang meminum air seni sang raja sungging perbangkara. Karena kecantikannya, banyak raja yang menyukainya dan tak satupun diminati oleh dayang sumbi. Sampai pada akhir para raja tersebut saling beperang dan dayang sumbi pun melarikan diri. Dayang sumbi akhirnya menikahi seekor anjing bernama si tumahyang (si tumang) yang mengambilkan toropong (torak) yang digunakannya untuk bertenun pakaian dan kemudian melahirkan seorang anak bernama sangkuriang. Namun suatu waktu ketika sang anak berburu ia tidak mendapatkan hasil buruan hingga akhirnya ia membunuh si tumang yang ia pun tak ketahui anjing tersebut adalah ayahnya dan akhirnya sangkuriang pun dipukul oleh ibunya hingga dikeluarkan dari rumah.

Bertahun-tahun berlalu, Sangkuriang melakukan perjalanan dari timur ke barat, hingga tak sadar bahwa ia kembali ke tempat kelahirannya dan bertemu dengan ibunya. Melihat dayang sumbi yang masih cantik karena memakan sayur dan lalap di hutan. Sangkuriang ingin menikahi dayang sumbi, namun dayang sumbi sadar bahwa sangkuring adalah anaknya karena melihat tanda luka di kepala sangkuriang. Melihat hal tersebut dayang sumbi tidak ingin menikahi anaknya sendiri walaupun sangkuriang terus memaksanya. Sampai akhirnya dayang sumbi meminta sangkuriang untuk membuatkan perahu dan telaga dalam waktu semalam dengan membendung sungai citarum. Sangkuriang pun menyanggupi permintaan dayang sumbi karena apabila ia menyelesaikan tantangan tersebut dayang sumbi akan dijadikan isterinya. Sayang seribu sayang, doa dayang sumbi kepada Sang Hyang Tunggal dikabulkan, matahari segera terbit dari timur dan sangkuriang pun menjadi marah, bendungan yang berada di Sanghyang tikoro dijebol dan sumbata aliran sungai citarum dilemparkannya ke arah timur dan menjadi gunung manglayang. Air talaga bandung surut kembali dan ia pu juga menendang perahunya dan berubah wujud menjadi gunung tangkuban perahu. Melihat hal ini dayang sumbi pun kabur hingga berubah menjadi bunga jaksi, dan dinyatakan hilang di gunung puteri, sedangkan sangkuriang terus mencarinya sampai di sebuah tempat yang disebut ujung berung.
Namun ternyata cerita sangkuriang ini memiliki hakikat yang mendalam terutama dalam ilmu ketatanegaraan. Si tumahyang adalah seekor anjing. Anjing adalah binatang yang identik dengan merupakan simbol kesetiaan. Dan si tumahyang memiliki hakikat sepeti cerita-cerita rakyat yang lain memiliki arti tersendiri dalam namanya, si tumahyang adalah SI-TU-MA-HYANG, berikut adalah arti dari masing-masing kata yang :

1. SI adalah resi yang artinya adalah petapa/orang suci yang lebih dalam kemampuan kognitifnya sehingga pekerjaannya adalah berpikir, pertanyaannya dalam konsep ketatangeraan siapakah yang dituntung untuk terus menerus berpikir? Jawabannya adalah fungsi legislatif.

2. TU adalah ratu. Sifat seorang ratu adalah menyuruh, sehingga dalam ketatanegaraan fungsi yang berhak menyuruh dan menjalankan sesuatu adalah fungsi eksekutif.

3. MA adalah rama yang berarti adalah seorang ayah dan menengahi permasalah yang ada pada anak-anaknya. Dalam ilmu ketatanegaraan ini berarti fungsi yudikatif.

4. HYANG berarti tuhan. Istilah sholat dalam Indonesia pun begitu, sembahyang berarti menyembah tuhan.
Si tumahyang adalah sebuah konsep trias politica (eksekutif, legislatif, yudikatif) yang berlandaskan pada nilai ketuhanan yang maha esa (Sang hyang tunggal). Sedangkan dayang sumbi pun begitu, memiliki arti dari penggalan namanya, yaitu DA-HYANG-SU-UMBI

1. DA berarti badag, yang dalam bahasa sunda berarti besar atau agung

2. HYANG berarti tuhan

3. SU sebenarnya saya sendiri pun tidak tahu pasti ini apa, namun berdasarkan sumber-sumber yang ada hakikatnya adalah baik/benar. Memungkinkan dari bahasa suda sae ataupun leres.

4. UMBI adalah ibu atau ambu atau bisa pula diartikan sebagai bumi.

Sehingga dayang sumbi dapat diartikan sebagai ibu pertiwi yang terdapat kebesaran tuhan yang baik didalamnya.Hakikat nama sangkuriang pun begitu, dalam bahasa sansekerta artinya sama dengan ganesha yang sama-sama memiliki sifat pembelajar. Mungkin ini pula mengapa kampus ganesha (ITB) berada dibandung, karena kampus ganesha adalah kuil sangkuriang belajar.Jadi sangkuriangyang berarti adalah seorang pembelajar atau akademisi atau seseorang yang sudah mapan secara ilmu pengetahuan.
Apabila kita balikan hakikat nama ini dalam cerita sangkuriang kembali, dayang sumbi berarti nusantara, si tumang berarti sistem kenegaraan Indonesia, dan sangkuriang adalah seorang terpelajar. Maka dari cerita sangkuriang dapat kita artikan, bahwa Indonesia adalah negeri alam karena ia berasal dari babi yang meminum air seni. Karena kekayaan alam ini nusantara menjadi perebutan para raja-raja yang berperang, sehingga mampu pula kita definisikan seorang raja memimpin negara sehingga nusantara adalah perebutan dari negara-negara lain. Dayang sumbi yang melarikan diri dari peperangan dan menikah dengan si tumang berarti adalah Indonesia merdeka dan mengadopsi sistem trias politica berdasarkan ketuhanan YME di Indonesia. Sedangkan sangkuriang adalah anak bangsa. Terbunuhnya si tumang adalah sebuah pengkhiatan dari seoarang terpelajar yang merusak sistem ketatanegaraan. Mungkin dalam dunia nyata kita mampu melihat bagaimana terjadinya korupsi, kolusi, nepotisme dan kejahatan-kejahatan lainnya yang merusak sistem kenegaraan dan dilakukan oleh orang-orang terpelajar. Pengejaran dayang sumbi oleh sangkuriang untuk dipersunting adalah sebuah sebuah cerita keegoisan dari nafsu seorang terpelajar untuk menduduki nusantara.

Lalu apakah maksud dari patahan cerita akhir yaitu ketika dayang sumbi berdoa kepada Tuhan dan menebarkan irisan kain putih hasil tenunannya sehingga fajar terbit dan sangkuriang gagal menyelesaikan tugasnya hingga ia marah dan membuat dayang sumbi hilang? Apakah mampu pula kita artikan sebagai negeri Indonesia yang akhirnya hancur karena keegoisan para terpelajarnya? Mungkin saja, pada bagian akhir cerita sangkuriang ini belum mampu saya pribadi artikan maksudnya. Tapi pastilah kita semua bertanya apakah benar dayang sumbi adalah ibu pertiwi? Si tumang adalah sistem kenegaraan? Dan sangkuriang adalah seorang terpelajar? Apakah benar ini maksud dari cerita sangkuriang? Bagaimana bujangga manik menuliskan cerita ini pada abad ke-16? Apakah konsep pemisahan kekuasaan trias politica berasal dari negeri Indonesia? Apakah tanah sunda adalah tanah sumber ilmu pengetahuan?
Tapi apapun itu, cerita sangkuriang ini cocok dengan kondisi negeri ini, bagaimana seorang sangkuriang yang merupakan sang ego rasio mengkhianati ibu pertiwi dengan melukai sistem kenegaraan. Semoga tulisan hakikat cerita sangkuriang ini bermanfaat dan mengingatkan kita akan banyaknya kekayaan nusantara. Dam semoga cerita dimasa lalu ini memberikan kita pelajaran agar dimasa depan kita tidaklah menjadi seorang sangkuriang yang mengkhianati negeri ini. Kitalah putra-puteri ibu pertiwi yang bertanggung jawab terhadap melimpahnya kekayaan negeri ini.

Sumber :
http://sukmana.weebly.com/2/post/2011/05/makna-carita-sangkuriang.html (diakses hari senin, 11 juli 2011)
http://id.wikipedia.org/wiki/Sangkuriang_%28legenda%29 (diakses hari senin, 11 juli 2011)
http://www.ceritaanak.org/index.php?option=com_content&view=article&id=61:cerita-rakyat-sangkuriang&catid=36:cerita-rakyat&Itemid=56 (diakses hari senin, 11 juli 2011)

1 catatan pembaca:

Paskal Djajasoekarta mengatakan...

Wah, gua pikir sumber inspirasi penulisannya dari Hamal/Hanif ini hehehe. Sering banget diceritain di sekre. Gw setuju sh Trias Politica nya. Cuma keabsahannya itu loh dam yang kadang buat gw ragu. Istilahnya, 'Masa Sih?' hehe. Terlalu dijajah bule kayaknya otak gua sampe ga percaya sodara sebangsa sendiri

Poskan Komentar