Masa depan para aktivis intrakampus

Aktivis mahasiswa ITB yang aktif di intrakampus

Setelah usai mengurus himpunan, ada satu hal yang terus menerus menghantui sel-sel neutron di otak saya untuk terus berpikir (lebay sih hahaha). Tapi beneran, hal itu bukan tentang tugas akhir saya yang belum memiliki topik dan juga bukan tentang ujian dari kuliah-kuliah yang masih saya ambil, apalagi tentang mencari pendamping wisuda hehe. Tapi hal yang terus menjadi bayang-bayang pemikiran saya ialah, akan seperti apa masa depan aktivis-aktivis intrakampus? Sebagai bayangan teman-teman pembaca setia blog saya, kampus ITB sedikit alergi dengan organisasi ekstrakampus sehingga lebih banyak (dan bahkan mayoritas) mahasiswa ITB lebih memilih organisasi intrakampus seperti himpunan,unit,ataupun kabinet sebagai wadah beraktivitas dan mengembangkan kapasitas.

Ada perbedaan antara organisasi intrakampus dengan organisasi ekstrakampus. Organisasi ekstrakampus biasanya (dari informasi yang saya dapat, silahkan dikoreksi jika salah), merupakan organisasi turunan dari organisasi lain yang lebih besar, semisal partai politik,LSM,lembaga kajian,dsb. Sehingga tak jaran organisasi ektrakampus lebih fokus pada dunia pergerakan mahasiswa. Hal ini berbeda dengan organisasi intrakampus yang lebih banyak bermain pada dunia organisasi mahasiswa, lebih pada bagaimana mengembangkan kapasitas anggota dan bagaimana organisasi tersebut memberikan manfaat pada pihak luar berdasarkan kemampuannya,sering kali memang organisasi mahasiswa turut ambil bagian dalam dunia pergerakan kemahasiswaan. Pada organisasi mahasiswa juga bersifat independen sehingga sangat jarang dijumpai organisasi intrakampus yang ditunggangi oleh organisasi yang lebih besar.

Seperti yang saya utarakan sebelumnya, mayoritas dari mahasiswa ITB lebih memilih untuk beraktivitas di organisasi intrakampus, yaa memang tidak dapat dipungkiri terdapat faktor sejarah dan arogansi ganesha sehingga terdapat tradisi menjauh dari organisasi ekstrakampus. Namun, yang terus menerus menjadi perhatian saya ialah akan seperti apa masa depan para aktivis organisasi intrakampus ini saat menghadapi kehidupan pascakampus?
Organisasi intrakampus tidak memiliki dukungan dari organisasi yang lebih besar, sedangkan organisasi ekstrakampus sebaliknya. Sehingga memungkinkan sekali bila berpikir pragmatis, kader-kader lulusan dari organisasi ekstrakampus ini ditarik ke organisasi yang lebih besarnya. Nah, kalau kader-kader organisasi intrakampus ditarik kemana?

Yaaa pertanyaan terakhir itulah yang terus menerus menghantui pemikiran saya. Bukan bermaksud pragmatis atau ingin ditarik ke organisasi yang lebih besar, namun rasa ingin tahu apakah terdapat wadah untuk menjaga idealisme aktivis-aktivis intrakampus ini didunia pascakampus?? apakah ada wahana bagi para aktivis-aktivis ini untuk berkarya dari kapasitas yang ia latih selama masih menjadi kader organisasi intrakampus?? Pragmatis mungkin pemikiran saya, tapi saya pikir sangat wajar saya berpikir seperti itu. Akan jadi apa 'buah' yang tumbuh dari tanaman yang selalu diberi pupuk dan air selama masih ada dikampus?

Mungkin itu saja untuk sedikit membagi apa-apa yang menjadi bahan pemikiran saya akhir-akhir ini. Mohon maaf jika terdapat kesalahan kata ataupun interpretasi, bukan maksud saya pula untuk menjatuhkan organisasi-organisasi yang saya sebut di atas dan bukan maksud saya pula untuk mempromosikan salah satu organisasi diatas. Ini semua hanyalah pemikiran dari kebimbangan dan rasa penasaran saya, akan seperti apa masa depan para aktivis organisasi intrakampus? Apakah mereka akan menemukan wadah yang tepat untuk menjaga dan menularkan idealisme mereka? Dan bagaimana cara mereka untuk tetap berbakti kepada ibu pertiwi?

1 catatan pembaca:

Fahmi Maulana Kamil mengatakan...

menurut saya, organisasi intrakampus di ITB sekarang banyak mengadakan aktivitas kemahasiswaan yang saya kategorikan pada tiga hal : kekeluargaan anggota, keprofesian dan pengabdian masyarakat. maka setelah lulus, para aktivis intrakampus bisa melanjutkan kegiatannya dalam salah satu atau lebih dari tiga hal tersebut pada cakupan yg lebih luas (perusahaan, lembaga negara dll).

berbeda dengan organisasi ekstrakampus yang menurut saya lebih fokus pada pergerakan kemahasiswaan politik nilai skala nasional atau regional (mungkin ada yg sampai masuk ke ranah politik praktis) sehingga ketika setelah lulus para aktivis ekstrakampus berpeluang untuk melanjutkan pergerakan kemahasiswaannya dalam dunia politik, baik nilai maupun praktis.

disini saya membedakan aktivitas dengan pergerakan kemahasiswaan. bentuk pergerakan tidak harus politis, tapi penyebabnya mesti politis, sedangkan aktivitas tidak disebabkan oleh hal-hal politis. bisa aja mantan aktivis intrakampus masuk ke dunia politik pascamahasiswa, tapi ada banyak cara selain itu untuk berbakti kepada ibu pertiwi.

persoalannya sekarang adalah gimana caranya agar segala kegiatan diluar dunia politik sebisa mungkin mesti disebabkan oleh hal-hal politis (sederhananya saya mendefinisikan politik sebagai usaha untuk kehidupan bersama): untuk membangun bangsa, berkontribusi untuk negara atau apa pun istilahnya, sehingga aktivitas tidak lagi hambar dan menjadi pergerakan yang tujuannya untuk kebaikan kehidupan berbangsa dan negara.

Posting Komentar