Wong deso dan orang urban



Sudah hampir seminggu sejak gw ‘hijrah’ mencari kitab suci ke jawa timur dan dua minggu setelah pulang dari pulau Belitong. Dan akhirnya sekarang bisa ada kemauan untuk menulis lagi cerita-cerita baru. Eits tunggu dulu men, jangan lo pikir gw enak ya jalan2 mulu, ini duit tabungan lama2 tipis juga bro (apalagi enggak ada pemasukan hahaha).

Jalan-jalan selalu bikin kita ketemu sama suasana baru, orang baru, bahkan bahasa baru. Dari awalnya gw tinggal di Jakarta pakainya gue-lo, pindah ke Bandung buat kuliah pakenya aing-maneh, sampai sekarang dipelosok jawa timur musti ngomongnya aku-sampean. Bahkan gw sampai mikir ada enggak ya program studi di universitas jurusan sastra Indonesia? atau jurusan apa aja deh yang bisa bikin kumpulan kamus bahasa daerah (?).

Oke, pemirsa kayaknya udah enggak sabar, langsung deh gw ke ceritanya ya (tenang ini bukan cerita pamer foto-foto wisata kok hehe)

Pertama, perjalanan wisata ke pulau Belitong yang termasuk dalam provinsi Babel (Bangka dan Belitong). Pulau Belitong dan pulau Bangka adalah pulau sebelah timur pulau sumatera, yang nama kedua pulau ini harus dihafal di jaman SD karena setiap ujian IPS/geografi selalu ditanya,”dimana penghasil timah terbesar di Indonesia?”. Tapi sekarang pertanyaan untuk bertanya pulau Bangka dan Belitong harus di ganti, karena produksi timah di pulau Bangka dan Belitong sudah turun, yang tersisa cuma lahan-lahan bekas pertambangan timah. Kalau lo putarain itu pulau sekarang dan ngebandingin dengan cerita jaman SD, yang ada cuma rasa sedih, pantes aja setelah reformasi’98, orang-orang mendorong adanya otonomi daerah. Dikenal sebagai penghasil timah terbesar (saat itu harganya masih tinggi), tapi pulau Belitong dan pulau Bangka enggak bisa nikmati hasil produksi timah. Bahkan kalau enggak salah liat (dimana lupa), pulau Belitong itu termasuk daerah yang tertinggal di Indonesia.

Syukur pulau Belitong hari ini berubah, bukan lagi dikenal sebagai penghasil timah, tapi sebagai pulaunya laskar pelangi dan kampungnya ko ahok/basuki tjahya purnama (wakil gubernur DKI Jakarta). Sepanjang wisata di pulau Belitong, semuaaaaanya ada nama laskar pelangi! Gw main ke salah satu museum, disana ada buaya laskar pelangi. Gw pergi ke pantai, ada monument shooting film laskar pelangi. Gw nyari oleh-oleh, semua oleh2nya ada tulisan ‘belitong, negeri laskar pelangi’ atau apalah semuanya ada laskar pelanginya, bahkan bakso aja ada juga yang namanya bakso laskar pelangi!

Ya walau pun novelnya Andrea Hinata banyak mengandung pro-kontra (gw kesana sama kakak gw yang berteman sama Andrea Hinata, tapi doi kesel banget sama Andre Hinata haha) dan juga menurut gw si AH ini orangnya agak narsis ya. Tapi harus di akui, kalau enggak ada doi, daya tarik pulau belitong hanya pantai dan pemandangan alamnya saja. Entah siapa yang memanfaatkan, AH memanfaatkan pulau Belitong atau AH dimanfaatkan pulau Belitong, tapi menjadikan laskar pelangi sebagai objek pariwisata di pulau Belitong patut di apresiasi.

Kedua., cerita tentang ko Ahok (berasa akrab ya manggilnya ko ahok ko ahok haha), playmakernya DKI Jakarta dan gw selalu suka sama gaya main ‘keras’nya doi di DKI Jakarta. Sebelum menjadi WaGub DKI Jakarta, doi adalah bupati Belitong Timur. Dan lo harus tau men, setiap gw ajakin ngobrol masyarakat dari sana dan tau gw dari Jakarta, mereka semua langsung semangat ngomongin ko Ahok! Enggak ada orang yg gw ajak ngobrol yang enggak bangga sama ko Ahok (sampai2 gw kebawa rasa bangga juga). Sebenarnya ko ahok ini Cuma 2 tahun jadi bupati Belitong Timur, setelah itu dia izin jadi calon gubernur provinsi Bangka belitong (dan sayangnya kalah). Tapi walau Cuma 2 tahun, kerjaannya konkrit men. Kabupaten Belitong Timur lebih terbangun dibanding kabupaten Belitong Barat. Lebih rapih dan lebih tertata secara fisik. Masyarakat disana juga semangat cerita, karena sebelum jadi bupati sampai sekarang kalau ko Ahok mudik dari Jakarta, ko Ahok ini doyan juga blusukan kayak jokowi. Nongkrong di warung kopi, naik ojek kemana-mana, ngobrol sama masyarakat, berteman sama preman, dan gaya2 blusukan lainnya itu udah dilakuin sebelum doi jadi bupati Belitong Timur sampai sekarang (kalau di DKI Jakarta kan lebih banyak si jokowi tuh yg blusukan ya). Dan ada cerita yang keren tentang ko Ahok ini, saking dekat, dikenal, dan konkritnya, saat pemilu calon legislatif DPR-RI, caleg2 kan biasanya suka pasang foto tuh. Ahok enggak pasang baligo meenn! Doi Cuma ngomong sepatah kata saat pemilu akbar dihari terakhir kampanye,”tolong antarkan saya ke DPR!”. Dan simsalabimbimbiim! Jadi bro anggota DPR. GILAAAAAAA!!

Ketiga, perjalanan naik kereta api ekonomi majapahit dari Jakarta ke Malang. Namanya juga kereta ekonomi, duduknya hadap2an kan. Depan gw mbok2, sebelah gw mbok2, dan depan gw buruh di industri rokok (nama perusahaannya ada deeh). Jalan, jalan, naik kereta api tutututt…. Tengah malem ketika gw bangun tidur dan si buruh juga belum tidur, doi nanya ke gw,”mas, anak kuliahan?”,
Gw jawab:”baru lulus mas bulan kemarin, kenapa gitu?”
Si buruh:”oh kelihatan dari gayanya”
Gw dalam hati:”gaya gw emang muda banget kale haha”

Terus habis itu si buruh mulai deh nanya2 tentang gw, kuliah dimana, jurusan apa, punya pacar atau enggak, banyak deh nanya mulu kayak mau beli barang aja haha. Tapi ada satu percakapan yang agak bikin gw eeeeee…..

Si buruh:”mas anak orang kaya ya?”
Gw:”biasa aja mas,gini2 aja kayaknya”
Si buruh:”ah masa, itu bisa kuliah di ITB”
Gw:”yah mas kuliah disana mah yg penting rajin atau pinter aja (padahal gw enggak pinter dan enggak rajin juga haha)”
Si buruh:”mas nya mobilnya berapa?”
Gw:”keluarga saya Cuma punya 1 mas”
Si buruh:”ah masa mas enggak punya?”
Gw:”beneran mas, itu juga mobil yg pake rame2”
Si buruh:”mas nya kali yang enggak mau dibeliin”
Gw:”……..”

Akhirnya karena gw udah capek ditanya2in (dikira gw tawanan KPK kali ya ditanya mulu), gw mulailah pakai strategi menyerang balik! Yeah! Ini orang yg gw tanya terus tentang industri rokok, asalnya, keluarganya, dsb. Strategi berhasil dan akhirnya doi tidur karena kecapean jawab pertanyaan gw hahaha.

Oke bro sist, sabar ya masih ada satu cerita terakhir, nanti maksud cerita ini bagian penutup. Jadi sekarang selow aja dulu ya jangan langsung di close tabnya ya haha

Cerita keempat sekaligus terakhir!
Sampailah gw dipelosok jawa timur. Disini barulah gw bisa nikmati dan benar2 bersyukur gw jadi sarjana dalam kehidupan yang relatif lebih mudah diberi Tuhan. Gimana enggak bersyukur,walau kadang2 enggak punya duit, tapi gw masih bisa tetap kuliah selama 5 tahun, enggak perlu punya waktu nganggur dari SMA ke Kuliah (karena habis lulus SMA langsung kuliah), dan enggak diwajibkan bekerja sambil kuliah. Disini banyaaak banget orang yang habis lulus SMA langsung cari kerja (sama kayak buruh yg gw temuin di kereta) dan enggak sedikit juga yang musti kerja sambil kuliah. Jadi ada banyak juga yang umur 25,26,dan sekitarnya belum dapat gelar sarjana, karena kadang 1 semester kuliah, 1 semesternya lagi kerja buat bayar kuliah, atau kuliah-kerja, kuliah-kerja, buat bayar biaya kuliahnya sendiri. Jadi sekarang gw merasa bullshit deh buat orang2 dikampus keren yang sok2an kerja saat kuliah (walau mungkin tujuannya baik), disini gw udah liat yg bener2 banting tulang buat bayar kuliahnya sendiri. And fucking asshole buat organ2 yg ngasih beasiswa buat kampus2 tajir dan orang2 tajir, mending duit beasiswanya dikasih buat orang2 yang gigih cari uang untuk biayai hidupnya sendiri.

Oke  lah sampai sini aja dulu cerita tentang pendidikannya, ada poin penting lain yg mau gw ceritain dari pelosok kampong ini. Tapi ya gw berharap, semoga suatu saat pendidikan dan kemudahan dapat pendidikan di negeri ini bukan cuma buat orang kaya dan orang pintar. Karena kalau enggak bisa tingkatkan taraf pendidikan dari struktur masyarakat yang paling bawah, selamanya ada gap antara orang pinter dan orang miskin. Ya semoga2 arah pendidikan bangsa ini enggak bikin orang pinter dan orang ‘punya’ makin pinter, tapi fokus juga bikin masyarakat proletar dan orang bodoh jadi lebih pinter agar bisa punya kehidupannya jadi lebih baik.

Dilingkungan yang isinya orang2 kek gitu (umur 25 belum dapat gelar sarjana, pengangguran sejak lulus SMA, orang yg kerja sambil kuliah). Mereka liat gw kayak alien, umur 23 udah dapat gelar sarjana. Padahal yee, kalau dikampus gw itu sebenernya hal biasa aja, malah dihitungnya lama karena lulus kuliah 5 tahun hahaha, dan banyak juga temen seangkatan gw umur 23 udah punya gelar master. Tapi disni gw belagak jadi orang pinter aja hahaha. Ngobrol-ngobrol, begadang, sampai akhirnya dengan kesotoyan tingkat tinggi, gw mulai menerka: apa sih sebenarnya perbedaan, tolok ukur, orang2 dikampung sama orang2 di kota:

1.       Kemampuan analitis
Hal yang miris ketika bertemu dengan orang-orang desa ialah kemampuan nalar logikanya dalam menanggapi satu masalah. Misalnya gini, ada informasi A datang ke orang kampung, hasilnya keluar jadi A lagi! Sangat jarang gw temui ada orang desa yang punya kemampuan untuk menanggapi informasi A, kemudian keluar sebagai A++, B, atau bahkan jadi C. Informasi di desa terbatas dibanding di kota. Tapi yang jadi masalah lagi ketika informasi enggak di olah secara baik. Sekalipun di olah, hasil analisanya juga jauh dibandingkan dengan orang2 kota. Makanya, menurut gw mudah sekali orang2 desa itu terkena provokasi. Entah provokasi tentang agama, penyebaran kebencian, politis, dsb.

Tanpa memandang rendah orang2 di desa, tapi jikalau terjadi diskusi atau pun debat di desa dan di kota. Pasti akan lebih berkembang diskusi/debat di kota dibandingkan di desa. Faktor akses informasi dan kemampuan analitis menangkap informasi yang jadi faktor perbedaan antara orang-orang desa dan kota.

Menurut gw, faktornya penyebab hal ini bukan karena pendidikan di sekolah atau tidak diajarkannya filsafat logika di sekolah-sekolah dasar (seperti di Prancis yang mengajarkan anak SD tentang logika). Tapi kurangnya menangkap intisari pelajaran seperti matematika, sains, dsb yang banyak mengajarkan logika dan faktor lingkungan desa yang mungkin sudah mengakar budaya pragmatisme menangkap informasi.

2.       Bahasa
Kata orang bijak bahasa menunjukkan bangsa. Tapi hari ini udah jamannya globalisasi dan bahasa asing sudah jadi kemampuan wajib di jaman sekarang. Jadi orang bijak masa lampau itu kita lupain aja ya sekarang hahaha bercanda.

Bahasa itu menunjukkan kepandaian seseorang! Orang yang banyak baca, orang yang banyak belajar, orang yang banyak bergaul, pasti punya kosakata lebih banyak dibandingkan dengan orang yang jarang baca, jarang belajar, dan jarang bergaul.

Seperti yang gw tulis sebelumnya, informasi di desa terbatas. Jarang bisa menemukan buku bagus disini, bahkan media Koran dikampung2 itu juga enggak bisa lo samain kayak di kota. Koran di kota bisa sampai 40-50 halaman. Dikampung, bagi Koran lokal, bisa bikin 30 halaman itu udah jadi Koran edisi special men. Ye jadi lo jangan samain dulu nih kita semua penduduk Indonesia bacaannya sama, dari halaman juga udah beda, apalagi dari sisi konten, emmm miris lo liatnya, gw aja pusing baca berita disini.

3.       Visioner,
Itu bagian penutup sekaligus rasa syukur gw karena Tuhan izinkan gw lahir dilingkungan yang positif. Babeh gw orang minang, lulusan ITB, dan sangat pedulikan pendidikan. Emak gw bukan orang yang pinter2 amat, tapi pintar bergaul dan selalu pedulikan pendidikan anak2nya. Jadi gw lahir dilingkungan yang menunut belajar, menuntut ilmu jadi hal nomor satu. Keluarga besar gw dulu orang desa, tapi karena pinter sekarang kehidupannya jadi lebih baik, makanya semua anak, keponakan, cucu, cicit, cucut, sampai ciut disuruhnya menuntut ilmu terus.

Dilingkungan yang kayak beginilah, akhirnya gw tumbuh dewasa jadi orang yang mikir mulu besok mau jadi apa, gimana caranya, bisa atau enggak, dsb. Hingga sampailah akhirnya gw kuliah dan masuk di lingkungan ITB. Hal pertama yang bikin gw terpesona sama ITB, bukan kepinteran anak2nya, tapi saat masuk ITB gw baru sadar, ini kumpulan orang2 yang berpikirnya visioner, semuanya punya cita2 tinggi, keren deh pokoknya. Lingkungan ini jadi lingkungan akademik yang baru bagi gw. Berbeda dengan lingkungan gw pas di SMA, enggak banyak yang berani bercita-cita tinggi dan lebih banyak yang menerima apa adanya.

Enggak di desa, enggak di kota, sebenarnya enggak banyak juga orang yang punya pikiran visioner. Di kota juga banyak orang2 yang enggak berani bermimpi jauh kok. Tapi desa, yang kehidupannya relatif lebih terbatas dibanding desa, jumlah orang yang mau bepikir visioner jauh lebih sedikit lagi dan sisanya banyak yang secara pikiran menyerah sama kehidupan, terima hidup apa adanya.

Gw buka tulisan ini dengan cerita tentang Andrea Hinata yang mengubah pariwisata pulau Belitong, Ko Ahok orang desa yang berpikir maju, buruh dan lingkungan gw sekarang di deso yang lebih pragmatis. Enggak banyak orang2 yang bisa jadi kayak Andrea Hinata atau jadi kayak Ko Ahok. Orang kota juga enggak semuanya berpikir maju kok. Tapi kalau bisa pakai metode kuantitatif ya, kota relatif lebih unggul dibanding desa.

Sejarah itu bicara, bahwa lebih banyak orang2 kampung, orang2 pelosok, yang bisa jadi lebih sukses dibanding orang desa. Pak Harto, Che Guevara, siapa lagi tuh sampai ada orang rajin yg bikin buku orang2 desa yang sukses. Bahkan enggak usah jauh2, tuh keluarga besar babeh gw akhirnya bisa keluar dari kemiskinan. Orang besar, orang sukses, mereka bukan supermie atau popmie yang lima menit jadi; Mereka punya lebih banyak pengalaman dan bekerja lebih keras dibanding orang kebanyakan. Orang2 seperti Ahok, Yusril Ihza Mahendra (Profesor bidang Hukum), atau Aidit (Ketua PKI jaman dulu) dari pulau Belitong sampai bisa jadi terkenal dan besar namanya pasti lebih sulit dibanding orang2 yg punya hidup relatif lebih enak dibanding di kota. Berpikir besar dilingkungan yang pragmatis seperti di desa itu lebih sulit dibanding berpikir besar dikumpulan orang2 pintar seperti di kota. Jalan kehidupan di desa lebih banyak kerikil dan tanah dibanding jalan kehidupan di kota yang beraspal dan banyak bolongnya. Tampil jadi orang yang berbeda dari kebanyakan orang itu satu langkah yang sulit ditempuh, walau entah itu langkah maju atau mundur.
Yaa terakhir, pesan buat orang2 dari kota, ingat persaingan lebih ketat lebih ketat tapi jangan lupa bersyukur banyak nikmat kemudahan yang diberikan Tuhan, hati2 ditikung sama orang desa. Buat yang di desa, jangan takut berpikir dan bertindak beda. Mereka2 yang sekarang namanya jadi besar buktikan kalau mereka bisa walau dari lingkungan yang relatif lebih kurang.

Orang desa bergaya kota
Udah ya cape nulisnya, ini penutupnya pertanyaan lelucon aja

Berteman sama orang bodoh, kadang bisa kebawa bodoh
Berteman sama orang pintar, kadang ditipu terus
Jadi berteman sama siapa dong?

Rezim SBYnomics akan segera berakhir

SBYnomics adalah istilah yang di gunakan Faisal Basri dalam menggambarkan gaya ekonomi pemerintahan SBY. Dengan strategi Keep buying strategy yang dilontarkan presiden @SBYudhoyono pada hari tanggal 16 Agustus 2013 kemarin, diharapkan stimulus ini dapat mempertahankan ekonomi nasional dari perlambatan ekonomi global di tahun 2013 melalui daya beli serta penguatan pasar domestik.

Bukan tanpa sebab jikalau SBYnomics akan mengandalkan variabel konsumsi masyarakat untuk keluar dari krisis ekonomi global. Pertumbuhan ekonomi yang dulu dibangga-banggakan oleh pemerintahan hari ini adalah pertumbuhan ekonomi yang bertumpu pada konsumsi masyarakat. Peningkatan jumlah kelas menengah dan daya beli masyarakat Indonesia-lah yang selama ini mendongkrak pertumbuhan ekonomi Indonesia. Sekali lagi, pertumbuhan ekonomi Indonesia bersama SBYnomics adalah pertumbuhan ekonomi yang didorong oleh variabel konsumsi, bukan variabel investasi, pengeluaran dari pemerintah, maupun ekspor. Sehingga sangatlah wajar, ketika daya beli masyarakat naik dan produksi beberapa komoditas turun, isu impor dan kelangkaan komoditas pangan merebak ke permukaan masyarakat.

Pertanyaannya hari ini ialah: apabila selama ini pertumbuhan ekonomi kita bertumpu pada faktor konsumsi masyarakat, apakah konsumsi masyarakat dapat menjadi solusi keluarnya Indonesia dari dampak krisis global yang semakin terasa di dalam negeri? Jawabannya tidak! 

Variabel konsumsi masyarakat memiliki keterbatasan dibanding variabel lainnya. Konsumsi masyarakat di pengaruhi oleh pendapatan. Pendapatan masyarakat di alokasikan untuk konsumsi dan tabungan. Sehingga besarnya konsumsi masyarakat akan dipengaruhi oleh pendapatan (dalam bahasa ilmu ekonomi dinamakan marginal propensity to consume/MPC). Ketika pendapatan menurun, maka jumlah uang yang di alokasikan untuk mengonsumsi akan menurun (kecuali jika ada musibah, bencana, dsb yang mengharuskan adanya alokasi biaya besar). 

Setidaknya hari ini kita menghadapi tiga masalah inti. Masalah pertama adalah inflasi akibat administrated price inflation ketika mencabut subsidi BBM dan volatile food inflation akibat ulah kartel dan keterbatasan komoditas pangan menjelang hari raya iedul fitri. Inflasi menyebabkan daya beli masyarakat menurun dan naiknya suku bunga yang memungkinkan terjadinya kelambanan masuknya investasi.

Masalah kedua adalah defisit perdagangan yang di sebabkan oleh ketidakseimbangan ekspor dan impor Defisit anggaran menyebabkan cadangan devisa menurun, naiknya harga-harga produk akibat besarnya kandungan impor dalam industra di Indonesia, tertekannya nilai tukar rupiah terhadap dollar hingga mendekati Rp 11.000,- , dan defisit anggaran yang tergerus pembayaran cicilan hutang dengan dollar.

Masalah ketiga, kemajuan pertumbuhan ekonomi dalam beberapa saat tidak diimbangi dengan kemajuan infrastruktur dan pemecahan masalah birokrasi. Akibatnya modal Indonesia untuk melakukan counter attack dalam keadaan tertekan hanya sedikit.
Kepemimpinan seseorang selalu di uji disaat sulit. Hari ini kepemimpinan Presiden SBY sedang di uji. Setidaknya tercatat nama-nama pemimpin kelas dunia seperti Shinzo Abe (Perdana Menteri Jepang) dan Ronald Reagan (Presiden Amerika Serikat) yang memimpin Negara dikala krisis ekonomi menjelma.  Kedua pemimpin disaat sulit ini menguji kepemimpinan mereka dengan gagasan yang mereka tularkan, Shinzo Abe akhirnya dengan Abenomics dan Ronald Reagan dengan Reaganomics.

Abenomics adalah grand design reformasi ekonomi untuk mengatasi kemelut krisis global 2008 dan stagnansi ekonomi sejak awal tahun-90an di Jepang. Abenomics terdiri dari tiga ‘panah’ utama. Panah pertama adalah kebijakan moneter yang agresif menargentkan inflasi sebesar 2%, depresiasi mata uang yen, serta kebijakan quantitative easing. Panah kedua ialah kebijakan fiskal yang ekspansif dalam bentuk pengeluaran pemerintah hingga 2% dari PDB Jepang. Panah terakhir ialah reformasi structural untuk meningkatkan daya saing jepang.

Reaganomics adalah istilah popular untuk kebijakan ekonom selama pemerintahan Ronald Reagan. Reaganomics dilandasi oleh aliran pemikiran ekonomi Supply Side Economics. Rumusnya antara lain ialah pemotongan pajak akan memicu rendahnya inflasi, merangsang tabungan, investasi, upaya kerja dan menurunnya angka pengangguran.

Keberhasilan dari abenomics masih dalam tanda Tanya karena prosesnya masih berlangsung hingga hari ini. Sedangkan Reaganomics tidak menyebabkan Amerika Serikat menjadi lebih baik. Dari kalangan pemikir ekonomi neo-keynes, Joseph Stiglitz, mengkritik Reaganomics karena menyebabkan terjadinya defisit anggaran Amerika Serikat. Dari sisi seberang neo-keynes, Milton Friedman pun pula mengkritik Reaganomics karena besarnya pengeluaran pemerintah untuk proyek “Star Wars” pemerintahan Reagan.

Sumber gambar: http://politik.kompasiana.com/2011/07/26/sby-pening-382791.html


Lalu bagaimana dengan akhir dari SBYnomics? Tahun ini adalah tahun terakhir kepemimpinan politik Presiden SBY. Awal-awal kepemimpinannya, sering sekali SBYnomics menina-bobo-kan bangsa ini dengan prestasi pertumbuhan ekonomi, kestabilan ekonomi ketika krisis global, masuknya dalam emerging countries, G-20, bahkan bualan-bualan bahwa tahun 2030,2050 nanti Indonesia akan menjadi Negara besar, dan nyanyain-nyanyian lainnya kebanggaan dari SBYnomics.

Tapi itulah pemimpin yang datang dengan pujian mungkin berakhir dengan cacian. Pertanyaannya  mungkinkah akhir tahun ini kita akan mengecap SBYnomics sebagai aliran ekonomi yang congak, rapuh, lamban, penakut, dan suka memberi harapan palsu?

Asumsi RAPBN 2014 Konstan dan Tidak Realistis!

Asumsi dasar ekonomi makro mencakup variable yang dinilai memiliki dampak signifikan terhadap postuk APBN. Asumsi dasar ekonomi makro ini kemudian yang menjadi acuan dalam rangka mengamankan pelaksanaan APBN. Penyusunan asumsi dasar ekonomi makro disusun berdasarkan analisa-analisa terkait, seperti misalnya analisa time series. Perubahan dalam asumsi dasar ekonomi makro tentunya sangat berpengaruh terhadap postur APBN. Di Indonesia sendiri sering kali perubahan APBN (APBNP) terjadi karena perbedaan antara realita dan asumsi dasar ekonomi makro.

Begitu krusialnya asumsi dasar ekonomi makro dalam gejolak perekonomian Indonesia membuat saya tertarik untuk mengamati asumsi dasar ekonomi makro 2014 dalam RAPBN 2014 yang telah disampaikan oleh Presiden SBY dalam pidato kenegaraan 17 Agustus 2013. Berikut asumsi dasar ekonomi makro 2014 seperti yang tercantum dalam dokumen nota keuangan dan RAPBN 2014:

1.       Perekonomian nasional tahun 2014 diperkirakan mampu tumbuh lebih baik jika dibandingkan kondisinya dalam tahun 2013. Hal ini disebabkan karena perekonomian global yang diperkirakan menjadi lebih baik (berdasar dari prediksi IMF terkait pertumbuhan ekonomi dunia tahun 2014 akan naik menjadi sebesar 3,8% dari tahun 2013 3,1%). Perbaikan perekonomian global kemudian menyebabkan meningkatnya permintaan dunia dan mempengaruhi ekspor-impor. Permintaan domestik juga diperkirakan meningkat didukung meningkatnya daya beli masyarakat dan adanya penyelenggaraan pemilu

2.       Tekanan inflasi tahun 2014 diperkirakan akan mereda seiring dengan kecendrungan penurunan tekanan harga-harga komoditas dan energi di pasar internasional. Hal ini didasari oleh perbaikan aktivitas produksi di berbagai Negara, perbaikan kebijakan di bidang ketahanan pangan, membaiknya koordinasi kebijakan fiscal dan moneter, serta aktifnya pemerintah daerah untuk menjaga laju inflasi di tiap-tiap wilayahnya akan memberi kontribusi positif bagi stabilitas harga nasional

3.       Rata-rata nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat diperkirakan relatif lebih stabil.

4.       Tingkat suku bunga SPN 3 bulan dalam tahun 2014 diperkirakan tidak akan bergerak jauh dari tingkat suku bunga di tahun 2013. Kemungkinan membaiknya perkiraan kondisi ekonomi global sehingga beberapa kebijakan pelonggaran likuiditas di berbagai Negara juga akan selesai. Perkiraan ini menyebabkan daya tarik investasi di berbagai Negara juga membaik, yang selanjtunya diperkirakan akan menyebabkan peningkatan persaingan untuk menarik likuiditas global, demikian juga dengan arus modal ke Negara-negara berkembang kawasan Asia, termasuk Indonesia

5.       Rata-rata harga minyak mentah Indonesia/ICP di pasar internasional dalam tahun 2014 diperkirakan tidak jauh dari harga di tahun 2013. Hal ini diperkirakan berdasarkan pola pergerakan ICP pada periode sebelumnya yang mengikuti pergerakan harga minyak mentah dunia lainnya. Sehingga diperkirakan ICP akan menurun.

6.       Lifting minyak dan gas bumi Indonesia dalam tahun 2013 diperkirakan mengalami peningkatan. Proyeksi ini didasarkan pada upaya Pemerintah untuk melakukan langkah-langkah peningkatan lifting migas seperti yang diamanatkan dalam Inpres No.2/2012 tentang Peningkatan Produksi Minyak Bumi Nasional.
Perkembangan realisasi beberapa indikator ekonomi makro yang dijadikan asumsi dasar ekonomi makro 2008-2012 dan proyeksinya dalam tahun 2013-2014 akan ditampilkan dalam tabel berikut:

Tabel Asumsi Dasar Ekonomi Makro 2008-2014
No.
Indikator Ekonomi
2008
2009
2010
2011
2012
2013 (APBNP)
2014 (RAPBN)
1.
Pertumbuhan ekonomi (%)
6,0
4,6
6,2
6,5
6,2
6,3
6,4
2.
Inflasi (%)
11,1
2,8
8,0
3,8
4,3
7,2
4,5
3.
Nilai tukar (Rp/US$1)
9.691
10.408
9.087
8.779
9.384
9.600
9.750
4.
Suku bunga SPN 3 Bulan (%)
9,3
7,6
6,6
4,8
3,2
5,0
5,5
5.
Harga minyak (US$/barel)
97,0
61,6
79,4
111,6
112,7
108,0
106,0
6.
Lifting minyak (ribu barel/hari)
930,9
943,9
953,9
898,5
860,6
840,0
870,0
7.
Lifting gas (mboepd)
-
-
-
-
-
1.240,0
1.240,0
Sumber: Kementrian Keuangan, 2013

Sumber gambar: http://www.nefosnews.com/post/berita-analisa/hatta-berhemat-cegah-krisis-ala-yunani

Mungkinkah asumsi dasar ekonomi makro 2014 akan mendekati realita di masa datang? Bagi saya tidak. Menurut saya asumsi dasar ekonomi makro 2014 seperti disusun oleh mahasiswa yang mengerjakan tugas kuliah seadanya dan sekedarnya, seperti tugas kuliah mahasiswa yang dikerjakan satu hari sebelum pengumpulan tugas. Asumsi dasar ekonomi makro 2014 disusun jauh dari realita perkembangan terkini, disusun dengan ekspektasi tinggi yang terus menjadi iming-iming.
Berikut argumentasi saya, mengapa asumsi dasar ekonomi makro 2014 saya anggap tidak realistis:
1.       Bagaimana meloncat pertumbuhan ekonomi ke 6,4% apabila target 6,3% saja sudah sulit?
Pada awalnya APBN 2013 mematok pertumbuhan ekonomi sebesar 6,8%, namun kemudian di revisi dalam APBNP 2013 menjadi 6,3% pada bulan Juni 2013. Hari ini, dengan target pertumbuhan ekonomi sebesar 6,3% saja, kita masih ragu target tersebut dapat dicapai. Pertumbuhan ekonomi kuartal I dan II sebesar 6,1% dan 5,9% menunjukkan jauhnya pertumbuhan ekonomi dari target sebesar 6,3%.

Pertumbuhan ekonomi didasari oleh perubahan dalam variabel konsumsi masyarakat, investasi, pengeluaran pemerintah, dan aktivitas perdagangan internasional. Variabel konsumsi masyarakat dan investasi cenderung menurun, neraca perdagangan mengalami defisit, dan pengeluaran pemerintah belum optimal hingga kuartal II.
Pertanyaannya kemudian, apabila target pertumbuhan ekonomi tahun ini sebesar 6,3% saja sulit tercapai (memungkinkan pertumbuhan ekonomi tahun 2013 dibawah atau sama dengan 6%), apakah kita dapat melompat menjadi 6,4% pada tahun 2014? Dengan asumsi konstan saya pikir tidak, kecuali ada kebijaksanaan baru, terobosan inovatif yang masuk pada inti masalah, yang mampu mendorong prilaku aktor ekonomi.

2.       Inflasi tahun 2013 tidak dapat dikendalikan
Dalam asumsi makro 2014, diutarakan bahwa tekanan inflasi tahun 2014 diperkirakan mereka akibat perbaikan kebijakan pangan, membaiknya koordinasi kebijakan fiscal dan moneter, dan aktifnya pemerintah daerah dalam menjaga laju inflasi. Benarkah? Saya rasa tidak.

Pertama, kebijakan pangan yang ada tidak menjumpai inti masalah pangan. Permasalahan pangan nasional ialah produksi pangan yang tidak mencukupi kebutuhan nasional. Permasalahan ini diselesaikan dengan membuka keran impor beberapa komoditas pangan. Dalam jangka waktu pendek, masalah keterbatasan komoditas pangan mungkin dapat terselesaikan dengan keseimbangan permintaan dan penawaran. Namun, dalam jangka panjang belum tentu masalah krisis pangan dapat teratasi selama tidak ada perubahan positif dalam produksi pangan nasional di sektor pertanian.

Kedua, mungkin koordinasi dalam kebijakan fiscal dan moneter membaik, tapi sayangnya kebijakan tersebut selalu di ambil disaat terlambat. Contohnya seperti masalah kebijakan fiskal tentang subsidi BBM yang memberatkan APBN dan terlambatnya menaikkan BI Rate dalam mengantisipasi inflasi pada kebijakan moneter di bulan Juli dan Agustus 2013.

Ketiga, apa indikator tertangani inflasi dengan baik? Inflasi pada bulan Juli 2013 sebesar 8,61% (yoy) justru malah menunjukkan kegagalan dalam mengendalikan inflasi. Justru sering sekali inflasi terjadi akibat kesalahan pemerintah, baik dalam administrated price inflation seperti dicabutnya subsidi BBM maupun volatile food inflation karena tidak mampu mendorong produksi pangan untuk mencukupi kebutuhan pangan domestik.

3.       Nilai tukar rupiah terus terdepresiasi, The Fed belum konsisten
Hingga kemarin, 19 Agustus 2013, tercatat nilai tengah kurs rupiah berada di level Rp 10.451 per dollar AS. Nilai tukar terus menurun dalam sebulan terakhir ini. Namun, asumsi makro 2014 mengatakan bahwa rata-rata nilai tukar rupiah terhadap dollar AS relatif lebih stabil.
Menurut saya, nilai tukar rupiah justru semakin tidak menentu akibat kemungkinan perubahan kebijakan The Fed (Bank Sentral Amerika Serikat) dan pergantian Gubernur The Fed.

Perubahan kebijakan The Fed kemungkinan terjadi akibat sinyal kuat dari Gubernur The Fed, Ben Bernanke, bahwa kebijakan pembelian obiligasi Pemerinah AS akan dikurangi akibat adanya tanda-tanda perbaikan ekonomi AS. Namun rencana pengurangan kebijakan quantitative easing ini masih terus dikritik, terutama oleh Paul Krugman, yang berpendapat stimulus ekonomi masih diperlukan oleh AS karena belum mencapai pertumbuhan ekonomi yang ditargetkan. Sedangkan momentum pergantian Gubernur The Fed pada 1 Februari 2014 memungkinkan adanya perubahan kebijakan The Fed (terutama apabila digantikan oleh Larry Summers). Sejarah terus mengatakan, bahwa kebijakan The Fed tidak hanya memiliki dampak bagi perekonomian AS, namun juga dunia, termasuk Indonesia. Belum stabilnya perekonomian AS memungkinkan terjadinya inkonsistensi kebijaksanaan moneter, tidak seperti konsistennya kebijakan moneter AS yang konsisten saat perekonomian AS stabil (saat itu The Fed dipimpin oleh Alan Greenspan selama beberapa dekade).

4.       Suku bunga Indonesia naik
Suku bunga acuan/BI Rate naik sebesar 50 basis poin menjadi 6,5 persen pada bulan Juli 2013. Kenaikan BI Rate ini dilakukan untuk mencegah ancaman inflasi akibat kenaikan BBM. Bahkan berita-beritayang beredar memungkinkan BI Rate akan kembali naik akibat adanya volatile food inflation.
Apabila suku bunga kembali naik (bahkan yang sekarang sudah termasuk tinggi dibanding beberapa Negara lain), dalam kurva IS-LM, akan mengakibatkan terjadinya perubahan pada permintaan agregat, yakni penurunan ekspor, investasi, dan konsumsi masyarakat. Penurunan ekspor, investasi, dan konsumsi tentunya berpengaruh bagi net national production (NNP) dan justru melemahkan pertumbuhan ekonomi, terutama disaat harga komoditas dunia belum stabil.


5.       Perekonomian global & kesiapan Indonesia
Asumsi makro 2014 sering sekali berdasar pada harapan adanya perbaikan perekonomian global. Mungkinkah perekonomian global membaik? Ini masih terus menjadi teka-teki, walaupun perekonomian China dan India akhirnya naik tahun ini sebesar 7,5% dan 5%, namun perubahan dalam The Fed (yang telah dijelaskan sebelumnya) memungkinkan terjadinya perubahan negatif di Indonesia.

Entah perekonomian global akan membaik atau tidak, tapi kesiapan Indonesia memasuki era baru ekonomi global setelah krisis global harusnya menjadi tanda tanya. Kesiapan Indonesia dapat dinilai dari perbaikan infrastruktur, pemberantasan praktik korupsi, dan kemudahan birokrasi yang ketiganya merupakan domain kerja pemerintah. Apabila ketiga pekerjaan rumah dalam domain kerja pemerintah tersebut dapat diselesaikan dengan baik, tentunya akan memicu investasi, peningkatan pendapatan masyarakat yang pada akhirnya memicu variabel konsumsi masyarakat, dan peningkatan ekspor.

Sayangnya, ekonomi yang tumbuh beberapa tahun terakhir ini ternyata rapuh dan kemungkinan runtuh tetap ada. Defisit transaksi berjalan (APBN defisit, sehingga pemerintah melakukan transaksi hutang) dan defisit perdagangan (neraca ekspor-impor negatif) menyebabkan rupiah terus melemah hingga hari ini. Selama tidak ada usaha lebih untuk perbaikan infrastruktur, birokrasi pemerintahan, penggenjotan produksi lokal & komoditas ekspor, perluasan pasar ekspor, pengoptimalan belanja pemerintah, dan memberanikan diri untuk mengurangi anggaran di pos-pos yang kurang penting, sangat memungkinkan Indonesia masa depan terjerumus dalam lubang masalah.

Hari ini kita harus menyadari bahwa “gejala” penyakit perekonomian sudah dijumpai hari ini, mulai dari defisit transaksi berjalan, defisit perdagangan, defisit primer APBN, melemahnya rupiah, ketidakcukupan pasokan pangan, ketergantungan berlebihan terhadap BBM, dan tidak optimalnya penerimaan dari pajak. Ditengah gejala per gejala kita jumpai, lingkungan sekitar pun berwarna abu-abu: cuaca baik & cuaca buruk terlihat samar-samar. Kalau kita tidak melakukan usaha dini mencegah datangnya “penyakit”, dampak terjadinya komplikasi penyakit semakin besar. RAPBN 2014 haruslah dapat menjadi “vitamin” bagi perekonomian makro Indonesia: penyusunan asumsi yang realitis dan aktual, pengalokasian dana di pos-pos yang urgent dan mengurangi alokasi dana pada pos-pos yang kurang penting dalam mencegah penyakit, dan ekspansi fiskal yang tepat sasaran untuk dapat menjalankan fungsi distribusi dan stabilisasi. Selama tidak ada terobosan dan perubahan dalam RAPBN, jangankan menepis krisis jangka panjang (krisis pangan, lingkungan, dan energi), memungkinkan tahun depan kita akan menjumpai krisis ekonomi.


Hari ini terjadi inflasi, besok?

Juli 2013 terjadi inflasi sebesar 3,29 persen dengan IHK sebesar144,63 (naik dari bulan juni 2013 sebesar 140.03) . BPS merilis bahwa inflasi terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh kenaikan indeks beberapa kelompok pengeluaran, yaitu:
(A) kelompok bahan makanan 5,46 persen;
(B) kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau 1,55 persen;
(C) kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar 0,44 persen;
(D) kelompok kesehatan 0,40 persen;
(E) kelompok pendidikan, rekreasi, dan olahraga 0,69 persen; dan
(F) kelompok transportasi, komunikasi, dan jasa keuangan 9,60 persen.

Terjadinya inflasi berarti kenaikan harga secara keseluruhan. Kenaikan harga pada bulan juli 2013 ini diperkirakan karena dicabutnya subsidi BBM pada dan adanya momentum hari raya iedul fitri.  Dicabutnya subsidi BBM menyebabkan naiknya pengeluaran untuk transportasi, logisitik, dan peningkatan harga-harga (walaupun beberapa harga komoditas telah naik sebelum subsidi BBM dicabut akibat ekspektasi kenaikan harga BBM). Momentum hari raya iedul fitri menyebabkan permintaan konsumsi naik. Sialnya lebaran tahun ini terjadi setelah harga-harga telah naik (Karena pencabutan subsidi BBM), sehingga ketika terjadi krisis pangan seperti hari ini (dimana penawaran akan komoditas menurun), harga kembali naik. Wajar sekali jikalau inflasi bulan ini menganggetkan banyak pihak, bukan hanya masyarakat segala kelas, tapi pula mereka yang sombong bahwa perekonomian makro Indonesia stabil dan relatif aman dari gejolak global.

 Peraga I Trend Inflasi Januari Sampai Juli 2013

Sumber: BPS, 2013
Kondisi dimana harga-harga naik secara keseluruhan ini semakin diperparah dengan turunnya nilai rupiah terhadap dollar. Turunnya nilai rupiah terhadap dollar berakibat pada naiknya barang-barang impor. Padahal disisi lain, terdapat beberapa komoditas pangan yang sengaja diimpor untuk mencukupi permintaan di dalam negeri akibat lebaran. Namun, pelemahan nilai tukar rupiah menyebabkan harga yang musti dibayar untuk barang-barang impor tersebut naik. Hasilnya, komoditas mungkin mencukupi, namun harganya tetap tinggi. Bahkan malam ini, baru saja saya amati daging sapi impor yang dijual di hypermarket. Ternyata daging sapi impor kualitasnya tidak lebih baik dibanding kualitas daging sapi dalam negeri. Kualitas daging sapi impor secara kasat mata memiliki lemak yang lebih banyak dan tidak lebih segar dengan daging sapi lokal. BULOG pun mengakui bahwa daging sapi impor tidak membaca keinginan konsumen (lihat: http://www.metrotvnews.com/metronews/read/2013/07/18/2/169284/Bulog-Akui-Impor-Daging-tanpa-Baca-Keinginan-Konsumen).

Pengendalian inflasi dan pertumbuhan ekonomi menandakan keberhasilan kebijakan ekonomi makro suatu Negara. Hari ini kita dihadapkan dengan inflasi yang tinggi dan pertumbuhan ekonomi triwulan II yang menurun menjadi 5,81 persen. Gelagat ketakutan akan hari setelah lebaran terlihat hari ini. Bahkan Presiden SBY pun terlihat tidak tenang ketika meminta kalangan pengusaha untuk tidak melakukan kebijakan PHK (lihat: http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2013/08/03/2122532/Presiden.Minta.Pengusaha.Tidak.Melakukan.PHK).

Pertanyaannya kemudian, kapan kondisi hari ini akan berakhir. Yang saya amati, pemerintah menganggap enteng adanya inflasi hari ini dan semuanya akan kembali seperti semula setelah lebaran. Tapi bagi saya tidak. Prediksi saya, inflasi akan tetap tinggi (walaupun terjadi penurunan). Ada beberapa faktor yang menyebabkan harga akan bertahan pada tingkat yang tetap tinggi. Pertama, pelemahan nilai rupiah terhadap dollar terus terjadi, belum ada tanda-tanda rupiah akan menguat. Pasar menanti pengurangan stimulus dari Bank sentral AS, The Fed, ditambah lagi gonjang-ganjing di Negaranya om Obama si anak menteng ini belum menentu, terutama klaim pengangguran AS mingguan yang memprediksi pengangguran meningkat dari 343ribu menjadi 345ribu. Ketidakpastian kebijaksanaan yang akan di ambil oleh The Fed mempengaruhi gejolak pasar yang memungkinkan rupiah terus melemah. Sekalipun rupiah menurun, penurunannya tidak akan kontras (perlahan) dalam kisaran waktu 1-2 bulan. Alhasil nilai tukar dollar tetap tinggi dalam jangka waktu panjang dan mempengaruhi pembayaran perdagangan. Kedua, masih ada momentum tahun ajaran baru yang berdampak pada kenaikan permintaan. Ketiga, Indonesia masih mengalami krisis pangan pada beberapa komoditas dan neraca perdagangan seperti yang dirilis oleh BPS mengalami defisit. Artinya masih ada kebutuhan impor yang cukup besar, terutama impor pangan. Kebutuhan impor ini dibayar dengan mata uang asing yang nilai tukarnya masih tinggi. Ditambah lagi gejolak masyarakat menanggapi harga-harga pangan yang naik akibat, krisis global yang masih melanjut, dan belum meluasnya pasar ekspor Indonesia untuk menanggulangi defisit perdagangan. Keempat, pengeluaran konsumsi pemerintah diperkirakan akan terus berlanjut karena masih adanya beberapa proyek pemerintah sampai akhir tahun, penerimaan CPNS baru pada tahun 2013 yang akan menambah pengeluaran pemerintah, dan psikologi politik SBY untuk mencitrakan hasil yang positif pada akhir pemerintahannya memungkinkan jumlah uang yang beredar akan naik.

Peraga II Nilai Tukar Rupiah terhadap Dollar US$


Seperti yang sudah saya utarakan sebelumnya, bahwa keberhasilan penanganan ekonomi nasional dilihat dari pertumbuhan ekonominya dan penanganan inflasi. Hari ini pertumbuhan ekonomi Indonesia turun dan terjadi inflasi. Kita tidak bisa berada dalam keadaan yang tenang-tenang saja dan menganggap kondisi hari ini akan berakhir setelah lebaran.  Semboyan-semboyan kesombongan lalu yang mengatakan bahwa perekonomian kita stabil, tahan dari gejolak krisis global, dan masih lebih baik dibanding Negara lainnya harus kita anggap angin lalu. Kondisi yang tidak enak hari ini harus menampar diri kita hari ini. Pengambilan kebijakan, sikap, dan tindakan lebih dibutuhkan dibandingkan klaim-klaim omong kosong belaka.

Muda, Beda, dan Berbahaya

“Kami adalah kamu, muda beda dan berbahaya…..”
-Lirik lagu Jika Kami Bersama oleh Superman Is Dead

Sudah lama rasanya tidak menulis, apalagi setelah selesai mengerjakan tugas akhir HAHA. Sudah tiga minggu dapat gelar sarjana dan bertambah umur jadi 23 tahun. Ya, usia awak sudah 23 tahun, status mahasiswa sudah lepas (dan berganti jadi gembel), tapi status anak muda masih bertahan (dan semoga terus jadi anak muda hehe).

Usia muda katanya usia emas. Benar, saya takjub sekali dengan anak-anak muda di Mesir yang berhasil menciptakan dua kali revolusi dalam kurun waktu dua tahun. Revolusi pertama mereka (anak muda mesir) lakukan untuk menggulingkan rezim otoriter Husni Mubarok. Revolusi pertama anak muda Mesir ini dilakukan hampir mirip dengan revolusi-revolusi yang dilakukan di Timur Tengah: via jejaring sosial media! Jejaring sosmed (fb,twitter,tumblr,dsb) yang terus berkembang ini menjadi “makanan” sehari-hari anak muda hari ini. “Makanan” anak muda ini tidak di antisipasi dan dikuasai dengan baik oleh golongan tua otoriter Timur Tengah. Alhasil, metoda inilah yang menjadi alat meledaknya gelombang revolusi di Negara-negara Timur Tengah, seperti Mesir, Tunisia, Libya, Yaman, dan Suriah. Revolusi kedua di Mesir terjadi bulan Juli 2013 dengan menurunkan (walau kata kudeta di Mesir kali ini menjadi perdebatan: kudeta atau tidak) presiden terpilih Mesir, Muhammad Mursi. Ada yang katakan ini fakta, ada yang bilang mitos, bahwa revolusi di Mesir di awali oleh lima orang anak muda yang mengumpulkan tanda tangan sebanyak 22ribu. Lima orang anak muda ini dikatakan mitos karena tidak diketahui namanya, tapi cerita yang berkembang menyebut terdapat lima anak muda. Mitos atau tidak, tapi sekitar 22.000 tanda tangan adalah nyata. Awalnya mereka hanya ingin mengumpulkan 16.000 tanda tangan (karena pemilih presiden Mursi sekitar 14.000 jiwa), tapi hasil akhir 22.000 tanda tangan yang memulai revolusi kedua di Mesir adalah fakta bombastis yang dilakukan.

Cerita tentang anak muda yang hebat dan berbahaya seperti lirik lagu SID ini tidak hanya milik anak-anak muda Timur Tengah. Tulisan ini saya buat untuk mereka yang di usia muda telah melakukan hal-hal hebat bagi Bangsa, Negara, ilmu pengetahuan, dan khalayak ramai. Berikut orang-orang yang di usia mudanya melakukan hal hebat:

Sumber gambar: http://www.keepcalm-o-matic.co.uk/p/muda-beda-dan-berbahaya/


The our founding fathers: Soekarno, Hatta, dan Tan Malaka
Soekarno, di usia 25 tahun telah menuliskan buku “Dibawah Bendera Revolusi” jilid pertama setebal 627 halaman. Bukan jumlah halamannya saja yang menawan (karena ditulis anak muda dan tebal), tapi tulisan pertama dengan judul “Nasionalisme, Islamisme, dan Marxisme” yang paling menarik dan mungkin paling penting sebagai titik-tolak dalam upaya memahami Soekarno dalam gelora usia mudanya. Perpaduan tiga ideologi: Nasionalisme, Islamise, dan Marxisme (yang kemudian disingkat menjadi NASAKOM)  adalah suatu mahakarya dan titik-tolak pemikiran bung Karno membangun bangsa ini dikemudian hari.

Hatta, lahir 12 Agustus 1902, pada tahun 1928 (di usia 26 tahun), membacakan pidato pembelajaannya di Negeri Belanda. Pidato ini berjudul Indonesia Vrij (Indonesia Merdeka). Pidato ini adalah salah satu teks klasik dalam sejarah pergerakan kebangsaan dan kemerdekaan Indonesia (dalam salah satu edisi khusus majalah Tempo “100 Catatan yang merekam perjalanan sejarah Bangsa”, Indonesia Vrij masuk sebagai catatan ke-58).  Hatta memanfaatkan pengadilannya sebagai panggung untuk menjelaskan kepada Penjajah Belanda, mengapa Indonesia harus dan pasti akan merdeka. Dalam pidato ini Hatta mengorek ketidakadilan sistem ekonomi, sistem pajak, dan model pendidikan kolonial.

Tan Malaka, pada usia 28 tahun (ditahun 1925),  menulis Naar de Republiek atau Menuju Indonesia Merdeka. Tulisan ini terbagi atas tiga bab, yang mengulas tentang situasi politik dunia, kondisi Indonesia, dan garis perjuangan PKI. Pada subbab terakhir “Halilinter Membersihkan Udara”, Tan Malaka mengecam kaum terpelajar Indonesia yang menurutnya masa bodoh dengan perjuangan kemerdekaan. Tulisan ini (katanya) menjadi salah satu referensi bagi bung Karno dan bung Hatta dalam menulis DBBR dan Indonesia Vrij.

Karl Heindrich Marx
Siapa orang kiri yang tidak mengenal Marx? Marx mungkin menjelma bagai nabi bagi kaum kiri berideologi marxisme. Marx lahir tahun 1818, bertemu dengan sobatnya, Friedrich Engels, pada tahun 1840, dan menulis bersama buku pertamanya “Manifesto Komunis” pada tahun 1848. Manifesto Komunis ditulis bersama oleh Marx dan Engels saat mereka berusia 30 tahun dan 28 tahun.  Buku kedua Marx & Engels ialah “Das Kapital” yang jilid pertama terbit 1867 dan jilid kedua terbit 1885 (jilid kedua hanya ditulis oleh Engels, karena Marx meninggal ditahun 1883). Marx dan Engels adalah seorang pemikir yang mengkritik sistem kapitalisme (akan panjang kalau dijelaskan disini). Walau beberapa ramalannya tidak terbukti, tapi karyanya masih menjadi rujukan sampai hari ini. Satu yang hebat dari Marx, tulisannya bukan hanya mengenai aspek ekonomi, tetapi juga sosial, budaya, politik, moral, agama, dan falsafah. Bagi saya, Marx adalah salah satu pemikir ulung yang pernah terlahir didunia ini.

John Maynard Keynes
Kalau ditanya siapa idola saya hari ini, saya jawab,”Keynes!”. Keynes adalah bapak ilmu ekonomi modern. Lahir 1883, anak dari seorang ahli ekonomi ternama dimasanya, John Neville Keynes (tapi namanya ayahnya tenggelam dibawah baying-bayang Keynes junior). Keynes adalah cerminan seorang cendekiawan tulen, selain ahli dalam ilmu ekonomi, ia juga pintar ilmu matematika, dan pengetahuan yang mendalam tentang dunia falsafah dan politik. Bahkan Keynes juga mengerti mengenai dunia sastra, seni lukis, teater drama, dan tari balet klasik. Mahakarya Keynes, the general theory of employment, interest, and money, tidak terbit saat usianya muda (terbit tahun 1936, umur Keynes sekitar 53 tahun). Namun di usia 26 tahun, Keynes sudah menjadi tim delegasi Inggris dalam melakukan perundingan perdamaian Versailles tahun 1919 dan saat usia 30 tahun sudah menjadi dosen di Cambridge University.

John Stuart Mill
Karena sudah terlalu malam dan mau sahur, ini jadi tokoh terakhir yang akan saya tulis (padahal mau mengulas tentang Rasulullah Nabi Muhammad SAW, Paul Samuelson, dan Widjojo Nitisastro yang cemerlang pula di usia mudanya, tapi apa daya nguaantuk euy haha). Tapi its oke, J.S.Mil pasti cocok jadi tokoh terakhir dalam tulisan ini *percaya deh sama aku*

J.S.Mill adalah salah satu tokoh dari golongan ekonomi klasik (pengikut Adam Smith), walaupun diakhir hayatnya ia mengaku sebagai seorang sosialis. Ayahnya, James Stuart Mill, adalah salah satu ekonom terkenal pula di masanya, namun sama seperti Keynes, kedua orang tua mereka tenggelam namanya oleh anaknya sendiri. J.S.Mill adalah orang yang merintis konsep return to scale dan konsep elastisitas permintaan (yang kedua dikembangkan oleh Alfred Marshall dikemudian hari). Orang katakana puncak ekonomi klasik terakhir berada pada J.S.Mill, tak heran karena pada bukunya yang terakhir Principles of Political Economy ia merangkum seluruh mazhab klasik, mulai dari Smith, Malthus, Ricardo, dan Say. Buku ini kemudian menjadi buku pegangan bagi mahasiswa ekonomi hingga akhir abat ke-19.

J.S.Mill saya masukkan sebagai orang yang jaya di usia mudanya, karena *engingeng*, pada usia tiga tahun sudah menguasai bahasa latin, umur dua belas tahun sudah mampu menulis tentang sejarah, umur tiga belas tahun sudah bisa mengoreksi tulisan ayahnya, buku Elements of Political Economy, usia enam belas tahun mengorganisasikan sebuah perkumpulan bernama utilitarian society, dan usia dua puluh tiga tahun menuliskan Essay on Some Unsettled Questions of Political Economy (terbit tahun 1844, walau ditulis tahun 1829). Sayang diakhir hayatnya, J.S.Mill menderita penyakit yang cukup parah yang mencari pelarian kedunia music dan puisi (karena di usia dua puluh tahun J.S.Mill terlalu banyak belajar).

***
Oke, sebagai penutup (karena sudah ngantuk juga), ada orang-orang yang di usia hebat bisa melakukan hal besar, lalu kenapa saya, kamu, kita, yang usia muda tidak bisa melakukan hal yang sama ataupun lebih di usia yang sama (?). Tapi ingat, jangan sampai enggak nikah-nikah seperti bung Hatta (menikah usia 40 tahun karena berjanji tidak akan menikah sebelum Indonesia medeka), jangan jadi gila seperi J.S.Mill, dan jangan jadi homo seperti J.M.Keynes hehe, daeeennn