Coretan Perjalanan (bag.III)



Kalau hari ini kalian dihadapkan dengan dua pilihan: punya jalur hidup yang lurus-lurus saja atau jalur hidup yang ada banyak belokan dan tikungan bahkan U-turn; jalur hidup mana yang akan kalian pilih?

Itulah pertanyaan yang selalu terbenang dan menghantui pikiranku. Sejujurnya aku pikir jalur hidupku masuk dalam klasifikasi normal hingga lulus kuliah. Yang aku maksud dengan klasifikasi jalur hidup normal adalah setelah lulus SMP, masuk SMA, setelah lulus SMA, belajar di universitas, kemudian lulus kuliah dan dapatkan gelar. Jalur hidupku relatif tidak normal hanya karena lulus kuliah lima tahun dan selebihnya normal. Dan aku akan jauh lebih normal lagi jikalau setelah lulus langsung bekerja, menikah, dan mati (mudah-mudahan) masuk surga. Ada orang yang katakan, paling enak itu hidup mudah foya-foya, tua kaya raya, mati masuk surga. Walau tidak bisa foya-foya dimasa muda, tapi sungguh, kehidupanku kemarin sangat beruntung. Sangat-sangat beruntung!

Dalam perjalanan ini, mata ini sungguh terbelalak melihat orang-orang sebayaku yang jalur hidupnya sangat penuh belokan, tikungan, putaran U-turn, lampu merah, penilangan bermotif uang, dan bahkan jalur hidup yang terkadang seperti jalur kereta yang masuk dalam terowongan, gelap. Ada orang yang harus bekerja dari hari senin hingga hari jum’at, kemudian kuliah reguler pada hari jum’at dan sabtu. Ada orang yang setiap pagi hingga petang bekerja, kemudian malam harinya mereka kuliah. Ada orang yang harus menunda kuliahnya selama satu hingga dua semester agar dapat bekerja mencari nafkah dan mendanai kuliahnya pada tahun depannya. Ada lagi orang yang secara terpaksa harus berhenti kuliah padahal punya keinginan yang kuat untuk belajar. Ada juga orang-orang yang tidak kuliah tapi harus bekerja untuk menyekolahan adik-adiknya. Dan tidak sedikit juga orang-orang yang setelah lulus SMA tidak melanjutkan pendidikannya ke taraf yang lebih tinggi. 

“Never let your school interfere your education”
-Mark Twain

Dulu sewaktu kuliah terdapat regulasi yang sangat risih didengar oleh kalangan mahasiswa. Regulasi tersebut adalah regulasi yang bersangkutan dengan pendidikan. Mulai dari  UU no. 9/2009 tentang Badan Hukum Pendidikan sampai UU no. 12/2012 tentang Pendidikan Tinggi. Hampir seluruh regulasi tentang pendidikan tersebut sebenarnya memiliki benang merah yang sama. Bagaiamana menjadikan lembaga pendidikan lebih mandiri sehingga tidak akan ada/mengurangi suntikan dana yang masuk dari pemerintah ke lembaga pendidikan. Dari perspektif bisnis, melakukan social investment seperti memberikan  subsidi, jaminan sosial, layanan kesehatan, dan pendidikan, sama saja melakukan inefisiensi karena belum tentu memberikan keuntungan ekonomis. Untungnya pemerintah bukan pebisnis, instrumen fiskal bukan hanya untuk efisiensi, tapi juga distribusi. Sehingga sangat wajar jikalau pemerintah melakukan social investment untuk warga Negara. Tapi beda lagi ceritanya kalau pemerintah tidak mau menyisihkan dana untuk masyarakat kebawah sehingga pengeluaran semakin efisien dan volume dana yang berpotensi dikorupsi semakin tinggi.

Dari kalangan mahasiswa tuntutan juga tidak banyak berubah, yakni bagaimana pemerintah dapat menyediakan pendidikan yang murah, pendidikan untuk rakyat, maupun pendidikan yang tidak terpengaruh oleh pasar dan menjadikan manusia seutuhnya.

Fenomenanya hari ini ialah hanya ada macam orang yang bisa masuk universitas unggulan,yaitu kamu berasal dari keluarga mampu atau sangat pintar. Kalau kamu berasal dari keluarga mampu, berarti kamu dapat beasiswa ADB (Ayah dan Bunda), sehingga kamu bisa mengambil kursus/les tambahan di SSC (Sonny Sok Cerdas), GO (Galau Operation), dan berbagai macam tempat kursus lainnya yang membutuhkan dana. Atau ya kamu sangat cerdas sehingga bisa bersaing dengan kompetitormu lainnya untuk masuk universitas unggulan.

Nah, terus bagaimana dengan teman-temanku yang mereka bukan berasal dari keluarga mampu dan juga tidak cerdas? Dan aku yakin orang-orang yang seperti ini jumlahnya banyak di negeri ini. Dan bahkan bukan mereka tidak berusaha, tapi bagaimana mau berusaha ketika kau sekolah SMA sembari mengajar anak SMP atau bekerja lainnya untuk mendapatkan uang? Kapan waktu belajarnya jikalau sedari kecil kau sudah harus bekerja?!

Sungguh makin lama makin geram sama Negara ini. Lembaga pendidikan yang unggulan menerima murid yang paling cerdas, sehingga terus menerus menjadi bahan bakarnya untuk mempertahankan eksistensinya sebagai lembaga pendidikan yang unggul. Kemudian siapa yang menjadikan orang bodoh menjadi lebih cerdas dan bermartabat dengan ilmu pengetahuan? Apakah mereka yang (teman-temanku yang kurang beruntung, sebagaian besar anak muda negeri ini yang bekerja siang bersekolah malam) mendapatkan pendidikan yang berkualitas dan layak? Apakah orang-orang yang sejatinya cerdas memiliki akses untuk mendapatkan pendidikan yang lebih tinggi sehingga bisa mengubah hidup mereka? Apakah kita bisa jadikan bangsa ini lebih bermartabat dengan ilmu pengetahuan??

Pertanyaan demi pertanyaan datang seperti jelangkung, tapi tidak kita ketahui apakah akan ada jawabnya/tidak dan/atau apakah kita yang jadi jawabannya?

Foto di sunken court saat aku di wisuda pada bulan Juli 2013

Aku bagian dari orang yang hidup beruntung. Bisa sekolah di lembaga pendidikan terbaik dan hidup normal. Tapi sayangnya tidak banyak orang yang beruntung sepertiku.

Tulisan ini bukan hanya tentang seberapa berat dan beruntungnya diri kita menjalani hidup. Bukan juga seberapa panjang, berapa banyaknya belokan, seberapa gelap dan banyaknya kerikil yang kita jumpai dalam jalur hidup kita. Tapi kenapa Tuhan berikan kita kesempatan hidup di dunia hari ini? Kenapa IA tidak berikan kesempatan kita hidup 20, 50 tahun yang lalu atau 7 abad yang lalu? Kenapa Tuhan lahirkan kita di Negeri yang pemerintahnya di caci-maki oleh rakyatnya sendiri? Dan itulah semua yang harus dicari, bukan hanya jalur hidup mana yang kau pilih, tapi mau kemana kita harus pergi. Kita yang pilih sendiri, mau buang-buang kesempatan hidup dengan muda foya-foya, tua kaya raya, dan mati masuk surga atau muda berusaha, tua bijaksana, mati masuk surga, dan Negara ikut sejahtera.

Salam hangat dari hujan deras di Jawa Timur
(bersambung)

Coretan Perjalanan (bag.II Cerita Rakyat)



Perjalanan tentu terasa pahit jikalau kau memulainya dengan sendirian, tapi berakhir dengan sendiri pula. Sejujurnya aku harus berterima kasih terhadap Tuhan yang memberiku kesempatan untuk berkenalan dengan orang-orang baru yang mewarnai perjalananku ini. Setidaknya kalau hubungan pertemanan di nilai sebatas contact di blackberry ada sekitar 30 kontak baru dalam contact bbm-ku hari ini.

Patung arjuna di pantai pandawa, bali


Pada bagian ini aku tidak ceritakan apa artinya teman dalam perjalananku. Mungkin itu ada pada bagian lain. Pada bagian ini aku secara spesifik ceritakan tentang cerita aku dan bersama tiga temanku lainnya saat sedang berkumpul dan berbagi cerita rakyat dari masing-masing daerah kami. Kebetulan dan mungkin takdir Tuhan yang mempertemukan aku dengan mereka. Mereka bernama Asa, Gofur, dan Wamil. Oke, sebelum memulai aku perkenalkan sekilas tentang profile mereka.

Yang pertama adalah Asa, gadis manis berkulit putih keturunan china yang berasal dari Sidoarjo. Ia banyak membaca tentang budaya dan filsafat. Pernah berkuliah di Universitas Airlangga, Surabaya, tapi akhirnya memutuskan berhenti berkuliah ditengah-tengah karena keputusannya sendiri. Perempuan ini memiliki karakter yang keras tapi dibalut oleh budaya jawa yang halus. Tak heran wanita sekeras doi juga pusing karena kakak perempuannya telah menikah di umur muda (yang artinya sekarang doi sedang pusing saat ditanya kapan menikah padahal umurnya masih 21 tahun).

Yang kedua namanya Gofur. Laki-laki berparas seram kelahiran Maluku. Ia adalah seorang aktivis organisasi PEMBEBASAN. Laki-laki asal Maluku, seram, besar, suaranya berat, berkulit hitam dan berideologi kiri. Pertama kali mengenalnya aku sendiri merasa seram dan membayangkan kalau dia pasti tidak dicurigai kalau menyelinap menjadi salah satu massa dalam aksi buruh haha. Tapi setelah cukup mengenalnya baru aku ketahui kalau dia sebenarnya adalah sosok yang lembut dan bahkan aku setengah tidak percaya ketika mendengar bahwa ternyata ia habiskan tujuh tahun waktu kuliahnya di jurusan keperawatan hahaha.

Yang terakhir sekaligus paling pamungkas, namanya Wamil. Nama lengkapnya Andi Wamil. Pria asal Makasar dengan keturunan raja (karena itulah namanya begelar Andi), berambut gondrongnya dan gaya bicaranya yang ceplas ceplos. Waktu kecilnya ia habiskan dengan menghafalkan peristiwa dan sejarah nenek moyangnya yang keterunan raja. Mungkin aku bisa katakan bahwa sejarah Makasar dan sekitarnya sudah ia hafal diluar kepala. Waktu kuliahnya ia habiskan waktunya berorganisasi di PMII. Tapi walaupun organisasinya bernafaskan islam, pengetahuannya tidak terbatas pada islam dan pergerakan saja. Aku masih ingat kata-katanya saat ingin sholat Jum’at, dengan nada bercanda ia katakana padaku”sholat jum’at itu politiknya Rasulullah untuk mengumpulkan dan memprovokasi ummat muslim” haha ada-ada aja.

**
Hari itu lucu, karena saat itu kami sedang berbagi cerita tentang budaya dan cerita rakyat didaerah kami masing-masing. Mulai dari Asa yang bercerita tentang huruf aksara jawa. Bagaimana aksara jawa ditemukan dan kemiripannya dengan huruf arab, bagaimana perkembangan aksara jawa, dan kekesalan hatinya karena bangsa Indonesia di cap buta huruf oleh penjajah. Padahal yang dimaksud buta huruf adalah dari justifikasi barat karena tidak menggunakan alphabet latin.

Mungkin cerita masa lalu (cap buta huruf masyarakat Indonesia dari penjajah) ini mirip dengan revolusi pendidikan di Turki yang dipimpin oleh Mustafa Kemal Attaturk. Saat itu Mustafa Kemal Attaturk menyatakan bahwa sekitar 91% masyarakat Turki buta huruf. Padahal ini sebenarnya adalah buta huruf Latin, dan sering terdengar merendahkan huruf Arab (atau aksara Jawa).

Cap buta huruf dari penjajah dan kemampuan masyarakat Indonesia dulu dalam menggunakan aksara jawa telah dibenarkan oleh M.Natsir kemudian hari. Seperti yang diutarakan oleh M.Natsir pada November 1940,” Baru kira-kira 4% dari penduduk Indonesia jang pandai tulis batja huruf Latin.”  Lebih lanjut Natsir mengatakan,”Sebelum bahasa Belanda mendjadi bahasa pembawa ketjerdasan itu, sudah terlebih dulu bahasa Arab menjadi satu-satunja pembuluh kebudajaan bagi kita anak Indonesia”. Natsir juga mengatakan,” Melihatlah di sekeliling tuan, perhatikanlah ketjerdasan bangsa kita sekarang ini! Selidikilah, djangan di kota jang besar-besar sadja akan tetapi masuklah ke kampung dan ke desa-desa, di situ tuan akan mendapatkan gambaran, bagaimana besar djasanya bahasa Arab ini bagi ketjerdasan bangsa kita. Belum ditilik lagi dari djurusan keagamaan, akan tetapi baru dari djurusan ketjerdasan umum.”

Lain lagi cerita dari Gofur. Ia ceritakan kepada kami tentang perang badr hingga hantu dan arti nama Maluku. Ceritanya ketika perang Badr di jaman Rasulullah, saat itu jumlah pasukan Rasulullah kalah banyak dibandingkan lawannya. Alhasil dengan bantuan Jin, pasukan muslim memenangkan perang tersebut. Tapi kemudian sahabat nabi, Ali bin Abu Thalib, bertanya kepada Rasulullah kemana pasukan Jin ini kemudian akan pergi/singgah. Rasulullah pun menjawab bahwa pasukan jin tersebut akan ditempatkan di sebelah timur bumi.

Menurut cerita orang Maluku, tempat persembunyian/persinggahan para jin tersebut ialah berada di pulau Maluku. Tepatnya aku lupa nama sebuah pulau yang katanya sangat angker dan menjadi tempat berkumpulnya para jin yang membantu Rasulullah disaat perang Badr. Nama Maluku sendiri berasal dari AL-Mulk yang berarti kerajaan. Kerajaan manusia juga kerajaan Jin. Bahkan dengan berbau sedikit mistis sering sekali Gofur ceritakan tentang sejarah para raja di pulau Maluku terdahulu yang merupakan rajanya jin dan manusia. Pernah terdapat salah satu raja (yang aku lupa namanya), mengatakan sebelum berperang melawan penjajah,”aku perintahkan jin dan manusia untuk melawan….”. Selain daripada itu masih banyak cerita masyarakat Maluku lainnya yang terdengar mistis, seperti raja yang sholat disuatu tempat kemudian tempat itu menjadi penuh dengan tumbuhan dan pepohonan, dsb.

Kali ini giliran Wamil bercerita. Sebagai keturunan raja, wamil banyak ceritakan tentang sejarah dari pulau Sulawesi. Cerita tentang raja-raja terdahulu, bagaimana pola hubungan kerajaan di Makassar dengan para penjajah sehingga politik etis hanya terdapat di pulau Jawa dan sebagian Sumatera, relasi hubungan antar marga, tata cara perkawinan dan kematian, bagaimana suku-suku di Sulawesi mempertahankan eksistensinya, hubungan antar keturunan, dan lain sebagainya yang saking banyaknya aku pun lupa apa yang harus kutulis sekarang karena saat itu tidak kucatat dengan baik cerita dari Wamil.

Akhirnya tibalah giliranku. Nah masalah dimulailah dari sekarang!

Pertama kalau mau dikatakan, aku tidak memiliki suku/kultur budaya yang sangat melekat pada diriku. Ayahku minang tapi dari kecil telah merantau ke pulau jawa. Ibuku keturunan campuran antara Jawa dan Bangka. Harusnya kalau ikut gaya minang, aku ikut ibuku. Sayangnya ibuku pun tidak begitu jelas apa suku dan adat istiadatnya haha. Alhasil, karena terlahir di Jakarta, bertempat tinggal di Condet (yang mana dulunya merupakan kampung betawi), aku klaimlah diriku sebagai orang Jakarta haha.

Kedua, walaupun tinggal di pusat budaya Jakarta, sebenarnya Condet sekarang lebih terkenal sebagai kampung Arab dibandingkan dengan kampung Betawi. Hal ini dikarenakan lebih banyak penduduk di Condet yang merupakan keturunan Arab dibandingkan keturunan Betawi. Implikasinya, karena saat aku tinggal di Condet lebih banyak bergaul dengan keturunan Arab dibandingkan Betawi asli, aku lebih banyak tahu tentang ke-Arab-an dibanding ke-Betawi-an.

Ketiga, harus diingat, bahwa DKI Jakarta adalah pusat ibukota Negara yang setiap tahunnya mengundang pendatang dari luar daerah. Alhasil penduduk asli betawi semakin tersisih yang berdampak bagi keberlangsungan budaya asli betawi. Aku jadi teringat ketika salah seorang senior dikampus dulu, namanya Yuriza, bertanya padaku tentang sejarah rakyat betawi. Rasanya hari itu aku malu karena Yuriza yang berasal dari Bogor lebih mengetahui cerita rakyat betawi tentang si Pitung dibandingkan aku yang hidup hampir 18 tahun di Jakarta.

Yah, selalu ada jalan keluar untuk setiap masalah. Alhasil dengan pengalaman lima tahun hidup di kota Bandung, adalah cerita rakyat Sunda yang aku bisa bagikan dengan mereka (cerita yang aku bagikan adalah tentang cerita Sangkuriang dan hubungannya dengan trias politica & kaum intelektual, pernah kutulis di blog ini dulu). Haha, aneh ya aku lebih ketahui cerita rakyat sunda dibandingkan dengan cerita rakyat betawi.

“A man who has committed a mistake and doesn’t correct it, is committing another mistake”
-Confucius

Bagiku pribadi ini adalah pengalaman kedua ketika aku ditanya tentang sejarah dari tempat lahir dan besarku tapi tak dapat aku jabarkan ceritanya dengan baik. Bahkan jangankan menjabarkan, ceritanya pun tidak aku ketahui. Kalau teman-teman membaca tulisanku ini, cobalah teman-teman tanyakan kepada diri kalian (terutama yang berasal dari kota-kota besar), apakah teman-teman mengenal budaya dan mampu membagikan cerita rakyat daerah kawan-kawan? Kalau mampu berarti hebat, kalau tidak mampu berarti kita sama (sama-sama menyedihkan maksudnya haha).

Sungguh sebenarnya aku iri dengan kawan-kawanku (Asa, Gofur, dan Wamil). Mereka dapat ceritakan cerita daerahnya masing-masing. Mungkin kadang kita harus bertanya, siapa yang lebih hebat antara Superman dan Pangeran Diponogoro? Atau siapalah yang lebih bermurah hati antara Robin Hood dengan Si Pitung? Setidaknya Pangeran Diponogoro adalah cerita asli dan beliau tidak bodoh untuk memamerkan celana dalam bercorak norak. Begitu pula dengan Si Pitung yang mencuri karena kemiskinan akibat imperialisme yang dipraktikan para penjajah (termasuk oleh Negara asalnya Robin Hood).

Pengalaman ini akan aku telan rasa pahitnya. Ini adalah kali kedua aku tidak bisa menjawab cerita rakyat daerahku sendiri, budayaku sendiri. Kedelai saja bodoh kalau jatuh tiga kali, masa aku mau disamakan dengan kedelai (bahkan dengan kedelai yang terbodoh di antara pada kedelai). Nasionalisme bukan isarat gombal dan teriakan kosong. Selalu ada makna dibalik kata dan harus ada perubahan dibalik penyesalan. Kadang mungkin kita harus bertanya,”kalau cerita superman, ironman, batman, sikilman, dan bijiman yang bergabung dalam The Avangers setiap tahun ceritanya berkembang, masa cerita si pitung, sangkuriang, jaka tarub, dan jaka-jaka lainnya yang relatif punya bukti otentik tidak berkembang?”. Atau pertanyaan yang lebih mudahnya,”masa cerita tangkuban perahu yang diceritain sama orang tua kita dan yang kita ceritain ke anak kita masa depan ceritanya sama aja?”

Yah okelah daripada makin banyak pertanyaanku yang enggak nyambung, lebih baik kita sudahi cerita yang ini dan jangan lupa nantikan cerita berikutnya. Tapi ingat pesanku dari cerita ini (untukku dan untuk kita semua): kenali dan berbanggalah dengan budaya bangsa ini! Karena anak muda yang keren adalah anak muda yang paling paham tentang INDONESIA!!
(bersambung)

Coretan Perjalanan (bagian I)



“Everyone has three lives, first is public life, second is private life, and the last is secret life”

Setidaknya terdapat beberapa hal tindakan dari ayahku yang terus membekas dalam memoriku. Salah satunya ialah ketika kami sekeluarga pergi liburan ke bali. Saat itu aku masih kecil, mungkin masih SD dan memiliki ‘jadwal harian wajib’ untuk menonton film cartoon tepat pukul 15.00 sore. Tapi keluarga besarku merencanakan berlibur ke bali. Entah karena apa, tetapi ayahku memutuskan untuk pergi ke bali lewat jalur darat. Ya, hanya kami yang lewat jalur darat naik mobil dari Jakarta sampai pulau bali. Yang jadi masalah bukan jalur daratnya, tapi ‘jadwal harian wajibku’ untuk menonton film cartoon yang terganggu karena tidak bisa menontonnya selama beberapa hari!

Buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya. Mungkin itulah yang terjadi hari ini. Perjalanan terjauh bersama keluargaku itulah titik tolakku dalam memandang acara jalan-jalan. Kegairahan menunggu pukul 15.00 sore untuk menonton film cartoon, perasaan berdebar-debar ketika iklan, dan rasa penasaran akan kelanjutan filmnya minggu depan telah berganti seiring perjalanan bersama keluargaku itu. Sepanjang perjalanan ayahku ‘mendongengkan’ kami dengan cerita pahlawan nasional yang lahir di pulau jawa, cerita rakyat jawa, cerita mahabrata, pertarungan pandawa dengan kurawa, profile setiap tokoh dalam cerita klasik tersebut, dsb. Bahkan tak jarang kami mampir ketempat wisata yang jadi bukti cerita tersebut seperti museum dan candi.

Perjalanan itu mungkin singkat, tapi kesannya terus membekas dalam kepalaku hari ini. Itulah traveling, traveling bukan hanya tentang melihat karunia indahnya alam milik Tuhan, tapi juga perjalanan mencari tahu sesuatu yang belum pernah kita ketahui.

Orang ganteng di Bali

Mudah-mudahan tidak banyak orang bodoh yang habiskan sepertiga umur fresh graduate-nya sepertiku. Saat orang lain bingung cari kerja dan pusing bekerja sembari melawan kemacetan jakarta, kau malah jalan-jalan haha. Nanti malah makin banyak pengangguran sukarela di Negara ini haha. Walau belibet nerangin ke orang lain kenapa aku pilih jalan-jalan, tapi perjalanan ini memberi warna baru dalam hidupku. 

Ada cerita kenapa rumah orang-orang jawa punya teras yang luas. Setidaknya begitu pengamatanku. Kalau bukan teras rumahnya yang luas, ya halamannya yang luas. Rumah menunjukkan suatu kepribadian. Karena hampir semua rumah yang ketemui cirinya sama, pertanyaannya ada apa dengan kepribadian orang jawa? 

Aku mulai jawab dengan istilah orang jawa cukup terkenal (malah mungkin sampai terkenalnya sudah di akusisi jadi peribahasa Indonesia, saking kuatnya pengaruh jawa di Indonesia). Mangan ora mangan sing penting ngumpul. Makan enggak makan yang penting berkumpul. Istilah ini menujukkan sifat kekeluargaan orang jawa yang sangat besar. Kalau Ronald Reagan (Presiden Amerika) bilang “all great change in America begins at dinner table”, mungkin orang jawa enggak perlu makan malam untuk membuat suatu perubahan. Karena inti perubahan bukan makanan apa yang disantap, tapi berkumpulnya orang-orang yang inginkan perubahan.

Saking besarnya pengaruh sing penting ngumpul, bahkan kepalaku pun sampai pusing ketika semua orang yang aku temui dan kutanyai tentang dimana tempat nongkrong selalu menjawab alun-alun! Pikirku yang terbiasa hidup dihingar-bingar kota besar sontak bertanya dalam hati,”apa enaknya nongkrong di alun-alun? Emang ada apaan disana?” haha untungnya pertanyaan itu enggak sempat keluar dari mulutku, kalau enggak habis kali aku dihajar mereka.

Dulu ada anekdot,”apa kunci terbesar didunia?”, jawabannya ialah jawa, karena jawa adalah kunci. Tapi mungkin itu benar, yang namanya persahabatan dimulai dari keramahan, yang namanya persatuan dimulai dari keterbukaan. Kalau kata orang cari istri orang jawa karena setia, kalau kataku orang jawa itu ramah dan terbuka (enggak nyambung haha).Istilah mangan ora mangan sing penting ngumpul,ciri khas aristektur rumah jawa, tempat nongkrong, dll bagiku menunjukkan kepribadian orang jawa yang ramah, terbuka, dan bersahabat.

Ada cerita pula tentang kenapa pulau bali yang setiap tahunnya kelimpahan wisatawan asing tapi tetap dapat mempertahankan budaya balinya. Hal ini tentunya berkebalikan dengan provokasi sebagaian aktivis yang meneriakkan bahwa budaya barat itu merusak budaya timur. Bali menjadi bukti bahwa budayanya tetap bertahan walaupun diserbu wisatawan asing setiap harinya. Bahkan budaya menjadi salah satu bentuk wisata dibali selain wisata pantai, hiburan, dan mistis.

Setidaknya pulau bali adalah tempat terkonsentrasinya pemeluk agama budha dan hindu. Menurut ceritanya, agama hindu dan budha pertama kali menyebar di India. Agama hindu kemudian menyebarkan agamanya ke selatan dan agama budha menyebarkan agamanya ke utara. Tapi kemudian keduanya bertemu kembali di tanah bali. Sehingga kemudian tidak sulit untuk kita pahami bagaimana pengaruh agama hindu dan budha di pulau bali.

Seperti kiranya agama hindu di pulau dewata. Sebelumnya perlu aku ingatkan bahwa harus teman-teman sadari bahwa aku bukan pemeluk agama hindu maupun budha, karena itu mohon maaf kalau aku hanya pahami isi kulitnya saja. Oke aku lanjutkan seperti kiranya agama hindu yang untuk hidup menghargai sesama manusia dan alam, begitupula para wisatawan. Kalau kita berjalan di bali, tak akan jarang kita temui sesajen dengan bau kemenyan. Pemberian sesajaen ini adalah untuk ucapan terima kasih pada Dewa dan agar roh-roh jahat tidak mengganggu hidup mereka. Sesajen sederhana dipersembahkan setiap hari, sedangkan sesajen istimewa dipersiapkan untuk acara-acara keagamaaan tertentu.

Dengan perasaan sadar, aku tanyakan itu pada beberapa orang pemeluk agama hindu di bali. Ada jawaban yang aku paling sukai. Aktivitas menaruh sesajen adalah salah satu bentuk menghargai alam. Seperti contohnya menaruh sesajen dibeberapa pohon yang dianggap keramat. Beberapa orang mengira bahwa menaruh sesajen dan memasang kain catur dalam beberapa pohon dikarenakan ada setan di pohon tersebut. Orang bali punya cerita dibalik cerita, ada maksud dibalik maksud. Memang benar ada setan dibalik pohon tersebut, setan berbentuk bencana alam, erosi, banjir,dsb jika kau tebang itu pohon sehingga kemudian mengganggu keseimbangan alam!

Ada lagi tempat destinasi wisata di Bali yang menurutku indah. Tempat itu ialah Puja Mandala. Disana terdapat lima tempat ibadah yang saling berjejer, mulai dari masjid, gereja protestan, gereja katolik, pura, dan vihara. Entah dibangun karena unsur politis ataupun efisiensi tata ruang, tapi tempat itu menunjukkan kerukunan umat beragama di bali. Tak sedikit orang yang akan bermasalah ketika ditanya,”bagaimana kalau disebelah rumahmu dibangun tempat ibadah agama lain?”. Bagiku Puja Mandala menunjukkan toleransi dan keharmonisan dapat hidup dalam keberagaman. Dan jangan samakan hal ini dengan sekumpulan orang paranoid yang membunuh dirinya lewat bom. Mereka (yang kemudian merusak nama bangsa dengan cap teroris), adalah kumpulan orang penakut yang kalah bersaing dan sangat payah denganmenggunakan cara yang kasar dalam mengingatkan sesuatu yang dianggap melewati batas. Remember, if you truly loved your self, you could never hurt another.

Cerita sesajen, pohon berpakaian kain catur, dan tempat ibadah menunjukkan padaku, jangankan menghargai sesama manusia, bahkan benda/alam yang tidak bisa bicara dengan bahasa manusia pun mereka hargai. Salah satu cara membentung budaya barat yang masuk dari globalisasi ialah mencintai, menghargai, dan berbudaya budaya Indonesia. Toh kata ‘globalisasi’ bukan terus menerus berarti buruk. Kadang harus diartikan sebagai kesempatan memperkenalkan budaya bangsa. Bali adalah contoh budaya bangsa yang tidak kalah dan memanfaatkan kesempatan menang dari globalisasi.

Ada cerita lagi kenapa anak muda yang enggak mondok (baca pesantren) lebih aneh daripada orang yang mondok. Bagi aku yang dibesarkan ditengah kota besar Jakarta dan Bandung, justru terbalik, kalau orang tidak sekolah formal dan memilih pesantren, justru akan aneh kalau aku memilih berpendidikan agama di pondok pesantren.

Pondok pesantren adalah salah satu lembaga pendidikan dan penyebaran agama islam. Agama islam sendiri adalah agama mayoritas penduduk Indonesia, termasuk menjadi agama mayoritas di Provinsi Jawa Timur.. Aku jadi teringat ketika ada seorang santri sebaya asal Maluku, yang sudah tujuh tahun tinggal di pondok tebu ireng, yang mengatakan padaku ketika aku serbui pertanyaan tentang kehidupan pesantren dan islam. Dia (yang aku lupa namanya), katakana padaku dengan suasana yang pas saat itu dan terasa ucapannya dari dalam lubuk hatinya yag paling dalam,”aku hidup untuk agamaku”. Islam bukan hanya menjadi agama, tapi pula menjadi budaya, ideologi politik, sebuah way of life dalam kehidupan manusia yang turut pula mewarnai kehidupan kita dalam berbangsa dan bernegara

Agama islam masuk ke Jawa Timur pada abad ke sebelas. Kalau kita ingat jaman SD, kita diajarkan (bahkan menjadi bahan ulangan SD), terdapat sembilan wali songo. Dari kesembilan wali songo tersebut, terdapat lima wali yang menyebarkan agama islam di Jawa Timur, yakni Sunan Ampel (Surabaya), Sunan Gresik dan Sunan Giri (Gresik), Sunan Drajat (Lamongan), dan Sunan Bonang (Tuban). Pengaruhnya bukan hanya penyebaran agama islam di Jawa Timur, tapi juga dapat dilihat dimasa sekarang dengan adanya dua organisasi islam yang kuat di Indonesia, yakni Nahdathul Ulama (NU) dan Muhammadiyah. Bahkan pondok pesantren Tebu Ireng di kabupaten Magetan dikenal sebagai kampung madinah karena kehidupan disana (beserta hampir 15.000 santrinya) yang menyerupai kota madinah.

Sejarah perkembangan islam di Jawa Timur, lembaga pendidikan islam, kehidupan dan budaya islami yang mengakar di Jawa Timur inilah yang kemudian mendorong anak-anak muda lebih memilih ‘mondok’ dibandinkan sekolah formal. Dan perlu diingat pula, bahwa sejarah bangsa ini bicara bahwa dijaman dulu banyak pergerakan dimulai dari pondok-pondok pesantren.

**

 “Do not believe in anything simply because you have heard it. Do not believe in anything simply because it is spoken and rumored by many. Do not believe in anything simply because it is found written in your religious books. Do not believe in anything merely on the authority of your teachers and elders. Do not believe in traditions because they have been handed down for many generations. But after observation and analysis, when you find that anything agrees with reason and is conducive to the good and benefit of one and all, then accept it and live up to it.”
― Gautama Buddha

Masih banyak lagi cerita yang pertama kudengar aneh, tapi lama kelamaan cukup mengerti kenapa begini dan kenapa begitu. Seperti kenapa pura selalu di bali selalu ada ditempat yang paling tinggi, kenapa pintu masuk pura hanya ada satu, kenapa tari kecak dikatakan tari pengusir setan, kenapa keris selalu ditaruh dibelakang, kenapa makanan tumpeng lebih popular dibanding ambeng, kenapa di daerah yang islami masih banyak yang memilih wanita sebagai pemimpin, dsb.

Tapi akan sangat panjang lagi jika aku ceritakan pada tulisan ini. Anggap saja tulisan ini hanyalah bagian pertama dari perjalananku. Setelah ini akan aku ceritakan semua cerita yang aku anggap menarik. Setidaknya yang perlu aku bagikan kepada teman-teman semua..…

Sampai jumpa pada bagian selanjutnya..
(bersambung)