Public-Private Partnership dan Nasionalisme

Bergaul sama orang pinter kadang suka dibohongin, tapi bergaul sama orang bodoh kadang jadi kebawa bodoh. Pertanyaannya sama siapa kita harus bergaul? Haha oke enggak penting, tapi cukup diingat saja pertanyaannya, dengan siapa hari ini kita bergaul. Karena kadang kalau kita akan ketemu sama orang baru, mungkin datang waktunya untuk kita bertanya kediri sendiri akan pemahaman lama yang dulu kita pahami. Termasuk cerita saya tentang pemahaman public-private partnership (PPP).

Sumber gambar: https://percolatorcorner.wordpress.com/tag/finance/

Dulu jaman kuliah masih (dan Alhamdulillah masih inget), pernah dikenalin sama yang namanya PPP ini. Sederhananya PPP ini bisa diterjemahkan sebagai bentuk kerjasama antara pemerintah dan badan usaha private dalam membiayai barang public. Ya karena jaman kuliah saya malas buka literature dan bertanya ditengah kelas, yowes jadi terima saja (ini contoh buruk yang saya yakin tanpa disuruh udah banyak yang ngikutin saya hehe). Nah kena batunya pas sudah lulus! Ketika lulus mulai bergaul sama aktivis di daerah; dan entah kenapa setiap kali mereka ini mendengar kata ‘private’ atau ‘PPP’, seketika kupingnya merah dan ribuan kata-kata brutal lainnya segera menyerbu. Ada stigma, suatu pemahaman negatif bahwasanya PPP ini bentuk ketidak-nasionalisme-an pemegang keputusan sekarang. Bagi saya yang pernah belajar tentang PPP dan bergaul sama mereka, tentu ada tanggung jawab tersendiri bagaimana menengahi kesalahpemahaman yang terjadi. Tulisan ini dibuat ringan (bukan hanya bahasanya, tapi mungkin juga karena pemahaman saya yang juga ringan haha), tapi semoga bisa sedikit membuat kita berpikir lebih jernih.

Uraian sekilas tentang PPP


Yang namanya public harusnya disediakan oleh pemerintah yang punya kewenangan mengurus urusan public. Sayangnya, terlalu naïf jikalau kita anggap pemerintah itu Tuhan yang maha bisa segalanya dan maha punya semuanya. Salah satunya urusan dana. Ada keterbatasan pemerintah dalam urusan dana dan pertimbangan apakah dana sebesar 10 lebih baik digunakan untuk A atau B. Hal ini menyebabkan adanya skema penyelesaian dengan bekerja sama dengan pihak swasta. Alhasil pemerintah bisa alokasikan dana untuk A dan B dan pendanaan infrastruktur dibantu oleh swasta termasuk beberapa resikonya (seperti resiko konstruksi, yang sifatnya teknik, pengoperasian, bahkan sampai resiko force majeure).

Disisi lain pihak swasta yang enggak pusing-pusing amat mikirin masalah distribusi dan lebih fokus mencari profit (sehingga lebih kedepanan faktor effisiensi), menjadikan swasta lebih unggul dalam pengelolaan (termasuk pula biasanya teknologi dan SDM) maupun keuangan (termasuk menanggung resiko). Faktor-faktor ini yang kemudian menjadi perspektif mengapa kita perlu mendorong sektor swasta berperan dalam pembangunan public.

Sehingga dalam artian lain kita bisa bilang bahwa dalam skema PPP ini pihak swasta secara tidak langsung melaksanakan fungsinya sebagai pemerintah (karena memenuhi kebutuhan public). Tapi perlu diingat sekali lagi, bukan hanya jadi ‘pemerintah sesaat’ tapi juga bertanggung jawab atas segala resiko yang muncul dan pula menerima benefit selama pelaksanaan tersebut.

Tapi apa bener pihak swasta yang bener-bener jadi pemerintah? Santai, enggak juga karena ada macam-macam bentuk PPP itu mulai pihak swasta Cuma donor, advokasi, sebagai kontraktor, maupun jadi pemegang konsesi proyeknya. Dari sini kita bisa bilang sebenarnya dalam PPP ini ialah bagaimana melibatkan sektor private yang kadang lebih unggul dalam beberapa hal dalam urusan public.

Nasionalisme dalam ekonomi

Ini baru problematika. Apa dan bagaimana konsep ekonomi yang nasionalis itu? Mungkin enggak ada satu pemahaman yang mutlak diterima semua orang tentang kebijakan ekonomi yang nasionalis. Ada yang katakan, ekonomi kita dikatakan nasionalis kalau masyarakat Indonesia yang menerima manfaatnya. Ada juga yang katakan berarti modal mengarah ke Indonesia. Dan ada lagi yang katakan kalau nasionalis berarti semua yang ada didalam negeri kita yang kontrol. Apalagi kalau menyentuh tataran instrument fiskal, apakah memberikan subsidi, proteksi, atau tidak impor sama sekali merupakan bentuk ekonomi yang nasionalis? Dan apakah kebijakan impor atau memberikan izin investasi asing adalah bentuk ekonomi yang tidak nasionalis?

Perbedaan pemahaman ini terjadi karena nasionalisme adalah ideologi sedangkan tidak sedikit orang katakan ilmu ekonomi ini science (sehingga sering dikatakan bebas nilai). Padahal tidak mungkin ada ilmu pengetahuan sosial tanpa ideologi. Dan inilah yang jadikan orang-orang sekelas Adam Smith (bukan adhamaski) dan Karl Marx namanya masih mentereng sampai sekarang, karena mereka bukan hanya menyentuh science tapi pula tataran ideologi dan sifat manusia. Berbeda dengan konsep ekonomi pancasilanya (alm) Prof.Mubyarto, tanpa kurangi rasa hormat saya dengan beliau yang maha sakti, beliau menyentuh tataran ideologi tapi sangat sulit diterjemahkan dalam justifikasi science karena enggak ada juga bentuk sifat manusia indonesianya kek mana.

Tapi kalau ditanya apakah penting nasionalisme dalam ekonomi? Jawabannya tentu iya walau kita sendiri masih dalam perdebatan seperti apa bentuk ekonomi yang nasionalis itu. Sehingga kita bisa acuhkan saja orang-orang (yang walau mereka ini banyak yang jadi dosen, menteri, bahkan pemimpin organisasi dunia) yang katakan kalau nasionalisme dalam era globalisasi itu kuno dan ketinggalan jaman. Mereka ini enggak lihat kenapa bank sentral Amerika Serikat (the Fed) sekarang memutuskan tapering off atau kenapa dulu saat Hollywood dibeli oleh Sony mereka malah dibuat bangkrut oleh artis-artisnya. Apa itu semua bukan bentuk nasionalisme dalam ekonomi? Mohon maaf tapi orang-orang yang bertanya apakah ‘aseng’ lebih baik daripada ‘asing’ dan sekelompok orang yang katakan kalau nasionalisme dalam era globalisasi itu parno adalah orang-orang yang tidak paham hakikat kemerdekaan bangsa ini.  Kalau mereka pikir bangsa ini hanya butuh modal yang mengarah ke Indonesia, lebih baik kita tetap saja jadi Nusantara yang dijajah kompeni, karena toh dari kompeni pula modal masuk dan beberapa infrastruktur dibangun. Justru karena dulu para pejuang bangsa ini ingin merubah struktur masyarakat yang timpanglah kita sekarang jadi bangsa yang merdeka.

Seperti yang saya tulis sebelumnya, nasionalisme dalam ekonomi itu penting, tapi ingat bukan karena urgensinya kita jadi harus mengarahkan nasionalisme pada chauvisme. Sehingga pelbagai hal yang berbau asing harus kita tolak, termasuk impor dan investasi asing. Ini bukan hanya menjadikan kita sebagai bangsa yang menganut chauvinism, tapi juga mereduksi perdebatan ilmiah menjadi sebatas pro dan anti-asing. Tentunya hal ini yang jadikan bung Karno tekankan pentingnya sosio-nasionalisme agar nasionalisme tidak mengarah pada chauvinism dan bung Hatta masih perbolehkan adanya ruang bagi swasta dan asing masuk dalam lingkup ekonomi nasional.

Dari uraian tersebutlah kita terjemahkan bahwa nasionalisme dalam ekonomi adalah perwujudan dari kebijakan ekonomi yang mengarah pada kepentingan nasional. Kepentingan nasional ini bagi saya harus diterjemahkan sebagai bentuk transformasi struktur dalam masyarakat dalam konteks persaingan luar negeri. Transformasi struktur dalam masyarakat adalah cita-cita kemerdekaan bangsa ini setelah pengalaman pahit dan penderitaan yang bangsa ini alami selama masa penjajahan sedangkah konteks persaingan luar negeri yang dimaksud adalah menjadi Negara yang mampu bersaing secara kekuatan ekonomi dengan bangsa-bangsa lainnya sehingga tidak lagi kita menjadi bangsa yang dipandang rendah dan seenaknya dijajah.

Kita kembali dalam pembahasan PPP. Bagaimana hubungan antara kebijaksanaan PPP dalam membiayai (misalnya) kebutuhan infrastruktur dan nasionalisme dalam ekonomi yang mengedepankan kepentingan nasional?

Kosakata ‘privatisasi’ menjadi hal buruk bagi kalangan masyarakat kita. Terutama ketika beberapa BUMN di privitasasi, salah satunya yang masih kita ingat adalah BUMN yang bergerak dalam bidang telekomunikasi. Banyak yang katakan kalau bidang telekomunikasi yang kita jual, artinya kita berikan informasi diberikan kepada pihak luar secara gratis. Penjualan BUMN bidang telekomunikasi di artikan sebagai penjualan informasi yang merukapan kepentingan nasional. Padahal kalau kita ingat lagi kejadian akhir-akhir ini, tanpa kita jual BUMN pun Negara asing sudah menyadap informasi para pejabat kita. Kasus ini mereduksi hakikat dari kepentingan nasional. Padahal bukan masalah jual telekomunikasi beri informasi, bukan! Kasus ini harus kita padang sebagai ketidakmampuan nasional mengedepankan pengembangan kepentingan nasional itu sendiri. Telekomunikasi adalah bidang yang sangat dibutuhkan dimasa depan. Kalau kita tidak kelola bidang tersebut dengan baik, di masa depan kita jadi bangsa yang payah dan tidak mampu bersaing dengan bangsa-bangsa lainnya. Itulah kenapa hari ini kita hanya terdiam melihat kemajuan industri telekomunikasi dari Taiwan dan korea selatan.

Ketersediaan infrastruktur itu kepentingan nasional, bukan kepentingan pejabat yang enggak mau disadap dalam komunikasi. Tentunya harus ada upaya bagaimana sektor private tidak menyebrang hingga mengganggu pengambilan keputusan untuk kepentingan nasional. Secara garis besar, ada beberapa hal yang harus dilakukan oleh pemerintah agar niatan baik sektor private membantu pembangunan sektor public tidak berubah jadi tindakan buruk sehingga sektor private mengocok-ngocok urusan public (hal ini yang menurut saya banyak terjadi sehingga banyak stigma negative dari masyarakat kepada private ketika mereka masuk dalam urusan public). Hal-hal tersebut ialah seberapa berkapasitasnya pemerintah sebagai institusi dan regulator, bagaimana komitmen politik  dan akutablitas (termasuk dalam urusan pengalokasian fiskal untuk infrastruktur) dalam mengedepankan urusan public.

Menurut saya, jangan sampai kita terus mereduksi masalah PPP hanya jadi sebatas masalah dana, teknologi, dan SDM. Ini sering sekali jadi pledoi dalam beberapa kasus migas di Indonesia. Karena selain hanya menujukkan kegagalan dalam memajukan teknologi dan kualitas SDM kita juga makin jauh dari cita-cita founding father.

Jadi ingat bacaan jaman kuliah tentang watak kolonial ekonomi Indonesia oleh bung Karno (pemasok bahan mentah, pasar produk industri Negara maju, dan tempat memutar kapital) dan struktur sosial-ekonomi Hindia-Belanda dalam tiga stara menurut bung Hatta (kelas atas bangsa eropa, lapis tengah warga timur asing, dan yang paling bawah kaum pribumi). Bukannya yang kita kejar hari ini adalah kebalikan apa yang terjadi sebelum kemerdekaan? Dan bukannya yang kita kejar hari ini adalah ‘pembangunan indonesia’ (dan bukan ‘pembangunan di Indonesia’).

Garuda & Hari Ibu

Garuda, iya garuda, sosok dalam mitologi hindu yang juga jadi lambang Negara Indonesia. Entah kenapa saat-saat seperti sekarang aku malah pikirkan tentag sosok garuda, kenapa dia yang jadi lambang Negara ini (bukan macan yang sangar atau kucing yang lucu), kenapa dia yang harus kita sematkan di dada tiap-tiap individu di Negara ini.

Aku mulai tulisan ini dengan kilas balik cerita tentang asal-usul  Garuda menurut mitologi hindu

**

Alkisah, hidup seorang guru yang sangat bijaksana, namanya Resi Kasyapa. Saking bijaksananya ia memiliki dua istri, yaitu Kadru dan Winata. Sayangnya kebijaksanaan Resi Kasyapa tidak menular kekedua istrinya, Kadru selalu merasa cemburu terhadap Winata dan berusaha menyingkirkan Winata dari lingkaran keluarganya.

Suatu waktu, Kadru dan Winata bertaruh, apa warna kuda bernama Ucaihswara yang muncul dari tengah samudra. Siapa yang menangkan pertaruhan tersebut, maka ia harus menjadi budak seumur hidup yang harus senantiasa patuh terhadap kehendak dan perintah sang pemenang taruhan. Kadru bertaruh Ucaihswara warnanya hitam,sedangkan Winata bertaruh warnanya putih.

Ditengah taruhan, Kadru mendapatkan informasi dari para naga bahwasanya kuda Ucaihswara berwarna putih dan Kadru akan kalah dalam taruhan. Mengetahui informasi tersebut, Kadru bertindak curang, ia perintahkan para naga untuk menyembur api ketubuh kuda Ucaihswara agar dapat terlihat seperti kuda hitam. Alhasil, ketika kuda Ucaihswara keluar dari samudra menuju kehadapan Kadru dan Winata, warnanya telah berubah menjadi hitam. Winata kalah taruhan dan menjadi budak seumur hidup bagi Kadru.

Winata memilki anak laki-laki bernama Garuda. Garuda tidak tahan melihat ibunya menjadi budak bagi Kadru ditengah jeratan seribu naga disekiling Winata. Pertempuran antara Garuda dan para naga terjadi. Karena kedua pihak sama kuat, kadru berikan syarat kepada Garuda jika ia ingin bebaskan ibunya, yaitu memberikan tirta amertha yang dapat memberikan hidup abadi. Garuda menyanggupi syarat tersebut dengan tekad bebaskan ibunya dari perbudakan. Kadru pun meridhoi perjuangan anaknya.

Mendapatkan tirta amartha tidaklah mudah, Garuda musti bertempur dengan para dewa di surga. Pertempuran panjang terjadi antara garuda dan para dewa. Melihat perjuangan Garuda, para dewa akhirnya sepakat untuk memberikan tirta amertha kepada Garuda. Tentu dengan syarat, yaitu Garuda haruslah menjadi burung tunggangan Dewa Wisnu. Garuda menyanggupi hal tersebut asalkan mampu membebaskan ibunya dari perbudakan.

Dengan tirta amertha, para naga berniat mandi untuk segera mendapatkan keabadian hidup. Bersamaan dengan itu, Dewa Indra yang kebetulan melintas mengambil alih air suci. Dari wadah Kamandalu, tersisalah percikan air pada sisa tali ilalang. Tanpa berpikir panjang, percikan air pada ilalang tersebut dijilati oleh para naga. Tali ilalang sangatlah tajam bagaikan sebuah mata pisau. Tatkala menjilati ilalang tersebut, terbelahlah lidah para Naga menjadi dua bagian. Disisi lain, Kadru telah bebas dari perbudakan Winata dan Garuda menjadi kendaraan bagi Dewa Wisnu.

***

Apa ilham yang kita dapatkan dari cerita ini?  Jangan taruhan? Ya bolehlah (boleh taruhan kalau udah tau jadi pemenang maksudnya ya). Garuda akhirnya menjadi lambang bagi Negara ini. Ia dedikasikan hidupnya untuk bebaskan ibu pertiwi dari jeratan ular naga, dari kadru yang curang, dan relakan dirinya menjadi tunggangan bagi dewa Wisnu. Ini yang kemudian mengilhami para founding father kita untuk menyamakan bangsa ini yang lepas dari perbudakan kolonial agar dapat menjadi bangsa yang sejahtera. Sejahtera ini dilambangkan dengan Dewa Wisnu yang merupakan dewa yang bertugas memilihara dan melindungi segala ciptaan Brahman.

Sayangnya sosok Dewa Wisnu dan Garuda belum ada lagi sekarang, yang melepaskan bangsa ini dari penjahat-penjahat tengik yang menyiksa ibu pertiwi, semoga suatu saat sosok itu datang. Mungkin sosok itu aku, kamu, atau mungkin kita yang jadikan negeri ini jadi lebih sejahtera laksana dirawat oleh Dewa Wisnu.

****

Aku jadi teringat cerita ini setelah kemarin ibuku menelfonku. Kemarin adalah hari ibu dan sungguh keterlaluan aku ini, bukannya aku yang telfon ibuku dan ucapkan selamat hari ibu, tapi malah ibuku yang menelfon aku duluan. Garuda enggak mungkin dapatkan tirta amartha kalau ia tidak direstui oleh ibunya. Begitu juga kita manusia, enggak mungkin kita dapatkan cita-cita kita kalau orang tua tidak ridhoi segala upaya kita.  Hormati orang tua, hormati ibu, dan banggakan mereka suatu saat nanti.

Semoga Tuhan restui perjuangan kita banggakan ibu kita dan ibu pertiwi

Selamat hari ibu, mama ku sayang, terima kasih telah doakan aku seumur hidupmu

Demokrasi Korupsi

Korupsi oh korupsi, mungkin kosakata korupsi di kamus masyarakat Indonesia sudah menjadi seperti vocabulary of daily activity. Kalau sholat yang wajib bagi umat muslim aja sehari lima kali, kata korupsi mungkin minimal sekali didengar oleh masyarakat Indonesia. Entah lewat televisi, Koran, radio, bahkan bahan gosip untuk tetangga yg lagi jadi OKB (Orang Kaya Baru). Siapa orang Indonesia yang enggak tau arti kata korupsi? Anak kecil saja sudah banyak yang cita-citanya mau jadi koruptor.

Minggu kemarin JakartaPost keluarkan tabel seperti yang diterdapat diatas. Mungkin bagi kita yang lihat sekilas isi tabelnya, kita bisa bilang,”lumayan dah naik 4 peringkat”. Tapi kalau kita ingat lagi tentang prestasi bangsa ini yang katanya masuk 20 besar kekuatan ekonomi dunia, penyelenggara dan yang akhirnya mencapai kesepakatan di WTO Bali, pertumbuhan ekonomi yang edan dalam golongan MIST, atau daulat sebagai Negara dengan kekuatan ekonomi yang kokoh setelah krisis Amerika Serikat & Eropa, pastinya kita akan berpikir,”seberapa besar ketidakeffisienan dan kerugian yang telah disebabkan oleh praktik korupsi?”. Dengan korupsi (ketidakeffisienan) aja Indonesia punya sederet prestasi dibidang ekonomi, gimana kalau enggak korupsi? Mungkin kita sekarang sedang duduk santai kayak dipantai dan hati yang teduh seperti punya payung sendiri.

Manusia enggak lepas dari kekurangan, apalagi kalau ada kesempatan untuk melakukan korupsi. Korupsi bukan akhlak, budi pekerti, dsb, korupsi itu masalah kesempatan dan penyakit hati yang sudah menjelma jadi bagian sejarah panjang negeri ini. Mau kyai, pastur, akademisi, professor, artis, ketua mahkamah konstitusi sampai pemimpin politik berbasis agama saja bisa terjerat kasus korupsi. Mau hanya sebatas produksi buku, kaos, celana dalam, daging sapi, izin proyek, bangun stadion olahraga sampai pengesahan undang-undah dan penipuan bank bermotif ancaman krisis, semua bisa jadi alasan untuk kesempatan melakukan korupsi. Dari level yang tinggi sampai level ayam tetangga dan uang dari orang tua saja bisa ditilep di negeri seribu maling. Ada kesempatan untuk jadi kaya raya dan punya banyak barang mewah ditambah dengan mental dan moral yang lemah, siapa yang enggak akan ambil kesempatan untuk menilep uang publik?

Semua orang tahu kalau yang namanya korupsi menyebabkan ketidakeffisienan, dari jumlah biaya yang besar tapi tidak keluar hasil yang diharapkan. Semua orang mencaci-maki korupsi dan koruptor, tapi belum tentu semua orang yang mencaci-maki itu kuat menahan godaan untuk melakukan praktik korupsi.

Orang katakan kalau korupsi terbesar ada di jaman orde baru Soeharto, tapi ternyata sejak jaman VOC yang namanya korupsi sudah menjadi bagian dari perjalanan panjang sejarah ini.  Kalau jaman VOC praktik korupsi sebatas raja-raja daerah dan kompeni dan jaman orde baru korupsi dipraktikkan oleh lingkaran oligarki Presiden Soeharto beserta kroni-kroninya, jaman sekarang dimana demokrasi telah dilahirkan, yang terjadi bukan demokrasi politik menciptakan demokrasi ekonomi seperti yang di cita-citakan oleh para founding fathers Indonesia,tetapi demokrasi politik menciptakan demokrasi korupsi, siapapun bisa dan berhak untuk melakukan korupsi!

Bagaimana praktik demokrasi korupsi ini bisa terjadi? Ada dua contoh praktik demokrasi korupsi yang semakin berkembang setelah demokrasi politik pasca reformasi ’98. Pertama di level mahasiswa dan kedua di level pemerintahan daerah.

Pertama, cerita di level mahasiswa. Terkadang pemikiran mahasiswa yang segar dan muda bisa lebih maju dibanding pemikirang orang-orang tua kolot bangkotan yang duduk dikursi pemerintahan. Buktinya demokrasi kampus, pemilihan ketua organisasi mahasiswa dikampus dimulai terlebih dahulu ditahun ‘70an sebelum reformasi ’98 (walaupun masih kalah cepat dibanding pemilu ’55). Sayangnya bukan hanya pemikiran positif dan konstruktifnya saja yang bisa maju selangkah, tapi pemikiran ‘maling’nya pun lebih maju dan setara dengan koruptor-koruptor yang tua kolot bangkotan!

Dalam beberapa kampus, yang namanya beasiswa dan uang kemahasiswaan ditangani oleh ketua mahasiswa, mau ketua BEM fakultas, himpunan, atau presiden kampusnya. Dan yang namanya dosen atau pejabat rektorat, bukan hanya membangun & menjalan kebijakan kampus selain tugas pokoknya sebagai dosen, tapi juga mengamankan kedudukannya di rektorat!

Begini motif kronologinya, saat pemilu kampus bertarungnya beberapa calon beserta kompatriotnya, mau dari golongan incumbent, golongan opisisi, sampai golongan mau eksis. Pemilu dari golongan incumbentnya besar-besaran, pundi-pundi dananya banyak, begitu juga dengan golongan opsisi dan golongan mau eksis yang punya sponsor masing-masing. Alhasil, terpilihlah satu pemenang sebagai ketua organisasi mahasiswa yang kemudian diberi tanggung jawab memegang dana untuk kegiatan kemahasiswaan dan beasiswa. Ini dia masalahnya, dananya bukan dipakai untuk kegiatan kemahasiswaan yang positif atau memberikan beasiswa untuk mahasiswa yang kurang mampu, tapi untuk beli laptop, beli motor, start-up bisnis, bahkan formulir beasiswa yang dikasih sama rektorat malah dibagi-bagikan untuk kompatriotnya si pemenang!

Kalau motifnya selalu seperti itu setiap tahun dan dengan indikasi tidak ada kegiatan kemahasiswaan (yang bisa dilihat dari LPJ organisasinya), kenapa bapak-ibu dosennya diam? Ya gimana enggak diam kalau beberapa dosen yang menjabat direktoratnya adalah alumni organisasi yang serupa dengan mahasiswa yang menjabat sekarang? Hubungannya bukan hanya seformal dosen dan mahasiswa, tapi juga se-informal kakak dan adik. Dengan terus menerus memberikan tanggung jawab keuangan kemahasiswaan ketangan mahasiswa, maka dengan efektif meredam suara mahasiswa yang ingin memprotes kebijakan kampus! Dosennya diam, mahasiswanya pun enggak ada yang protes dikasih uang, ya berlanjutlah terus demokrasi korupsi dilevel mahasiswa.

Jadi kalau mahasiswa sejak reformasi malah makin kece dan enggak punya sejarah gerakan mahasiswa, jangan heran! Jangan heran kalau gerakan mahasiswa jaman 2000an enggak punya kontribusi yg signifikan seperti tahun ’66, ’78, ‘80an, dan ’98. Kalau mahasiswa teriak ‘rakyat’ lebih baik dilirik sekali lagi, apa betul teriakan ‘rakyat’nya sebesar hatinya mengenal ‘rakyat’nya.

 Kedua, di level pemeritah daerah. Demokrasi prabayar, dimana harus sebar-sebar uang dari hal yang formal seperti bikin spanduk dan pasang iklan sampai sebar uang untuk beli suara, menyebabkan demokrasi rasanya mahal. Ingat, bukan mahal perjuangan melawan rezim otoriter demi mendapatkan sistem demokrasi, tapi mahal untuk jadi pemenang dalam demokrasi! Alhasil setiap calon bertarung mengeluarkan uang yang tidak sedikit untuk gede-gedean baligo dan siapa pemilik senyum termanis. Masyarakat tanpa tahu masa lalu calon pemimpinnya harus memilih masa depan daerahnya. Mesin partai juga pragmatis, sedikit tahu kapabilitas calonnya dan banyak tahu tentang seberapa banyak uang calonnya.

Singkat cerita, setiap kompetisi pasti punya pemenang dan keluarlah pemenang dari pemilu daerah. Karena demokrasinya demokrasi prabayar yang musti keluarin uang duluan, memungkinkan si kepala daerah GMR (Gak Mau Rugi). Daripada mengeluarkan uang untuk kasih makan ayam, mending halaman depan rumah dikasih buat orang lain dan kita dapat uang mukanya! Ini yang terjadi kalau kita pilih pemimpin bodoh tanpa visi, integritas, dan niatan ikhlas berbuat untuk publik. Pemasukan daerah datangnya dari DAU dan DAK yang diberikan oleh pemerintah pusat, penghasilan asli daerah (PAD), dan pajak. Slot PAD lebih banyak didapatkan dari pengolahan kekayaan sumber daya alam, hutan dijual, gunung dibabat, izin investasi untuk pengolahan sumber daya alam lebih mudah diberikan, dsb. Hasilnya 15 tahun demokrasi di warnai dengan laju defortasi tercepat selama 12 tahun! Kepentingan golongan yang bersembunyi dalam kepentingan ekonomi telah merusak kepentingan sosial, budaya, dan lingkungan.

Kekayaan sumber daya alam diterjemahkan sebagai penghasil uang, bukan sebagai penyangga kehidupan. Jangankan memberikan stimulus pendidikan kepada anak-anak daerah untuk mampu mengolah sumber daya daerahnya sendiri yang harus mengeluarkan uang, lebih baik memberikan izin kepada pengusaha untuk mengolah sumber daya alam daerahnya sehingga mendapatkan dana dari pengusaha pengolah. Belum lagi kalau kita hitung perizinan tersebut memberikan uang sogokan kepada kepala daerah atau merupakan upeti sebagai bantuan si pengusaha membantunya saat kampanye pilkada. Gila sudah negara ini, demi nafsu pribadi mereka perkosa ibu pertiwi.

Kalau enggak percaya sama saya, silahkan percaya sama Google dengan mencari tahu kaitan antara materi dan kualitas pendidikan terhadap potensi SDA. Berapa banyak anak asli daerah yang jadi bos perusahaan minyak yang bercokol didaerahnya? Dan berapa banyak korupsi yang dilakukan oleh kepala daerah. Dan bukan bulan lagi kalau jaman sekarang kemajuan suatu daerah sangat bergantung dari kualitas pemimpinnya. Kalau pemimpinnya ngajakin ngaji ditengah jalan bolong-bolong ya hasilnya juga bodong.

**

Mungkin satu-satunya berita bagus adalah berita tertangkapnya koruptor oleh KPK, ingat ya berita tertangkapnya koruptor! Bukan berita pengacara berantem sama anak bocah, anak bocah bunuh orang banyak gara-gara bawa mobil, atau hebatnya artis untuk move on sehingga bisa cerai-kawin-cerai-kawin melulu. Tentu yang namanya penjahat ditangkap itu berita bagus, karena dari berita itu kita bisa bicara sampah serapah mencaci maki para koruptor. Dan semakin sering koruptor ditangkap KPK semakin banyak juga kata-kata sampah serapah yang ditematkan kepada mereka. Alhasil dari kegiatan positif menangkap korupor berakhir menjadi dosa karena kelewatan ngatain koruptor haha.

Kita apresiasi kegiatan KPK, tapi perlu ingat bahwa KPK juga komisi yang harus terus berbenah. Salah satunya ialah berbenah untuk tidak hanya fokus pada operasi yang berorientasi kepada para pejabat (baca: penjahat), tetapi juga fokus menegakkan dan menciptakan sistem hukum.

Bukan barang baru lagi, tapi sudah jadi barang KW kalau yang namanya hukum di Indonesia ‘katanya’ bisa dibeli, dibuat-buat, bahkan diteliti dengan cermat untuk ketahui bagaimana caranya melakukan korupsi. Sebagai contoh, penyusunan RUU tentang tembakau yang pernah dirilis oleh majalah TEMPO beberapa bulan yang lalu. Berapa miliar harga satu pasal dalam penyusunan RUU Tembakau demi mengamankan produksi rokok di Indonesia? berapa banyak receh 1000 perak yang diterima oleh para pembuat UU itu? Mungkin kalau uang korupsi berbentuk pecahan koin 1000 perak, kita bisa liat gedung KPK seperti rumah penyimpanan uangnya paman Gober. Apa yang pernah dirilis oleh majalah TEMPO tempo lalu itu memberikan kita gambaran bagaimana korupsi dilakukan pada level penyusunan peraturan. Peraturannya saja sudah dibuat-buat, bagaimana pelaksanaannya?  Bagaimana penegakan hukumnya? Inilah ciri-cirinya bangsa yang sudah mau tamat: sangat hebat mencari ‘pembenaran’ dan semakin sulit mencari ‘kebenaran’. Bahkan sampai aturan tertulis dalam peraturan pun belum tentu bisa dijustifikasi kebenarannya.

Ya, akhir kata dibalik kepedihan yang diderita bangsa ini, selalu masih ada optimistik menyambut masa depan yang lebih baik. Lebih baik naik satu peringkat di Corruption Perceptions Index daripada enggak maju sama sekali. Demokrasi korupsi yang melanda negeri ini setelah demokrasi politik menjadi lawan kejam yang merugikan urat nadi bangsa ini. Lawan, lawan, dan lawan praktik korupsi!
Jaga alam kita kita dari setan korupsi!

SELAMAT HARI ANTI KORUPSI

Coretan Perjalanan (bag.IV)



Kalau kita masuk komunitas baru, apa sih yang orang akan lihat dari kita? Dan apa yang akan bikin kita berbeda/terlihat unggul? Kata orang, jawabannya tampilan fisik. Karena tampilan fisik itu penting enggak sedikit orang yang bergaya ketika berpakaian, entah karena selera berpakaiannya atau sedang mengikuti trend. Malah katanya saking pentingnya tampilan fisik, cinta bisa datang dari pandangan pertama. Untungnya Tuhan Maha Adil, kasihan dong orang-orang yg fisiknya buruk dan selera berpakaiannya enggak bagus-bagus amat (nanti selamanya enggak ada yang ngelirik). Nah, terus kalau pandangan pertama biasanya menyangkut tentang tampilan fisik, apa tampilan selanjutnya yang membuat orang A dan orang B berbeda dalam komunitas barunya? Kalau kataku jawabannya keterampilannya.

Untung sekali ijasah sekolah bentuknya cuma kertas dan enggak bisa ditempel di jidat. Kalau yang namanya ijasah bisa ditempel di jidat dan dibawa kemana-kemana, aku udah jadi orang yang paling ganteng disini hahaha. Ya itu sebenarnya jawaban hopeless dari aku yang fisiknya biasa saja, selera berpakaiannya alakadarnya, dan modalnya cuma ijasah (sudah gitu nilai ijasahnya biasa saja lagi hahaha).

Dalam beberapa momentum diperjalananku, kadang ada saja yang bikin aku merasa jadi orang paling beruntung dan kadang juga banyak hal yang bikin aku bertanya,”gila, ini orang hebat bener, doi makannya apaan sih?”. Dan hal yang selalu bikin aku terkesima ketika melihat orang lain itu adalah keterampilan dan pengetahuannya. Kalau ada orang yang keterampilannya banyak, jagoan dibidangnya, pengetahuannya luas, cara berpikirnya tajam dan substantif, terus tangan dan otaknya gesit; emmghhh, aku paling hanya geleng-geleng melihat ada orang macam begini bisa hidup didunia.

Ada kenalan baruku, namanya Hasbi dari Probolinggo, lahirnya tahun 1990 dan sekarang umurnya sama denganku. Dulu doi lulusan pesantren, tapi sebelum lulus pesantren sudah bisa bahasa Arab sehingga umur 17 tahun sudah mengajar bahasa Arab di Madura. Hidupnya penuh dengan perantauan, pernah di Madura, Garut, Kediri, dan Jambi. Mungkin memang sudah bakatnya atau entah seperti apa, tapi setiap daerah yang ia singgahi, dia selalu bisa kuasai bahasa asli daerahnya. Bahkan kalau dibandingkan dengan aku yang tinggal selama 5 tahun di Bandung, bahasa sundanya lebih halus. Selain empat bahasa daerah itu, ia juga kuasai bahasa internasional seperti bahasa Arab dan bahasa Inggris. Yang lebih mengerikan daripada doi juga ada, temannya namanya mas Muklis (umurnya mungkin 3-4 tahun di atas), dia sedang belajar bahasa prancis sebagai bahasa kelima yang mau ia kuasai selain bahasa inggris, arab, mandarin, dan jepang, gila!

Ada lagi kenalan baruku, namanya Umar. Kayaknya baru sebulan yang lalu aku lihat dia beli gitar dan bilang mau belajar gitar, hari ini doi sudah bisa lancar main gitar. Aku cuma bisa geleng-geleng saja lihat orang ini karena pada dasarnya doi memang multi-talent. Dulu sebelum kecelakaan motor, doi katanya jago olahraga parkour dan taekwondo, selain itu ini orang sangat ahli dan jenius dalam komputer, dan kuasai juga bahasa Pakistan karena dulu pernah beberapa waktu tinggal disana.
Rasanya setiap orang diberi jatah waktu satu hari 24 jam yang sama oleh Tuhan, tapi kenapa ada orang-orang yang bisa manfaatkan waktunya untuk menambah keterampilannya dan enggak sedikit juga banyak orang yang membosankan karena enggak punya keterampilan dan topik pembicaraannya itu-itu saja?

**

Dulu pernah aku baca transkrip wawancara salah satu media dengan pak Anies Baswedan. Wawancara itu bicara tentang anak muda Indonesia, kebetulan memang beliau adalah salah satu orang berusia muda yang punya banyak prestasi. Dalam wawancaranya, beliau katakan seperti ini,”pernahkah kamu bayangkan, apa yang akan tertulis dalam curriculum vitae-mu lima, sepuluh,  dua puluh tahun mendatang? apa yang akan tertulis dalam CV-mu?”.

Aku baca transkrip wawancara itu sekitar setahun yang lalu. Jelas setelah membaca itu reaksiku pusing dan bingung. Kira-kira apa yang akan tertulis dalam CV-ku itu? Aku bukan orang yang kejar-mengejar punya CV yang bagus dan fantastis, tapi dalam CV tersebut akan terlihat apa yang sudah pernah kau lakukan dalam hidupmu. Aku ingat saat dulu sedang mencalonkan diri menjadi seorang ketua himpunan. Saat itu ada kolom prestasi yang aku beri garis strip (-), artinya tidak ada prestasi. Sebenarnya aku punya prestasi saat SMA sebagai juara lomba cerdas cermat islam tingkat kelas dalam rangka hari Isra Mi’raj, karena sepertinya orang lain tidak akan percaya hal tersebut, yowes lah aku isi strip saja haha. Sejak hari itulah aku mulai tanya dalam diriku sendiri, apa Achievments & Awards diriku? Berapa banyak lomba/kompetisi yang aku menangi? Seberapa hebat diriku ketika harus bertanding dengan orang lain? Kemudian apa personal skills-ku berapa tahun mendatang? Berapa banyak bahasa yang aku kuasai? Seberapa lancarnya kamu dalam berbahasa asing?
Apa yang tertulis dalam CV-mu sebenarnya tidak terlalu penting dibanding seperti apa karaktermu. Tapi punya karakter yang ‘menarik’ tanpa memiliki keterampilan itu omong kosong. Dan punya keterampilan tapi tidak punya karakter yang ‘menarik’ seperti layaknya budak. Sejatinya keduanya saling melengkapi. Bagaimana mengasah karakter dan mengasah keterampilan? Bagaimana menjadi orang yang lebih bernilai dengan karakter dan keterampilan?

Dulu sewaktu masih tinggal di Bandung, suasananya penuh dengan kekeluargaan. Jadi kalau ada sesuatu yang enggak bisa kita lakukan sendiri, dengan mudah kita bisa meminta bantuan teman dan begitu sebaliknya ketika teman sedang kesusahan. Kalau laptop rusak dikit, tanya temanku bernama Yovan; kalau enggak ngerti pelajaran kuliah, tanya temanku namanya Adam Pasuna; kalau enggak ngerti tentang cewek, tanya temanku namanya Tiara; kalau lagi lemes enggak kuat ngapa-ngapain, minta tolong kuli bangunan bernama Fidic; kalau enggak punya file/catatan kuliah, minta sama Picul; dan begitu untuk hal-hal lainnya, pasti aku minta tolong temanku haha. Lah sekarang? Sendirian? Masuk lingkungan baru? Masalah dimulailah dari sini. Kadang enggak ada orang lain yang bisa di andalkan selain diri sendiri. Sama seperti naik gunung: enggak ada warung nasi padang, indom*rt, alfam*rt, tukang ojek, dsb. Semua harus dilakukan sendiri atau bekerja sebagai tim dengan spesialis masing-masing (kalau ada yang males-malesan atau enggak bisa ngapa-ngapain kadang jadi nyusahin yang lain).

Jangan galau dalam gelap

Yaa inilah hidup, kadan ada saat bersama-sama, kadang ada saat sendirian. Masuk lingkungan baru, orang enggak akan peduli dari mana almamater kita atau siapa orang tua kita. Semua tergantung dari bagaimana karakter kita, apa yang bisa kita lakukan, keterampilan apa yang kita punya. Yah toh hidup itu pilihan kita kan, mau jadi orang yang selalu minta tolong atau mau jadi orang yang selalu diminta uluran tangannya…..

(bersambung ke episode lainnya)