Kota = membangun interaksi sosial dan peradaban (?) BAGIAN 1

Menelusuri jalan Braga tentunya memberikan kesan-kesan jaman kolonial dan bagi saya,dan perjalanan kali ini membuat saya berpikir, bertanya tentang keilmuan yang sedang saya tekuni hari ini, pertanyaan sederhadan yang ada dibenak saya, apakah itu kota?

Pemikiran dan pertanyaan saya ini mulai berjalan ketika melihat megahnya bangunan Braga City Walk, owwouwww, bioskop murah dengan bangunan terbuka serta jalan dan bangunan-bangunan era kolonial belanda. Yang berjalan tak jauh dari situ terdapat rel kereta api dan perumahan kumuh disekitarnya. Dalam pemikiran sederhana, ketika berbicara tentang kota, berarti sejenak pemikiran akan tertuju pada bangunan-bangunan megah,kalangan borjuis,urbanisasi, kesenjangan sosial, dan mungkin juga tentang pola pikir masyarakat kota yang lebih rasional dibandingkan dengan orang-orang di desa. Saya teringat pada sebuah definisi tentang kota di jaman Yunani, Polis, sebuah definisi yang nantinya akan berkembang menjadi politik. Polis,politik, kota dan sebuah interaksi sosial, manusia adalah zoon politicon, tidak akan bisa hidup tanpa bantuan orang lain, tidak akan bisa bertahan hidup bila tidak adanya budi baik dari orang-orang disekitarnya, sebuah ketergantungan terhadap sesama manusia menumbuhkan interaksi, interaksi membutuhkan ruang, dan ruang membangun peradaban.

Begitu banyak cerita tentang peradaban dan ruang, sebuah kemajuan dari kearifan lokal, membangun paradigma baru, mengembangkan pemikiran dan pembangunan dalam konteks keruangan. Di lembah sungai indus, India yang muncul 2500 tahun silam sebelum masehi, Kota-kota dibentuk untuk berinteraksi dengan lingkungan melalui pembangunan rumah yang dibangun oleh batu bata, jalan raya yang lurus,dan sistem drainase yang bagus. 500 tahun setelahnya, lembah sungai gangga di antara pengunungan himalaya dan windyakedna di India Utara mengembangkan sistem persawahan terasering dan lahan pengumpulan ternak, begitu juga dengan Yunani dengan letaknya di sekitar laut tengah yang strategis untuk melakukan pelayaran dan pedagangan, merancang polis-polis yang sampai saat masih hangat ditelinga kita, Athena,Sparta, dan Thebe. Iskandar Zulkarnaen,atau lebih dikenal dengan Iskandar Agung, membangun peradaban Yunani yang dibantu pula oleh guru dan murid pemikir ulung zaman itu, Socrates,Plato,Aristoteles, dan pemikir-pemikir ulung lainnya, yang mendirikan universitas pertama di dunia,Lyceum di Athena sebagai pusat pendidikan yang kemudian mengembangkan kemajuan Yunani.

Penataan ruang dalam konteks kota, adalah salah satu kunci keberhasilan suatu kepemimpinan, bahkan penjajahan. Kolonial Belanda contohnya, di Batavia (Jakarta), masyarakat pribumi dipisahkan menjadi golongan proletar kelas kedua dan ketiga, sehingga hanya mempunyai akses yang terbatas untuk melakukan pemberontakan saat itu. Kalangan borjuis dan golongan-golongan yang dianggap tidak berbahaya dipersilahkan untuk menempati tempat-tempat strategis di pusat Batavia. Untungnya, sekolah kedokteran pertama di seluruh Hindia Belanda, School tot Opleiding van Indische Arsten (STOVIA) atau hari ini lebih dikenal sebagai Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FK UI Salemba), memberikan kesempatan untuk kaum muda pribumi menuntut ilmu lebih jauh. Salah satu lulusannya, Dr.Wahidin Sudiro Husodo, menjadi salah satu pelopor terbentuknya organisasi kaum muda pertama Indonesia, Budi Utomo. Atau lebih mudah bagi mahasiswa ITB melihat kota Bandung hari ini, yang masih dapat dilihat sisa-sisa era kolonial Belanda (yang baru saja masuk final piala dunia 2010**apasih ngk penting,haha). Orang-orang pribumi ditempatkan di bagian selatan beserta alun-alun dan Masjid Agung pada tahun 1850 dan orang-orang eropa, ditempatkan di utara. Pembatasan akses, informasi, adalah salah satu kunci keberhasilan imperialisme Belanda untuk menguasai Indonesia selama 3 abad, sampai akhirnya pemuda-pemudi Indonesia berhasil mendapatkan akses, dan hanya sekitar 37 tahun setelah akses pendidikan dan informasi dimiliki oleh organisasi kaum muda pertama di nusantara terbentuk, Indonesia dapat merdeka! Dan tidak akan bendera merah putih berkibar selama akses dan informasi tersebut dibatasi oleh koloni dengan penataan ruang.

Dari perspektif pendidikan, adanya kota berarti akan lebih banyak kesempatan menuntut ilmu. Saat ini di kota maha megah Indonesia, Jakarta, sekolah menengah pertamanya berjumlahnya hampir 200an lebih, sepuluh kali lipat lebih banyak dari desa-desa yang ada di Indonesia, bahkan di Wilayah-wilayah pulau jawa sekalipun. Adalah akses pendidikan yang lebih mudah dibandingkan di desa yang membantu membangun peradaban di kota-kota, seperti Lyceum di Athena, Harvard di Massachusetts, dan ITB di Bandung (iya ngk ya? hahahahaha). Berdirinya STOVIA yang diikuti oleh berdirinya Budi Utomo dan kemajuan pergerakan kaum muda Indonesia adalah salah satu bukti, bahwa akses pendidikan di kota dapat memajukan peradaban suatu kota,bahkan negara. Akses pendidikan ini lebih mudah dicapai di kota, terutama ketika jaringan informasi lebih mudah untuk didapati sebagai contoh,penemuan situs jejaring sosial,facebook, oleh salah satu alumnus (alumni enggak lulus) Harvard, Mark Zuckerberg, dengan akses pendidikannya dapat membangun silaturahmi manusia bumi dan perkembangan pengenalan internet di pelosok-pelosok negeri ini, dan hal ini yang ngebuat saya merasa tidak heran bahwa adanya ibu-ibu yang jadi ‘melek’ dunia maya setelah adanya facebook. Kemajuan peradaban dimulai dari akses pendidikan &informasi dan akses pendidikan&informasi diawali oleh penataan ruang yang baik.

Urbanisasi penduduk, penambahan jumlah penduduk kota karena adanya mobilitas dari penduduk di desa, membuat beragamnya penduduk di kota. Beragam mulai dari segi budaya, strata sosial, kelas-kelas sosial, dsb.Keheterogenitasan ini menjadi alasan, bagi warga kota menjadi lebih adaptif terhadap suatu budaya atau perubahan dibandingkan dengan masyarakat di desa. Louis Wirth, seorang sosiolong ternama Amerika Serikat, mendefinisikan kota adalah pemukiman yang relatif besar,padat,dan permanen, dihuni oleh orang-orang yang heterogen kedudukan sosialnya. Kedudukan sosial, perbedaan suku dan budaya, dan perbedaan latar belakang lainnya, membuat bercoraknya penduduk di Kota, bermacamnya budaya sehingga tidak heran di pelosok-pelosok kota terdapat berbagai macam tempat makan ala kedaerah dan nama jalan yang ada memakai nama seorang pahlawan, daerah,pulau,ataupun provinsi. Kota seharusnya bukan hanya menjadi tempat penampungan penduduk urbanisasi, tetapi juga tempat berinteraksi sosial, memahami perbedaan suku,etnis,budaya,dan bahasa, memahami keberagaman dan menjadi tempat pembangunan persatuan negeri.

Narasi kota sebagi tempat interaksi sosial, juga adalah cerita tentang diberlakukannya UU no.26 tahun 2007 tentang penataan ruang di Indonesia, di pasal 29 UU tersebut menyatakan bahwa ruang terbuka hijau pada wilayah kota paling sedikit 30% dari luas wilayah kota dan proporsi ruang terbuka hijau publik paling sedikit 20% dari wilayah kota. Ruang publik adalah salah satu bagian dari kota yang sangat penting. Didalamnya ada peran untuk melakukan komunikasi,interaksi antar masyarakat kota. Kegiatan-kegiatan formal dan informal didalamnya mengandung unsur sosial,ekonomi, dan budaya. Keberadaan ruang publik adalah harapan, adalah jalan agar terciptanya bonding social, interaksi antar masyarakat kota.

Bersambung.. sedang mencari inspirasi

2 catatan pembaca:

Muhamad Ihsani Prawira mengatakan...

good job!! bagus dam, menarik dan cukup bagus Dam..
Part 1 ini masih banyak semacam "pengantarnya" ya? "pengantar" ini terlalu ngelebar Dam (in my opinion sih), part 1 pengantar ini coba agak lebih fokus ke judul atau tema awal..

Overall baguss!!
Like This!
ditunggu part 2 nya..

redy mengatakan...

nice blog ,,this is my first time i visit your site...hope i'll learn much about information on your site..regards

Posting Komentar