Public-Private Partnership dan Nasionalisme

Bergaul sama orang pinter kadang suka dibohongin, tapi bergaul sama orang bodoh kadang jadi kebawa bodoh. Pertanyaannya sama siapa kita harus bergaul? Haha oke enggak penting, tapi cukup diingat saja pertanyaannya, dengan siapa hari ini kita bergaul. Karena kadang kalau kita akan ketemu sama orang baru, mungkin datang waktunya untuk kita bertanya kediri sendiri akan pemahaman lama yang dulu kita pahami. Termasuk cerita saya tentang pemahaman public-private partnership (PPP).

Sumber gambar: https://percolatorcorner.wordpress.com/tag/finance/

Dulu jaman kuliah masih (dan Alhamdulillah masih inget), pernah dikenalin sama yang namanya PPP ini. Sederhananya PPP ini bisa diterjemahkan sebagai bentuk kerjasama antara pemerintah dan badan usaha private dalam membiayai barang public. Ya karena jaman kuliah saya malas buka literature dan bertanya ditengah kelas, yowes jadi terima saja (ini contoh buruk yang saya yakin tanpa disuruh udah banyak yang ngikutin saya hehe). Nah kena batunya pas sudah lulus! Ketika lulus mulai bergaul sama aktivis di daerah; dan entah kenapa setiap kali mereka ini mendengar kata ‘private’ atau ‘PPP’, seketika kupingnya merah dan ribuan kata-kata brutal lainnya segera menyerbu. Ada stigma, suatu pemahaman negatif bahwasanya PPP ini bentuk ketidak-nasionalisme-an pemegang keputusan sekarang. Bagi saya yang pernah belajar tentang PPP dan bergaul sama mereka, tentu ada tanggung jawab tersendiri bagaimana menengahi kesalahpemahaman yang terjadi. Tulisan ini dibuat ringan (bukan hanya bahasanya, tapi mungkin juga karena pemahaman saya yang juga ringan haha), tapi semoga bisa sedikit membuat kita berpikir lebih jernih.

Uraian sekilas tentang PPP


Yang namanya public harusnya disediakan oleh pemerintah yang punya kewenangan mengurus urusan public. Sayangnya, terlalu naïf jikalau kita anggap pemerintah itu Tuhan yang maha bisa segalanya dan maha punya semuanya. Salah satunya urusan dana. Ada keterbatasan pemerintah dalam urusan dana dan pertimbangan apakah dana sebesar 10 lebih baik digunakan untuk A atau B. Hal ini menyebabkan adanya skema penyelesaian dengan bekerja sama dengan pihak swasta. Alhasil pemerintah bisa alokasikan dana untuk A dan B dan pendanaan infrastruktur dibantu oleh swasta termasuk beberapa resikonya (seperti resiko konstruksi, yang sifatnya teknik, pengoperasian, bahkan sampai resiko force majeure).

Disisi lain pihak swasta yang enggak pusing-pusing amat mikirin masalah distribusi dan lebih fokus mencari profit (sehingga lebih kedepanan faktor effisiensi), menjadikan swasta lebih unggul dalam pengelolaan (termasuk pula biasanya teknologi dan SDM) maupun keuangan (termasuk menanggung resiko). Faktor-faktor ini yang kemudian menjadi perspektif mengapa kita perlu mendorong sektor swasta berperan dalam pembangunan public.

Sehingga dalam artian lain kita bisa bilang bahwa dalam skema PPP ini pihak swasta secara tidak langsung melaksanakan fungsinya sebagai pemerintah (karena memenuhi kebutuhan public). Tapi perlu diingat sekali lagi, bukan hanya jadi ‘pemerintah sesaat’ tapi juga bertanggung jawab atas segala resiko yang muncul dan pula menerima benefit selama pelaksanaan tersebut.

Tapi apa bener pihak swasta yang bener-bener jadi pemerintah? Santai, enggak juga karena ada macam-macam bentuk PPP itu mulai pihak swasta Cuma donor, advokasi, sebagai kontraktor, maupun jadi pemegang konsesi proyeknya. Dari sini kita bisa bilang sebenarnya dalam PPP ini ialah bagaimana melibatkan sektor private yang kadang lebih unggul dalam beberapa hal dalam urusan public.

Nasionalisme dalam ekonomi

Ini baru problematika. Apa dan bagaimana konsep ekonomi yang nasionalis itu? Mungkin enggak ada satu pemahaman yang mutlak diterima semua orang tentang kebijakan ekonomi yang nasionalis. Ada yang katakan, ekonomi kita dikatakan nasionalis kalau masyarakat Indonesia yang menerima manfaatnya. Ada juga yang katakan berarti modal mengarah ke Indonesia. Dan ada lagi yang katakan kalau nasionalis berarti semua yang ada didalam negeri kita yang kontrol. Apalagi kalau menyentuh tataran instrument fiskal, apakah memberikan subsidi, proteksi, atau tidak impor sama sekali merupakan bentuk ekonomi yang nasionalis? Dan apakah kebijakan impor atau memberikan izin investasi asing adalah bentuk ekonomi yang tidak nasionalis?

Perbedaan pemahaman ini terjadi karena nasionalisme adalah ideologi sedangkan tidak sedikit orang katakan ilmu ekonomi ini science (sehingga sering dikatakan bebas nilai). Padahal tidak mungkin ada ilmu pengetahuan sosial tanpa ideologi. Dan inilah yang jadikan orang-orang sekelas Adam Smith (bukan adhamaski) dan Karl Marx namanya masih mentereng sampai sekarang, karena mereka bukan hanya menyentuh science tapi pula tataran ideologi dan sifat manusia. Berbeda dengan konsep ekonomi pancasilanya (alm) Prof.Mubyarto, tanpa kurangi rasa hormat saya dengan beliau yang maha sakti, beliau menyentuh tataran ideologi tapi sangat sulit diterjemahkan dalam justifikasi science karena enggak ada juga bentuk sifat manusia indonesianya kek mana.

Tapi kalau ditanya apakah penting nasionalisme dalam ekonomi? Jawabannya tentu iya walau kita sendiri masih dalam perdebatan seperti apa bentuk ekonomi yang nasionalis itu. Sehingga kita bisa acuhkan saja orang-orang (yang walau mereka ini banyak yang jadi dosen, menteri, bahkan pemimpin organisasi dunia) yang katakan kalau nasionalisme dalam era globalisasi itu kuno dan ketinggalan jaman. Mereka ini enggak lihat kenapa bank sentral Amerika Serikat (the Fed) sekarang memutuskan tapering off atau kenapa dulu saat Hollywood dibeli oleh Sony mereka malah dibuat bangkrut oleh artis-artisnya. Apa itu semua bukan bentuk nasionalisme dalam ekonomi? Mohon maaf tapi orang-orang yang bertanya apakah ‘aseng’ lebih baik daripada ‘asing’ dan sekelompok orang yang katakan kalau nasionalisme dalam era globalisasi itu parno adalah orang-orang yang tidak paham hakikat kemerdekaan bangsa ini.  Kalau mereka pikir bangsa ini hanya butuh modal yang mengarah ke Indonesia, lebih baik kita tetap saja jadi Nusantara yang dijajah kompeni, karena toh dari kompeni pula modal masuk dan beberapa infrastruktur dibangun. Justru karena dulu para pejuang bangsa ini ingin merubah struktur masyarakat yang timpanglah kita sekarang jadi bangsa yang merdeka.

Seperti yang saya tulis sebelumnya, nasionalisme dalam ekonomi itu penting, tapi ingat bukan karena urgensinya kita jadi harus mengarahkan nasionalisme pada chauvisme. Sehingga pelbagai hal yang berbau asing harus kita tolak, termasuk impor dan investasi asing. Ini bukan hanya menjadikan kita sebagai bangsa yang menganut chauvinism, tapi juga mereduksi perdebatan ilmiah menjadi sebatas pro dan anti-asing. Tentunya hal ini yang jadikan bung Karno tekankan pentingnya sosio-nasionalisme agar nasionalisme tidak mengarah pada chauvinism dan bung Hatta masih perbolehkan adanya ruang bagi swasta dan asing masuk dalam lingkup ekonomi nasional.

Dari uraian tersebutlah kita terjemahkan bahwa nasionalisme dalam ekonomi adalah perwujudan dari kebijakan ekonomi yang mengarah pada kepentingan nasional. Kepentingan nasional ini bagi saya harus diterjemahkan sebagai bentuk transformasi struktur dalam masyarakat dalam konteks persaingan luar negeri. Transformasi struktur dalam masyarakat adalah cita-cita kemerdekaan bangsa ini setelah pengalaman pahit dan penderitaan yang bangsa ini alami selama masa penjajahan sedangkah konteks persaingan luar negeri yang dimaksud adalah menjadi Negara yang mampu bersaing secara kekuatan ekonomi dengan bangsa-bangsa lainnya sehingga tidak lagi kita menjadi bangsa yang dipandang rendah dan seenaknya dijajah.

Kita kembali dalam pembahasan PPP. Bagaimana hubungan antara kebijaksanaan PPP dalam membiayai (misalnya) kebutuhan infrastruktur dan nasionalisme dalam ekonomi yang mengedepankan kepentingan nasional?

Kosakata ‘privatisasi’ menjadi hal buruk bagi kalangan masyarakat kita. Terutama ketika beberapa BUMN di privitasasi, salah satunya yang masih kita ingat adalah BUMN yang bergerak dalam bidang telekomunikasi. Banyak yang katakan kalau bidang telekomunikasi yang kita jual, artinya kita berikan informasi diberikan kepada pihak luar secara gratis. Penjualan BUMN bidang telekomunikasi di artikan sebagai penjualan informasi yang merukapan kepentingan nasional. Padahal kalau kita ingat lagi kejadian akhir-akhir ini, tanpa kita jual BUMN pun Negara asing sudah menyadap informasi para pejabat kita. Kasus ini mereduksi hakikat dari kepentingan nasional. Padahal bukan masalah jual telekomunikasi beri informasi, bukan! Kasus ini harus kita padang sebagai ketidakmampuan nasional mengedepankan pengembangan kepentingan nasional itu sendiri. Telekomunikasi adalah bidang yang sangat dibutuhkan dimasa depan. Kalau kita tidak kelola bidang tersebut dengan baik, di masa depan kita jadi bangsa yang payah dan tidak mampu bersaing dengan bangsa-bangsa lainnya. Itulah kenapa hari ini kita hanya terdiam melihat kemajuan industri telekomunikasi dari Taiwan dan korea selatan.

Ketersediaan infrastruktur itu kepentingan nasional, bukan kepentingan pejabat yang enggak mau disadap dalam komunikasi. Tentunya harus ada upaya bagaimana sektor private tidak menyebrang hingga mengganggu pengambilan keputusan untuk kepentingan nasional. Secara garis besar, ada beberapa hal yang harus dilakukan oleh pemerintah agar niatan baik sektor private membantu pembangunan sektor public tidak berubah jadi tindakan buruk sehingga sektor private mengocok-ngocok urusan public (hal ini yang menurut saya banyak terjadi sehingga banyak stigma negative dari masyarakat kepada private ketika mereka masuk dalam urusan public). Hal-hal tersebut ialah seberapa berkapasitasnya pemerintah sebagai institusi dan regulator, bagaimana komitmen politik  dan akutablitas (termasuk dalam urusan pengalokasian fiskal untuk infrastruktur) dalam mengedepankan urusan public.

Menurut saya, jangan sampai kita terus mereduksi masalah PPP hanya jadi sebatas masalah dana, teknologi, dan SDM. Ini sering sekali jadi pledoi dalam beberapa kasus migas di Indonesia. Karena selain hanya menujukkan kegagalan dalam memajukan teknologi dan kualitas SDM kita juga makin jauh dari cita-cita founding father.

Jadi ingat bacaan jaman kuliah tentang watak kolonial ekonomi Indonesia oleh bung Karno (pemasok bahan mentah, pasar produk industri Negara maju, dan tempat memutar kapital) dan struktur sosial-ekonomi Hindia-Belanda dalam tiga stara menurut bung Hatta (kelas atas bangsa eropa, lapis tengah warga timur asing, dan yang paling bawah kaum pribumi). Bukannya yang kita kejar hari ini adalah kebalikan apa yang terjadi sebelum kemerdekaan? Dan bukannya yang kita kejar hari ini adalah ‘pembangunan indonesia’ (dan bukan ‘pembangunan di Indonesia’).

Garuda & Hari Ibu

Garuda, iya garuda, sosok dalam mitologi hindu yang juga jadi lambang Negara Indonesia. Entah kenapa saat-saat seperti sekarang aku malah pikirkan tentag sosok garuda, kenapa dia yang jadi lambang Negara ini (bukan macan yang sangar atau kucing yang lucu), kenapa dia yang harus kita sematkan di dada tiap-tiap individu di Negara ini.

Aku mulai tulisan ini dengan kilas balik cerita tentang asal-usul  Garuda menurut mitologi hindu

**

Alkisah, hidup seorang guru yang sangat bijaksana, namanya Resi Kasyapa. Saking bijaksananya ia memiliki dua istri, yaitu Kadru dan Winata. Sayangnya kebijaksanaan Resi Kasyapa tidak menular kekedua istrinya, Kadru selalu merasa cemburu terhadap Winata dan berusaha menyingkirkan Winata dari lingkaran keluarganya.

Suatu waktu, Kadru dan Winata bertaruh, apa warna kuda bernama Ucaihswara yang muncul dari tengah samudra. Siapa yang menangkan pertaruhan tersebut, maka ia harus menjadi budak seumur hidup yang harus senantiasa patuh terhadap kehendak dan perintah sang pemenang taruhan. Kadru bertaruh Ucaihswara warnanya hitam,sedangkan Winata bertaruh warnanya putih.

Ditengah taruhan, Kadru mendapatkan informasi dari para naga bahwasanya kuda Ucaihswara berwarna putih dan Kadru akan kalah dalam taruhan. Mengetahui informasi tersebut, Kadru bertindak curang, ia perintahkan para naga untuk menyembur api ketubuh kuda Ucaihswara agar dapat terlihat seperti kuda hitam. Alhasil, ketika kuda Ucaihswara keluar dari samudra menuju kehadapan Kadru dan Winata, warnanya telah berubah menjadi hitam. Winata kalah taruhan dan menjadi budak seumur hidup bagi Kadru.

Winata memilki anak laki-laki bernama Garuda. Garuda tidak tahan melihat ibunya menjadi budak bagi Kadru ditengah jeratan seribu naga disekiling Winata. Pertempuran antara Garuda dan para naga terjadi. Karena kedua pihak sama kuat, kadru berikan syarat kepada Garuda jika ia ingin bebaskan ibunya, yaitu memberikan tirta amertha yang dapat memberikan hidup abadi. Garuda menyanggupi syarat tersebut dengan tekad bebaskan ibunya dari perbudakan. Kadru pun meridhoi perjuangan anaknya.

Mendapatkan tirta amartha tidaklah mudah, Garuda musti bertempur dengan para dewa di surga. Pertempuran panjang terjadi antara garuda dan para dewa. Melihat perjuangan Garuda, para dewa akhirnya sepakat untuk memberikan tirta amertha kepada Garuda. Tentu dengan syarat, yaitu Garuda haruslah menjadi burung tunggangan Dewa Wisnu. Garuda menyanggupi hal tersebut asalkan mampu membebaskan ibunya dari perbudakan.

Dengan tirta amertha, para naga berniat mandi untuk segera mendapatkan keabadian hidup. Bersamaan dengan itu, Dewa Indra yang kebetulan melintas mengambil alih air suci. Dari wadah Kamandalu, tersisalah percikan air pada sisa tali ilalang. Tanpa berpikir panjang, percikan air pada ilalang tersebut dijilati oleh para naga. Tali ilalang sangatlah tajam bagaikan sebuah mata pisau. Tatkala menjilati ilalang tersebut, terbelahlah lidah para Naga menjadi dua bagian. Disisi lain, Kadru telah bebas dari perbudakan Winata dan Garuda menjadi kendaraan bagi Dewa Wisnu.

***

Apa ilham yang kita dapatkan dari cerita ini?  Jangan taruhan? Ya bolehlah (boleh taruhan kalau udah tau jadi pemenang maksudnya ya). Garuda akhirnya menjadi lambang bagi Negara ini. Ia dedikasikan hidupnya untuk bebaskan ibu pertiwi dari jeratan ular naga, dari kadru yang curang, dan relakan dirinya menjadi tunggangan bagi dewa Wisnu. Ini yang kemudian mengilhami para founding father kita untuk menyamakan bangsa ini yang lepas dari perbudakan kolonial agar dapat menjadi bangsa yang sejahtera. Sejahtera ini dilambangkan dengan Dewa Wisnu yang merupakan dewa yang bertugas memilihara dan melindungi segala ciptaan Brahman.

Sayangnya sosok Dewa Wisnu dan Garuda belum ada lagi sekarang, yang melepaskan bangsa ini dari penjahat-penjahat tengik yang menyiksa ibu pertiwi, semoga suatu saat sosok itu datang. Mungkin sosok itu aku, kamu, atau mungkin kita yang jadikan negeri ini jadi lebih sejahtera laksana dirawat oleh Dewa Wisnu.

****

Aku jadi teringat cerita ini setelah kemarin ibuku menelfonku. Kemarin adalah hari ibu dan sungguh keterlaluan aku ini, bukannya aku yang telfon ibuku dan ucapkan selamat hari ibu, tapi malah ibuku yang menelfon aku duluan. Garuda enggak mungkin dapatkan tirta amartha kalau ia tidak direstui oleh ibunya. Begitu juga kita manusia, enggak mungkin kita dapatkan cita-cita kita kalau orang tua tidak ridhoi segala upaya kita.  Hormati orang tua, hormati ibu, dan banggakan mereka suatu saat nanti.

Semoga Tuhan restui perjuangan kita banggakan ibu kita dan ibu pertiwi

Selamat hari ibu, mama ku sayang, terima kasih telah doakan aku seumur hidupmu

Demokrasi Korupsi

Korupsi oh korupsi, mungkin kosakata korupsi di kamus masyarakat Indonesia sudah menjadi seperti vocabulary of daily activity. Kalau sholat yang wajib bagi umat muslim aja sehari lima kali, kata korupsi mungkin minimal sekali didengar oleh masyarakat Indonesia. Entah lewat televisi, Koran, radio, bahkan bahan gosip untuk tetangga yg lagi jadi OKB (Orang Kaya Baru). Siapa orang Indonesia yang enggak tau arti kata korupsi? Anak kecil saja sudah banyak yang cita-citanya mau jadi koruptor.

Minggu kemarin JakartaPost keluarkan tabel seperti yang diterdapat diatas. Mungkin bagi kita yang lihat sekilas isi tabelnya, kita bisa bilang,”lumayan dah naik 4 peringkat”. Tapi kalau kita ingat lagi tentang prestasi bangsa ini yang katanya masuk 20 besar kekuatan ekonomi dunia, penyelenggara dan yang akhirnya mencapai kesepakatan di WTO Bali, pertumbuhan ekonomi yang edan dalam golongan MIST, atau daulat sebagai Negara dengan kekuatan ekonomi yang kokoh setelah krisis Amerika Serikat & Eropa, pastinya kita akan berpikir,”seberapa besar ketidakeffisienan dan kerugian yang telah disebabkan oleh praktik korupsi?”. Dengan korupsi (ketidakeffisienan) aja Indonesia punya sederet prestasi dibidang ekonomi, gimana kalau enggak korupsi? Mungkin kita sekarang sedang duduk santai kayak dipantai dan hati yang teduh seperti punya payung sendiri.

Manusia enggak lepas dari kekurangan, apalagi kalau ada kesempatan untuk melakukan korupsi. Korupsi bukan akhlak, budi pekerti, dsb, korupsi itu masalah kesempatan dan penyakit hati yang sudah menjelma jadi bagian sejarah panjang negeri ini. Mau kyai, pastur, akademisi, professor, artis, ketua mahkamah konstitusi sampai pemimpin politik berbasis agama saja bisa terjerat kasus korupsi. Mau hanya sebatas produksi buku, kaos, celana dalam, daging sapi, izin proyek, bangun stadion olahraga sampai pengesahan undang-undah dan penipuan bank bermotif ancaman krisis, semua bisa jadi alasan untuk kesempatan melakukan korupsi. Dari level yang tinggi sampai level ayam tetangga dan uang dari orang tua saja bisa ditilep di negeri seribu maling. Ada kesempatan untuk jadi kaya raya dan punya banyak barang mewah ditambah dengan mental dan moral yang lemah, siapa yang enggak akan ambil kesempatan untuk menilep uang publik?

Semua orang tahu kalau yang namanya korupsi menyebabkan ketidakeffisienan, dari jumlah biaya yang besar tapi tidak keluar hasil yang diharapkan. Semua orang mencaci-maki korupsi dan koruptor, tapi belum tentu semua orang yang mencaci-maki itu kuat menahan godaan untuk melakukan praktik korupsi.

Orang katakan kalau korupsi terbesar ada di jaman orde baru Soeharto, tapi ternyata sejak jaman VOC yang namanya korupsi sudah menjadi bagian dari perjalanan panjang sejarah ini.  Kalau jaman VOC praktik korupsi sebatas raja-raja daerah dan kompeni dan jaman orde baru korupsi dipraktikkan oleh lingkaran oligarki Presiden Soeharto beserta kroni-kroninya, jaman sekarang dimana demokrasi telah dilahirkan, yang terjadi bukan demokrasi politik menciptakan demokrasi ekonomi seperti yang di cita-citakan oleh para founding fathers Indonesia,tetapi demokrasi politik menciptakan demokrasi korupsi, siapapun bisa dan berhak untuk melakukan korupsi!

Bagaimana praktik demokrasi korupsi ini bisa terjadi? Ada dua contoh praktik demokrasi korupsi yang semakin berkembang setelah demokrasi politik pasca reformasi ’98. Pertama di level mahasiswa dan kedua di level pemerintahan daerah.

Pertama, cerita di level mahasiswa. Terkadang pemikiran mahasiswa yang segar dan muda bisa lebih maju dibanding pemikirang orang-orang tua kolot bangkotan yang duduk dikursi pemerintahan. Buktinya demokrasi kampus, pemilihan ketua organisasi mahasiswa dikampus dimulai terlebih dahulu ditahun ‘70an sebelum reformasi ’98 (walaupun masih kalah cepat dibanding pemilu ’55). Sayangnya bukan hanya pemikiran positif dan konstruktifnya saja yang bisa maju selangkah, tapi pemikiran ‘maling’nya pun lebih maju dan setara dengan koruptor-koruptor yang tua kolot bangkotan!

Dalam beberapa kampus, yang namanya beasiswa dan uang kemahasiswaan ditangani oleh ketua mahasiswa, mau ketua BEM fakultas, himpunan, atau presiden kampusnya. Dan yang namanya dosen atau pejabat rektorat, bukan hanya membangun & menjalan kebijakan kampus selain tugas pokoknya sebagai dosen, tapi juga mengamankan kedudukannya di rektorat!

Begini motif kronologinya, saat pemilu kampus bertarungnya beberapa calon beserta kompatriotnya, mau dari golongan incumbent, golongan opisisi, sampai golongan mau eksis. Pemilu dari golongan incumbentnya besar-besaran, pundi-pundi dananya banyak, begitu juga dengan golongan opsisi dan golongan mau eksis yang punya sponsor masing-masing. Alhasil, terpilihlah satu pemenang sebagai ketua organisasi mahasiswa yang kemudian diberi tanggung jawab memegang dana untuk kegiatan kemahasiswaan dan beasiswa. Ini dia masalahnya, dananya bukan dipakai untuk kegiatan kemahasiswaan yang positif atau memberikan beasiswa untuk mahasiswa yang kurang mampu, tapi untuk beli laptop, beli motor, start-up bisnis, bahkan formulir beasiswa yang dikasih sama rektorat malah dibagi-bagikan untuk kompatriotnya si pemenang!

Kalau motifnya selalu seperti itu setiap tahun dan dengan indikasi tidak ada kegiatan kemahasiswaan (yang bisa dilihat dari LPJ organisasinya), kenapa bapak-ibu dosennya diam? Ya gimana enggak diam kalau beberapa dosen yang menjabat direktoratnya adalah alumni organisasi yang serupa dengan mahasiswa yang menjabat sekarang? Hubungannya bukan hanya seformal dosen dan mahasiswa, tapi juga se-informal kakak dan adik. Dengan terus menerus memberikan tanggung jawab keuangan kemahasiswaan ketangan mahasiswa, maka dengan efektif meredam suara mahasiswa yang ingin memprotes kebijakan kampus! Dosennya diam, mahasiswanya pun enggak ada yang protes dikasih uang, ya berlanjutlah terus demokrasi korupsi dilevel mahasiswa.

Jadi kalau mahasiswa sejak reformasi malah makin kece dan enggak punya sejarah gerakan mahasiswa, jangan heran! Jangan heran kalau gerakan mahasiswa jaman 2000an enggak punya kontribusi yg signifikan seperti tahun ’66, ’78, ‘80an, dan ’98. Kalau mahasiswa teriak ‘rakyat’ lebih baik dilirik sekali lagi, apa betul teriakan ‘rakyat’nya sebesar hatinya mengenal ‘rakyat’nya.

 Kedua, di level pemeritah daerah. Demokrasi prabayar, dimana harus sebar-sebar uang dari hal yang formal seperti bikin spanduk dan pasang iklan sampai sebar uang untuk beli suara, menyebabkan demokrasi rasanya mahal. Ingat, bukan mahal perjuangan melawan rezim otoriter demi mendapatkan sistem demokrasi, tapi mahal untuk jadi pemenang dalam demokrasi! Alhasil setiap calon bertarung mengeluarkan uang yang tidak sedikit untuk gede-gedean baligo dan siapa pemilik senyum termanis. Masyarakat tanpa tahu masa lalu calon pemimpinnya harus memilih masa depan daerahnya. Mesin partai juga pragmatis, sedikit tahu kapabilitas calonnya dan banyak tahu tentang seberapa banyak uang calonnya.

Singkat cerita, setiap kompetisi pasti punya pemenang dan keluarlah pemenang dari pemilu daerah. Karena demokrasinya demokrasi prabayar yang musti keluarin uang duluan, memungkinkan si kepala daerah GMR (Gak Mau Rugi). Daripada mengeluarkan uang untuk kasih makan ayam, mending halaman depan rumah dikasih buat orang lain dan kita dapat uang mukanya! Ini yang terjadi kalau kita pilih pemimpin bodoh tanpa visi, integritas, dan niatan ikhlas berbuat untuk publik. Pemasukan daerah datangnya dari DAU dan DAK yang diberikan oleh pemerintah pusat, penghasilan asli daerah (PAD), dan pajak. Slot PAD lebih banyak didapatkan dari pengolahan kekayaan sumber daya alam, hutan dijual, gunung dibabat, izin investasi untuk pengolahan sumber daya alam lebih mudah diberikan, dsb. Hasilnya 15 tahun demokrasi di warnai dengan laju defortasi tercepat selama 12 tahun! Kepentingan golongan yang bersembunyi dalam kepentingan ekonomi telah merusak kepentingan sosial, budaya, dan lingkungan.

Kekayaan sumber daya alam diterjemahkan sebagai penghasil uang, bukan sebagai penyangga kehidupan. Jangankan memberikan stimulus pendidikan kepada anak-anak daerah untuk mampu mengolah sumber daya daerahnya sendiri yang harus mengeluarkan uang, lebih baik memberikan izin kepada pengusaha untuk mengolah sumber daya alam daerahnya sehingga mendapatkan dana dari pengusaha pengolah. Belum lagi kalau kita hitung perizinan tersebut memberikan uang sogokan kepada kepala daerah atau merupakan upeti sebagai bantuan si pengusaha membantunya saat kampanye pilkada. Gila sudah negara ini, demi nafsu pribadi mereka perkosa ibu pertiwi.

Kalau enggak percaya sama saya, silahkan percaya sama Google dengan mencari tahu kaitan antara materi dan kualitas pendidikan terhadap potensi SDA. Berapa banyak anak asli daerah yang jadi bos perusahaan minyak yang bercokol didaerahnya? Dan berapa banyak korupsi yang dilakukan oleh kepala daerah. Dan bukan bulan lagi kalau jaman sekarang kemajuan suatu daerah sangat bergantung dari kualitas pemimpinnya. Kalau pemimpinnya ngajakin ngaji ditengah jalan bolong-bolong ya hasilnya juga bodong.

**

Mungkin satu-satunya berita bagus adalah berita tertangkapnya koruptor oleh KPK, ingat ya berita tertangkapnya koruptor! Bukan berita pengacara berantem sama anak bocah, anak bocah bunuh orang banyak gara-gara bawa mobil, atau hebatnya artis untuk move on sehingga bisa cerai-kawin-cerai-kawin melulu. Tentu yang namanya penjahat ditangkap itu berita bagus, karena dari berita itu kita bisa bicara sampah serapah mencaci maki para koruptor. Dan semakin sering koruptor ditangkap KPK semakin banyak juga kata-kata sampah serapah yang ditematkan kepada mereka. Alhasil dari kegiatan positif menangkap korupor berakhir menjadi dosa karena kelewatan ngatain koruptor haha.

Kita apresiasi kegiatan KPK, tapi perlu ingat bahwa KPK juga komisi yang harus terus berbenah. Salah satunya ialah berbenah untuk tidak hanya fokus pada operasi yang berorientasi kepada para pejabat (baca: penjahat), tetapi juga fokus menegakkan dan menciptakan sistem hukum.

Bukan barang baru lagi, tapi sudah jadi barang KW kalau yang namanya hukum di Indonesia ‘katanya’ bisa dibeli, dibuat-buat, bahkan diteliti dengan cermat untuk ketahui bagaimana caranya melakukan korupsi. Sebagai contoh, penyusunan RUU tentang tembakau yang pernah dirilis oleh majalah TEMPO beberapa bulan yang lalu. Berapa miliar harga satu pasal dalam penyusunan RUU Tembakau demi mengamankan produksi rokok di Indonesia? berapa banyak receh 1000 perak yang diterima oleh para pembuat UU itu? Mungkin kalau uang korupsi berbentuk pecahan koin 1000 perak, kita bisa liat gedung KPK seperti rumah penyimpanan uangnya paman Gober. Apa yang pernah dirilis oleh majalah TEMPO tempo lalu itu memberikan kita gambaran bagaimana korupsi dilakukan pada level penyusunan peraturan. Peraturannya saja sudah dibuat-buat, bagaimana pelaksanaannya?  Bagaimana penegakan hukumnya? Inilah ciri-cirinya bangsa yang sudah mau tamat: sangat hebat mencari ‘pembenaran’ dan semakin sulit mencari ‘kebenaran’. Bahkan sampai aturan tertulis dalam peraturan pun belum tentu bisa dijustifikasi kebenarannya.

Ya, akhir kata dibalik kepedihan yang diderita bangsa ini, selalu masih ada optimistik menyambut masa depan yang lebih baik. Lebih baik naik satu peringkat di Corruption Perceptions Index daripada enggak maju sama sekali. Demokrasi korupsi yang melanda negeri ini setelah demokrasi politik menjadi lawan kejam yang merugikan urat nadi bangsa ini. Lawan, lawan, dan lawan praktik korupsi!
Jaga alam kita kita dari setan korupsi!

SELAMAT HARI ANTI KORUPSI

Coretan Perjalanan (bag.IV)



Kalau kita masuk komunitas baru, apa sih yang orang akan lihat dari kita? Dan apa yang akan bikin kita berbeda/terlihat unggul? Kata orang, jawabannya tampilan fisik. Karena tampilan fisik itu penting enggak sedikit orang yang bergaya ketika berpakaian, entah karena selera berpakaiannya atau sedang mengikuti trend. Malah katanya saking pentingnya tampilan fisik, cinta bisa datang dari pandangan pertama. Untungnya Tuhan Maha Adil, kasihan dong orang-orang yg fisiknya buruk dan selera berpakaiannya enggak bagus-bagus amat (nanti selamanya enggak ada yang ngelirik). Nah, terus kalau pandangan pertama biasanya menyangkut tentang tampilan fisik, apa tampilan selanjutnya yang membuat orang A dan orang B berbeda dalam komunitas barunya? Kalau kataku jawabannya keterampilannya.

Untung sekali ijasah sekolah bentuknya cuma kertas dan enggak bisa ditempel di jidat. Kalau yang namanya ijasah bisa ditempel di jidat dan dibawa kemana-kemana, aku udah jadi orang yang paling ganteng disini hahaha. Ya itu sebenarnya jawaban hopeless dari aku yang fisiknya biasa saja, selera berpakaiannya alakadarnya, dan modalnya cuma ijasah (sudah gitu nilai ijasahnya biasa saja lagi hahaha).

Dalam beberapa momentum diperjalananku, kadang ada saja yang bikin aku merasa jadi orang paling beruntung dan kadang juga banyak hal yang bikin aku bertanya,”gila, ini orang hebat bener, doi makannya apaan sih?”. Dan hal yang selalu bikin aku terkesima ketika melihat orang lain itu adalah keterampilan dan pengetahuannya. Kalau ada orang yang keterampilannya banyak, jagoan dibidangnya, pengetahuannya luas, cara berpikirnya tajam dan substantif, terus tangan dan otaknya gesit; emmghhh, aku paling hanya geleng-geleng melihat ada orang macam begini bisa hidup didunia.

Ada kenalan baruku, namanya Hasbi dari Probolinggo, lahirnya tahun 1990 dan sekarang umurnya sama denganku. Dulu doi lulusan pesantren, tapi sebelum lulus pesantren sudah bisa bahasa Arab sehingga umur 17 tahun sudah mengajar bahasa Arab di Madura. Hidupnya penuh dengan perantauan, pernah di Madura, Garut, Kediri, dan Jambi. Mungkin memang sudah bakatnya atau entah seperti apa, tapi setiap daerah yang ia singgahi, dia selalu bisa kuasai bahasa asli daerahnya. Bahkan kalau dibandingkan dengan aku yang tinggal selama 5 tahun di Bandung, bahasa sundanya lebih halus. Selain empat bahasa daerah itu, ia juga kuasai bahasa internasional seperti bahasa Arab dan bahasa Inggris. Yang lebih mengerikan daripada doi juga ada, temannya namanya mas Muklis (umurnya mungkin 3-4 tahun di atas), dia sedang belajar bahasa prancis sebagai bahasa kelima yang mau ia kuasai selain bahasa inggris, arab, mandarin, dan jepang, gila!

Ada lagi kenalan baruku, namanya Umar. Kayaknya baru sebulan yang lalu aku lihat dia beli gitar dan bilang mau belajar gitar, hari ini doi sudah bisa lancar main gitar. Aku cuma bisa geleng-geleng saja lihat orang ini karena pada dasarnya doi memang multi-talent. Dulu sebelum kecelakaan motor, doi katanya jago olahraga parkour dan taekwondo, selain itu ini orang sangat ahli dan jenius dalam komputer, dan kuasai juga bahasa Pakistan karena dulu pernah beberapa waktu tinggal disana.
Rasanya setiap orang diberi jatah waktu satu hari 24 jam yang sama oleh Tuhan, tapi kenapa ada orang-orang yang bisa manfaatkan waktunya untuk menambah keterampilannya dan enggak sedikit juga banyak orang yang membosankan karena enggak punya keterampilan dan topik pembicaraannya itu-itu saja?

**

Dulu pernah aku baca transkrip wawancara salah satu media dengan pak Anies Baswedan. Wawancara itu bicara tentang anak muda Indonesia, kebetulan memang beliau adalah salah satu orang berusia muda yang punya banyak prestasi. Dalam wawancaranya, beliau katakan seperti ini,”pernahkah kamu bayangkan, apa yang akan tertulis dalam curriculum vitae-mu lima, sepuluh,  dua puluh tahun mendatang? apa yang akan tertulis dalam CV-mu?”.

Aku baca transkrip wawancara itu sekitar setahun yang lalu. Jelas setelah membaca itu reaksiku pusing dan bingung. Kira-kira apa yang akan tertulis dalam CV-ku itu? Aku bukan orang yang kejar-mengejar punya CV yang bagus dan fantastis, tapi dalam CV tersebut akan terlihat apa yang sudah pernah kau lakukan dalam hidupmu. Aku ingat saat dulu sedang mencalonkan diri menjadi seorang ketua himpunan. Saat itu ada kolom prestasi yang aku beri garis strip (-), artinya tidak ada prestasi. Sebenarnya aku punya prestasi saat SMA sebagai juara lomba cerdas cermat islam tingkat kelas dalam rangka hari Isra Mi’raj, karena sepertinya orang lain tidak akan percaya hal tersebut, yowes lah aku isi strip saja haha. Sejak hari itulah aku mulai tanya dalam diriku sendiri, apa Achievments & Awards diriku? Berapa banyak lomba/kompetisi yang aku menangi? Seberapa hebat diriku ketika harus bertanding dengan orang lain? Kemudian apa personal skills-ku berapa tahun mendatang? Berapa banyak bahasa yang aku kuasai? Seberapa lancarnya kamu dalam berbahasa asing?
Apa yang tertulis dalam CV-mu sebenarnya tidak terlalu penting dibanding seperti apa karaktermu. Tapi punya karakter yang ‘menarik’ tanpa memiliki keterampilan itu omong kosong. Dan punya keterampilan tapi tidak punya karakter yang ‘menarik’ seperti layaknya budak. Sejatinya keduanya saling melengkapi. Bagaimana mengasah karakter dan mengasah keterampilan? Bagaimana menjadi orang yang lebih bernilai dengan karakter dan keterampilan?

Dulu sewaktu masih tinggal di Bandung, suasananya penuh dengan kekeluargaan. Jadi kalau ada sesuatu yang enggak bisa kita lakukan sendiri, dengan mudah kita bisa meminta bantuan teman dan begitu sebaliknya ketika teman sedang kesusahan. Kalau laptop rusak dikit, tanya temanku bernama Yovan; kalau enggak ngerti pelajaran kuliah, tanya temanku namanya Adam Pasuna; kalau enggak ngerti tentang cewek, tanya temanku namanya Tiara; kalau lagi lemes enggak kuat ngapa-ngapain, minta tolong kuli bangunan bernama Fidic; kalau enggak punya file/catatan kuliah, minta sama Picul; dan begitu untuk hal-hal lainnya, pasti aku minta tolong temanku haha. Lah sekarang? Sendirian? Masuk lingkungan baru? Masalah dimulailah dari sini. Kadang enggak ada orang lain yang bisa di andalkan selain diri sendiri. Sama seperti naik gunung: enggak ada warung nasi padang, indom*rt, alfam*rt, tukang ojek, dsb. Semua harus dilakukan sendiri atau bekerja sebagai tim dengan spesialis masing-masing (kalau ada yang males-malesan atau enggak bisa ngapa-ngapain kadang jadi nyusahin yang lain).

Jangan galau dalam gelap

Yaa inilah hidup, kadan ada saat bersama-sama, kadang ada saat sendirian. Masuk lingkungan baru, orang enggak akan peduli dari mana almamater kita atau siapa orang tua kita. Semua tergantung dari bagaimana karakter kita, apa yang bisa kita lakukan, keterampilan apa yang kita punya. Yah toh hidup itu pilihan kita kan, mau jadi orang yang selalu minta tolong atau mau jadi orang yang selalu diminta uluran tangannya…..

(bersambung ke episode lainnya)

Coretan Perjalanan (bag.III)



Kalau hari ini kalian dihadapkan dengan dua pilihan: punya jalur hidup yang lurus-lurus saja atau jalur hidup yang ada banyak belokan dan tikungan bahkan U-turn; jalur hidup mana yang akan kalian pilih?

Itulah pertanyaan yang selalu terbenang dan menghantui pikiranku. Sejujurnya aku pikir jalur hidupku masuk dalam klasifikasi normal hingga lulus kuliah. Yang aku maksud dengan klasifikasi jalur hidup normal adalah setelah lulus SMP, masuk SMA, setelah lulus SMA, belajar di universitas, kemudian lulus kuliah dan dapatkan gelar. Jalur hidupku relatif tidak normal hanya karena lulus kuliah lima tahun dan selebihnya normal. Dan aku akan jauh lebih normal lagi jikalau setelah lulus langsung bekerja, menikah, dan mati (mudah-mudahan) masuk surga. Ada orang yang katakan, paling enak itu hidup mudah foya-foya, tua kaya raya, mati masuk surga. Walau tidak bisa foya-foya dimasa muda, tapi sungguh, kehidupanku kemarin sangat beruntung. Sangat-sangat beruntung!

Dalam perjalanan ini, mata ini sungguh terbelalak melihat orang-orang sebayaku yang jalur hidupnya sangat penuh belokan, tikungan, putaran U-turn, lampu merah, penilangan bermotif uang, dan bahkan jalur hidup yang terkadang seperti jalur kereta yang masuk dalam terowongan, gelap. Ada orang yang harus bekerja dari hari senin hingga hari jum’at, kemudian kuliah reguler pada hari jum’at dan sabtu. Ada orang yang setiap pagi hingga petang bekerja, kemudian malam harinya mereka kuliah. Ada orang yang harus menunda kuliahnya selama satu hingga dua semester agar dapat bekerja mencari nafkah dan mendanai kuliahnya pada tahun depannya. Ada lagi orang yang secara terpaksa harus berhenti kuliah padahal punya keinginan yang kuat untuk belajar. Ada juga orang-orang yang tidak kuliah tapi harus bekerja untuk menyekolahan adik-adiknya. Dan tidak sedikit juga orang-orang yang setelah lulus SMA tidak melanjutkan pendidikannya ke taraf yang lebih tinggi. 

“Never let your school interfere your education”
-Mark Twain

Dulu sewaktu kuliah terdapat regulasi yang sangat risih didengar oleh kalangan mahasiswa. Regulasi tersebut adalah regulasi yang bersangkutan dengan pendidikan. Mulai dari  UU no. 9/2009 tentang Badan Hukum Pendidikan sampai UU no. 12/2012 tentang Pendidikan Tinggi. Hampir seluruh regulasi tentang pendidikan tersebut sebenarnya memiliki benang merah yang sama. Bagaiamana menjadikan lembaga pendidikan lebih mandiri sehingga tidak akan ada/mengurangi suntikan dana yang masuk dari pemerintah ke lembaga pendidikan. Dari perspektif bisnis, melakukan social investment seperti memberikan  subsidi, jaminan sosial, layanan kesehatan, dan pendidikan, sama saja melakukan inefisiensi karena belum tentu memberikan keuntungan ekonomis. Untungnya pemerintah bukan pebisnis, instrumen fiskal bukan hanya untuk efisiensi, tapi juga distribusi. Sehingga sangat wajar jikalau pemerintah melakukan social investment untuk warga Negara. Tapi beda lagi ceritanya kalau pemerintah tidak mau menyisihkan dana untuk masyarakat kebawah sehingga pengeluaran semakin efisien dan volume dana yang berpotensi dikorupsi semakin tinggi.

Dari kalangan mahasiswa tuntutan juga tidak banyak berubah, yakni bagaimana pemerintah dapat menyediakan pendidikan yang murah, pendidikan untuk rakyat, maupun pendidikan yang tidak terpengaruh oleh pasar dan menjadikan manusia seutuhnya.

Fenomenanya hari ini ialah hanya ada macam orang yang bisa masuk universitas unggulan,yaitu kamu berasal dari keluarga mampu atau sangat pintar. Kalau kamu berasal dari keluarga mampu, berarti kamu dapat beasiswa ADB (Ayah dan Bunda), sehingga kamu bisa mengambil kursus/les tambahan di SSC (Sonny Sok Cerdas), GO (Galau Operation), dan berbagai macam tempat kursus lainnya yang membutuhkan dana. Atau ya kamu sangat cerdas sehingga bisa bersaing dengan kompetitormu lainnya untuk masuk universitas unggulan.

Nah, terus bagaimana dengan teman-temanku yang mereka bukan berasal dari keluarga mampu dan juga tidak cerdas? Dan aku yakin orang-orang yang seperti ini jumlahnya banyak di negeri ini. Dan bahkan bukan mereka tidak berusaha, tapi bagaimana mau berusaha ketika kau sekolah SMA sembari mengajar anak SMP atau bekerja lainnya untuk mendapatkan uang? Kapan waktu belajarnya jikalau sedari kecil kau sudah harus bekerja?!

Sungguh makin lama makin geram sama Negara ini. Lembaga pendidikan yang unggulan menerima murid yang paling cerdas, sehingga terus menerus menjadi bahan bakarnya untuk mempertahankan eksistensinya sebagai lembaga pendidikan yang unggul. Kemudian siapa yang menjadikan orang bodoh menjadi lebih cerdas dan bermartabat dengan ilmu pengetahuan? Apakah mereka yang (teman-temanku yang kurang beruntung, sebagaian besar anak muda negeri ini yang bekerja siang bersekolah malam) mendapatkan pendidikan yang berkualitas dan layak? Apakah orang-orang yang sejatinya cerdas memiliki akses untuk mendapatkan pendidikan yang lebih tinggi sehingga bisa mengubah hidup mereka? Apakah kita bisa jadikan bangsa ini lebih bermartabat dengan ilmu pengetahuan??

Pertanyaan demi pertanyaan datang seperti jelangkung, tapi tidak kita ketahui apakah akan ada jawabnya/tidak dan/atau apakah kita yang jadi jawabannya?

Foto di sunken court saat aku di wisuda pada bulan Juli 2013

Aku bagian dari orang yang hidup beruntung. Bisa sekolah di lembaga pendidikan terbaik dan hidup normal. Tapi sayangnya tidak banyak orang yang beruntung sepertiku.

Tulisan ini bukan hanya tentang seberapa berat dan beruntungnya diri kita menjalani hidup. Bukan juga seberapa panjang, berapa banyaknya belokan, seberapa gelap dan banyaknya kerikil yang kita jumpai dalam jalur hidup kita. Tapi kenapa Tuhan berikan kita kesempatan hidup di dunia hari ini? Kenapa IA tidak berikan kesempatan kita hidup 20, 50 tahun yang lalu atau 7 abad yang lalu? Kenapa Tuhan lahirkan kita di Negeri yang pemerintahnya di caci-maki oleh rakyatnya sendiri? Dan itulah semua yang harus dicari, bukan hanya jalur hidup mana yang kau pilih, tapi mau kemana kita harus pergi. Kita yang pilih sendiri, mau buang-buang kesempatan hidup dengan muda foya-foya, tua kaya raya, dan mati masuk surga atau muda berusaha, tua bijaksana, mati masuk surga, dan Negara ikut sejahtera.

Salam hangat dari hujan deras di Jawa Timur
(bersambung)

Coretan Perjalanan (bag.II Cerita Rakyat)



Perjalanan tentu terasa pahit jikalau kau memulainya dengan sendirian, tapi berakhir dengan sendiri pula. Sejujurnya aku harus berterima kasih terhadap Tuhan yang memberiku kesempatan untuk berkenalan dengan orang-orang baru yang mewarnai perjalananku ini. Setidaknya kalau hubungan pertemanan di nilai sebatas contact di blackberry ada sekitar 30 kontak baru dalam contact bbm-ku hari ini.

Patung arjuna di pantai pandawa, bali


Pada bagian ini aku tidak ceritakan apa artinya teman dalam perjalananku. Mungkin itu ada pada bagian lain. Pada bagian ini aku secara spesifik ceritakan tentang cerita aku dan bersama tiga temanku lainnya saat sedang berkumpul dan berbagi cerita rakyat dari masing-masing daerah kami. Kebetulan dan mungkin takdir Tuhan yang mempertemukan aku dengan mereka. Mereka bernama Asa, Gofur, dan Wamil. Oke, sebelum memulai aku perkenalkan sekilas tentang profile mereka.

Yang pertama adalah Asa, gadis manis berkulit putih keturunan china yang berasal dari Sidoarjo. Ia banyak membaca tentang budaya dan filsafat. Pernah berkuliah di Universitas Airlangga, Surabaya, tapi akhirnya memutuskan berhenti berkuliah ditengah-tengah karena keputusannya sendiri. Perempuan ini memiliki karakter yang keras tapi dibalut oleh budaya jawa yang halus. Tak heran wanita sekeras doi juga pusing karena kakak perempuannya telah menikah di umur muda (yang artinya sekarang doi sedang pusing saat ditanya kapan menikah padahal umurnya masih 21 tahun).

Yang kedua namanya Gofur. Laki-laki berparas seram kelahiran Maluku. Ia adalah seorang aktivis organisasi PEMBEBASAN. Laki-laki asal Maluku, seram, besar, suaranya berat, berkulit hitam dan berideologi kiri. Pertama kali mengenalnya aku sendiri merasa seram dan membayangkan kalau dia pasti tidak dicurigai kalau menyelinap menjadi salah satu massa dalam aksi buruh haha. Tapi setelah cukup mengenalnya baru aku ketahui kalau dia sebenarnya adalah sosok yang lembut dan bahkan aku setengah tidak percaya ketika mendengar bahwa ternyata ia habiskan tujuh tahun waktu kuliahnya di jurusan keperawatan hahaha.

Yang terakhir sekaligus paling pamungkas, namanya Wamil. Nama lengkapnya Andi Wamil. Pria asal Makasar dengan keturunan raja (karena itulah namanya begelar Andi), berambut gondrongnya dan gaya bicaranya yang ceplas ceplos. Waktu kecilnya ia habiskan dengan menghafalkan peristiwa dan sejarah nenek moyangnya yang keterunan raja. Mungkin aku bisa katakan bahwa sejarah Makasar dan sekitarnya sudah ia hafal diluar kepala. Waktu kuliahnya ia habiskan waktunya berorganisasi di PMII. Tapi walaupun organisasinya bernafaskan islam, pengetahuannya tidak terbatas pada islam dan pergerakan saja. Aku masih ingat kata-katanya saat ingin sholat Jum’at, dengan nada bercanda ia katakana padaku”sholat jum’at itu politiknya Rasulullah untuk mengumpulkan dan memprovokasi ummat muslim” haha ada-ada aja.

**
Hari itu lucu, karena saat itu kami sedang berbagi cerita tentang budaya dan cerita rakyat didaerah kami masing-masing. Mulai dari Asa yang bercerita tentang huruf aksara jawa. Bagaimana aksara jawa ditemukan dan kemiripannya dengan huruf arab, bagaimana perkembangan aksara jawa, dan kekesalan hatinya karena bangsa Indonesia di cap buta huruf oleh penjajah. Padahal yang dimaksud buta huruf adalah dari justifikasi barat karena tidak menggunakan alphabet latin.

Mungkin cerita masa lalu (cap buta huruf masyarakat Indonesia dari penjajah) ini mirip dengan revolusi pendidikan di Turki yang dipimpin oleh Mustafa Kemal Attaturk. Saat itu Mustafa Kemal Attaturk menyatakan bahwa sekitar 91% masyarakat Turki buta huruf. Padahal ini sebenarnya adalah buta huruf Latin, dan sering terdengar merendahkan huruf Arab (atau aksara Jawa).

Cap buta huruf dari penjajah dan kemampuan masyarakat Indonesia dulu dalam menggunakan aksara jawa telah dibenarkan oleh M.Natsir kemudian hari. Seperti yang diutarakan oleh M.Natsir pada November 1940,” Baru kira-kira 4% dari penduduk Indonesia jang pandai tulis batja huruf Latin.”  Lebih lanjut Natsir mengatakan,”Sebelum bahasa Belanda mendjadi bahasa pembawa ketjerdasan itu, sudah terlebih dulu bahasa Arab menjadi satu-satunja pembuluh kebudajaan bagi kita anak Indonesia”. Natsir juga mengatakan,” Melihatlah di sekeliling tuan, perhatikanlah ketjerdasan bangsa kita sekarang ini! Selidikilah, djangan di kota jang besar-besar sadja akan tetapi masuklah ke kampung dan ke desa-desa, di situ tuan akan mendapatkan gambaran, bagaimana besar djasanya bahasa Arab ini bagi ketjerdasan bangsa kita. Belum ditilik lagi dari djurusan keagamaan, akan tetapi baru dari djurusan ketjerdasan umum.”

Lain lagi cerita dari Gofur. Ia ceritakan kepada kami tentang perang badr hingga hantu dan arti nama Maluku. Ceritanya ketika perang Badr di jaman Rasulullah, saat itu jumlah pasukan Rasulullah kalah banyak dibandingkan lawannya. Alhasil dengan bantuan Jin, pasukan muslim memenangkan perang tersebut. Tapi kemudian sahabat nabi, Ali bin Abu Thalib, bertanya kepada Rasulullah kemana pasukan Jin ini kemudian akan pergi/singgah. Rasulullah pun menjawab bahwa pasukan jin tersebut akan ditempatkan di sebelah timur bumi.

Menurut cerita orang Maluku, tempat persembunyian/persinggahan para jin tersebut ialah berada di pulau Maluku. Tepatnya aku lupa nama sebuah pulau yang katanya sangat angker dan menjadi tempat berkumpulnya para jin yang membantu Rasulullah disaat perang Badr. Nama Maluku sendiri berasal dari AL-Mulk yang berarti kerajaan. Kerajaan manusia juga kerajaan Jin. Bahkan dengan berbau sedikit mistis sering sekali Gofur ceritakan tentang sejarah para raja di pulau Maluku terdahulu yang merupakan rajanya jin dan manusia. Pernah terdapat salah satu raja (yang aku lupa namanya), mengatakan sebelum berperang melawan penjajah,”aku perintahkan jin dan manusia untuk melawan….”. Selain daripada itu masih banyak cerita masyarakat Maluku lainnya yang terdengar mistis, seperti raja yang sholat disuatu tempat kemudian tempat itu menjadi penuh dengan tumbuhan dan pepohonan, dsb.

Kali ini giliran Wamil bercerita. Sebagai keturunan raja, wamil banyak ceritakan tentang sejarah dari pulau Sulawesi. Cerita tentang raja-raja terdahulu, bagaimana pola hubungan kerajaan di Makassar dengan para penjajah sehingga politik etis hanya terdapat di pulau Jawa dan sebagian Sumatera, relasi hubungan antar marga, tata cara perkawinan dan kematian, bagaimana suku-suku di Sulawesi mempertahankan eksistensinya, hubungan antar keturunan, dan lain sebagainya yang saking banyaknya aku pun lupa apa yang harus kutulis sekarang karena saat itu tidak kucatat dengan baik cerita dari Wamil.

Akhirnya tibalah giliranku. Nah masalah dimulailah dari sekarang!

Pertama kalau mau dikatakan, aku tidak memiliki suku/kultur budaya yang sangat melekat pada diriku. Ayahku minang tapi dari kecil telah merantau ke pulau jawa. Ibuku keturunan campuran antara Jawa dan Bangka. Harusnya kalau ikut gaya minang, aku ikut ibuku. Sayangnya ibuku pun tidak begitu jelas apa suku dan adat istiadatnya haha. Alhasil, karena terlahir di Jakarta, bertempat tinggal di Condet (yang mana dulunya merupakan kampung betawi), aku klaimlah diriku sebagai orang Jakarta haha.

Kedua, walaupun tinggal di pusat budaya Jakarta, sebenarnya Condet sekarang lebih terkenal sebagai kampung Arab dibandingkan dengan kampung Betawi. Hal ini dikarenakan lebih banyak penduduk di Condet yang merupakan keturunan Arab dibandingkan keturunan Betawi. Implikasinya, karena saat aku tinggal di Condet lebih banyak bergaul dengan keturunan Arab dibandingkan Betawi asli, aku lebih banyak tahu tentang ke-Arab-an dibanding ke-Betawi-an.

Ketiga, harus diingat, bahwa DKI Jakarta adalah pusat ibukota Negara yang setiap tahunnya mengundang pendatang dari luar daerah. Alhasil penduduk asli betawi semakin tersisih yang berdampak bagi keberlangsungan budaya asli betawi. Aku jadi teringat ketika salah seorang senior dikampus dulu, namanya Yuriza, bertanya padaku tentang sejarah rakyat betawi. Rasanya hari itu aku malu karena Yuriza yang berasal dari Bogor lebih mengetahui cerita rakyat betawi tentang si Pitung dibandingkan aku yang hidup hampir 18 tahun di Jakarta.

Yah, selalu ada jalan keluar untuk setiap masalah. Alhasil dengan pengalaman lima tahun hidup di kota Bandung, adalah cerita rakyat Sunda yang aku bisa bagikan dengan mereka (cerita yang aku bagikan adalah tentang cerita Sangkuriang dan hubungannya dengan trias politica & kaum intelektual, pernah kutulis di blog ini dulu). Haha, aneh ya aku lebih ketahui cerita rakyat sunda dibandingkan dengan cerita rakyat betawi.

“A man who has committed a mistake and doesn’t correct it, is committing another mistake”
-Confucius

Bagiku pribadi ini adalah pengalaman kedua ketika aku ditanya tentang sejarah dari tempat lahir dan besarku tapi tak dapat aku jabarkan ceritanya dengan baik. Bahkan jangankan menjabarkan, ceritanya pun tidak aku ketahui. Kalau teman-teman membaca tulisanku ini, cobalah teman-teman tanyakan kepada diri kalian (terutama yang berasal dari kota-kota besar), apakah teman-teman mengenal budaya dan mampu membagikan cerita rakyat daerah kawan-kawan? Kalau mampu berarti hebat, kalau tidak mampu berarti kita sama (sama-sama menyedihkan maksudnya haha).

Sungguh sebenarnya aku iri dengan kawan-kawanku (Asa, Gofur, dan Wamil). Mereka dapat ceritakan cerita daerahnya masing-masing. Mungkin kadang kita harus bertanya, siapa yang lebih hebat antara Superman dan Pangeran Diponogoro? Atau siapalah yang lebih bermurah hati antara Robin Hood dengan Si Pitung? Setidaknya Pangeran Diponogoro adalah cerita asli dan beliau tidak bodoh untuk memamerkan celana dalam bercorak norak. Begitu pula dengan Si Pitung yang mencuri karena kemiskinan akibat imperialisme yang dipraktikan para penjajah (termasuk oleh Negara asalnya Robin Hood).

Pengalaman ini akan aku telan rasa pahitnya. Ini adalah kali kedua aku tidak bisa menjawab cerita rakyat daerahku sendiri, budayaku sendiri. Kedelai saja bodoh kalau jatuh tiga kali, masa aku mau disamakan dengan kedelai (bahkan dengan kedelai yang terbodoh di antara pada kedelai). Nasionalisme bukan isarat gombal dan teriakan kosong. Selalu ada makna dibalik kata dan harus ada perubahan dibalik penyesalan. Kadang mungkin kita harus bertanya,”kalau cerita superman, ironman, batman, sikilman, dan bijiman yang bergabung dalam The Avangers setiap tahun ceritanya berkembang, masa cerita si pitung, sangkuriang, jaka tarub, dan jaka-jaka lainnya yang relatif punya bukti otentik tidak berkembang?”. Atau pertanyaan yang lebih mudahnya,”masa cerita tangkuban perahu yang diceritain sama orang tua kita dan yang kita ceritain ke anak kita masa depan ceritanya sama aja?”

Yah okelah daripada makin banyak pertanyaanku yang enggak nyambung, lebih baik kita sudahi cerita yang ini dan jangan lupa nantikan cerita berikutnya. Tapi ingat pesanku dari cerita ini (untukku dan untuk kita semua): kenali dan berbanggalah dengan budaya bangsa ini! Karena anak muda yang keren adalah anak muda yang paling paham tentang INDONESIA!!
(bersambung)

Coretan Perjalanan (bagian I)



“Everyone has three lives, first is public life, second is private life, and the last is secret life”

Setidaknya terdapat beberapa hal tindakan dari ayahku yang terus membekas dalam memoriku. Salah satunya ialah ketika kami sekeluarga pergi liburan ke bali. Saat itu aku masih kecil, mungkin masih SD dan memiliki ‘jadwal harian wajib’ untuk menonton film cartoon tepat pukul 15.00 sore. Tapi keluarga besarku merencanakan berlibur ke bali. Entah karena apa, tetapi ayahku memutuskan untuk pergi ke bali lewat jalur darat. Ya, hanya kami yang lewat jalur darat naik mobil dari Jakarta sampai pulau bali. Yang jadi masalah bukan jalur daratnya, tapi ‘jadwal harian wajibku’ untuk menonton film cartoon yang terganggu karena tidak bisa menontonnya selama beberapa hari!

Buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya. Mungkin itulah yang terjadi hari ini. Perjalanan terjauh bersama keluargaku itulah titik tolakku dalam memandang acara jalan-jalan. Kegairahan menunggu pukul 15.00 sore untuk menonton film cartoon, perasaan berdebar-debar ketika iklan, dan rasa penasaran akan kelanjutan filmnya minggu depan telah berganti seiring perjalanan bersama keluargaku itu. Sepanjang perjalanan ayahku ‘mendongengkan’ kami dengan cerita pahlawan nasional yang lahir di pulau jawa, cerita rakyat jawa, cerita mahabrata, pertarungan pandawa dengan kurawa, profile setiap tokoh dalam cerita klasik tersebut, dsb. Bahkan tak jarang kami mampir ketempat wisata yang jadi bukti cerita tersebut seperti museum dan candi.

Perjalanan itu mungkin singkat, tapi kesannya terus membekas dalam kepalaku hari ini. Itulah traveling, traveling bukan hanya tentang melihat karunia indahnya alam milik Tuhan, tapi juga perjalanan mencari tahu sesuatu yang belum pernah kita ketahui.

Orang ganteng di Bali

Mudah-mudahan tidak banyak orang bodoh yang habiskan sepertiga umur fresh graduate-nya sepertiku. Saat orang lain bingung cari kerja dan pusing bekerja sembari melawan kemacetan jakarta, kau malah jalan-jalan haha. Nanti malah makin banyak pengangguran sukarela di Negara ini haha. Walau belibet nerangin ke orang lain kenapa aku pilih jalan-jalan, tapi perjalanan ini memberi warna baru dalam hidupku. 

Ada cerita kenapa rumah orang-orang jawa punya teras yang luas. Setidaknya begitu pengamatanku. Kalau bukan teras rumahnya yang luas, ya halamannya yang luas. Rumah menunjukkan suatu kepribadian. Karena hampir semua rumah yang ketemui cirinya sama, pertanyaannya ada apa dengan kepribadian orang jawa? 

Aku mulai jawab dengan istilah orang jawa cukup terkenal (malah mungkin sampai terkenalnya sudah di akusisi jadi peribahasa Indonesia, saking kuatnya pengaruh jawa di Indonesia). Mangan ora mangan sing penting ngumpul. Makan enggak makan yang penting berkumpul. Istilah ini menujukkan sifat kekeluargaan orang jawa yang sangat besar. Kalau Ronald Reagan (Presiden Amerika) bilang “all great change in America begins at dinner table”, mungkin orang jawa enggak perlu makan malam untuk membuat suatu perubahan. Karena inti perubahan bukan makanan apa yang disantap, tapi berkumpulnya orang-orang yang inginkan perubahan.

Saking besarnya pengaruh sing penting ngumpul, bahkan kepalaku pun sampai pusing ketika semua orang yang aku temui dan kutanyai tentang dimana tempat nongkrong selalu menjawab alun-alun! Pikirku yang terbiasa hidup dihingar-bingar kota besar sontak bertanya dalam hati,”apa enaknya nongkrong di alun-alun? Emang ada apaan disana?” haha untungnya pertanyaan itu enggak sempat keluar dari mulutku, kalau enggak habis kali aku dihajar mereka.

Dulu ada anekdot,”apa kunci terbesar didunia?”, jawabannya ialah jawa, karena jawa adalah kunci. Tapi mungkin itu benar, yang namanya persahabatan dimulai dari keramahan, yang namanya persatuan dimulai dari keterbukaan. Kalau kata orang cari istri orang jawa karena setia, kalau kataku orang jawa itu ramah dan terbuka (enggak nyambung haha).Istilah mangan ora mangan sing penting ngumpul,ciri khas aristektur rumah jawa, tempat nongkrong, dll bagiku menunjukkan kepribadian orang jawa yang ramah, terbuka, dan bersahabat.

Ada cerita pula tentang kenapa pulau bali yang setiap tahunnya kelimpahan wisatawan asing tapi tetap dapat mempertahankan budaya balinya. Hal ini tentunya berkebalikan dengan provokasi sebagaian aktivis yang meneriakkan bahwa budaya barat itu merusak budaya timur. Bali menjadi bukti bahwa budayanya tetap bertahan walaupun diserbu wisatawan asing setiap harinya. Bahkan budaya menjadi salah satu bentuk wisata dibali selain wisata pantai, hiburan, dan mistis.

Setidaknya pulau bali adalah tempat terkonsentrasinya pemeluk agama budha dan hindu. Menurut ceritanya, agama hindu dan budha pertama kali menyebar di India. Agama hindu kemudian menyebarkan agamanya ke selatan dan agama budha menyebarkan agamanya ke utara. Tapi kemudian keduanya bertemu kembali di tanah bali. Sehingga kemudian tidak sulit untuk kita pahami bagaimana pengaruh agama hindu dan budha di pulau bali.

Seperti kiranya agama hindu di pulau dewata. Sebelumnya perlu aku ingatkan bahwa harus teman-teman sadari bahwa aku bukan pemeluk agama hindu maupun budha, karena itu mohon maaf kalau aku hanya pahami isi kulitnya saja. Oke aku lanjutkan seperti kiranya agama hindu yang untuk hidup menghargai sesama manusia dan alam, begitupula para wisatawan. Kalau kita berjalan di bali, tak akan jarang kita temui sesajen dengan bau kemenyan. Pemberian sesajaen ini adalah untuk ucapan terima kasih pada Dewa dan agar roh-roh jahat tidak mengganggu hidup mereka. Sesajen sederhana dipersembahkan setiap hari, sedangkan sesajen istimewa dipersiapkan untuk acara-acara keagamaaan tertentu.

Dengan perasaan sadar, aku tanyakan itu pada beberapa orang pemeluk agama hindu di bali. Ada jawaban yang aku paling sukai. Aktivitas menaruh sesajen adalah salah satu bentuk menghargai alam. Seperti contohnya menaruh sesajen dibeberapa pohon yang dianggap keramat. Beberapa orang mengira bahwa menaruh sesajen dan memasang kain catur dalam beberapa pohon dikarenakan ada setan di pohon tersebut. Orang bali punya cerita dibalik cerita, ada maksud dibalik maksud. Memang benar ada setan dibalik pohon tersebut, setan berbentuk bencana alam, erosi, banjir,dsb jika kau tebang itu pohon sehingga kemudian mengganggu keseimbangan alam!

Ada lagi tempat destinasi wisata di Bali yang menurutku indah. Tempat itu ialah Puja Mandala. Disana terdapat lima tempat ibadah yang saling berjejer, mulai dari masjid, gereja protestan, gereja katolik, pura, dan vihara. Entah dibangun karena unsur politis ataupun efisiensi tata ruang, tapi tempat itu menunjukkan kerukunan umat beragama di bali. Tak sedikit orang yang akan bermasalah ketika ditanya,”bagaimana kalau disebelah rumahmu dibangun tempat ibadah agama lain?”. Bagiku Puja Mandala menunjukkan toleransi dan keharmonisan dapat hidup dalam keberagaman. Dan jangan samakan hal ini dengan sekumpulan orang paranoid yang membunuh dirinya lewat bom. Mereka (yang kemudian merusak nama bangsa dengan cap teroris), adalah kumpulan orang penakut yang kalah bersaing dan sangat payah denganmenggunakan cara yang kasar dalam mengingatkan sesuatu yang dianggap melewati batas. Remember, if you truly loved your self, you could never hurt another.

Cerita sesajen, pohon berpakaian kain catur, dan tempat ibadah menunjukkan padaku, jangankan menghargai sesama manusia, bahkan benda/alam yang tidak bisa bicara dengan bahasa manusia pun mereka hargai. Salah satu cara membentung budaya barat yang masuk dari globalisasi ialah mencintai, menghargai, dan berbudaya budaya Indonesia. Toh kata ‘globalisasi’ bukan terus menerus berarti buruk. Kadang harus diartikan sebagai kesempatan memperkenalkan budaya bangsa. Bali adalah contoh budaya bangsa yang tidak kalah dan memanfaatkan kesempatan menang dari globalisasi.

Ada cerita lagi kenapa anak muda yang enggak mondok (baca pesantren) lebih aneh daripada orang yang mondok. Bagi aku yang dibesarkan ditengah kota besar Jakarta dan Bandung, justru terbalik, kalau orang tidak sekolah formal dan memilih pesantren, justru akan aneh kalau aku memilih berpendidikan agama di pondok pesantren.

Pondok pesantren adalah salah satu lembaga pendidikan dan penyebaran agama islam. Agama islam sendiri adalah agama mayoritas penduduk Indonesia, termasuk menjadi agama mayoritas di Provinsi Jawa Timur.. Aku jadi teringat ketika ada seorang santri sebaya asal Maluku, yang sudah tujuh tahun tinggal di pondok tebu ireng, yang mengatakan padaku ketika aku serbui pertanyaan tentang kehidupan pesantren dan islam. Dia (yang aku lupa namanya), katakana padaku dengan suasana yang pas saat itu dan terasa ucapannya dari dalam lubuk hatinya yag paling dalam,”aku hidup untuk agamaku”. Islam bukan hanya menjadi agama, tapi pula menjadi budaya, ideologi politik, sebuah way of life dalam kehidupan manusia yang turut pula mewarnai kehidupan kita dalam berbangsa dan bernegara

Agama islam masuk ke Jawa Timur pada abad ke sebelas. Kalau kita ingat jaman SD, kita diajarkan (bahkan menjadi bahan ulangan SD), terdapat sembilan wali songo. Dari kesembilan wali songo tersebut, terdapat lima wali yang menyebarkan agama islam di Jawa Timur, yakni Sunan Ampel (Surabaya), Sunan Gresik dan Sunan Giri (Gresik), Sunan Drajat (Lamongan), dan Sunan Bonang (Tuban). Pengaruhnya bukan hanya penyebaran agama islam di Jawa Timur, tapi juga dapat dilihat dimasa sekarang dengan adanya dua organisasi islam yang kuat di Indonesia, yakni Nahdathul Ulama (NU) dan Muhammadiyah. Bahkan pondok pesantren Tebu Ireng di kabupaten Magetan dikenal sebagai kampung madinah karena kehidupan disana (beserta hampir 15.000 santrinya) yang menyerupai kota madinah.

Sejarah perkembangan islam di Jawa Timur, lembaga pendidikan islam, kehidupan dan budaya islami yang mengakar di Jawa Timur inilah yang kemudian mendorong anak-anak muda lebih memilih ‘mondok’ dibandinkan sekolah formal. Dan perlu diingat pula, bahwa sejarah bangsa ini bicara bahwa dijaman dulu banyak pergerakan dimulai dari pondok-pondok pesantren.

**

 “Do not believe in anything simply because you have heard it. Do not believe in anything simply because it is spoken and rumored by many. Do not believe in anything simply because it is found written in your religious books. Do not believe in anything merely on the authority of your teachers and elders. Do not believe in traditions because they have been handed down for many generations. But after observation and analysis, when you find that anything agrees with reason and is conducive to the good and benefit of one and all, then accept it and live up to it.”
― Gautama Buddha

Masih banyak lagi cerita yang pertama kudengar aneh, tapi lama kelamaan cukup mengerti kenapa begini dan kenapa begitu. Seperti kenapa pura selalu di bali selalu ada ditempat yang paling tinggi, kenapa pintu masuk pura hanya ada satu, kenapa tari kecak dikatakan tari pengusir setan, kenapa keris selalu ditaruh dibelakang, kenapa makanan tumpeng lebih popular dibanding ambeng, kenapa di daerah yang islami masih banyak yang memilih wanita sebagai pemimpin, dsb.

Tapi akan sangat panjang lagi jika aku ceritakan pada tulisan ini. Anggap saja tulisan ini hanyalah bagian pertama dari perjalananku. Setelah ini akan aku ceritakan semua cerita yang aku anggap menarik. Setidaknya yang perlu aku bagikan kepada teman-teman semua..…

Sampai jumpa pada bagian selanjutnya..
(bersambung)

Hantu dan Sustainable Develepoment



Mungkin ini bukan tulisan yang rasional, agak mengada-ngada, terkesan disambung-sambungkan, dan asal masukin yang cocok-cocok aja. Tapi bodo amat namanya juga opini.

Hantu, iya hantu! Makhluk halus berbentuk nenek lampir, pocong, gunduruwo, atau makhluk-makhluk halus lainnya yang kadang membuat halusinasi. Ingat ya, ini hantu bukan zombie. Kalau hantu itu punya roh enggak punya fisik, kalau zombie itu fisiknya ada roh-nya enggak tau kemana.
Nah hantu alias jin jahat alias setan ini katanya hidup bersama manusia, tumbuhan, binatang, dan makhluk-makhluk lainnya di dunia. Cuma karena tinggal ruh-nya aja, jadi makhlus halus ini gentayangan dimana-mana. Katanya sih kalau jadi hantu itu berarti lagi nunggu kiamat dan badannya enggak bisa ke akherat (katanya). Alhasil karena nunggu kiamat dan mungkin meninggalnya udah lama, jadi semakin lama kiamat dan semakin banyak orang mati (mungkin) jadi makin banyak deh itu hantu (bukan karena banyak hantu yang pengangguran ya, yg pengangguran cukup manusia aja).

Sumber gambar: Corey Bradshaw
Hantu ini suka gangguin enggak? Iya kadang-kadang! Aneh bin ajaib, tapi selama gw berkelana ke jawa timur, gw udah ketemu dua kali orang kesurupan. Sesuatu yang jarang banget gw temuin di kota. Entah karena kota itu ramai atau karena di desa masih kental kepercayaan yang begini-begini, tapi ajaibnya dibeberapa tempat malah orang sengaja dirasukin setan buat latihan berantem  (ntar orang yang kerasukan berasa jadi bruce lee). Aneh kan? gw aja aneh dengernya apalagi pas liat langsung.

Tapi perlahan waktu, ternyata hantu ini beneran (awalnya gw juga enggak percaya-percaya amat). Dan kadang bener-bener gangguin manusia! Tau kenapa manusia digangguin?
Berdasarkan hasil pondok pesantren selama beberapa hari di pondok tebu ireng dan temboro, ane dapatkan cerita kalau ternyata oh ternyata hantu ini paling suka nongkrong ditempat yang kotor, jarang dihuni, dan lain sebagainya termasuk pertemuan air laut dan air tawar. Jadi peliharalah kebersihan kalau enggak mau ketemu hantu! Haha santai bukan itu maksudnya. Yang pasti dan kadang enggak masuk akal, hantu ini hidup bersama kita. Mungkin ada dibelakang lo sekarang 
hahahha.

Tapi yang paling gw percaya, hantu itu gangguin manusia karena manusianya gangguin mereka duluan. Manusia kencing sembarang di pohon, padahal itu pohon tempat tinggalnya hantu. Manusia ke hutan ngambil bunga sembarangan, padahal itu hantu doyan juga ngeliat itu bunga karena enggak ada hiburan lain. Manusia suka nebang pohon asal-asalan, padahal disana tempat tinggalnya para hantu ini. Alhasil dengan prinsip lo asik gw santai, lo usik gw bantai, habislah manusia ini digangguin kan. mulai dari dilemparin buah jambu, digentayangin, sampai dirasukin jin.

Ada lagi satu cerita menarik. Di bali, suka ada pohon yang dikenakan kain catur hitam-putih. Jumlahnya banyak dan bahkan jadi salah satu desain arsitektur perumahan ala adat bali. Tau kenaap itu pohon dipakein baju? Orang bali punya cerita dibalik cerita. Katanya itu pohon dikarungin catur karena ada hantunya. Dan benar ada hantunya! Kalau lo tebang itu pohon, maka keseimbangan alam rusak, mulai dari gempa bumi, erosi, krisis air, dsb. Apalagi bukan sembarang pohon yang dikarungin, tapi pohon yang umurnya udah tua.

Sustainable Development
Apa hubungannya cerita hantu itu sama sustainable development (pembangunan berkelanjutan)? Sustainable development itu kerangka pikir atas keseimbangan aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan. Pelajaran dari pembangunan terdahulu yang lebih mementingkan pertumbuhan aspek ekonomi ternyata berdampak buruk terhadap aspek sosial dan aspek lingkungan. Kita bisa saja kejar pertumbuhan ekonomi yang tinggi setinggi-tingginya. Tapi ingat, pertumbuhan ekonomi berdasarkan GDP itu tidak click dengan pembanguan berkelanjutan. Kita bisa capai pertumbuhan ekonomi tinggi dengan merusak lingkungan. Misalnya meratakan seluruh hutan untuk mengejar ekspor kayu. Tapi hasilnya karena enggak ada pohon lagi aliran air terganggu sehingga kemudian menyebabkan krisis air di masa mendatang. Pengalaman memuja kemajuan ekonomi yang tinggi dan mengorbankan aspek lingkungan dan sosial inilah yang kemudian jadi tantangan dunia hari ini: bagaimana menyeimbangkan aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan.

Cerita di awal tentang hantu itu setidaknya memberikan gambaran bagi para pembaca, kalau sebenarnya yang lebih suka merusak itu manusia. Sehingga wajar mantan manusia (baca: hantu) yang udah meninggal ini makin lama makin kesal liat tingkah laku anak-cucu-cicitnya hari ini yang kurang menghargai bumi. Bukan hanya lingkungan yang suka dirusak, tapi mengusik juga kehidupan sosial para hantu. Siapa yang enggak kesel lagi enak-enak tidur dibawah pohon eeehh dikencingin sama manusia? Enggak pakai permisi lagi! Mending kalau cuma dikencingin, nah kalau pohonnya ditebang? Kalau saluran irigasi dibuang sampah? Kalau sungai dicemari limbah? Kalau jalur air ditutup aspal? Ya kalau Cuma dirasukin setan mah masih mending paling kecapean sehari. Nah kalau dikasihnya tsunami? Krisis lingkungan, krisis pangan? Emmmm makin sering kita bikin hantu itu ngamuk, makin cepat umur hantu itu di dunia coy (kiamat meeen!).

Terlepas teman-teman mau percaya atau enggak sama hantu. Tapi pesan dari tulisan ini ialah, berhati-hatilah bertindak laku didunia. Kita hidup bukan hanya untuk hari ini, tapi juga meninggalkan dunia untuk anak-cucu di masa mendatang. Kalau kita enggak coba hormati generasi masa mendatang, jangan heran kalau generasi kemarin yang datang gentayangin kita.

Pembubaran PKI & Bangkitnya Kembali Kapitalisme

PKI, komunis, kejam, keji, pembunuh, dan jangan jadi komunis seperti PKI. Mungkin hantu pikiran yang terus mengawang dalam pikiran banyak orang akibat propaganda G30S/PKI. Bangsa ini rasanya tidak akan pernah lupa terbunuhnya sembilan perwira TNI AD dan putri terkecil Jendral AH Nasution, yakni Ade Irma Suriani Nasution pada tahun 1965.

Tapi apa benar sejarah PKI seperti yang ada di film propaganda G30S/PKI yang tayang di televisi jaman dulu? Dan apakah tepat sejak pemberantasan PKI dan ideologi komunisme, Negara ini jadi lebih baik? Negara ini kembali berjalan sesuai dengan cita-cita kemerdekaan?

Sumber gambar: http://pramukanewss.blogspot.com/2013/06/nasib-anggota-pki-usai-oktober-1965.html


Oke, gw bukan ahli sejarah, bukan lulusan ilmu sejarah, dan enggak banyak-banyak banget baca buku sejarah, tapi seenggaknya banyak hal yang menurut gw ‘mengganjal’ dari film propaganda G30S/PKI 

Pertama, Pemilu 1955 yang katanya pemilu paling demokratis, menghasilkan empat partai politik yang menjadi pemenang. Keempat partai politik tersebut ialah PNI, NU, Masyumi, dan PKI. PNI akhirnya pecah akibat masalah internal partai. Sedangkan Masyumi dibubarkan akibat peristiwa PRRI/SEMESTA dan NU kembali kejalur dakwah. Praktis saat itu hanya PKI yang menjadi satu-satunya partai politik pemenang pemilu 1955 yang bertahan. Alhasil, Presiden Soekarno mendekat ke PKI untuk mendapatkan dukungan politik. Kemudian pertanyaannya jadi seperti ini: kalau PKI dekat dengan Soekarno, mengapa ia harus membunuh perwira TNI AD dan berupaya mengkudeta Soekarno? Sebagai organisasi politik yang dekat dengan orang nomor satu Negara, untuk apa PKI menusuk Presiden Soekarno dari belakang? Toh kan PKI sudah dapat tempat disebelah sisi Presiden Soekarno.

Kedua, rahasia SUPERSEMAR yang belum terbongkar hingga hari ini masih menjadi misteri. Sejarah itu bisa dibuat oleh penguasa dan setiap orang bisa saja menuliskan sejarah dan membanggakan dirinya sendiri. Tapi ada poin-poin penting yang selalu menjadi fakta sejarah sebelum adanya interpretasi. SUPERSEMAR adalah fakta sejarah, unchanging truth. Jika selamanya tidak kita ketahui kebenaran SUPERSEMAR, selamanyalah kita hanya menerka sejarah dari hubungan antara peristiwa dalam sejarah.

Ketiga, tentunya bagian ini yang paling panjang sehingga baru akan terdapat kesimpulan di akhir,
terlepas salah-benar, tepat-tidak tepat, tapi menurut gw ideologi marxisme yang diinisasi oleh Karl Marx memiliki kelebihan dibanding perspektif lainnya, seperti pendekatan sejarah dalam analisa ekonomi (kemudian disebut sebagai ilmu ekonomi sejarah), analisa hubungan aktor borjuis-proleter, revolusi sosial, dan penggalangan kekuatan masyarakat termarjinalkan seperti buruh.
Pendekatan sejarah dalam ilmu ekonomi misalnya,tidak sedikit aliran pemikiran ekonomi yang menggunakan instrument ini di Indonesia. Ada beberapa contoh: pertama pemikiran pandangan the founding fathers, Soekarno dan Hatta, dalam menganalisa dan merumuskan konsep kebangsaan. Soekarno, merumuskan sosio-demokrasi (demokrasi politik disertai dengan demokrasi ekonomi) dan sosio-nasionalisme (semangat nasionalisme disertai dengan rasa cinta dan kemanusiaan). Sedangkan Hatta (1933), mengemukakan secara spesifik mengenai struktur sosial di jaman kolonial Belanda dan merumuskannya menjadi tujuan kemerdekaan bangsa. Adapun komponen pokok dalam pandangan ekonomi bung Hatta ialah: (1) diversifikasi produksi untuk menghilangkan ketergantungan atas ekspor bahan-bahan mentah primer, (2) perkembangan ekonomi dan kemakmuran yang merata, dan (3) pengalihan dominasi penguasaan usaha-usaha ekonomi dari tangan pihak asing dan golongan non-pribumi ke tangan pribumi Indonesia.
Pendekatan sejarah dalam ilmu ekonomi ini juga kembali digunakan oleh pemikir-pemikir ekonomi di Indonesia,seperti pemikir ekonomi strukturalis (Prof. Sritua Arief), ekonomi pancasila (Prof. Mubyarto). Baik Soekarno, Hatta, Sritua Arief, dan Mubyarto, kesemuanya memperlihatkan kepincangan masyarakat pada masa kolonial. Ada hubungan antara kaum elit pribumi dengan kompeni. Hubungan keduanya dalam memaksa dan mengesploitasi masyarakat bawah menanam, bercocok-tanam, bekerja untuk kepentingan mereka. Ini dibuktikan antara lain dala bentuk menurunnya tingkat upah riil buruh, menurunnya tingkat tukar petani kecil, semakin banyaknya petani tidak bertanah, dan semakin tingginya tingkat pengangguran. Produk lokal (saat itu seperti cengkeh, rempah-rempah, dsb) dipaksakan mengikuti kebutuhan penjajah dan dihargai relatif rendah. Sedangkan produk penjajah dihargai relatif lebih mahal.

Setelah PKI tiada
Penuntasan PKI (baca: pembunuhan massal pendukung PKI) tidak hanya berakhir pada TAP MPR No.XXV/MPRS/1966 tentang pembubaran PKI dan larangan setiap kegiatan menyebarkan atau mengembangkan faham atau ajaran Komunisme/Marxisme-Leninisme, tapi juga menggantikan orde lama dengan orde baru. Pemberantasan PKI dan kisah heroik Jendral Soeharto memberantas PKI, menempatkan pak Harto sebagai Presiden kedua Indonesia.

Orde baru, katanya, menjadikan ekonomi sebagai panglima. Terlebih di akhir tahun orde lama terjadi inflasi besar-besaran. Banyak pihak yang menilai orde lama lebih menjadikan politik sebagai panglima. Kharisma bung Karno memudar ketika masyarakat mendesak kebutuhan ekonomi. Alhasil, yang dilakukan segera oleh pemerintahan orde baru setelah naik ialah menerbitkan UU Penanaman Modal Asing (UU PMA) tahun 1967. Setahun kemudian barulah terbit UU Penanaman Modal Dalam Negeri (UU PMDN). Tidak sedikit pihak yang menilai bahwa dengan UU PMA yang diterbitkan lebih dahulu dibandingkan UU PMDN menjadikan pemerintah orde baru lebih pro-asing dibanding pro-rakyat. Kebutuhan hari itu memang tidak kuatnya modal dalam negeri dalam membiayai kebutuhan pembangunan nasional, sehingga pembangunan dilakukan dengan rangsangan modal asing. Alasan ini awalnya mungkin bisa kita terima, tapi nyatanya makin lama makin kebablasan (bahkan hingga hari ini).

Kebablasan modal asing dalam orde baru ini tidak hanya berupa investasi langsung maupun tidak langsung, tapi juga dalam bentuk bantuan dan hutang luar negeri. Pertama kita bahas tentang investasi asing terlebih dahulu. Pertanyaannya seperti ini, benarkan investasi asing yang didapatkan dengan ‘cuma-cuma’ menguntungkan pembangunan nasional? Ternyata tidak juga! Mengapa? Oke, analoginya seperti ini: ada dua orang si A dan si B. Si A memiliki modal sedangkan B tidak punya modal namun memiliki potensi usaha. Alhasil B mendapatkan modal untuk menjalankan usahanya dari si A. Tentu hasilnya, dengan perandaian bahwa produk si B akhirnya terjual semua, si B dapat menjalankan usaha dan mendapatkan keuntungan. Tapi, perlu diingat, tidak ada orang yang secara cuma-cuma memberikan modal kepada orang lain untuk bantuan usaha. Artinya akan terdapat keuntungan yang akan diperoleh si  A dari pemberian modalnya ke si B untuk menjalankan usahanya.

Analogi di atas, gw pikir sama dengan analogi investasi asing di dalam negeri. Tentu perekonomian domestik memiliki keuntungan setelah datang investasi asing, seperti pembukaan lapangan kerja, terserapnya tenaga kerja, penambahan produk nasional, dsb. Tapi harus diingat pula, bahwa pihak pemberi modal akan mendapatkan keuntungan pula, yang mana keuntungan ini belum tentu akan dihabiskan didalam negeri. Jadi sangat amat memungkinkan sekali perusahaan asing yang bercokol di Indonesia membawa keuntungannya keluar negeri. Artinya investasi asing yang masuk akan diikuti dengan terepatriasinya keuntungan diluar negeri. Kesimpulannya, kalau ingin menghitung berapa besar keuntungan dari investasi asing, kita tidak hanya bisa melihatnya dari seberapa besar modal asing yang masuk membantu pembangunan, tapi juga harus membandingkannya dengan seberapa besar uang yang akhirnya dibawa keluar negeri.

Kedua, tentang hutang luar negeri.  Masih ingat kata-kata “Go to hell with your aid!” oleh bung Karno yang marah dengan prilaku IMF ditanah air? Mungkin orasi bung Karno itu harus kita jawab dengan “Yes, we’re going to hell now”. Bung Karno bukan marah tanpa sebab, tapi ada unsur politik dalam bantuan dan hutang luar negeri yang waktu itu ditawarkan oleh IMF. Tidak ada Negara yang cuma-cuma memberikan bantuan kepada Negara lain. Ada unsur politik. Unsur politik inilah yang tidak teramati secara eksakta dalam hitungan ekonomi. Pernyataan bahwa tidak masalah berhutang asal dapat dibayar tentunya menyesatkan. Mengapa menyesatkan? Pertama pendekatan yang digunakan untuk melihat kemampuan membayar berdasarkan GDP, kedua persoalan hutan tidak bisa direduksi hanya sebagai persoalan keuangan dan manajemen belaka, namun pula mereduksi keberadaan pemerintah sebagai institutsi politik yang musti mempertanggungjawabkan keputusannya kepada khalayak ramai, dan ketiga unsur politik yang telah dijelaskan sebelumnya.

Kita enggak bisa lihat orang bule setulus dan seputih kulitnya. Apalagi dalam era globalisasi, mana ada makan gratis? (brief definition of economics: there is no free lunch, adalah kata-kata nabi neoliberalisme, Milton Friedman). Sangat panjang kalau kita bahas tentang bahayanya hutang dan brengseknya pemberi hutang. Satu contoh saja yang saya berikan dalam tulisan ini. Diperkirakan 30 persen hingga 33 persen pinjaman dari WB merupakan hasil perbuatan yang sengaja meninggikan nilai pinjaman sehingga nilai nomonalnya berada 30 persen hingga 33 persen di atas nilai riilnya (Winters, 1999). Artinya apa? Proses mark-up bukan hanya sering dilakukan oleh masyarakat Indonesia, tapi juga juga prilaku pemberi hutang luar negeri di Indonesia. Mungkin ini yang namanya karma ya.

Ketiga, selain investasi asing yang kebablasan dan hutang luar negeri, ciri lain dari pembangunan orde baru adalah nafsunya mengejar pertumbuhan ekonomi. Asumsinya distribusi pendapatan akan mengikuti pertumbuhan ekonomi, bukan distribusi pendapatan bersamaan dengan pertumbuhan ekonomi. Pertanyaannya  kemudian ialah: apakah tempat mengejar pertumbuhan ekonomi yang di ukur melalui GDP? Jawabannya tepat, tapi tetap tidak boleh mendewakan GDP karena masih terdapat aspek yang tidak terhitung dalam GDP. Seperti misalnya hutang luar negeri, apakah pantas Negara pemberi hutang dan Negara penerima hutang duduk bersama sebagai satu kasta hanya karena ukuran GDP-nya sama-sama besar? Ada ukuran lain yang kiranya mungkin dapat digunakan untuk mengukur pertumbuhan ekonomi berdasarkan hutang luar negeri tersebut, berikut rumusannya (Kashliwal, 1995).
NI= GDP – (B+K+P+A)
NI : Pendapatan nasional dalam harga pasar
B : Pembayaran hutang luar negeri
K : Keuntungan yang diangkut oleh investor asing ke luar negeri
P : Penyusutan
A : Pembayaran cicilan pokok hutang luar negeri

Terakhir dan yang menurutku paling penting sekaligus memberikan maksud membuat tulisan ini. Penuntasan PKI dan paham komunisme menurutku malah menjadikan perdebatan ideologis dan intelektual tidak berkembang. Justru pemikiran lebih banyak terputar dalam paham kapitalisme semata. Hal ini kemudian memarjinalkan pemikir-pemikir strukturalis, komunisme, sosialisme, dan apapun isme-isme lainnya. Padahal pemikiran-pemikiran itulah yang dapat menjadi anti-thesis dan melahirkan thesis baru ‘asli’ milik bangsa ini. Hebatnya para pendiri bangsa ini menurutku ialah mereka pelajari betul-betul ideologi (sehingga menjadikan mereka begitu ideologis, bukan populis) tapi tetap dapat berkompromi dan moderat dengan paham ideologi lainnya dalam merumuskan bangsa dan Negara ini. Sekali lagi aku contohkan bung Karno yang pada umur 25 tahun menuliskan tulisan klasiknya “Nasionalisme, Islamisme, dan Marxisme” sebagai suatu mahakarya dan titik-tolak pemikiran bung Karno membangun bangsa ini dikemudian hari. Atau seberapa hebatnya Ki Bagus Hadikusumo & KHA Kahar Mudzakir (Muhammadiyah), Abi Kusno Cokrosuyoso (SI), A.Rahman Baswedan (Partai Arab Indonesia), A. Subardjo (Masyumi), H. Agus Salim & A. Wahid Hasjim (NU) yang membuang Piagam Jakarta dari UUD’45 agar bangsa kita yang heterogen dalam asal-usul mereka itu dapat bergabung ke dalam pangkuan Republik Indonesia. Oh my God, mungkin inilah maksud semboyan Bhinneka Tunggal Ika, beraneka-ragam ideologi bersatu membentuk Indonesia.

Inilah menurutku yang paling mengharukan dari pembasmian PKI dengan paham komunismenya. Tidak banyak warna yang menjadikannya indah. Memang PKI enggak baik-baik amat juga, beberapa kali tingkah lakunya enggak benar (pendapat seorang teman yang secara objektif kesal dengan tingkah laku PKI), tapi ketiadaan PKI justru membangkitkan paham kapitalisme, menurunnya kualitas perdebatan konstruktif antar ideologi, dan menyingkirkan paham-paham lainnya. Kita jadi lebih percaya dengan ajaran bangsa lain dibandingkan berpikir dengan bangsa ini. Kita lebih senang menolak sesuatu secepat mungkin tanpa menelusurinya lebih jauh terlebih dahulu.

Beriringankah Kebijakan Fiskal dan Moneter Indonesia?

Perdebatan wacana intelektual antara kaum Keynesian dan Monetaris merupakan salah satu perdebatan paling menarik dalam ilmu ekonomi (selain perdebatan menarik lainnya seperti perdebatan antara Adam Smith vs Karl Marx, Effisiensi vs Distribusi, Nasionalisme vs Liberalisasi, Proteksi vs Free Trade, dsb). Kaum Keynesian, mereka yang percaya dan terus memperbarui teori-teori John Maynard Keynes (bapak ilmu ekonomi modern), mempercayai bahwa perekonomian cenderung berada dalam posisi keseimbangan output rendah. Hal ini dikarenakan pengeluaran agregat lebih kecil dibandingkan pengeluaran agregat dan kurang ampuhnya mekanisme pasar untuk melakukan penyesuaian. Sedangkan mereka yang berada sebagai kaum monetaris, adalah pengikut ajaran Milton Friedman (peraih nobel bidang ekonomi tahun 1976 dan pelopor neoliberalisme). Kaum Monetaris percaya bahwasanya perekonomian cenderung seimbang dan sumber daya digunakan penuh. Kepercayaan kaum Monetaris ini didasarkan pada kepercayaan bahwa terdapat kekuatan pasar yang tidak diikut-sertakan dalam model Keynesian, yakni turunnya suku bunga akan mendorong investasi dan turunnya tingkat harga akan mendorong konsumsi melalui pigou effect. Agar lebih mudah dimengerti, berikut saya tampilkan perbedaan-perbedaan perspektif mendasar antara kaum Keynesian dan Monetaris.

TABEL I PERBEDAAN PERSPEKTIF KAUM KEYNESIAN & MONETARIS
Komponen Perbedaan
Keynesian
Monetaris
Pertumbuhan ekonomi
Dilakukan melalui kebijakan fiskal
Dilakukan melalui kebijakan moneter
Fluktuasi
Terjadi akibat perubahan dalam faktor-faktor dalam GDP.
Terjadi akibat pelonjakan dalam jumlah uang yang beredar.
Inflasi
Terjadi karena pengeluaran agregat lebih besar
Terjadi karena jumlah uang beredar terlalu banyak
Perubahan dalam jumlah uang beredar
Tidak mempengaruhi tingkat dan suku bunga, pengaruhnya kecil bagi PDB
Mempengaruhi tingkat suku bunga, pengaruhnya besar bagi PDB
Konsentrasi waktu
Jangka pendek
Jangka panjang
Pasar tenaga kerja
Lebih banyak mengabaikan pasar tenaga kerja
Memperhatikan kembali pasar tenaga kerja

Perdebatan keduanya tentunya mempengaruhi wacana intelektual dan aktor yang berperan sebagai decision makers. Keduanya pernah mengenyam kemenangan sendiri-sendiri. Teori Keynes terbukti ampuh menanggulangi depresi tahun 1930an dan Kaum Monetaris sempat berjaya pada tahun 1970an.

Mana yang lebih baik? Tentunya akan sangat tergantung dari apa justifikasinya dan bagaimana kondisinya. Misalnya, contoh kasus pertama, ketika suku bunga rendah, masyarakat akan memegang jumlah uang lebih banyak (jumlah uang beredar naik), maka akan terjadi inflasi. Tentunya yang harus dilakukan adalah mengandalkan kebijakan moneter untuk meningkatkan suku bunga agar mengurangi jumlah uang beredar, sehingga hasilnya dapat menurunkan tingkat inflasi dan harga mencapai titik keseimbangannya kembali (dapat dilihat dengan menggunakan pisau analisis kurva IS-LM). Contoh kasus lainnya ialah ketika jumlah produksi pangan lebih banyak dibandingkan permintaan agregat. Kasus ini akan menyebabkan harga komoditas pangan menjadi turun dan dapat menyebabkan petani merugi. Dalam kasus ini yang harus dilakukan adalah melalukan kebijakan fiskal seperti misalnya memaksimalkan peranan bulog sebagai buffer stock untuk menjaga keseimbangan kurva penawaran-permintaan sehingga harga kembali menjadi stabil dan tidak memberatkan petani.

Perlu diingat kembali bahwa kebijakan moneter dan fiskal bukan seperti memilih mana yang lebih buruk antara terlalu banyak merokok yang dapat menyebabkan impotensi atau terlalu banyak memakan nasi (karbohidrat) yang dapat menyebabkan penyakit gula. Tidak merokok kadang menyebabkan sulit berkonsentrasi, tidak makan nasi menyebabkan kekurangan energi. Yang paling baik adalah setelah makan nasi dilanjutkan merokok, sehingga kelebihan energi tidak menyebabkan sulit berkonsentrasi (perlu diingat ini bukan analogi yang baik!).

Dalam problematika krisis ekonomi, baik kebijakan fiskal maupun moneter, keduanya tentu harus berperan saling mendukung dan tidak tumpang tindih.

Kebijakan Moneter & Fiskal Indonesia per-September 2013
Black September! Bayang-bayang inilah yang menghantui perekonomian nasional pada bulan September 2013. Ketidakmampuan produsen pangan lokal mencukupi kebutuhan pangan, labilnya nilai tukar rupiah terhadap dollar, dan membengkaknya defisit neraca perdagangan adalah rententan masalah yang memiliki keterkaitan antar masing-masing variabel. Problematika ini ditanggapi dengan kebijakan moneter dan kebijakan fiskal. Kebijakan moneter menjadi kewenangan Bank Indonesia. Sedangkan kebijakan fiskal menjadi kewenangan lembaga eksekutif. Berikut ini saya tampilkan perkembangan kebijakan (baik moneter maupun fiskal) yang ditempuh selama bulan Juni hingga September 2013 dalam merespon masalah dan ancaman krisis ekonomi.

TABEL II PERKEMBANGAN KEBIJAKSANAAN EKONOMI SELAMA BULAN JUNI-SEPTEMBER 2013
Tanggal
Masalah yang berkembang
Kebijakan
Rasionalisasi
13 Juni 2013
Desakan pencabutan Subsidi BBM
Kenaikan BI Rate sebesar 25 bps menjadi 6%
Ekspektasi inflasi dari rencana kebijakan subsidi BBM dan stabilitas sisem kuangan ditengah ketidakpastian di pasar keuangan global
22 Juni 2013
Membengkaknya defisit primer APBN
Mencabut subsidi BBM
Impor BBM semakin memberatkan APBN
11 Juli 2013
Inflasi bulan Juli 2013
Kenaikan BI Rate sebesar 50 bps menjadi 6,5%.
Memasikan inflasi yang meningkat pasca kenaikan BBM bersubsidi
25 Juli 2013
Food volatile inflation menjelang hari raya Iedul Fitri 1434 H
Membuka keran impor kebutuhan pangan, seperti daging
Menyeimbangan kurva penawaran dan permintaan
23 Agustus 2013
Mencegah krisis ekonomi, menyusul terjadinya kemerositan nilai tukar rupiah dan IHSG di BEI
Pengeluaran empat paket kebijakan pemerintah, yaitu:
 (1) memperbaiki defisit transaksi berjalan dan nilai tukar rupiah,
(2) menjaga pertumbuhan ekonomi,
(3)menjaga daya beli,
(4) mempercepat investasi
Dilakukan untuk menjaga pertumbuhan ekonomi Indonesia dan meminimalisir dampak guncangan ekonomi
29 Agustus 2013
Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar
Kenaikan BI Rate sebesar 50 bps menjadi 7%
Menguatkan nilai tukar rupiah terhadap dollar
12 September 2013
Langkah lanjutan untuk pengendalian inflasi, stabilitas nilai tukar rupiah, dan penyesuaian terhadap defisit transaksi
Kenaikan BI Rte sebesar 25 bps menjadi 7,25%
Ketidakpastian global yang masih tinggi memberikan tekanan terhadap ekonomi Indonesia
Sumber: Rekapitulasi Statement Kebijakan Moneter BI dan Kebijakan Pemerintah Juni-September 2013

Dari tabel II, kita bisa interpretasikan bahwa BI lebih responsif menanggapi masalah ancaman krisis. Dari bulan juni hingga September, BI telah menaikkan BI Rate sebanyak 125 bps! Tentunya ini menunjukkan bahwa kebijakan moneter sekarang lebih reaktif dan tidak kaku. Hal ini berbeda dengan kebijakan fiskal yang ditempuh oleh pemerintah, selama empat bulan terlihat pemerintah eksekutif ‘hanya’ bergerak mencabut subsidi BBM dengan segala urusan pembagian BLSM-nya dan mengeluarkan empat paket kebijakan pemerintah dalam merespon ancaman krisis. Bahkan untuk paket kebijakan saja, selain dampaknya tidak terasa dalam jangka pendek, kerjanya pun juga lama! Terhitung membutuhkan satu bulan sejak kebijakan tersebut dikeluarkan untuk menyusun tim dan menentukan indikator keberhasilannya. Pekerjaan pemerintah eksekutif lebih banyak berkutat pada penyesuaian stabilisasi harga komoditas dengan menggunakan rumusan impor ditengah melemahnya nilai tukar rupiah.

Kebijakan moneter seperti kenaikan BI Rate sebenarnya lebih ampuh untuk menekan pelemahan rupiah dengan menguatkan nilai nominal rupiah, tapi tidak akan cukup ampuh menghadapi masalah ketergantungan impor. Ketergantungan impor ini disebabkan dari kurangnya pasokan dalam negeri, seperti kebutuhan input produksi industri dan komoditas pangan. Selama masih tingginya akan kebutuhan impor, selamanya diharuskan membayar dengan dollar, dan selama itu pulalah kebutuhan mengeluarkan mata uang dalam bentuk dollar tetap banyak.

Meningkatnya BI Rate dapat menyebabkan bank menaikkan suku bunganya. Hal ini akan memberatkan produsen lokal, baik pengusaha yang bekerja di jasa keuangan dan UMKM, untuk memperoleh modal kerja dan meningkatkan kinerja. Hasilnya memungkinan sektor riil bergerak semakin lambat dan tidak bergerak. Ketika sektor riil tidak bergerak, sulit rasanya mengharapkan adanya pengurangan ketergantungan akan komoditas impor dan meningkatkan kemampuan ekspor nasional.

Bentuk kesalahan fatal dalam kebijakan publik adalah error type III, yakni salah dalam menemukan masalah inti hingga kemudian salah mengeluarkan solusi kebijakan dan hasilnya justru menimbulkan masalah baru. Masalah penurunan ekspor dan ketergantungan impor bukan diselesaikan dengan meningkatan nilai nominal rupiah hingga meringankan biaya pembayaran. Langkah ini dampaknya minim! Yang seharusnya dilakukan ialah lebih banyak mengutak-atik dan mempercepat kebijakan fiskal pro-produsen domestik guna mencukupi permintaan efektif domestik maupun meningkatan produktivitas ekspor.

Baik atau buruk, kita harus tetap apresiasi langkah-langkah yang dilakukan oleh BI. Walaupun belum tentu tindakannya menyelesaikan masalah inti, tapi BI bergerak lebih cepat dan responsif. Sementara pemerintah pemerintah bergerak lebih lambat dan kadang kala terlambat (seperti kasus subsidi BBM). Teori bahwa kebijakan fiskal berdampak dalam jangka pendek dan kebijakan moneter untuk jangka panjang tidak berlaku dalam problematika nasional sekarang. Kebijakan fiskal yang dipimpin oleh pemerintah justru berjalan lebih lambat dan mementingkan urusan jangka panjang. Hal ini berkebalikan dengan kebijakan moneter yang dipimpin oleh BI dalam aktivitasnya selama bulan Juni-September 2013.

Sumber gambar: http://www.debtonation.org/topics/keynes/

Saya jelaskan di awal tentang kaum Keynesian dan Monetaris. Hal ini untuk menunjukkan bahwasanya dalam kondisi sekarang, kebijakan moneter ala kaum Monetaris bergerak lebih cepat dibandingkan dengan kebijakan fiskal. Apakah kita sudah terjebak dalam arus pikiran neolib sehingga lebih banyak mengandalkan kebijakan moneter? Dan semakin terjebak dalam paradigma neolib, bahwa pemerintah terbaik adalah tidak melakukan apa-apa dalam urusan ekonomi (?).

Mudah-mudahan tidak…

Semoga Semoga bangsa ini dapat berpikir cerdas, bahwa solusi terbaik bukanlah hanya mengandalkan kebijakan moneter saja. Tapi pertemuan antara kebijakan moneter dan fiskal yang saling mendukung dalam menyelesaikan inti masalah.

Semoga prilaku pemerintah dengan kebijakan fiskalnya tidak konsisten hingga akhir tahun: bergerak lambat, dampak kebijaksanaan tidak secepat masalah yang terus berkembang, dan lebih sibuk untuk urusan politik dibanding problematika ekonomi nasional yang pelik.