Sabtu, 14 November 2009

Jendral Soedirman

BIODATA SINGKAT
Nama : Jenderal Sudirman
Lahir : Bodas Karangjati, Purbalingga, 24 Januari 1916
Agama : Islam
Meninggal : Magelang, 29 Januari 1950
Dimakamkan: Taman Makam Pahlawan Semaki, Yogyakarta

Pendidikan Fomal:
- Sekolah Taman Siswa
- HIK Muhammadiyah, Solo (tidak tamat)

Pendidikan Tentara:
Pembela Tanah Air (Peta) di Bogor

Pengalaman Pekerjaan:
Guru di HIS Muhammadiyah di Cilacap

Pengalaman Organisasi:
Kepanduan Hizbul Wathan

Jabatan di Militer:
- Panglima Besar TKR/TNI, dengan pangkat Jenderal
- Panglima Divisi V/Banyumas, dengan pangkat Kolonel
- Komandan Batalyon di Kroya

Tanda Penghormatan: Pahlawan Pembela Kemerdekaan

_______________________________________________________________________

SEJARAH SINGKAT
Jenderal Sudirman merupakan salah satu tokoh besar di antara sedikit orang lainnya yang pernah dilahirkan oleh suatu revolusi. Saat usianya masih 31 tahun ia sudah menjadi seorang jenderal. Meski menderita sakit paru-paru yang parah, ia tetap bergerilya melawan Belanda. Ia berlatarbelakang seorang guru HIS Muhammadiyah di Cilacap dan giat di kepanduan Hizbul Wathan.



Ketika pendudukan Jepang, ia masuk tentara Pembela Tanah Air (Peta) di Bogor yang begitu tamat pendidikan, langsung menjadi Komandan Batalyon di Kroya. Menjadi Panglima Divisi V/Banyumas sesudah TKR terbentuk, dan akhirnya terpilih menjadi Panglima Angkatan Perang Republik Indonesia (Panglima TNI). Ia merupakan Pahlawan Pembela Kemerdekaan yang tidak perduli pada keadaan dirinya sendiri demi mempertahankan Republik Indonesia yang dicintainya. Ia tercatat sebagai Panglima sekaligus Jenderal pertama dan termuda Republik ini.

Sudirman merupakan salah satu pejuang dan pemimpin teladan bangsa ini. Pribadinya teguh pada prinsip dan keyakinan, selalu mengedepankan kepentingan masyarakat banyak dan bangsa di atas kepentingan pribadinya. Ia selalu konsisten dan konsekuen dalam membela kepentingan tanah air, bangsa, dan negara. Hal ini boleh dilihat ketika Agresi Militer II Belanda. Ia yang dalam keadaan lemah karena sakit tetap bertekad ikut terjun bergerilya walaupun harus ditandu. Dalam keadaan sakit, ia memimpin dan memberi semangat pada prajuritnya untuk melakukan perlawanan terhadap Belanda. Itulah sebabnya kenapa ia disebut sebagai salah satu tokoh besar yang dilahirkan oleh revolusi negeri ini.

Sudirman yang dilahirkan di Bodas Karangjati, Purbalingga, 24 Januari 1916, ini memperoleh pendidikan formal dari Sekolah Taman Siswa, sebuah sekolah yang terkenal berjiwa nasional yang tinggi. Kemudian ia melanjut ke HIK (sekolah guru) Muhammadiyah, Solo tapi tidak sampai tamat. Sudirman muda yang terkenal disiplin dan giat di organisasi Pramuka Hizbul Wathan ini kemudian menjadi guru di sekolah HIS Muhammadiyah di Cilacap. Kedisiplinan, jiwa pendidik dan kepanduan itulah kemudian bekal pribadinya hingga bisa menjadi pemimpin tertinggi Angkatan Perang.

Sementara pendidikan militer diawalinya dengan mengikuti pendidikan tentara Pembela Tanah Air (Peta) di Bogor. Setelah selesai pendidikan, ia diangkat menjadi Komandan Batalyon di Kroya. Ketika itu, pria yang memiliki sikap tegas ini sering memprotes tindakan tentara Jepang yang berbuat sewenang-wenang dan bertindak kasar terhadap anak buahnya. Karena sikap tegasnya itu, suatu kali dirinya hampir saja dibunuh oleh tentara Jepang.

Setelah Indonesia merdeka, dalam suatu pertempuran dengan pasukan Jepang, ia berhasil merebut senjata pasukan Jepang di Banyumas. Itulah jasa pertamanya sebagai tentara pasca kemerdekaan Indonesia. Sesudah Tentara Keamanan Rakyat (TKR) terbentuk, ia kemudian diangkat menjadi Panglima Divisi V/Banyumas dengan pangkat Kolonel. Dan melalui Konferensi TKR tanggal 2 Nopember 1945, ia terpilih menjadi Panglima Besar TKR/Panglima Angkatan Perang Republik Indonesia. Selanjutnya pada tanggal 18 Desember 1945, pangkat Jenderal diberikan padanya lewat pelantikan Presiden. Jadi ia memperoleh pangkat Jenderal tidak melalui Akademi Militer atau pendidikan tinggi lainnya sebagaimana lazimnya, tapi karena prestasinya.

Ketika pasukan sekutu datang ke Indonesia dengan alasan untuk melucuti tentara Jepang, ternyata tentara Belanda ikut dibonceng. Karenanya, TKR akhirnya terlibat pertempuran dengan tentara sekutu. Demikianlah pada Desember 1945, pasukan TKR yang dipimpin oleh Sudirman terlibat pertempuran melawan tentara Inggris di Ambarawa. Dan pada tanggal 12 Desember tahun yang sama, dilancarkanlah serangan serentak terhadap semua kedudukan Inggris. Pertempuran yang berkobar selama lima hari itu akhirnya memaksa pasukan Inggris mengundurkan diri ke Semarang.

Pada saat pasukan Belanda kembali melakukan agresinya atau yang lebih dikenal dengan Agresi Militer II Belanda, Ibukota Negara RI berada di Yogyakarta sebab Kota Jakarta sebelumnya sudah dikuasai. Jenderal Sudirman yang saat itu berada di Yogyakarta sedang sakit. Keadaannya sangat lemah akibat paru-parunya yang hanya tingggal satu yang berfungsi.

Dalam Agresi Militer II Belanda itu, Yogyakarta pun kemudian berhasil dikuasai Belanda. Bung Karno dan Bung Hatta serta beberapa anggota kabinet juga sudah ditawan. Melihat keadaan itu, walaupun Presiden Soekarno sebelumnya telah menganjurkannya untuk tetap tinggal dalam kota untuk melakukan perawatan. Namun anjuran itu tidak bisa dipenuhinya karena dorongan hatinya untuk melakukan perlawanan pada Belanda serta mengingat akan tanggungjawabnya sebagai pemimpin tentara.

Maka dengan ditandu, ia berangkat memimpin pasukan untuk melakukan perang gerilya. Kurang lebih selama tujuh bulan ia berpindah-pindah dari hutan yang satu ke hutan yang lain, dari gunung ke gunung dalam keadaan sakit dan lemah sekali sementara obat juga hampir-hampir tidak ada. Tapi kepada pasukannya ia selalu memberi semangat dan petunjuk seakan dia sendiri tidak merasakan penyakitnya. Namun akhirnya ia harus pulang dari medan gerilya, ia tidak bisa lagi memimpin Angkatan Perang secara langsung, tapi pemikirannya selalu dibutuhkan.

Sudirman yang pada masa pendudukan Jepang menjadi anggota Badan Pengurus Makanan Rakyat dan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Keresidenan Banyumas, ini pernah mendirikan koperasi untuk menolong rakyat dari bahaya kelaparan. Jenderal yang mempunyai jiwa sosial yang tinggi, ini akhirnya harus meninggal pada usia yang masih relatif muda, 34 tahun.

Pada tangal 29 Januari 1950, Panglima Besar ini meninggal dunia di Magelang dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Semaki, Yogyakarta. Ia dinobatkan sebagai Pahlawan Pembela Kemerdekaan.

Sumber : Mbah Wikipedia, Roro Google, dan Mas Kaskus

7 Keajaiban Dunia Kuno

1. Colossus Rodos
Colossus Rodos adalah patung Helios, yang terletak di pulau Rodos, Yunani, dibuat oleh Chares dari Lindos antara 292 dan 280 SM. Patung ini dianggap sebagai 7 keajaiban dunia kuno. Sebelum kehancurannya, patung ini berdiri lebih dari 30 meter, membuatnya sebagai patung tertinggi dalam dunia kuna. Colossus Rodos memiliki tinggi yang hampir sama dengan Patung Liberty.

Colossus Rodos

2. Taman Gantung Babilonia
Taman Gantung Babilonia adalah salah satu di antara tujuh keajaiban dunia kuno. Taman ini dibangun oleh Nebukadnezar II sekitar tahun 600 SM sebagai hadiah untuk istrinya, Amyitis. Lokasi taman ini sekarang berada di negara Irak.

Taman Gantung Babilonia

3. Mausoleum Maussollos
Mausoleum Maussollos atau Mausoleum Halicarnassus, adalah makam yang dibangun antara 353 dan 350 SM di Halicarnassus (Bodrum, Turki kini) untuk Mausolus, satrap kekaisaran Persia dan Artemisia II dari Caria, istrinya. Struktur ini didesain oleh arsitek Yunani, Satyrus dan Pythius.[1][2] Mausoleum ini memiliki tinggi sekitar 45 meter.

Mausoleum Maussollos

4. Mercusuar Iskandariah
Mercusuar Iskandariah atau Pharos Alexandria (dari bahasa Yunani o Φάρος της Αλεξάνδρειας) adalah sebuah mercusuar yang dibangun pada abad ke-3 SM di pulau Pharos berdekatan dengan kota Iskandariah kuna, Mesir Kuno. Ketinggiannya diperkirakan melebihi 115 meter dan merupakan antara struktur tertinggi ciptaan manusia selama beratus-ratus tahun. Antipater dari Sidon telah menyenaraikannya dalam senarai Tujuh Keajaiban Dunianya.

Mercusuar Iskandariah

5. Piramida Agung Giza
Piramida Agung Giza adalah piramida tertua dan terbesar dari tiga piramida yang ada di Nekropolis Giza dan merupakan satu-satunya bangunan yang masih menjadi bagian dari Tujuh Keajaiban Dunia. Dipercaya bahwa piramida ini dibangun sebagai makam untuk firaun dinasti keempat Mesir, Khufu (Χεωψ, Cheops) dan dibangun selama lebih dari 20 tahun dan diperkirakan berlangsung pada sekitar tahun 2560 SM.[1] . Piramida ini terkadang disebut sebagai Piramida Khufu

Piramida Agung Giza

6. Patung Zeus
Patung Zeus di Olympia adalah salah satu dari Tujuh Keajaiban Dunia Kuno. Patung ini dibuat oleh skulptor terkenal, Phidias (abad ke-5 SM) kira-kira tahun 432 SM di Olympia, Yunani. Patung yang terduduk, yang memiliki tinggi sekitar 12 meter, mengisi seluruh Kuil Zeus yang dibangun sebagai rumah patung ini. Penyebab kehancuran patung ini hingga kini masih diperdebatkan.

Patung Zeus

7. Kuil Artemis

Kuil Artemis adalah kuil Yunani yang didirikan untuk Artemis, sekitar 550 SM di Efesus dibawah dinasti Achaemenid dari kekaisaran Persia. Kuil ini merupakan salah satu dari tujuh keajaiban dunia kuno. Kini, kuil ini telah hancur.

Kuil Artemis

Jumat, 13 November 2009

Permainan Sastra yang Menyenangkan di PSIK - ITB

Produktivitas gw di kampus akhir2 ini benar2 turun. Emang sih, itu jadi pilihan gw karena belum lulus TPB dan sedang mengikuti SWASTIKA (baca : osjur planologi). Tapi lama kelamaan, gw mulai benar2 males buat main di kampus! Sampai2 gw paling lama di kampus selain buat osjur ya jam 7an, banyak deh alasan gw, mulai dari alasan belajar TPB, internet di kost-an yg baru ganti dan lebih cepet, punya game baru di komputer, dsb. Kerjaan gw itu sebenarnya cuman Panglima Internal ATLAS (atletik ganesha) dan KaDiv Propaganda Tim 1 ITB. Sebenarnya sih ngk sibuk2 amat, cuman mungkin rasa males gw yg berlebihan hingga gw males buat main2 di Kampus, bahkan buat nongkrong di Sunken Court w-09 aj udah rada jarang (paling mainnya siang).

Tapi lama ngk main di Kampus bener2 buat gw jadi bosan, gw mulai buat nongkrong lagi di Sekre PSIK-ITB, malemnya, Putu sms gw minta kunci sekre, karena emang paginya gw minta ke Teja buat nongkrong malem minggu. Yaudah aja, karena udah bosen juga main di kost-an, Jumat pukul 23.00- an WIB, gw ciao ke kampus.

Sampai di sekre PSIK, ada Putu, Johan, Dikdik, Teja, Intan, sama Ranti. Teja pulang duluan karena harus nganter Karin pulang. Sisa deh gw berenam. Awalnya, karena hujan, dan berniat menghangatkan badan, maka kami bakar-bakaran di PSIK (bener2 PSIK banget deh kalo bakar-bakaran di kampus, hahahaha), lama-lama si Dikdik punya permainan, jadi permainannya itu kayak berdiskusi dengan benda mati terus menghayati benda mati itu seperti apa! Gw merasa sulit banget di permainan ini, gw coba untuk menghayati kursi sebagai kekuasaan. Gw pakai puisi kata2 WS. Rendra di awal,"....ada yg duduk, ada yg diduduki...", tapi makin lama bibir gw mulai bergerak ke atas, dan gw ngk kuat menahan tawa gw, wuahahaha :)) jadilah gw tertawa dan gagal pada permainan ini, hehe. Yang keren itu si Putu, yg menghayati kalau kursi ini sudah bosan untuk terus menghadap ke depan dan tidak memperhatikan sisi2 lainnya, terakhir doi puter-balikan kursinya agar menghadap arah yg berbeda. Si Dikdik juga keren! Tapi lupa tentang apa, hehe, seinget gw keren aja, wuekekek

Bosan, ganti permainan kedua. Permainan kedua simpel, buat puisi! eitss tapi ada syaratnya, setiap orang yg main harus memberikan dua kata, satu kata api, dan kata satunya lagi keterangan. Setelah itu, dua kata tersebut digunakan untuk judul, dan kata2 yg disebutkan oleh teman2 lainnya harus jadi kata di puisi kita. ngerti kan?

Gw itu pakai kata API SEMANGAT, Johan TARIAN API, Putu API PADAM, Intan API MENYANYI, dan Dikdik API SURGA.
Berikut puisi gw,
Api Semangat

teruslah bernyanyi dan menari wahai api
teruslah bernyanyi, walau surga sedang menangis
menyanyi hingga suaramu serak
serak dan membuat dubai berteriak
teruslah menyanyi, walau matahari sedang padam
teruslah menyayi hingga sang timur menyapamu
bakar, bakar dan bakar!
buat orang-orang disekitarmu menari
menari, hingga mereka terlelap tidur
dan jaga mereka dari kesunyian


Ya, itulah puisi dari gw! Benar-benar malam yg seru, gw benar2 melepas kerinduan gw akan main di kampus, yaa gw senang malam itu, gw senang karena malam itu gw berkarya, thx teman2 PSIK-ITB!

*ditulis pukul 04.44 WIB, setelah pulang dari kampus

Rabu, 11 November 2009

KOKO MARTONO

Try not to become a man of success, but rather try to become a man of value
-Albert Einstain

Tiba2 gw merasakan 'hikmah' dari ngulang Kalkulus 1A, gw bertemu sama dosen yg bernama KOKO MARTONO, pas pertama ketemu sih gw ngeliat ini orang mirip pak Anzai, pelatih basketnya tim Shohoku, dengan pipinya yg lebar dan gw jadi pengen mainin pipinya yg melar itu kayak Hanamichi Sakuragi, hahahaha, itu pertemuan pertama! Pertemuan kedua, beuh! serem bener itu orang kalau udah marah, gokil! Tapi yaa... sebenarnya wajar kalau doi marah. Dosen yg bergelar Magister di ITB itu,itu tiba-tiba mulai keluar kata-kata emasnya, tapi kadang orang enggak sadar sama kata-kata dia, tapi kalo coba dipikir-pikir, sebenarnya kata-katanya itu berbobot!

Doi sering bilang, Jadilah manusia yg punya value! Itu kata-katanya Albert Einstain, dan sering juga ada kata-kata orang terkenal yg beliau pakai, kadang juga cerita tentang sejarah sampai hafal tahun-tahunnya, nilai-nilai kehidupan, motivasi buat kemajuan Indonesia, kritik bangsa ini tentang apa yg mahasiswanya harus benahi dikemudian hari, permainan angka dan logika, dan hal-hal lain yang sebenarnya kalau dipahami itu sangat bermanfaat buat orang-orang yg dengerin (walaupun terkadang sombong sih, tapi wajar sih, dosen ITB kebanyakan kayak gitu! ^^)

Ya, walaupun suka marah-marah, tapi itu wajar, karena emang kita (baca : mahasiswa) yg dalam posisi salah, misalnya lagi ngk fokus ke dia, berisik sendiri, masuk ke kelas terlambat, dsb. Wajarlah, buat dosen sepintar dia dan cara ngajar yg top kayak dia, pasti dia akan marah kalau diremehin sama orang.

Pak Koko pernah bilang kalau dia dosen paling top dan paling mahal di Republik ini, dan mau enggak mau, sekarang gw harus mengakui itu.
Ayo pak semangat ngajar! Biar saya bisa pinter dan lulus kalkulus, hehe

Ekskursi ke Cililin RW 02 & 03, Desa Kidang Pananjung (7,8 November 2009)

Tanggal 7,8 November kemarin, gw dan teman2 planologi 2008 sama HMP Pangripta loka ITB ekskursi ke Cililin, Desa Kidang Pananjung,yang termasuk rangkaian dari SWASTIKA. Hemm.. gw mau cerita, awalnya dimulai dari pukul 04.00, gw terbangun karena ada panggilan2 yg menyuruh gw untuk bangun pagi, dan siap2 ke kampus buat kumpul dulu satu angkatan di GKU Timur. Oke! Karena merasa bahwa Arnold dan Fazil sulit dibangunin, gw yg sulit dibangunin pula dan sedang tidur di rumah Andi, terdorong buat ke kost an mereka yg pas gw samperin baru bangun, ckckck, ya sudah, saat mereka siap2 gw jalan duluan sama Andi ke kampus. Sampe Kampus, ternyata gw baru tahu, kalo sebenernya ketua angkatan gw, Jeje, sebenernya udah dikasih tau sama panitia SWASTIKA kalo ternyata kumpulnya di undur 1 jam! Kumpulnya jam 07.00 WIB! Awalnya bete sih, tapi yaa gpp deh, daripada terlambat kumpul kayak hari sebelumnya yg terlambat 19 menit, GOKIL!

Kumpul, dimulai dengan makan di ITB, telefon orang tua (tiba2 nyokap gw nelefon gw, padahal gw males nelefon orang tua gw, wuahahaha), abis itu penyitaan pisau lipat gw karena termasuk barang yg tidak boleh di bawa, hehe, naik tronton, lalu berang-berang makan coklat, berangCUT! Awalnya sih di tronton rame, lama2 udah masuk tol malah diem, wuahahaha. Udah mulai dekat ke lokasi, ternyata trontonnya merasa ngk mungkin buat nanjak, padahal ma sebenernya biasa aja, trus gw langsung berpikiran, pantesan aja ABR* kita lemah, jalan nanjak aja udah ngk bisa ^^. Oke! Setelah itu kami harus berjalan dengan jalan nanjak yg sudut naiknya tuh hampir 500! Gw jadi ngk tega gitu ngeliat temen2 perempuan gw yg tepar di tengah jalan (PS : Besok2 olahraga yg bener yaa biar kuat jalan! ^^)

Sampai disana, kita makan siang bareng, trus kenalan sama penghuni rumah yg akan kita tinggalin (jadi kita tuh dibagi jadi beberapa kelompok, yg masing2 kelompok itu akan tidur dirumah warga sekalian observasi buat dibuat solusi praktisnya nanti saat kita dateng lagi ke Desa Cililin). Abis kenalan, ternyata, badan gw ngk bisa langsung dibawa santai abis di bawa jalan jauh/kerja keras, bawaannya pengen tidur aja, dan akhirnya, tertidurlah gw di sore hari saat orang2 sedang observasi (maaf ya kawan!)

Abis maghrib gw sama temen2 sekelompok gw, Tio, Picul, dan Derry, coba buat ngobrol2 sama pak RW, dan ternyata disitu ketemu sama teman2 planologi 2008 lainnya yg lagi wawancara sama pak RW. Abis itu, yaa.. gw balik ke rumah gw, ngobrol2 bareng pemilik rumah, diskusi bareng kelompok dan taplok gw yg ternyata doi senatornya HMP Pangripta Loka, kang Adit. Dan ternyata ngobrol2 gw ngk bisa dibilang ngk berguna, walau sore harinya gw ngk observasi, setelah gw denger diskusi teman2 sekelompok dan data yg memadai gw ambil kesimpulan kalau masalah utama di Kawasan itu adalah PENDIDIKAN! Dan tiba2 gw terbayang sama TABOO dan pengen buat RUMAH BACA di Desa itu. Entah kenapa ide itu lahir, dan gw benar2 pengen buat rumah baca disana.

Abis itu dipanggilah gw untuk materi informal malam hari bareng Atung sang pahlawan dan Fandi yg wakil ketua angkatan. Nanti gw ceritain dibawah, materi apa yg gw dapet!

Pagi harinya, gw bangun telat, walau sebenarnya jam 06.00an WIB itu termasuk waktu yg cukup pagi buat gw bangun (soalnya teman2 planologi 2008 sama HMP Pangripta Loka ITB-nya udah banyak yg nongkrong di warung rumah tinggal gw, hehe). Bangun pagi2, jalan2 keliling desa sebentar, ke ngobrol2 di rumah pak kades, trus muter2 sama TIM BARUDAK! Arnold, Fazil, Yunus, dan Yopan, buat cari tempat rumah baca yg gw usilin dan cari2 data urgensi rumah baca tersebut. Yaa sampai akhirnya gw udah mulai males, dan bantu2 penghuni rumah tinggal gw buat berberes rumah, dan setelah makan siang dan ngobrol2 sama taplok gw, gw berkemas buat pulang.

Tapi sebelum pulang, gw dan teman2 sekelompok gw dapat pesan juga dari kang Aditya. Sebenarnya benang merah, kesamaan! Dari apa yg gw dapet di materi informal bareng Atung dan Fandy sama pesan yg gw dapet dari materi informal. JANGAN TINGGALKAN HIMPUNAN!

Sorry tapi ngk bisa dilanjutin, pesan ini cuman bisa gw sampaikan sama teman2 planologi 2008 (kalau teman2 planologi 2008 yg udah gw ceritain pasti ngerti pesan dari kakak-kakak HMP Pangripta Loka yg dititipin ke gw ^^, dan semoga, kita (baca : planologi 2008) ngk akan ninggalin himpunan kalau kita udah masuk, AMIN, dan gw akan berusaha buat itu!)

Terima Kasih buat

ALLAH SWT, keluarga gw di Jakarta, HMP Pangripta Loka ITB yg udah kasih gw pesan, Pak Mamet dan Ibu yg udah kasih tumpangan tidur, Pak Kades Desa Kidang Pananjung, Pak RW, warga Desa Kidang Pananjung, dan keluarga baru gw, PLANOLOGI 2008, buat pengalamannya!

n.b: gw kayak terbitin album aja ya, wuahahahah =))

Senin, 19 Oktober 2009

Aksi (Menurut Karl Marx dan Engels)

Setelah gw baca-baca tentang buka Karl Marx dan Engels, maka gw mau bagi-bagi pengetahuan tentang aksi. Semoga bermanfaat ^^

Aksi adalah suatu gerakan perlawanan, merupakan bagian revolusi, atau tahap awal suatu revolusi. Aksi akan di akhiri oleh puncak yg disebut dengan Revolusi. Yaa.. revolusi tidak mungkin terjadi tanpa melalui proses aksi-aksi. Aksi harus dilakukan terus menerus, aksi yg satu berhasil harus dilanjutkan dengan aksi yg lainnya, aksi yg ringan harus dilanjutkan dengan aksi yg lebih berat, aksi yg kecil harus terus dilanjutkan dengan aksi yg lebih berat, dst. Itulah aksi, untuk mengubah keadaan dan proses menuju revolusi. Aksi lahir dari kandungan kehidupan sosial yg penuh konflik, baik konflik sosial,ekonomi, maupun konflik politik. Jenis-jenis aksi pun dibagi lagi oleh Karl Marx dan Engels,yaitu aksi parlementer yg bersifat damai dan diplomatis, dan aksi bersenjata yg memakai senjata untuk menundukkan lawan.

Aksi haruslah dilakukan dengan semangat, dipersiapkan dengan cermat untuk mematangkan situasi menuju revolusi. Sebelum melakukan aksi, aksi haruslah berpikir untuk sukses (menang) atau gagal (kalah). Tapi ingat teman-teman, walaupun aksi tersebut akan gagal (kalah), aksi harus terus dilakukan, karena aksi adalah proses latihan untuk menuju revolusi! Terlebih pihak lawan pasti memiliki kekuatan untuk mempertahankan diri dari perlawananan aksi, maka wajarlah apabila aksi kalah. Aksi memang boleh kalah kawan, tapi revolusi jangan kalah! Itulah pemikiran yg harus tertanam untuk menjadi revolusioner!

Kekuatan aksi di ukur melalui kuantitas dan kualitas. kualitas yaitu semangat,ketinggian serta ketahanan moral peserta aksi, dan materi dalam aksi tersebut. Sedangkan Kuantitas adalah jumlah massa yg ikut dalam aksi dan sarana yg lengkap. Tanpa massa tersebut, tidak akan ada aksi yg akan berjalan mencapai sasaran dan tuntuta. Jelas bahwa semakin banyak massa yg ikut, maka aksi tersebut akan semakin diperhatikan. Dalam aksi yg sudah terorganisir maka massa tersebut akan bergerak dengan kekuatan pelopor (terdiri dari basis yg tampil berani menghadapi resiko dan menanggung konsekuansi yg lebih berat bila hal-hal yg negatif terjadi. Kekuatan pelopor diperlukan untuk memulai aksi,menarik front, dan mendorong majunya aksi), kekuatan basis (seluruh massa kekuatan aksi), dan kekuatan inti (massa kekuatan basis yg tampl teguh dan tangguh! Kekuatan ini bisa di analogikan seperti tulang rangka bagi badan)

Aksi dibagi menjadi 2, yaitu aksi politik dan aksi sosial-ekonomi. Aksi sosial adalah aksi yg paling berat, karena aksi politik akan langsung berhadapan dengan pemerintah. Pemerintah bisa saja menangkap,memenjara, atau mungkin membunuh peserta aksi. Selain berat, aksi politik,jika berhasil pun tidak akan memberikan hasil yg konkret kepada para peserta aksi. Yang merasakan hasil kemenangan aksi adalah seluruh masyarakat dengan adanya perubahan keadaan politik. Sedangkan aksi sosial-ekonomi adalah aksi yg langsung menyangkut kepentingan sosial-ekonomi masyarakat. Aksi sosial-ekonomi ini hasilnya pun bisa di nikamati oleh peserta aksi, contoh aksi sosial ekonomi adalah aksi kenaikan upah kerja, tunjangan keluarga, dsb. Aksi sosial-ekonomi ini pun tidak akan langsung berhadapan dengan pemerintah dan tidak menyangkut kekuasaan pemerintah. Karena itulah konsekuensi dari aksi sosial-ekonomi lebih ringan dibandingkan aksi politik. Walaupun begitu aksi sosial-ekonomi ini bisa dipakai untuk mendidik dan melatih keberanian rakyat. Keberanian ini menurut Karl Marx dan Engels akan dipakai untuk mengembangkan kekuatan aksi,menguji barisan aksi, mungukur kekuatan aksi dan kekuatan lawan, dan untuk meningkatkan menjadi aksi politik.

Proses aksi dimulai dari bertanya,usul,protes,menuntut, dan akhirnya sampai berlawanan. Syarat-syarat untuk melakukan aksi antara lain,

1. Motifnya jelas

2. Tuntutannya objektif

3. Sasarannya tepat

4. Dipahami dan didukung oleh massa yg berkepentingan

5. Dapat menarik front dan tidak menambah musuh

6. Persiapan cukup

7. Keberanian berlawanan massa yg berkepentingan sudah timbul

Yaitulah aksi yg gw baca menurut Karl Marx dan Engels. Ini adalah pendapat dari Karl Marx dan Engels, tokoh komunis yg terkenal sampai saat ini dan masih jadi pedoman untuk beberapa kalangan untuk membela kaum yg tertindas.

Sabtu, 17 Oktober 2009

Gw Belajar dari Kaderisasi

Saat ini gw dalam euforia kaderisasi! Baik sebagai pengkader di ATLAS, maupun jadi orang yg di kader di HMP Pangriptaloka ITB. Gw berpikir, bahwa sebenarnya selama gw ada di kampus (tepatnya selama masih menjadi mahasiswa) hal yg selalu dilakukan adalah belajar, belajar, dan BELAJAR! Belajar sebagai seorang pelajar di kelas, dan belajar pula dalam ilmu-ilmu kehidupan. Belajar! Coba bayangin setelah kita beranjak keluar dari kampus, salah bicara sedikit, bisa masuk penjara! Tapi di kampus, salah bicara masih bisa di maafkan. Sepakat kan?? Masih banyak lagi yg kita pelajari di selama di kampus. Belajar mendengarkan, belajar bicara, belajar memimpin, dan belajar dipimpin, semua hal yg kita lakukan selama di kampus adalah BELAJAR! Begitu juga dengan kaderisasi! Sekarang, gw sedang belajar menjadi pengkader di ATLAS, dan menjadi orang yg sedang diproses menjadi kader di HMP Pangriptaloka ITB.

Kaderisasi, kader berarti anggota, dan imbuhan –iasi adalah proses, secara kata menjadi proses menjadi anggota. Ada juga yg mengatakan kaderisasi adalah proses penanaman nilai, proses regenerasi, proses persiapan sebelum menjadi kader. Yaa banyaklah definisi-definisi dari kaderisasi menurut persepsi masing-masing. Kaderisasi adalah sebuah kebutuhan. Kebutuhan atas berlangsungnya sebuah organisasi,lembaga,perkumpulan, gank,bahkan mungkin sebuah paguyuban. Jelas bahwa kecintaan terhadap organiasasi/lembaga/perkumpulan/gank/paguyuban dimiliki oleh para kadernya, maka mereka memimpikan hal yg lebih baik untuk organiasasi/lembaga/perkumpulan/gank/paguyuban-nya selalu menjadi lebih baik, yaa memang itu sifat seorang manusia, selalu ingin yang terbaik untuk sesuatu yg di cintainya. Jadi teman-teman, silogisme yg dapat ditarik adalah kecintaan terhadap organisasi yang mendorong untuk di buatnya kaderisasi, dan berharap kader-kader kedepannya akan membuat organisasi yang dicintainya menjadi lebih baik.

Dari sebuah kebutuhan akan kaderisasi, membuat kaderisasi punya target yg menurut gw ini adalah hal mutlak dalam target kaderisasi, menjadikan generasi berikutnya menjadi lebih baik, bukan generasi penerus tradisi yg tidak mengerti esensi dari tradisi tersebut! Dari sini gw punya persepsi sendiri, terserah teman-teman setuju atau enggak. Bagi gw salah apabila pengkader berharap orang yg akan di kader akan menduplikasi dirinya, karena duplikasi tidak akan membuat organisasinya menjadi lebih baik (stagnan dengan keadaan yg sekarang), salah apabila pengkader tidak memberikan contoh yg baik kepada orang yang akan di kader, karena akan membuat orang yg di kader menjadi pengikut dari contoh yg tidak baik, salah apabila pengkader hanya memamerkan aktualisasi dirinya di depan diri orang yg di kader, karena yg dibutuhkan adalah niatan baik dari pengkader untuk memberi pendidikan tentang apa yg benar dan apa yg salah kepada orang yg di kader. Dan yang paling salah dari pengkader adalah ketika tidak bisa menyiapkan orang yg di kadernya menjadi lebih baik dari dirinya.

Begitu juga untuk orang yg di kader! Salah apabila orang yg dikader berpikir bahwa pengkader adalah musuh, karena kaderisasi berawal dari rasa cinta terhadap organisasinya, salah apabila orang yg dikader selalu mengikuti apa yg dicontohkan dari pengkader, karena men-contoh tidak akan menjadikan hal yg lebih baik (duplikasi), salah apabila orang yg dikader minder akan kehebatan pengkader, karena bagi gw rasa minder enggak akan bisa menjadikan diri orang yg di kader menjadi lebih baik dari pengkader, dan organisasi kedepannya pun tidak akan jadi lebih baik. Jadi sebenarnya yang paling salah dari orang yg di kader adalah ketika tidak dapat menjadikan organisasinya menjadi lebih baik.

Yap! Seperti yg gw bilang di atas, bahwa selama menjadi mahasiswa kita akan terus belajar. Gw belajar untuk menjadi pengkader yg baik untuk menjadikan orang yg saya kader di ATLAS menjadi lebih baik, saya pun belajar menjadi orang yg di kader yg lebih baik di SWASTIKA untuk menjadi generasi yg lebih baik. Mahasiswa bukanlah seorang ahli, yg selalu benar dibidangnya. Dan karena itulah kita harus terus belajar, belajar untuk menjadi seorang ahli.

Ini catatan pembelajaran dalam diri gw selama kaderisasi. Bukan unek-unek, atau ngedumel dibelakang, tapi gw pengen semua yg baca ini sadar, bahwa kaderisasi berawal dari rasa cinta terhadap organisasi, bukan pelampiasan kebencian. Maka jadilah pengkader yg penuh rasa cinta dan jadilah orang yg di kader dengan rasa cinta pula.

n.b : sori buat anak2 calon atlas’09 yg harus nunggu gw selama 1 jam buat mulai latihan pagi ini, dan sori juga buat panitia SWASTIKA kalau gw masih di anggap bercanda, gw akan usaha buat jadi pengkader dan orang yg di kader yg lebih baik ^^