Tempat impian (versi adhamaski)

Terbaring di kamar sendirian memang tidak enak, tapi apa mau dikata tenggorokan,hidung,dan badan tidak kuat menghadapi cuaca Bandung yang dingin dari kemarin malam. Dan yang namanya manusia, kalau sedang sehat tidak bersyukur, kalau sedang sakit baru tau enaknya hidup sehat, kalau sudah seharian dirumah baru tau rasanya ingin jalan-jalan keluar rumah, hahaha. Tapi situasi kayak gini jarang-jarang terjadi, yaudah dinikmati aja romantisme dikala seharian di rumah gagak dan berwisata imanjinasi membayangkan tempat-tempat yang suatu saat harus dikunjungi jikalau sudah sehat dan memungkinkan jikalau ada waktu
1. Roma
Kota yang memiliki bagian penting dari sejarah duni yang mencakup eksistensi selama 2500 tahun. Tempat-tempat yang wajib dikunjungi di kota Roma antara lain :
a. Colosseum,tempat para gladiator bertarung
b. Trevi Fountain, melempar koin harapan, padahal denger-denger koinnya setiap malam dikumpulin untuk membangun kota Roma, hahaha
c. Olimpico stadion, kandang klub sepakbola favorit awak,AS ROMA
2. Kuil-kuil di Yunani
Temple of Zeus, kuil runtuh yang masih cantik sampai sekarang
Temple of Athena Parhenos, rumah dewa Athena, seharusnya dibuat patung besarnya, sayang tidak kesampaian
Kota Athena, asal muasal peradaban barat, tempat dimana socrates, plato, dan aristoteles menyebarkan ilmu pengetahuan

Temple of Athena
Sumber gambar: http://www.anthroarcheart.org/tblm49.htm

3. Mekkah
M.Hart dalam bukunya ‘The 100,a rangking of the most influential person in history’, menyebut Nabi Muhammad SAW sebagai orang nomor satu yang berpengaruh didunia, bukan karena alasan, tapi karena apa yang beliau buat masih berguna sampai sekarang, salah satunya kota Mekkah. Yaa jalan-jalan ke kota Mekkah sembari naik haji lah yaa ;p
4. Perbatasan nusantara
Kalau yang ini enggak tau mau kemana, tapi memang ingin lihat tempat-tempat perbatasan nusantara
5. Mahameru
‘Mahameru sebuah legenda tersesa, puncak abadi para dewa....’ ,lirik dari lagu Mahameru (Dewa 19)
Puncak mahameru rasanya impian seluruh pendaki Indonesia, kapan ya saya taklukan (?)
6. Kota Solo : Eco-Cultural City
Nama Joko Widodo tidak akan semegah hari ini, jikalau walikota kota Surakarta ini tidak melakukan perubahan besar untuk kota Surakarta. Ya, solo masa lalu adalah solo masa depan, mengembalikan nilai-nilai budaya kota Solo dengan gaya hari ini. Pergi ke solo adalah hasrat seorang mahasiswa planologi, salah satunya adalah saya
7. Home sweet home
Sejauh-jauhnya pergi, tempat paling nyaman adalah rumah. Yaa, rasanya tepat sekali. Untuk besok pulang ke Jakarta, jadi minimal ada satu tempat impian yang bisa dikunjungi dalam waktu dekat J

Menelusuri Industri dari hulu ke hilirnya

Ada pelajaran menarik selama saya berada di Kebumen kemarin dalam rangka tugas kerja praktik mendampingi dan meng-advokasi usaha masyarakat dibeberapa desa untuk dikembangkan. Pelajaran tersebut adalah bagaimana memandang sebuah industri dari input sehingga nantinya digunakan oleh konsumen, dan bagaimana mendapatkan keuntungan dari apa yang ada. Pertama sebelum beranjak lebih jauh, bagi saya definisi industri disini adalah usaha pengolahan, entah dari barang mentah menjadi setengah jadi ataupun jadi maupun dari barang setengah jadi menjadi barang jadi, yang jelas terdapat penambahan nilai dari input yang ada.

Yang harus mampu kita lihat adalah bagaimana sebuah proses dari pengolahan tersebut sehingga produknya dapat sampai pada tangan konsumen. Berikut adalah alur proses dari hulu ke hilirnya :
Input --> proses--> produk (output) --> distribusi --> konsumen
Dari mata rantai tersebut ada sebuah faktor-faktor yang mempengaruhi masing-masing titik. Namun dari beberapa titik tersebut saya membagi bahwa titik input dan proses dapat dikategorikan sebagai sebuah proses produksi. Dan berikut adalah faktor-faktor yang mempengaruhi masing-masing titik tersebut dalam pemikiran saya.

1. Faktor input
Faktor input yang dimaksud adalah hal-hal yang diperlukan sebagai modal awal. Faktor-faktor input pada sebuah industri adalah modal, tenaga kerja, ide, bahan baku, dan tempat. Modal berarti dana awal yang dibutuhkan dalam sebuah usaha. Tenaga kerja adalah bagaimana kualitas dan berapa banyak tenaga kerja yang diperlukan, berapa biaya yang diperlukan untuk membayar tenaga kerja yang ada sehingga biaya yang dikeluarkan adalah sesuai penghasilan masyarakat (kita harus sadari bahwa tenaga kerja adalah seorang manusia,sehingga biaya yang diberikan haruslah manusiawi agar tenaga kerja yang digunakan dapat sejahtera) dan sesuai pula dengan neraca keseimbangan sebuah industri (agar biaya produksi tidak terlalu besar). Bahan baku adalah bahan-bahan yang digunakan dan ditambah nilainya, ide adalah buah pemikiran tentang sebuah konsep pengolahan, berarti apa produk yang dihasilkan. Sedangkan tempat adalah ruang dimana ia bernaung, seberapa luas dan sebesar apa biaya dari tempat tersebut, seperti pajak tempat, listrik yang digunakan, lahan sebesar apa, dsb.
2. Faktor proses
Ada dua faktor proses bagi saya, yaitu teknologi dan metode. Teknologi adalah alat yang digunakan sedangkan metode adalah cara. Keduanya bicara tentang biaya, efektif,dan keefisienan. Seberapa besar biaya yang dikeluarkan dari teknologi dan metode yang ada, seberapa efektif dan efisien kan teknologi dan metode tersebut.
3. Faktor produk (output)
Jikalau kita bicara faktor produk berarti sudah terdapat hasil dari apa yang dilakukan. Ada dua hal yang harus dicermati dari produk yang ada, yaitu kualitas dan kuantitas. Seberapa bagus kualitas dari produk yang ada dan seberapa banyak produk yang dihasilkan.
4. Faktor distribusi
Faktor distribusi berbicara tentang bagaimana produk yang dihasilkan mampu diperoleh oleh masyarakat. Oleh karena itu dalam distribusi ada beberapa hal yang mustilah dicermati, yaitu pasar (daya saing),biaya, jarak (akses), pemasaran, dan agen. Pasar berarti tempat bertemunya penjual dengan pembeli, berarti yang harus kita cermati disini adalah dimana pasarnya? Seberapa banyak penjual yang menjual barang dengan kategori barang yang sama, bagaimana daya saing produk yang dihasilkan?
Biaya (akses) adalah berapa besarnya biaya yang diperlukan agar produk dari pabrik mampu sampai ketangan konsumen dan seberapa besar jangkauan pelayanan. Pemasaran adalah marketing, bagaimana produk yang ada menjadi eye cathing dimata masyarakat dan membungkus produk agar lebih menarik. Sedangkan agen adalah orang-orang yang bertugas untuk menyebarkan produk, entah lewat supermarket atau pedagang kaki lima, pekerja sektor informal yang biasanya menjual produk-produk formal, multi level marketing, dsb.
5. Faktor konsumsi
Konsemen dianggap sebagai orang terakhir yang memegang alur produk dan menggunakan produk tersebut. Ketika berbicara tentang konsumen maka kita harus melihat pula siapa kelompok target penjualan dan apa keinginan juga kebutuhan masyarakat.

Lukisan revolusi industri
Sumber gambar: https://jazminsglobalwiki.wikispaces.com/The+Industrial+Revolution

Inilah pemikiran saya dalam melihat rantai industri, menelisik satu persatu titik pengolahan dan menelusuri permasalahan yang ada pada industri dan bagaimana mencapai keuntungan bagi semua orang yang terlibat didalamnya, baik perusahaan, tenaga kerja, maupun konsumen. Semoga pemikiran saya ini bermanfaat dan menjadi referensi bagi kita semua.

Kearifan lokal : Hakikat cerita rakyat sangkuriang, fenomena negeri & sistem kenegaraan Indonesia

Malam minggu kemarin nonton pagelaran LSS jadi teringat dengan salah satu cerita rakyat sunda, yaitu sangkuriang. Cerita ini menarik karena memiliki kesinambungan dengan sistem ketatanegaraan dan fenomena-fenomena yang terjadi di negeri ini, yaa sudah hampir tiga tahun tinggal di tanah sunda berarti sudah sedikit mengenal tentang kekayaan sunda baik dari segi bahasa, budaya, sosial, dsb. Berikut adalah sebuah hakikat cerita sangkuriang dan hubungannya dengan fenomena dan sistem kenegaraan Indonesia.


Sumber gambar: http://unknown-nasir-azah.blogspot.com/2013/01/sangkuriang-cerita-rakyat-dari-jawa.html
Pada cerita ini dikisahkan tentang puteri cantik, Dayang sumbi yang merupakan anak dari seekor babi hutan betina bernama Wayungyang yang meminum air seni sang raja sungging perbangkara. Karena kecantikannya, banyak raja yang menyukainya dan tak satupun diminati oleh dayang sumbi. Sampai pada akhir para raja tersebut saling beperang dan dayang sumbi pun melarikan diri. Dayang sumbi akhirnya menikahi seekor anjing bernama si tumahyang (si tumang) yang mengambilkan toropong (torak) yang digunakannya untuk bertenun pakaian dan kemudian melahirkan seorang anak bernama sangkuriang. Namun suatu waktu ketika sang anak berburu ia tidak mendapatkan hasil buruan hingga akhirnya ia membunuh si tumang yang ia pun tak ketahui anjing tersebut adalah ayahnya dan akhirnya sangkuriang pun dipukul oleh ibunya hingga dikeluarkan dari rumah.

Bertahun-tahun berlalu, Sangkuriang melakukan perjalanan dari timur ke barat, hingga tak sadar bahwa ia kembali ke tempat kelahirannya dan bertemu dengan ibunya. Melihat dayang sumbi yang masih cantik karena memakan sayur dan lalap di hutan. Sangkuriang ingin menikahi dayang sumbi, namun dayang sumbi sadar bahwa sangkuring adalah anaknya karena melihat tanda luka di kepala sangkuriang. Melihat hal tersebut dayang sumbi tidak ingin menikahi anaknya sendiri walaupun sangkuriang terus memaksanya. Sampai akhirnya dayang sumbi meminta sangkuriang untuk membuatkan perahu dan telaga dalam waktu semalam dengan membendung sungai citarum. Sangkuriang pun menyanggupi permintaan dayang sumbi karena apabila ia menyelesaikan tantangan tersebut dayang sumbi akan dijadikan isterinya. Sayang seribu sayang, doa dayang sumbi kepada Sang Hyang Tunggal dikabulkan, matahari segera terbit dari timur dan sangkuriang pun menjadi marah, bendungan yang berada di Sanghyang tikoro dijebol dan sumbata aliran sungai citarum dilemparkannya ke arah timur dan menjadi gunung manglayang. Air talaga bandung surut kembali dan ia pu juga menendang perahunya dan berubah wujud menjadi gunung tangkuban perahu. Melihat hal ini dayang sumbi pun kabur hingga berubah menjadi bunga jaksi, dan dinyatakan hilang di gunung puteri, sedangkan sangkuriang terus mencarinya sampai di sebuah tempat yang disebut ujung berung.
Namun ternyata cerita sangkuriang ini memiliki hakikat yang mendalam terutama dalam ilmu ketatanegaraan. Si tumahyang adalah seekor anjing. Anjing adalah binatang yang identik dengan merupakan simbol kesetiaan. Dan si tumahyang memiliki hakikat sepeti cerita-cerita rakyat yang lain memiliki arti tersendiri dalam namanya, si tumahyang adalah SI-TU-MA-HYANG, berikut adalah arti dari masing-masing kata yang :

1. SI adalah resi yang artinya adalah petapa/orang suci yang lebih dalam kemampuan kognitifnya sehingga pekerjaannya adalah berpikir, pertanyaannya dalam konsep ketatangeraan siapakah yang dituntung untuk terus menerus berpikir? Jawabannya adalah fungsi legislatif.

2. TU adalah ratu. Sifat seorang ratu adalah menyuruh, sehingga dalam ketatanegaraan fungsi yang berhak menyuruh dan menjalankan sesuatu adalah fungsi eksekutif.

3. MA adalah rama yang berarti adalah seorang ayah dan menengahi permasalah yang ada pada anak-anaknya. Dalam ilmu ketatanegaraan ini berarti fungsi yudikatif.

4. HYANG berarti tuhan. Istilah sholat dalam Indonesia pun begitu, sembahyang berarti menyembah tuhan.
Si tumahyang adalah sebuah konsep trias politica (eksekutif, legislatif, yudikatif) yang berlandaskan pada nilai ketuhanan yang maha esa (Sang hyang tunggal). Sedangkan dayang sumbi pun begitu, memiliki arti dari penggalan namanya, yaitu DA-HYANG-SU-UMBI

1. DA berarti badag, yang dalam bahasa sunda berarti besar atau agung

2. HYANG berarti tuhan

3. SU sebenarnya saya sendiri pun tidak tahu pasti ini apa, namun berdasarkan sumber-sumber yang ada hakikatnya adalah baik/benar. Memungkinkan dari bahasa suda sae ataupun leres.

4. UMBI adalah ibu atau ambu atau bisa pula diartikan sebagai bumi.

Sehingga dayang sumbi dapat diartikan sebagai ibu pertiwi yang terdapat kebesaran tuhan yang baik didalamnya.Hakikat nama sangkuriang pun begitu, dalam bahasa sansekerta artinya sama dengan ganesha yang sama-sama memiliki sifat pembelajar. Mungkin ini pula mengapa kampus ganesha (ITB) berada dibandung, karena kampus ganesha adalah kuil sangkuriang belajar.Jadi sangkuriangyang berarti adalah seorang pembelajar atau akademisi atau seseorang yang sudah mapan secara ilmu pengetahuan.
Apabila kita balikan hakikat nama ini dalam cerita sangkuriang kembali, dayang sumbi berarti nusantara, si tumang berarti sistem kenegaraan Indonesia, dan sangkuriang adalah seorang terpelajar. Maka dari cerita sangkuriang dapat kita artikan, bahwa Indonesia adalah negeri alam karena ia berasal dari babi yang meminum air seni. Karena kekayaan alam ini nusantara menjadi perebutan para raja-raja yang berperang, sehingga mampu pula kita definisikan seorang raja memimpin negara sehingga nusantara adalah perebutan dari negara-negara lain. Dayang sumbi yang melarikan diri dari peperangan dan menikah dengan si tumang berarti adalah Indonesia merdeka dan mengadopsi sistem trias politica berdasarkan ketuhanan YME di Indonesia. Sedangkan sangkuriang adalah anak bangsa. Terbunuhnya si tumang adalah sebuah pengkhiatan dari seoarang terpelajar yang merusak sistem ketatanegaraan. Mungkin dalam dunia nyata kita mampu melihat bagaimana terjadinya korupsi, kolusi, nepotisme dan kejahatan-kejahatan lainnya yang merusak sistem kenegaraan dan dilakukan oleh orang-orang terpelajar. Pengejaran dayang sumbi oleh sangkuriang untuk dipersunting adalah sebuah sebuah cerita keegoisan dari nafsu seorang terpelajar untuk menduduki nusantara.

Lalu apakah maksud dari patahan cerita akhir yaitu ketika dayang sumbi berdoa kepada Tuhan dan menebarkan irisan kain putih hasil tenunannya sehingga fajar terbit dan sangkuriang gagal menyelesaikan tugasnya hingga ia marah dan membuat dayang sumbi hilang? Apakah mampu pula kita artikan sebagai negeri Indonesia yang akhirnya hancur karena keegoisan para terpelajarnya? Mungkin saja, pada bagian akhir cerita sangkuriang ini belum mampu saya pribadi artikan maksudnya. Tapi pastilah kita semua bertanya apakah benar dayang sumbi adalah ibu pertiwi? Si tumang adalah sistem kenegaraan? Dan sangkuriang adalah seorang terpelajar? Apakah benar ini maksud dari cerita sangkuriang? Bagaimana bujangga manik menuliskan cerita ini pada abad ke-16? Apakah konsep pemisahan kekuasaan trias politica berasal dari negeri Indonesia? Apakah tanah sunda adalah tanah sumber ilmu pengetahuan?
Tapi apapun itu, cerita sangkuriang ini cocok dengan kondisi negeri ini, bagaimana seorang sangkuriang yang merupakan sang ego rasio mengkhianati ibu pertiwi dengan melukai sistem kenegaraan. Semoga tulisan hakikat cerita sangkuriang ini bermanfaat dan mengingatkan kita akan banyaknya kekayaan nusantara. Dam semoga cerita dimasa lalu ini memberikan kita pelajaran agar dimasa depan kita tidaklah menjadi seorang sangkuriang yang mengkhianati negeri ini. Kitalah putra-puteri ibu pertiwi yang bertanggung jawab terhadap melimpahnya kekayaan negeri ini.

Sumber :
http://sukmana.weebly.com/2/post/2011/05/makna-carita-sangkuriang.html (diakses hari senin, 11 juli 2011)
http://id.wikipedia.org/wiki/Sangkuriang_%28legenda%29 (diakses hari senin, 11 juli 2011)
http://www.ceritaanak.org/index.php?option=com_content&view=article&id=61:cerita-rakyat-sangkuriang&catid=36:cerita-rakyat&Itemid=56 (diakses hari senin, 11 juli 2011)

Jakarta, kota gado-gado

Sunda kelapa, Jayakarta, Batavia, Jaccarta, Djakarta, hingga Jakarta

DKI Jakarta, satu-satunya kota yang memiliki status setingkat provinsi di Indonesia. Letaknya yang dekat dengan laut jawa menjadikannya sebuah daya tarik untuk para penjajah dan pedagang jaman dulu untuk berniaga dan bertukar barang, hingga Raden Fatahillah menduduki pelabuhan sunda kelapa pada 22 juni 1527 dan dijadikan hari itu sebagai hari ulang tahun kota Jakarta. Kota dengan mayoritas bersuku betawi ini juga merupakan ibukota negara Indonesia dengan segala fungsi pemerintahan berada didalamnya.

Menurut sensus penduduk, pada tahun 1971 penduduknya hanyalah sekitar 4,5jt jiwa namun sekarang setelah 40 tahun berlalu, menurut sensus penduduk pula penduduknya mencapai 9,5 juta jiwa. Kenaikan yang fantastis namun tidaklah begitu aneh ketika kita melihat banyaknya aktifitas didalamnya seperti fungsi ekonomi, pemerintahan, pendidikan, dsb. Naiknya jumlah penduduk dan berkembangnya aktivitas yang ada di kota Jakarta ternyata tidak sepenuhnya mendapatkan hasil yang baik, tak kunjung makin berhenti pula masalah-masalah yang ada di Ibukota, seperti kemacetan, banjir, urbanisasi yang tak terkendalikan, commuter dari bodetabek yang bekerja di Kota Jakarta, kian maraknya sektor informal, ketidakteraturan tata ruang, menurunnya jumlah RTH publik dan privat, pembangunan yang tidak tepat sasaran, permukiman kumuh, banyaknya gelandangan dan maraknya kejahatan, pencemaran dan kerusakan pada lingkungan, dsb. Dan masih banyak lagi indikasi-indikasi negatif dari kota Jakarta, sehingga ada pula yang mengecap bahwa ibukota lebih kejam dibandingkan ibu tiri.


Pemindahan Ibukota?

Isu tentang pemindahan ibukota kian santer terdengar, tapi apakah ini isu baru? Tidak juga, isu pemindahan ibukota sudah lama ada di negeri ini, bahkan semenjak ada kompeni Belanda di Ibu pertiwi. Menurut Deden Rukmana, dalam tulisannya di Buletin Tata Ruang, fungsi Ibukota Indonesia direncanakan ada di Kota Bandung. Hari ini pun kita masih bisa melihat bagaimana sisa-sisa pembangunan di kota Bandung, seperti adanya perusahaan kereta api, gedung sate, dan pendidikan tinggi di Kota Bandung. Isu pemindahan fungsi pemerintahan juga berada membumi di era presiden Soekarno yang merencanakan memindahkan fungsi ibukota ke Palangkaraya karean posisinya yang berada ditengah-tengah Indonesia. Sayang rencana ini gagal karena beliau sudah terlebih dahulu turun. Di era orde baru, indikasi pembangunan di Jonggol menghembuskan isu pula tentang pemindahan ibukota. Dan sekarang isu ini kembali naik kepermukaan di kepemimpinan presiden SBY dan gubernur Fauzi Bowo karena isu kemacetan di kota Jakarta.

Bagi saya pribadi, memang seharusnya fungsi pemerintahan ibukota harus dipindahkan dari kota Jakarta. Mengapa?  pertambahan jumlah penduduk baik dari kelahiran maupun urbanisasi dan commuter yang tak terkendalikan ini adalah hasil dari aktivitas ibukota yang kian majemuk, sebut saja di DKI Jakarta terdapat fungsi pemerintahan nasional, fungsi ekonomi, fungsi budaya, fungsi pendidikan, dsb. Kita lihat sendiri dalam kacamata kita, hari ini berapa banyak turunan aktivitas dari masing-masing fungsi tersebut? berapa banyak mall-mall baru yang dibangun, berapa banyak apartemen baru, berapa banyak gedung baru, dan sebetapa macetnya kota Jakarta siang dan malam hari. Aktivitas perkotaan ini kian berkembang dan tak terkendalikan padahal lahan dikota Jakarta tetap dan tidak bertambah. Alhasil makin banyaklah kerusakan lingkungan, kerusakan moral, dan kerusakan-kerusakannya lainnya yang mampu kita lihat dari banyaknya masalah ibukota.

Ini Gado-gado, bukan jakarta
Sumber gambar: http://kunthiismu.blog.unissula.ac.id/2014/01/13/gado-gado-my-beloved-indonesian-salad/


Menyelesaikan masalah haruslah tepat sasaran. Selesaikanlah penyakitnya,bukan bukan gejalanya. Kita lihat hari ini pemerintah daerah Jakarta sibuk untuk terus menerus mengatasi gejala, seperti pembatasan kendaraan berdasarkan plat nomornya, perbaikan tanggul dan perbaikan jalan yang melulu rusak, dsb. Namun bagi saya ini tidaklah menyelesaikan masalah. Masalah-masalah yang saya sebutkan sebelumnya hanyalah gejala yang jika penyakitnya tidak diberantas maka akan terus ada penyakitnya.Penyakit atau masalah utama dari kota Jakarta adalah banyaknya aktivitas yang berkembang dan tak terkendalikan, sehingga solusinya adalah mengurangi aktivitas yang ada di dalamnya.

Pertanyaannya kemudian, aktivitas apa yang harus dikeluarkan dari kota Jakarta? Jikalau kita melihat kota-kota ekonomi di dunia seperti kota New York adalah dekat dengan pelabuhan. Mengapa karena pelabuhan adalah tempat bertemunya barang-barang berat yang merupakan hasil produksi dan termasuk dalam kompenen penting ekonomi. Aktivitas yang harus dikeluarkan dari kota Jakarta adalah fungsi pemerintahannya. Permasalahan pembangunan yang tidak merata mungkin pula disebabkan oleh terpusatnya semua di Kota Jakarta dan jauhnya dari pelosok negeri ini. 80% uang beradar di kota Jakarta dan dekatnya fungsi pemerintahan dan fungsi ekonomi juga menjadi magnet tersendiri untuk para pejabat negeri merusak negeri ini dengan tindak korupsi ditambah dengan pengadilan tinggi negeri yang namanya kian hancur.

Yaa, bagi saya pemindahan ibukota adalah salah satu solusi untuk mengurangi permasalah kota Jakarta dan masalah-masalah di negeri untuk pemerataan pembangunan dan kesejahteraan masyarakat. Pindahkan fungsi pemerintahan, banyak negara yang akhirnya berhasil dengan cara ini, sebut saja Brazil, Amerika Serikat, Jerman, Jepang, Australia, dsb. Walaupun perlu dibangun kajian lebih mendalam tentang dimana lokasi yang tepat untuk fungsi pemerintahan, apakah lokasi baru siap dan bagimana mempersiapkannya, bagaimana untuk mengefektifkan pemindahan ibukota, dan bagaimana mengurangi konflik pemindahan ibukota dan menjadikannya solusi dari permasalahan yang ada. Dana seharusnya bukan masalah, walau memang dibutuhkan dana yang tidak murah namun ini lebih baik daripada terus menerus menghabiskan uang untuk menyelesaikan gejala-gejala kerusakan di kota Jakarta namun tidak menyelesaikan akar dari permasalahan.

Kendalikan dan hentikan aktivitas yang ada di Kota Jakarta atau terus menerus menjadi kota gado-gado-makanan khas Indonesia yang mencampuran sayuran!

Bertambah umur, refleksi kehidupan

Surpise pertama kali

Malam minggu, 9 juli 2011, saya masih nongkrong dihimpunan, sampai datanglah dua orang yang menumpang sholat maghrib di gedung plano, yaitu bu mentri Devita TL'08 & orang paling eksis se-ITB, mamat MS'08. Akhirnya saya ajaklah mereka untuk ngobrol santai di himpunan. Tapi Mamat pergi duluan karena apa saya lupa alasannya, tapi saya dan devita masih lanjut ngobrol dimeja depan HMP. Sampai pada suatu ketika devita mengajak saya ke pagelaran LSS di lapangan basket. Saya pikir bolehlah ikut kesana karena sudah janji juga ke teman-teman HMP yang unitnya LSS untuk menonton pagelaran LSS.

Yeah,jadilah saya malam mingguan sama devita,hahaha,jarang-jarang nih malam mingguan sama cewe, biasanya kalau enggak dirumah ya nongkrong2 aja dihimpunan sama yang lain. Pagelaran LSS awalnya menarik tapi kian lama saat sudah main drama terus saya jadi bosan karena enggak ngerti juga bahasa sunda dengan fasih, yaa akhirnya saya ajak makan saja devita tapi sebelumnya saya mau ambil jaket terlebih dahulu di himpunan karena udara sudah terasa dingin.

Oke, jadilah kami makan di mas han, ah dan ternyata saya baru tahu ini pertama kalinya devita makan di mas han walau dia tahu gosipnya makan disana enak dan berbeda sekali dengan saya yang sering banget untuk makan disana,hahaha. Sembari menunggu makanannya selesai dimasak saya masih ngobrol dengan devita. Makan santai dan tiba-tiba kok saya merasa ada suara grasak-grusuk dibelakang saya dan dengan segenap rasa penasaran saya hadaplah kebelakang. Pas melirik kebelakang saya lihat banyak kaki (karena tertutup oleh tenda), dalam hati saya berpikir apaan neh? hahahha, ternyata itu anak2 yang sedang persiapan surprise-in gw, kocak deh, ada gema, debby, ully, andani, irene, niza, rama09, epot, wena, inu, japri, yovan, adam pasuna, atung, dayat, adri, ekdarkus, joko, inu, riris a.k.a baco, jeje.dan dua anak arsi besty dan yusi, juga temannya yovan si lia. Yah akhirnya surprise itu di akhiri dengan ceplokan telor dirambut ane yang bau amis eta hahaha.

Yah tapi terima kasih untuk teman-teman yang sudah rela untuk hadir sampai jam 12 malam, terutama devita yang ternyata diajak sama anak2 buat nemenin saya sampai jam 00.00, maaf yaa kalau kedinginan dan beli makanan walau ente enggak laper dev, hehe. Terima kasih semuanya semoga kalian semua ikut sukses juga esok hari, AMIN.

Kue laskar juli, lupa di ulang tahun ke berapa

21 Tahun sebuah refleksi

Sudah dua dasawarsa terlewat, begitu banyak pengalaman setahun ini, dari mulai yang pahit hingga yang menyedihkan, bagaimana saya membuang waktu saya karena penyesalan yang ada pada diri sendiri, mencoba mendekatkan diri kepada Sang pencipta, mengubah prilaku-prilaku saya, membagikan sedikit ilmu saya kepada orang-orang lain dan terus belajar menjadi manusia yang konstruktif untuk sesama manusia lainnya, hingga pengalaman menggerakan sedikit orang untuk berbuat kepada orang banyak dengan hasil yang optimal, dan mungkin yang paling berharga adalah ketika saya berani menantang kehidupan besok dengan memimpin organisasi mahasiswa. Satu tahun saya boroskan dan dua puluh satu tahun saya sudah saya habiskan dengan hal yang belum mempengaruhi orang banyak dan belum mampu menjadi manusia yang memberikan manfaat untuk sekitarnya.

Hari ini adalah saya masih bukan apa-apa dan belum memberikan apa-apa
Beberapa bulan lagi saya akan meninggalkan teman-teman terbaik saya, tapi sampai sekarang saya belum bisa memberikan yang terbaik untuk teman-teman terbaik saya
Satu sampai dua tahun lagi saya lulus dari kampus ini tapi saya belum jadi mahasiswa seperti yang harusnya dilakukan oleh seorang mahasiswa
Dua atau tiga tahun lagi saya akan hidup mandiri tanpa payung orang tua, tapi saya belum bisa membalas kedua orang tua saya dengan maksimal
Beberapa tahun lagi saya akan berkarya, namun saya belum bisa mendefinisikan karya siapa untuk siapa dan untuk apa
Tahun-tahun kedepan saya menantang dunia, tapi saya belum mempersiapkan diri saya untuk tahan terhadap godaan duniawi dan mencukupi kebutuhan pribadi
Beberapa tahun lagi saya akan seperti kakak-kakak saya yang menghabiskan waktu dengan pasangannya, tapi hati saya belum terketuk untuk membukanya
Di masa depan akan ada sebuah refleksi seperti hari ini, tapi apakah saat refleksi nanti saya sudah lebih baik dari hari ini?

Siapa yang mengetahui kehidupan masa depan? tapi siapapun pasti mampu menata kehidupan hari esok. Saya bukanlah manusia yang hidup hari ini, tapi saya harus jadi manusia yang karyanya begitu berharga untuk adik,anak,dan cucu besok. Saya harus jadi manusia masa depan dengan melakukan banyak apa yang tidak dilakukan orang pada hari ini. Saya harus memilih menjadi manusia seperti seongok mesin tua yang tidak mampu berjalan atau menjadi sebuah roda yang dinamis untuk hari esok. Apa yang saya lakukan hari ini adalah hari esok dan saya lah satu-satunya yang hanya mampu mengubah hari ini, seperti carbon yang menjadi sebuah emas

Nazaruddin (?)


JAKARTA, KOMPAS.com — Kementerian Luar Negeri Singapura menegaskan bahwa M Nazaruddin, tersangka kasus dugaan suap pada proyek pembangunan wisma atlet SEA Games 2011, tak lagi berada di Singapura. Hal ini disampaikan Kementerian Luar Negeri Singapura melalui siaran pers yang dapat diakses di http://www.mfa.gov.sg/.
"Nazaruddin tidak di Singapura, dan tidak berada di Singapura selama beberapa waktu. Informasi ini telah disampaikan kepada pihak otoritas Indonesia beberapa minggu lalu, jauh sebelum yang bersangkutan ditetapkan sebagai tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi Indonesia pada 30 Juni 2011," demikian isi siaran pers tersebut.
"Singapura selalu berkeinginan bekerja sama dengan aparat penegak hukum Indonesia terkait kasus ini dan kasus lainnya. Namun, karena Nazaruddin tidak dikenakan pasal pidana apa pun, atau ditetapkan sebagai tersangka saat dirinya berada di Singapura, serta memiliki paspor yang valid, tak ada alasan bagi Pemerintah Singapura untuk mencekalnya dari Singapura," ujar Kementerian Luar Negeri Singapura.
Kementerian Luar Negeri Singapura mengatakan, pihaknya tak mengetahui di mana Nazaruddin saat ini. Juru Bicara Kemlu Singapura mengatakan, "Saya tidak mengetahuinya karena kami tidak melacak orang yang telah meninggalkan Singapura. Kami telah menginformasikan pihak otoritas Indonesia mengenai tujuannya setelah meninggalkan Singapura. Ini adalah informasi yang kami miliki."
sumber : http://internasional.kompas.com/read/2011/07/05/15100995/Nazaruddin.Tidak.Ada.di.Singapura , di akses hari jum'at 8 juli 2011

Nazaruddin kabur dari singapura! Inilah isu nasional hari ini, menarik sekali siapa yang tidak mengenal nazaruddin hari ini, mantan bendahara umum partai demokrat yang diduga melakukan korupsi wisma atlet SEA Games di Palembang. Dan kasus ini terus mencuat karena dirinya pula sudah banyak dibujuk untuk pulang ke Indonesia dari singapura untuk melakukan pemeriksaan di KPK tapi tidak kunjung hadir di Indonesia.
 
Muncul beberapa pertanyaan yang menelusuk kepala saya tentang peristiwa nazaruddin ini.
Siapakah sebenarnya nazaruddin? Sampai ia begitu sulit untuk dipanggil ke Indonesia, yang bahkan pemanggilannya telah dilakukan oleh ketua umum partainya, presiden SBY, dan beberapa tokoh nasional, namun tetap saja tidak mempan.

Sebesar apa konsekuensi yang harus diterima ketika benar nazaruddin melakukan tindakan korupsi? Kita bisa lihat bagaimana oposisi dari pemerintahan sekarang begitu bersemangat untuk terus mencuatkan kasus ini ke muka publik dan mencaci-maki pemerintahan hari ini

Apakah langkah presiden SBY untuk melakukan sikap tegas kepada anggota partainya? SBY adalah ketua ASEAN, seharusnya mampu menjaring negara-negara asia timur untuk mencari keberadaan nazaruddin. Walaupun presiden SBY adalah seorang pentolan di partai demokrat yang sekarang partainya sedang digoyang karena kasus anggotanya yang bermasalah ini, sangat menarik untuk dilihat apakah langkah yang akan dilakukan oleh presiden SBY, kemana larinya dari langkah tersebut, menjaga citra pribadi atau partai?

Seberapa pentingnya kasus ini untuk dipertontonkan setiap hari? Kisaran jumlah dugaan korupsi hanya sebesar 1,3 triliun, jumlahnya masih kalah besar dibandingkan dengan kasus bank century dan BLBI yang belum selesai hingga hari ini. Dilihat secara jumlah memang lebih sedikit, tapi mungkin secara politik lebih fatal untuk pemerintahan hari ini yang populer karena anti-korupsinya. Seberapa berhargakah kasus ini untuk menjerat para koruptor lainnya?

Mengapa nazaruddin belum pergi ke Indonesia? Apakah ada yang menyembunyikannya?
Apa lagi isu yang akan dibuat untuk menenggelamkan isu ini? korupsi harus diberantas, itu mutlak! Tapi kita lihat bagaimana Indonesia ini seperti anjing menggonggong yang isu akan tenggelam oleh isu lainnya. Kita belajar tahun lalu, bagaimana isu bank century yang akhirnya isunya terlelap oleh isu pornografi ariel peterporn.

Sumber gambar: http://widhawati.blogdetik.com/index.php/2012/12/11/katakan-tidak-tahu-pada-korupsi/

Hasil Kajian RUU PT oleh HMP PL ITB


ini hasil dari curhat sore senator kita kemarin, diskusi singkat, nyantai, dan penuh inspirasi. silahkan dinikmati, semoga bisa menambah pengetahuan dan kepedulian kita terhadap nasib pendidikan generasi penerus kita nantinya... :D

Ini mukanya anak2 HMP PL ITB di Semarang

Mahasiswa dan Nasib Pendidikan Tinggi Negeri Ini
Oleh : Gabriel Efod V. P.
Pro-kontra Rancangan Undang Undang Republik Indonesia tentang Pendidikan Tinggi (RUU PT) sudah menjadi perdebatan yang panjang setahun belakangan, khususnya di perguruan tinggi-perguruan tinggi di Indonesia. Apa yang dipermasalahkan dari RUU ini? Hal inilah yang menjadi inti pembahasan dari obrolan dan diskusi santai yang digagas serta diselenggarakan oleh Tim Kesenatoran HMP Pangripta Loka ITB, bertajuk “CURHAT SORE SENATOR HMP” pada Jumat, 24 Juni 2011, lalu.

Semenjak dibatalkannya UU BHP oleh Mahkamah Konstitusi, telah dibuat beberapa draft RUU PT dengan berbagai perubahannya, baik itu yang diajukan oleh DPR maupun oleh pemerintah. Diskusi santai yang kami adakan kemarin mengacu pada draft keempat RUU PT, tertanggal 6 Juni 2011, yang diajukan oleh pemerintah.

Hakikat Pendidikan Tinggi
Seperti yang diamanatkan pada alinea keempat Pembukaan UUD 1945, salah satu fungsi Negara Indonesia adalah untuk memajukan kesejahterakan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Oleh karena itu, perguruan tinggi sebagai badan pusat ilmu-ilmu pengetahuan dan kebudayaan sudah sepatutnya menyelenggarakan pelayanan pendidikan yang pada hakikatnya berorientasi pada terjaminnya hak-hak asasi warga negara dalam pemenuhan pendidikan dan keilmuannya.

Namun, bagaimanakah format awal tujuan pendidikan yang diamendemenkan dalam RUU PT tersebut? Pada bagian “menimbang”, terlihat bahwa pendidikan tinggi memiliki peran yang strategis baik itu dalam pembudayaan dan pemberdayaan masyarakat, maupun pengembangan ilmu pengetahuan. Akan tetapi, ada satu hal pokok yang kami rasa dapat menjadi blunder dalam pelaksanaan pendidikan tinggi tersebut, yaitu pelayanan pendidikan yang secara eksplisit diorientasikan pada daya saing bangsa dalam era globalisasi. Begitu baik visi pendidikan tinggi yang diarahkan pada daya saing bangsa, namun hal ini dapat menyimpang dari tujuan besar pelayanan pendidikan sesuai hakikatnya, yaitu pemenuhan hak pendidikan setiap warga negara. Sebab, pada kenyataannya belum semua daerah di Indonesia dapat disetarakan kualitas pendidikan tingginya maupun kuantitas perguruan tingginya. Kita harus membenahi “pendidikan tinggi” itu sendiri, sebelum akhirnya menuju visi besar pendidikan tinggi sebagai daya saing bangsa pada era globalisasi.

Statuta Perguruan Tinggi dan Majelis Pemangku
Tahukah kawan, pada pasal 1 poin 12, dijelaskan bahwa Statuta Perguruan Tinggi (statuta) pada dasarnya mengatur seluruh kegiatan akademik maupun nonakademik. Nonakademik? Ya, segala hal di luar urusan akademik, termasuk keuangan dan kemahasiswaan, juga diatur oleh statuta ini. Statuta merupakan dasar dari dikeluarkannya peraturan pemerintah ataupun peraturan menteri yang secara langsung mengatur kehidupan akademik dan nonakademik kampus. Dengan kata lain, kehidupan kita sebagai mahasiswa sangatlah erat hubungannya dengan bagaimana isi statuta, baik itu kegiatan, berbagai kewajiban, hak-hak dasar, bahkan hingga organisasi kemahasiswaan. Pada pasal 19 poin ketiga, tertulis “Organisasi kemahasiswaan dibentuk berdasarkan statuta”. Saya sendiri agak tergelitik membacanya, organisasi kemahasiswaan dengan landasan hukum berupa AD/ART (sebagai dasar organisasinya masing-masing) dan secara kultural tumbuh dan berkembang di kampus, haruslah menyesuaikan diri dengan landasan perundangan utama yaitu statuta yang baru dibuat hingga RUU ini disahkan. Apakah statuta ini dapat merangkum kepentingan mahasiswa? Inilah yang menjadi tugas kita sebagai mahasiswa.

Lalu siapa yang bertanggung jawab membuat dan merubah statuta ini? Suatu organ perguruan tinggi bernama Majelis Pemangku-lah yang memiliki fungsi tersebut (pasal 51 dan 63), serta menjalankan fungsi penentu kebijakan umum dan pengawasan nonakademik (pasal 1 poin 14). Saat ini, kurang lebih Majelis Pemangku sama fungsinya dengan Majelis Wali Amanah (MWA). Majelis Pemangku beranggotakan Menteri Pendidikan Nasional, gubernur, pemimpin (rektor), wakil dosen, wakil tenaga kependidikan (pegawai non-dosen), wakil masyarakat, dan tambahan Menteri Keuangan untuk Majelis Pemangku PTN Berbadan Hukum. Satu hal yang sangat janggal, tidak ada wakil mahasiswa dalam komposisi keanggotaan Majelis Pemangku ini. Mahasiswa sebagai organ dengan porsi terbesar dalam perguruan tinggi, serta merupakan subjek dan objek pendidikan dalam perguruan tinggi, justru tidak disertakan dalam fungsi superior Majelis Pemangku. Pada draft RUU ketiga yang diajukan DPR, sesungguhnya perwakilan mahasiswa sebagai bagian dari sivitas akademika, dilibatkan dalam Majelis Pemangku. Tapi pada perubahan di draft RUU terbaru ini, posisi mahasiswa dalam Majelis Pemangku telah ditiadakan.

Apa yang dikhawatirkan peran Majelis Pemangku dengan tidak adanya posisi mahasiswa di dalamnya? Dua hal yang kami simpulkan dapat menjadi boomerang bagi pendidikan tinggi di Indonesia; sistem portofolio dalam otonomi nonakademik bidang keuangan perguruan tinggi dan ketidakjelasan definisi wakil masyarakat dalam Majelis Pemangku. Pertama, sistem portofolio (pasal 47 poin 5 / pasal 59 poin 4), yaitu investasi jangka panjang melalui pendirian badan usaha, dapat menciptakan suatu peluang masuknya pihak-pihak luar kampus ke dalam dinamika kampus tersebut. Peluang masuknya pihak luar kami artikan sebagai pihak-pihak yang memiliki dana untuk diinvestasikan di perguruan tinggi dan terlibat dalam urusan politik. Secara singkat : politik dekat dengan kekuasaan, kekuasaan dekat dengan uang, dengan adanya kekuasaan dan uang sangat mungkin pihak-pihak tertentu dapat “masuk” ke dalam kampus. Apalagi, yang kedua, dengan tidak terdefinisikan dengan jelasnya ‘wakil masyarakat’ dalam keanggotaan Majelis Pemangku, pihak-pihak tertentu tadi dapat menjadi anggota Majelis Pemangku. Dengan fungsi superior-nya, Majelis Pemangku memiliki “kekuasaan” lebih dalam mengatur perguruan tinggi, dan dengan tersisipkannya pihak dengan kepentingan tertentu di dalamnya, bukan tidak mungkin fungsi-fungsi mahasiswa, kehidupan kampus, bahkan riset-riset dosen dapat didikte secara halus dilandasi akan kepentingan golongan, bukan lagi pada dasar kebenaran ilmiah dan keilmuan.

Bagaimanakah peran mahasiswa dalam sistem pendidikan tinggi ini? Ini pula yang menjadi pertanyaan kami. Sepatutnya ada posisi mahasiswa dalam keanggotaan Majelis Pemangku. Mengapa ? Tiga peran mahasiswa yaitu SUARA, PENGAWASAN, serta SUBJEK-OBJEK PENDIDIKAN. Dengan adanya mahasiswa, ada fungsi aspirasi dan suara dari elemen terbesar perguruan tinggi yaitu mahasiswa. Kedua, fungsi pengawasan yang secara kultural juga dilaksanakan mahasiswa, utamanya adalah pengawasan peran independen dalam sistem pendidikan tinggi, khususnya dalam mengawasi wewenang menteri dalam membentuk badan yang melibatkan masyarakat (pasal 6 poin e) agar independensi pendidikan terjamin. Ketiga, sebagai subjek dan objek pendidikan, mahasiswa memiliki hak dan tanggung jawab dalam dunia pendidikannya (kampus), oleh karena itu penting adanya mahasiswa dalam keanggotaan Majelis Pemangku.

Perguruan Tinggi Asing
Dalam draft RUU PT ini, dijelaskan pula mengenai keterlibatan perguruan tinggi asing dalam pendidikan tinggi di Indonesia (bab VI, pasal 87 – 89). Pada dasarnya kami tidak mempermasalahkan masuknya perguruan tinggi asing di Indonesia, justru dengan adanya transfer nilai yang positif dari adanya perguruan tinggi asing akan menjadi baik bagi kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi, dan budaya di Indonesia. Namun hal ini kami sebut sebagai lampu kuning bagi pendidikan tinggi di Indonesia. Berkaca dari adanya sekolah berstandar internasional setingkat sekolah dasar dan sekolah menengah, secara filosofi ada beberapa tujuan pendidikan yang harus diatur dan dijamin oleh pemerintah melalui turunan undang-undang (PP atau Permen).

Lampu kuning yang kami maksud adalah standard pendidikan asing yang berbeda dengan standard pendidikan Indonesia. Bukan standard dalam arti standard kualitas pendidikannya, melainkan standard filosofis penanaman nilai ke-Indonesia-an dalam pendidikan. Penanaman nilai ke-Indonesia-an, budaya Indonesia, dan semangat nasionalisme sangatlah penting. Tidak hanya belajar sebagai investasi pribadi yang bertujuan untuk memperkaya diri sendiri dan keluarga, namun belajar sebagai investasi bangsa yang bertujuan memperkaya anak muda calon pemimpin bangsa, membangun bangsa, dan memakmurkan bangsa serta masyarakatnya di masa depan.

Biaya dan Pendanaan Pendidikan
Sejak isu RUU PT ini muncul dan menjadi polemik di masyarakat, biaya dan pendanaan pendidikan menjadi salah satu masalah utama yang diangkat, khususnya berdampak pada komersialisasi pendidikan. Namun pada draft RUU PT terakhir yang kami diskusikan ini, porsi pembiayaan yang dijamin bahwa maksimal sepertiga dari biaya operasional (pasal 99, 103, dan 108) tidak begitu dipermasalahkan. Yang pasti sudah dijamin bahwa pembiayaan pendidikan mahasiswa dapat sesuai kemampuan ekonominya dan dapat dibantu dengan bantuan biaya pendidikan (beasiswa).

Satu hal yang menarik, yang kami temukan adalah mengenai porsi minimal 20% mahasiswa yang kurang mampu secara ekonomi dan memiliki potensi akademik tinggi. Hal ini kami rasa baik sebagai usaha mencerdaskan muda mudi bangsa. Namun, setelah memperhitungkan dengan data statistik yang kami dapatkan dari Swiss International, satu hal menarik kami simpulkan bahwa dengan solusi yang diberikan di atas ternyata tidak menjamin dalam mencerdaskan anak muda khususnya dari golongan masyarakat berpendapatan rendah. Hal ini belum tepat sasaran serta tidak dapat mengatasi masalah hak berpendidikan masyarakat kelas bawah.

Dari sekitar 237 juta penduduk di Indonesia, terbagi atas beberapa kelas ekonomi antara lain :
1.) 16,8 juta masyarakat kelas atas yang dapat berinvestasi hingga masing-masing 600 juta rupiah;
2.) kelas menengah ke atas yang tidak kami definisikan jumlahnya;
3.) 3,08 juta orang dengan penghasilan 5,2-6 juta rupiah/bulan;
4.) 11,85 juta orang berpenghasilan 2,6-5,2 juta rupiah/bulan;
5.) 27,73 juta orang dengan penghasilan 1,5-2,6 juta/bulan;
6.) 91,24 juta orang berpenghasilan 1-1,5 juta/bulan; dan
7.) lebih banyak lagi orang berpenghasilan 0-1 juta/bulan yang tidak terdefinisikan.

Lalu dari semua itu, hanya sekitar 22.000 anak muda dari kelas masyarakat miskin yang beruntung dari 110.000 calon mahasiswa yang mendapatkan tempat di PTN melalui SNMPTN. Apabila digambar secara visual, dari piramida kelas ekonomi masyarakat Indonesia (6 kelas : kelas atas, kelas menengah A, B, C, D, dan kelas bawah) serta diperbandingkan dengan perhitungan biaya operasional pendidikan tinggi yang ada, porsi 80% yang diterima di PTN adalah dari masyarakat kelas atas & kelas menengah strata A (paling atas). Sedangkan untuk 20 % yang dialokasikan untuk masyarakat kelas bawah, ternyata hanya mampu untuk masyarakat kelas menengah starata B dan strata C. Sebagai kesimpulan, ternyata RUU PT ini tidak menjawab pertanyaan dapatkah hak berpendidikan masyarakat khususnya masyarakat kelas bawah dapat dijamin oleh amendemen NKRI. Dari sana terlihat bahwa perguruan tinggi masih kokoh berdiri sebagai mercusuar atau menara gading yang sulit digapai masyarakat khususnya kelas ekonomi berpenghasilan rendah. Untuk itu, untuk diri kita masing-masing, muncul satu pertanyaan, dapatkah kita sebagai mahasiswa menyejahterakan bangsa kita? Karena kita lah orang-orang yang beruntung bisa belajar dan mendapatkan ilmu yang sewajibnya kita gunakan untuk memajukan bangsa dan masyarakat Indonesia.

Sedikit untuk Mahasiswa
Diskusi santai serta berbagi pandangan seputar kehidupan bangsa ini, kami sebagai Tim Kesenatoran HMP Pangripta Loka ITB memang baru menginisiasi lagi di himpunan kami. Bukan kajian yang berat-berat, namun setidaknya ada sedikit porsi untuk membuka mata kita semua agar tahu realitas bangsa. Utamanya adalah merubah pandangan kita sebagai mahasiswa, tidak lagi kerdil, hanya memikirkan kesenangan kehidupan kampus dan berbagai masalahnya, namun lebih besar lagi apa yang dapat kita berikan kepada negara kita ini setelah kita semua menjadi pemimpin-pemimpin bangsa. Kawan, ayo kita budayakan diskusi di kampus kita…
Untuk Tuhan, Bangsa, dan Almamater …
Semerah darah, sebening air mata, HMP …, HMP HMP HMP …
Gabriel Efod Virant Pangkerego
HMP 09 034
Tim Kesenatoran 11/12
HMP Pangripta Loka ITB



Reformasi struktur keuangan daerah untuk pembangunan


Indonesia pemegang rekor dengan pemekaran daerah terbanyak

Indonesia memegang rekor terbaru, negara dengan pemekaran daerah terbanyak! Itulah berita dari detik.com hari kamis, 9 Juni 2011. Sejak adanya otonomi daerah pada tahun 1998, jumlah provinsi, kabupaten, dan kota jumlahnya bertambah. Berdasarkan hasil survey badan pusat statistik (BPS), jumlah provinsi yang ada di Indonesia adalah sebanyak 33 provinsi,bertambah tujuh provinsi semenjak UU no.22/1999 tentang otonomi daerah sehingga sejak tahun 2000 provinsi Indonesia ditambah oleh provinsi maluku utara, banten, kepulauan bangka-belitung, gorontalo, papua barat, sulawesi barat,dan kepulauan riau). Untuk jumlah kabupaten dan kota di Indonesia pada tahun 2010 sudah sebanyak 399 kabupaten dan 98 kota.

33 provinsi, 399 kabupaten, dan 98 kota di Indonesia pada tahun 2010, sedangkan jumlah provinsi,kabupaten,dan kota pada tahun 1998 adalah sebanyak 27 provinsi dan 293 jumlah kabupaten/kota di Indonesia. Jelas terjadi peningkatan sejak model pemerintahan kita berubah dari model pembangunan top-down menjadi bottom-up dan diberlakukannya UU no.22/1999 ttg otonomi daerah dan PP no.129/2000 tentang persyaratan,pembentukan,dan kriteria pemekaran,penghapusan,dan penggabungan daerah.

Sumber gambar: http://acehterkini.com/uu-otda-belum-rampung-pemekaran-sebaiknya-ditunda/

Dasar hukum otonomi daerah
Maksud dan tujuan otonomi daerah yakni memecah perhatian pemerintah, maksudnya adalah dari sistem kepemerintahan yang terpusat menjadi dikotak-kotakan kedaerah. Sistem pemerintahan terdesentralisasi ini juga dibuat regulasinya dalam UU 22/1999 dan PP 129/2000/

Namun UU 22/1999 dan PP 129/2000 sekarang telah ditinggal,sekarang Indonesia memakai aturan baru untuk pemerintahan daerah dengan menggunakan UU no.32/2004 tentang pemerintahan daerah dan PP no.78/2007 tentang tata cara pembentukan, penghapusan, dan penggabungan daerah. Ada beberapa perbedaan dari UU dan PP baru tersebut. Hal yang berbeda pada UU baru, antara lain adalah pemilihan kepala daerah dipilih melalui pilkada, adanya hirarki antara pemerinta pusat, pemerintah provinsi, dan pemerintah kabupaten/kota, dan pengawasan terhadap kepala daerah dan DPRD yang diperketat. Sedangkan untuk PP baru,perbedaan yang muncul dengan PP sebeleumnya antara lain adanya syarat pemekaran yang berbeda dengan aturan lama,seperti rekomendasi dari masyarakat, kabupaten induk dan provinsi, adanya mekanisme penghapusan dan penggabungan daerah, dsb.

Otonomi daerah seperti yang dimaksudkan pada UU 32/2004 adalah untuk mewujudkan kesejahteraan melalui peningkatan,pelayanan, pemberdayaan, dan peran serta masyarakat dalam meningkatkan daya saing daerah. Paradigma yang berkembang adalah dengan adanyanya otonomi daerah berarti pemerintah daerah berhak untuk mengatur daerahnya masing-masing. Paradigma ini berkembang, sehingga memicu pemekaran didaerah-daerah Indonesia karena mengasumsikan dengan hak pemerintah daerah untuk mengola daerahnya masing-masing, maka dapat mempercepat kesejahteraan didaerah sendiri.
Pertanyaan besarnya adalah apakah setelah 13 tahun reformasi dan mengubah struktur pemerintahan di negeri ini untuk mencapai kesejahteraan,kita sudah berada pada rel sejahtera?

Implikasi daerah otonomi baru (DOB) dalam keuangan


Studi dari BAPPENAS dan UNDP pada tahun 2008 menunjukkan bahwa peforma daerah otonomi baru (DOB) berada dibawah daerah induk (daerah asal DOB). Hal ini disebabkan oleh beberapa hal, seperti terlihat bahwa pemekaran mendorong pelepasan penduduk miskin dari daerah induk ke DOB,karena data yang ada menunjukkan penduduk miskin terkonsentrasi di DOB. Ketertinggalan lain DOB dibandingkan dengan daerah induk adalah keterbatasan sumber daya, baik sumber daya alam maupun manusia. Dari hasil studi ini terlihat bahwa ternyata yang menjadi DOB adalah daerah-daerah yang mayoritas masyarakatnya miskin, kekayaan alamnya sedikit, dan sumber daya manusianya tertinggal. Sehingga sulit untuk DOB berkembang dan membantu pemerintah pusat sebagai tangan-tangan yang mendorong percepatan pertumbuhan dan kesejahteraan.
Untuk mempercepat pertumbuhan dan kesejahteraan rakyat, maka pemerintah daerah ini membutuhkan dana sebagai alatnya dan setiap daerah berhak untuk mengatur keuangannya masing-masing dalam rangka memajukan pembangunan, logika sederhana saja, bagaimana memajukan pembangunan apabila tidak memiliki dana. Lalu pertanyaannya kemudian bagaimana pengalokasian dana untuk pembangunan di Indonesia. Berikut artikel yang menarik untuk disimak :


ALOKASI ANGGARAN
Anggaran daerah banyak tersedot buat belanja pegawai
JAKARTA. Anggaran belanja dan pendapatan daerah (APBD) 2010 banyak tersedot untuk belanja pegawai. Menteri Keuangan Agus Martowardojo mencatat sepanjang tahun 2010 alokasi belanja pegawai naik menjadi Rp 198 triliun ketimbang tahun 2009 sebesar Rp 123 triliun.

Sedangkan, alokasi belanja modal dalam APBD pada tahun 2010 sebesar Rp 96 triliun atau lebih kecil dari tahun sebelumnya sebesar Rp 104 triliun. "Disini kelihatan belanja modal turun dan belanja pegawai yang naik," ujar Agus dalam musyawarah perencanaan pembangunan nasional, Kamis (28/4).

Menurutnya, porsi alokasi belanja pegawai dalam APBD pada tahun 2010 meningkat menjadi 45% dari sebelumnya 38%. Adapun alokasi belanja modal dalam APBD hanya 22%. "Tentu trend ini mesti kita kaji dengan waspada," imbuhnya.

Menurutnya, pada tahun lalu sebanyak 145 daerah yang memiliki alokasi belanja pegawai lebih dari 60% dari APBD. Sehingga, alokasi anggaran belanja modalnya hanya berkisar antara 30% hingga 40%.

Mengacu pada kondisi ini, Agus menyampaikan solusi untuk mengalirkan anggaran belanja modal lebih banyak
.Pertama, rasionalisasi belanja gaji dan tunjangan pegawai negeri sipil daerah.
Kedua, meningkatkan kualitas belanja APBD melalui peningkatan persentase belanja modal. Ketiga, mengarahkan belanja APBD untuk kegiatan yang menyokong kegiatan ekonomi lokal, pengentasan pengangguran dan kemiskinan.

Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi mengaku sudah meminta kepada setiap Gubernur untuk mengkaji komposisi anggaran setiap kabupaten/kota masing-masing. "Supaya bisa memperbaiki serta mempertajam sasaran anggaran untuk masyarakat," kata Gamawan.

Bukan itu saja, upaya perbaikan itu juga berlaku bagi pengelolaan anggaran pemerintah pusat yang mengalir ke daerah. Gamawan menjelaskan, pada tahun 2010 alokasi transfer ke daerah mencapai Rp344,7 triliun, tahun 2011 sebesar Rp393 triliun.

Sedangkan tahun 2012 rencana alokasi tarnsfer ke daerah mencapai Rp437,1 triliun. "Dulu tahun 2005 baru Rp150 triliun, bayangkan dalam 7 tahun hampir 300%," ujar mantan Gubernur Sumatera Barat itu.

Ini justru menyedihkan, maraknya pemekaran di daerah ternyata bukan malah mempercepat pembangunan, malah justru membebani anggaran pemerintah untuk membiayai pegawai negeri dan kebutuhan sehari-hari pemerintah. Saya buka seorang yang anti dengan pegawai negeri, tapi sehebat apapun pegawai negeri tidak akan mampu berbuat apa-apa dengan tidak adanya dana. Mungkin benar dana untuk pegawai negeri dibuat tinggi agar pegawai negeri mampu fokus pada pekerjaannya, tapi apa yang harus dikerjakannya apabila tidak memiliki dana? Saya memiliki pengalaman, betapa sulitnya mencari data-data di daerah. Bukan karena sulit di birokrasinya, tapi karena ketidakadanya data tersebut. Heran memang, kalau tidak ada data, apa yang dilakukan oleh pemerintah. Namun hal ini logis jikalau kita liat biaya pembangunan yang sedikit.
Ini pekerjaan rumah untuk negeri ini, kita pernah dengar berita bagaimana gaji pemimpin di negeri ini masih lebih besar dibandingkan dengan gaji pemimpin negeri china dan amerika serikat. Pemerintah adalah fasilitator, arsitek pembangunan negeri, tapi apa jadinya negeri ini jikalau uang yang ada hanya dihabiskan untuk biaya sehari-hari pemerintah dan menelantarkan mereka yang membutuhkan. Bekerja dipemerintah berarti bekerja sosial untuk negeri ini. Yah saya enggak mau melanjutkan tulisan ini, bukan karena takut, tapi rasanya esensinya sudah ada, pemekaran daerah jangan dibuat hanya untuk berlomba-lomba menerbitkan SKPD dan mendapatkan asuransi kelangsungan hidup diumur tua, membangun pemerintahan daerah baru bukan untuk mengambil sebanyak-banyaknya dana dari yang sudah dijatahkan, tapi berbuat yang terbaik untuk negeri ini, ini PR besar untuk pemerintah daerah dan nasional kita. Sadarkan diri, perbaiki struktur keuangan demi pembangunan negeri ibu pertiwi!

Sumber :

http://bandung.detik.com/read/2011/06/09/110459/1656516/486/indonesia-pegang-rekor-dunia-pemekaran-daerah-terbanyak?g991103485 (di akses pada hari kamis,9/6/2011 pukul 13.37 WIB
Statistik Indonesia, Badan Pusat Statistik
UU 22/1999 tentang otonomi daerah
UU 32/2004 tentang pemerintahan daerah
PP 129/2000 tentang persyaratan,pembentukan,dan kriteria pemekaran,penghapusan,dan penggabungan daerah.
PP 78/2007 tentang tata cara pembentukan, penghapusan, dan penggabungan daerah
Studi evaluasi dampak pemekaran daerah 2001-2007