Tan Malaka, Ancaman Kerentanan Industri dan Teknologi

“Ingatlah! Bahwa dari dalam kubur, suara saya akan lebih keras daripada dari atas bumi”
-Tan Malaka

Walaupun akhir-akhir ini diskusi Tan Malaka dibubarkan dibeberapa kota dan dijaman orde baru bukunya dilarang untuk diterbitkan, tapi pemikiran beliau tak pernah lekang oleh jaman. Gaung pemikirannya masih terus menggema hingga hari ini dan esok hari. Satu hal yang mungkin dapat menjelaskan mengapa pemikiran Tan Malaka masih bisa ‘hidup’ hingga hari ini ialah relevansinya terhadap segala macam persoalan dan kondisi bangsa sekarang.

Sumber gambarL http://sunardian.blogspot.com/2014/02/tan-malaka-pejuang-kemerdekaan-yang.html

Ibrahim Datuk Tan Malaka memang bukan seorang scientist ataupun professor laksana Habibie yang mampu menciptakan pesawat terbang ataupun Prof.Sedyatmo yang mendesain konstruksi ceker ayam. Beliau hanyalah seseorang yang habiskan masa hidupnya untuk kemerdekaan Indonesia dan ‘dihabiskan’ pula waktu hidupnya oleh tentara RI. Beliau adalah seorang intelektual yang habiskan waktu hidupnya untuk berpikir dan menulis untuk bangsanya, tapi hari ini justru ada bagian anak bangsa yang melarang pemikirannya dan membubarkan diskusi hasil-hasil tulisannya.

Miris mungkin melihat perjuangan hidupnya seakan tak berarti ditangan orang-orang bodoh yang cuma asal teriak “bubar-bubar:.  Tapi sebenarnya akan jauh lebih miris ketika melihat bangsa yang acuh terhadap nasehatnya, justru malah kalah berkompetisi dalam era globalisasi. Termasuk dalam hal industri dan teknologi.

Salah satu karya Tan Malaka yang paling menarik adalah tulisannya berjudul ‘Merdeka 100%’. Tulisan ini sejatinya adalah tulisan yang menggambarkan pemikiran Tan Malaka terhadap rencana ekonomi Indonesia, tetapi  dengan cerdiknya ia tulis dengan alunan sastra yang piawai dimana tulisannya berupa percakapan antara Mr.Apal (wakil kaum intelegensia), Si Toke (wakil pedagang kelas menengah), Si Pacul (wakil kaum tani), Denmas (wakil kaum ningrat), dan Si Godam (wakil buruh besi).

Saya catat ulang tulisan beliau seperti pada buku ‘Merdeka 100%’ yang diterbitkan oleh Marjin Kiri dan saya BOLD bagian yang menurut saya penting:

Hal.33 sampai hal. 36
SI TOKE : Jadinya kita tak perlu kapital-asing? Bukankah Indonesia tak cukup mempunyai mesin dan uang buat menggati mesin yang sudah rusak dalam peperangan sekarang dan buat menambah mesin yang baru??
SI GODAM : Sebenarnya kita membutuhkan mesin, bahkan juga beberapa ahliMalah kita membutuhkan berlipat-ganda mesin dan para ahli asing buat mendirikan perindustrian baru dan memperbaiki yang lama. Berapa puluh lokomotif, mesin kapal, dan kapal terbang yang kita butuhkan. Lebih dari itu, tidak saja mesin yang sedia buat dipakai kita perlukan. Tetapi juga mesin yang membikin mesin. Kita perlukan mesin yang akan membikin mesinnya oto, membikin meriam, tank, bom-atom, dll, pendeknya “mesin-induk”.Berhubung dengan itu kita perlukan pula para ahli yang kita belum punya.
SI TOKE: Bingung aku mendengarnya. Tetapi di samping itu bukan main girang hatiku mengelamukan “Indonesia punya atas Mesin-Induk” itu, mempunyai “Industri Berat” itu. Tetapi uangnya??
SI GODAM : Uang tak perlu! Tetapi yang perlu ialah KEMERDEKAAN 100%. Sekali lagi! Uang sebagai kapital-asing tak perlu. Malah membahayakan dan tidak membawa Indonesia ke arah yang kita tuju.
SI TOKE: Sekarang saya bertambah pusing Dam. Membahayakan bagaimana? Tidak membawa kita ke tempat yang kita tuju bagaimana?
SI GODAM: Membahayakan dan tiada menyampaikan maksud, seperti yang terjadi di Amerika Tengah dan Selatan, Kek. Sekarang Amerika Tengah dan Selatan tak bisa bikin mesin apapun lagi bikin mesin-induk. Pengaruh kapital-asing di Amerika Tengah dan Selatan tak membenarkan sekalian Republik Merdeka itu mempunyai dan menyelenggarakan sendiri Industri Berat. Sebab kapital-asing itu takut akan persaingan. Takut kalau-kalau kelak industri berat di Amerika Tengah dan Selatan menyaingi atau membutuh industri berat atau ringan Negara yang meminjamkan modal. Karena pemerintah Negara di Amerika Tengah dan selatan terikat oleh uang pinjaman dari Inggris-Amerika, dia tak bisa mengambil tindakan itu. yang tepat buat mendirikan Industri Berat Nasional.
SI TOKE: Baiklah kita tinggalkan dahulu Amerika Tengah dan Selatan itu. Kau bilang tak baik kalau kita menerima modal asing. Baik! Kita butuhkan Industri Berat. Tetapi uang dari mana kita ambil? Para ahli ke mana kita cari di antara bangsa Indonesia?
SI GODAM: Uang? Bukankah minyak tanah kita, arang kita, timah kita, alumunim kita, intan-emas kita, perak-mutiara kita semuanya uang??? Engkau ini seorang toke. Apakah kertas yang kau lipat-lipat itu yang dicetak oleh Jepang sampai 40.000.000.000 dalam 3 tahun itu uang??? Bukankah beras, intan berlian, dan mesin yang diangkutnya ke Tokyo dulu sebenarnya uang??? Kertas itu Cuma wakil dari barang. Kertas itu sendirinya hampir tidak ada harganya. Belum lagi kusebut barang yang berharga seperti teh, kopi, kina, kelapa, gula, getah, dan banyak lagi yang tidak dipunyai Negara lain dan amat dibutuhkan Negara lain.
SI PACUL: Aku tahu maksudmu, Dam! Semua hasil dari dalam dan atas tanah Indonesia ditambah pula dengan hasil lautnya yang kaya raya itu akan kau kirimkan keluar negeri buat “ditukarkan” dengan mesin dan para ahli, dan kalau perlu juga dengan “uang asing”.
SI GODAM: Tepat, Cul! Para ahli itu tidak berada di Amerika saja. Atau di Inggris saja. Di Swedia, Swiss, atau Jerman juga ada. Mereka akan ingin bekerja-sama dengan Republik Indonesia Merdeka. Bukan seperti tuan besar, melainkan sebagai pegawai yang menerima perintah.
SI TOKE: Tetapi kalau engkau membikin industri baru seperti tambang besi, pabrik besi baja dan mesin industri muda, barangkali layu dan mati kalau kelak disaingi oleh barang besi-baja dan mesin dari Eropa dan Amerika. Mereka bermodal besar, tahan bersaing. Mereka berpengalaman. Barangnya murah dan baik!
SI GODAM: Itulah dia Kek! Bayi manusia, walaupun tegap-kokoh mesti dilindungi dahulu dalam beberapa tempo. Begitu pun tumbuhan dan hewan, Itu sudah hukum alam. Pun dalam ekonomi, undang-undang itu berlak. Dalam ilmu ekonomi namanya itu “perlindungan industri bayi” (protection on infant-industry). Amerika sendiri masih mempunyai cabang industri yang dilindungi.
SI TOKE: Bagaimana melindungi industri bayi kita itu?
SI GODAM: Mesin atau barang yang sedang kita bikin itu mesi kita batasi masuknya dari luar negeri atau kalau perlu kita batasi masuknya dari luar negeri atau kalau perlu larang sama sekali masuknya. Tentu pada permulaan kita belum bisa membikin semua mesin atau baja ang kita butuhkan. Jadi barang ini masih perlu dimasukkan dari luar. Tetapi dibatasi banyaknya. Cuma buat menambah yang masih kurang saja. Supaya yang perlu dimasukkan itu jangan menjadi saingan buat industri bayi kita, maka mesin atau besi yang masuk itu mesti dipajaki sampai tak bisa merusakkan kemajuan industri kita. Kalau perlu dilarang sama sekali masuknya.
SI PACUL: Buat membatasi masuknya barang asing itu atau melarang masuknya sama sekali kita mesti 100% merdeka buat menguasai keluar-masuknya barang di Indonesia (ekspor dan impor).
SI GODAM: Tepat, Cul! Merdeka 100%! Kalau kita sudah merdeka 100% buat menguasai keluar masuknya barang asing itu barulah kita bisa merdeka 100% menentukan “ARAH” industrialisasi di Indonesia, yakni menuju ke INDUSTRI BERAT seperti kilat. Baru sesudah kita mempunyai dan sanggup menyelenggarakan industri berat, baru kita bisa membikin sendiri alat kemakmuran dan alat pertahanan (seperti meriam, tank, kapal selam- terbang, dsb). Barulah pula bisa dijamin Kemerdekaan Indonesia. Selama Indonesia belum mempunyai industri berat, selama itu pula INDONESIA MERDEKA terancam Jiwa Kemerdekaannya.
SI TOKE: Rupanya engkau tak mengizinkan sama sekali masuknya kapital-asing dan barang asing?
SI GODAM: Barang asing bisa masuk dan akan tetap bisa masuk. Harapanku sampai hari kiamat kita makin makmur, makin membutuhkan barang asing hasil istimewa di Negara asing. Malah modal asing bisa ditanam disini buat membikin barang yang belum bisa kita bikin sendiri dan tak membahayakan perindustrian, kemakmuran, dan pertahanan Kemerdekaan kita.

Payah, bukannya kita yang lakukan nasehat dan memanifestasikan pemikiran Tan Malaka, justru Negara-negara seperti Korea Selatan, China, dan Taiwan yang melaksanakannya. Sekarang Negara-negara tersebut justru yang punya industri berat (sekarang lebih akrab dengan nama industri hulu). Hari ini justru industri hulu kita yang terseok-seok. Bahkan lebih parahnya lagi, kontribusi sektor industri terhadap PDB semakin turun dari tahun-ketahun. Bersama dengan sektor pertanian dan pertambangan, sektor industri adalah sektor yang tingkat pertumbuhannya lebih rendah daripada pertumbuhan ekonomi nasional.

Begitu juga dengan impor alat dan mesin yang dimaksud oleh Tan Malaka. Kalau kita urut dengan klasifikasi impor sekarang (barang modal, barang konsumsi, dan bahan baku & penolong), Tahun 2012 kita paling banyak mengimpor bahan baku dan penolong (68%), bukan barang modal seperti yang dimaksud oleh Tan Malaka. Dan semakin tahun, porsi barang baku dan penolong justru semakin besar, dimana yang paling besar adalah barang pasokan untuk olahan industri (29%) dan bahan bakar dan pelumas (12%). Kita justru semakin jauh dari maksud Merdeka 100% -nya Tan Malaka untuk menggalakkan industri beratnya Indonesia karena industri dalam negeri tidak cukup mampu memenuhi kebutuhan bahan baku industri domestik. Lebih mirisnya lagi, barang modal yang kita impor, selain hanya 13% dari total barang impor, sebagian besar adalah impor alat angkutan yang justru membuat kemacetan karena buruknya peforma logistik nasional (Data World Bank tahun 2012, peringkat peforma logistik Indonesia berada pada nomor 59 dari 155 negara).

Bangsa ini terlalu malas untuk merencanakan dan memproteksi industri dalam negeri. Kita bukannya memperkuat industri hulu nasional dan memproteksi industri dalam negeri, malah menambah saingan baru untuk industri domestik. Kita bukannya membangun ruang untuk ahli-ahli (engineer) untuk membangun industri nasional, malah membiarkan orang-orang terbaik negeri ini ditampung oleh multi-national company dan mencetak produk dengan hak paten mereka. Kita bukannya menjadikan impor sebagai ‘tambahan’ kebutuhan nasional, malah kita jadikan impor sebagai alat utama mencukup kebutuhan nasional dan menghajar produsen dalam negeri.


Akibatnya kita rasakan hari ini, seperti contoh kecil saat kita justru ‘ditipu’ halus oleh LCGC dan benar-benar ditipu oleh busway impor di DKI Jakarta. Dan sekarang kita benar-benar terpukau dengan produk industri China, Taiwan, dan Korea Selatan yang telah menjadi murid timur yang cerdas. Padahal Tan Malaka lah yang ajarkan kepada bangsa ini untuk belajar dari barat untuk jadi murid timur yang cerdas. Payah memang, pemikiran bapak bangsa yang benar malah kita tinggalkan dan dibubarkan diskursusnya, pemikiran yang bodoh justru kita lestarikan…. Hah Indonesia…..

0 catatan pembaca:

Poskan Komentar